I Am No King

I Am No King
Chapter 256 – Kembali Ke Rencana Awal


__ADS_3

Saat aku mengatakannya, serangan Ninmar sempat terhenti. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan dan melompat sejauh mungkin, memberi jarak. Aku melempar tongkat di tangan kiri sejenak dan langsung melepas helm, membiarkan rambut panjang hitamku terburai.


Aku kembali menangkap tongkat dan menyerang. Namun, berbeda dari sebelumnya, kini aku berhasil mendorong Ninmar mundur. Bahkan peluru-peluru yang melesat ke arahku tidak mampu membantu Ninmar. Tidak! Aku tarik ucapanku. Tanpa peluru-peluru ini, lawanku ini pasti sudah terbunuh. Dia tidak menghadapiku tanpa bantuan. Dia tidak bodoh.


Di lain pihak, aku jadi paham kenapa bawahanku tidak suka mengenakan helm. Mengenakan helm membuat instingku berkurang. Refleksku juga jauh lebih cepat tanpa helm. Sejak kecil, aku sudah dididik untuk mengenakan pelindung kepala. Jadi, aku tidak pernah tahu kalau melepas helm bisa meningkatkan kemampuanku hingga sesignifikan ini.


Namun, aku tidak bisa meneruskan hal ini. Aku berhenti sementara Ninmar masih mundur, memberi jarak antara kami.


Aku melihat ke tangan, membuka dan menutupnya. Meski aku mengenakan sarung tangan, dingin masih mampu mencapai tanganku. Bahkan, aku bisa merasa gerakanku lebih kaku dan lambat dari biasanya. Dan, kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin aku terkena hipotermia. Namun, aku yakin yang terpojok bukan hanya aku.


Walaupun bisa menurunkan suhu udara, Ninmar masih seorang manusia. Walaupun dia menurunkan suhu, badannya tetap terkena efek. Dengan kata lain, risiko hipotermia juga mengancamnya.


Pengendalian utamaku adalah besi dan titanium. Meskipun aku selalu menyebut kabel yang aku bawa sebagai baja, tidak ada sedikit pun unsur karbon di kabel baja ini. Karbon adalah unsur organik, jadi tidak bisa dikendalikan. Bisa dirasakan, tapi tidak bisa dikendalikan.


Suara tembakan bertubi-tubi muncul. Berbeda dengan sebelumnya yang ditembak dari mana, aku bisa mengetahui benar asal suara semua tembakan yang baru datang ini, langit. Ketika sadar, aku tidak melihat Ninmar di mana pun. Namun, aku tidak peduli.


Aku melepas jubah dan membiarkan semua tali baja yang terikat di badanku terjatuh ke tanah. Dengan pengendalian, aku mengendalikan semua tali baja ini seperti cambuk. Peluru yang menghujaniku berubah arah. Semua peluru itu bukan takut, tapi aku menangkisnya.


Lima detik berlalu. Sepuluh detik berlalu. Namun, belum ada tanda-tanda hujan peluru ini akan berhenti. Tembakan dari arah lain, yang tidak menimbulkan suara, juga semakin intens. Namun, sayangnya, tidak ada satu pun peluru yang berhasil melewati pertahananku.


***


"Jadi, Umma, kira-kira berapa lama lagi sampai pelurumu habis?"


"Kira-kira 15 menit kalau aku terus menghujaninya seperti sekarang."


Ninmar dan aku bersembunyi di balik gedung. Kami tidak mau masuk ke dalam gedung. Kalau berada di dalam gedung yang adalah ruangan sempit, senjata pemimpin Orion itu sangat berbahaya. Kami tidak akan bisa menghindar dan memberi jarak.


Awalnya, aku mengira pemimpin Orion, yang adalah ibu Illuvia, akan memiliki pengendalian kuarsa, sama seperti putrinya. Namun, Lugalgin membantah dan mengatakan kalau Illuvia mendapatkan pengendalian kuarsa dari ayahnya. Jadi, teknik bertarung ibu dan anak ini sangat berbeda bagaikan langit dan bumi.


Dan, sesuai instruksi Lugalgin, Ninmar dan aku akan mengonfrontasi pimpinan Orion. Bukan hanya kami. Lugalgin juga memberi perintah agar kami membawa penembak jitu sebanyak mungkin. Awalnya aku mengira Lugalgin terlalu berlebihan apalagi aku sudah membawa ribuan senjata api. Namun, begitu melihat kemampuan perempuan itu, aku menarik ucapanku.


"Ninmar, apa kamu tidak bisa menggunakan serangan efisienmu? Membuat jarum dari nitrogen di tubuhnya?"


"Sayangnya tidak. tali baja yang bergerak seperti tentakel itu saling bergesekan, memanaskan suhu di sekitarnya. Hal ini membuat nitrogen di sekitarnya tidak mungkin membeku. Selain itu, penurunan suhu ini juga sudah tidak memiliki efek lagi. Dia yang berada di tengah semua tali baja itu akan merasa hangat."


"Dengan kata lain, yang terpapar pada risiko hipotermia hanya kita dan dia aman-aman saja?"

__ADS_1


Ninmar mengangguk.


Dengan menggunakan teropong, aku melihat bagaimana peluru yang dia halau mendarat di dinding, kaca, jalan, dan tempat lain. Kalau aku atau Ninmar ada di sekitarnya, bukan tidak mungkin kami yang terkena peluru-peluru itu.


Aku mencoba menjatuhkan satu senjata dari langit ke pemimpin Orion. Pada setiap senjata sudah kupasang bom. Setidaknya, satu senjata setara dengan 5 granat. Namun, tampaknya, pemimpin Orion itu benar-benar waspada. Tali baja yang dia kendalikan mampu menjulur hingga 5 lantai, membuat senjataku meledak di ketinggian 20 meter. Masih dengan tali bajanya, dia menghalau dan menangkis fragmen bom yang bertebaran.


"Dunia ini ternyata luas. Aku sama sekali tidak menduga ada orang yang pengendaliannya segila itu."


Baru saja mengatakan hal itu, sebuah getaran terasa.


"Koreksi. Selain Mulisu dan Ukin, aku tidak menduga ada orang yang pengendaliannya segila itu."


Ya. Aku yakin getaran ini berasal dari pertarungan Ukin dan Mulisu.


Kembali ke pokok permasalahan. Bagaimana caranya agar kami bisa mengalahkan pemimpin Orion? Lugalgin bilang kami tidak perlu mengalahkannya. Tujuan utama kami, sebenarnya, hanyalah menahan pemimpin Orion agar dia tidak merecoki pertarungan anggota lain. Namun, tidak ada salahnya kan ingin berbuat lebih? Aku ingin Lugalgin memujiku.


Bukan hanya aku yang berpikiran demikian. Ninmar pun juga berpikiran hal yang sama. Ada alasan kenapa dia menurunkan suhu sejak awal. Bahkan, dia berharap bisa menancapkan pedang penghilang pengendalian di tubuh perempuan itu. Padahal, Lugalgin menyarankan agar kami menjaga jarak.


"Ujung-ujungnya, kita hanya bisa kembali ke tujuan utama, ya?"


"Ya, begitulah," Ninmar menjawab lesu.


"Halo," Ninmar menekan telinga, membuat panggilan pada yang lain. "Kita kembali ke tujuan awal. Jadi, jangan hentikan tembakan. Terus lepaskan tembakan."


[Siap!]


Balasan rekan kami juga terdengar di earphoneku karena kami satu tim.


"Jadi, Ninmar, kita fix kembali ke tujuan awal? Apa kamu mau mencoba menerjangnya lagi?"


"Lupakan! Tadi aku berani mencoba karena kaca helmnya sempat berembun dan gerakan tubuhnya juga melambat karena suhu dingin. Namun, sekarang, dia sudah tidak mengenakan helm. Ditambah lagi, efek suhu dingin sudah menghilang. Dengan suhu normal, aku yakin kemampuannya akan jauh lebih gila dari sebelumnya."


"Seandainya saja kamu tidak terhenti saat dia menyebut Ratu Es. Mungkin kita bisa sukses dengan tujuan yang baru."


"Mau bagaimana lagi? Kamu tahu sendiri kan betapa malunya aku dengan julukan itu."


"Ya, ya. Aku paham. Ya, sudahlah." Aku menarik nafas. "Siap?"

__ADS_1


"Siap!"


Kami berdua berpencar. Aku ke kiri dan Ninmar ke kanan. Kami berdua mengitari gedung untuk menyerang pimpinan Orion. Namun, kami tidak akan berhadap-hadapan. Aku muncul di barat perempatan dan Ninmar muncul di selatan. Kalau berhadapan, ada risiko pimpinan Orion menghindar dan membuat kami melepas tembakan ke rekan sendiri.


Selain tembakan yang dari atas pimpinan Orion, aku mengerahkan semua senjata api yang telah kusebar di gedung sekitar. Setidaknya ada 684 senjata api melayang di sekitar dan belakangku, 954 melayang di atas pimpinan Orion membuat hujan peluru. Dan, yang terakhir, dua buah senjata di kedua tangan.


Semua senjata adalah assault rifle. Dengan jarak yang memisahkan kami tidak sampai 100 meter, akurasinya sudah lebih dari cukup. Aku tidak melepaskan peluru secara bersamaan, tapi bergantian secara bergantian, melepaskan tembakan peluru tanpa jeda.


Terlihat serbuan peluru juga menerjang dari arah selatan. Aku menduga Ninmar sudah menggunakan bonekanya. Pada perang ini, dia mengerahkan kelima boneka besinya sekaligus. Aku tidak tahu apakah dia menggunakan kelimanya di satu tempat atau tersebar.


Namun, yang membuatku sedikit terpukau adalah serangan tombak es menerjang. Namun, apa tombak es cocok untuk menyebut serangan Ninmar? Serangannya tidak benar-benar seperti bongkahan es panjang seperti di komik-komik, tapi lebih kepada perpaduan nitrogen dan peluru.


Teknik rahasia Ninmar yang lain adalah dia memadukan nitrogen ke peluru. Ketika peluru itu ditangkis, nitrogennya akan pecah dan membeku di udara, memunculkan pecahan-pecahan es di udara. Jadi, serangan Ninmar tampak seolah pelurunya berubah menjadi pecahan es.


Namun, sayangnya, dengan semua serangan yang kami lancarkan, tidak ada tanda-tanda pimpinan itu akan kalah. Bahkan, perlahan, aku bisa melihat kecepatan tali bajanya meningkat.


Aku menekan earphone, "Gin, tampaknya, kami hanya bisa mengulur waktu hingga 10 menit. Lebih dari itu, akan sangat berisiko."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2