I Am No King

I Am No King
Chapter 321 – Menuju Kerajaan Nina, tapi Sebelumnya ...


__ADS_3

"Gin, Dingin."


"Gin, kamu hangat ... "


Emir dan Inanna memelukku dari kanan dan kiri sementara Rina berada di depan.


Entah kenapa, tapi aku tidak merasa dingin sama sekali. Apa ini disebabkan oleh metabolisme tubuh inkompeten? Namun, ketika melihat Rina yang duduk di depan, aku meragukannya. Samar-samar, aku melihat bahu dan punggung Rina bergetar. Tampaknya dia juga kedinginan tapi masih jual mahal.


Karena hanya aku yang tidak merasa dingin, mungkin penyebabnya adalah tubuhku yang sudah abnormal. Di lain pihak, anehnya, belum ada satu pun benjolan merah tumbuh di wajah atau leherku. Padahal, biasanya, tengah malam begini sudah ada beberapa benjolan kecil muncul. Apa ini berarti dingin mampu melambatkan regenerasi dagingku? Bisa jadi.


Rencana awalnya adalah kami akan dipandu oleh anggota Tigris hingga perbatasan. Namun, karena masalah siang ini, terjadi perubahan rencana. Agade langsung mengambil alih seluruh tugas dan koneksi yang dimiliki Tigris di wilayah ini. Di satu sisi, aku merasa kasihkan karena yang berusaha di awal adalah Tigris. Namun, masalah tadi siang adalah hal yang serius. Mereka menuai apa yang mereka tabur.


Entah kebetulan atau bagaimana, ternyata hotel yang kami tempati juga merupakan akses pasar gelap antara Kerajaan Agrab dan Kerajaan Nina. Pada basemen hotel, terdapat sebuah terowongan panjang menuju ke Pegunungan Hamurina. Terowongan ini menerus hingga ke wilayah Anshan. Dan sama seperti di sini, di wilayah Anshan, terowongan ini juga terhubung pada satu hotel.


Karena jarak yang jauh, sekitar 20 Km, dipasang mode transportasi di terowongan. Transportasi yang digunakan adalah sebuah trem kecil bisa yang digunakan untuk menampung hingga 100 orang. Namun, hanya bagian depan kiri yang terpasang kursi, untuk 9 orang.


Mengikuti susunan kursi, aku, Emir, Inanna duduk di tengah. Rina dan 2 anggota Agade duduk di depan, tiga anggota Agade duduk di belakang. Sisanya adalah lantai kosong yang umumnya digunakan untuk menyelundupkan barang. Kali ini, digunakan untuk memindahkan barang dan senjata kami.


Jumlah tas kami lebih sedikit kali ini karena aku sudah membawa peti arsenal. Tadi siang, aku tidak membawa peti arsenal karena terlalu besar. Aku sudah meminta anggota Agade yang ke Diyala untuk membawa 4 peti arsenal. Tiga peti arsenal untukku, satu untuk Rina. Menurut Rina, metode bertarungku yang menggunakan peti arsenal sangat efisien untuk seorang inkompeten. Oleh karena itu, aku membuatkan Rina satu peti arsenal lengkap dengan senjata.


Jujur, aku benci terowongan. Jika terjadi serangan atau disergap dari dua arah, selesai sudah hidupmu.


Tidak lama, kami tiba di titik singgah pertama. Terowongan panjang ini memiliki 2 titik singgah, 1 di sisi Kerajaan Agrab, 1 di sisi Kerajaan Nina. Titik singgah dibuat demi melakukan pendataan barang masuk dan keluar sekaligus keamanan. Rel trem juga tidak menyambung, tapi berhenti di titik singgah. Ruang singgah ini berbentuk lingkaran, seperti kubah. Trem kami berhenti di sisi kanan dan trem lanjut ada di sisi kiri.


Kami turun dari trem, disambut oleh 10 orang dengan setelan abu-abu. Dua orang duduk, sisanya berdiri di belakang. Menurut anggota Agade, yang menyambut kami adalah dari pihak Kerajaan Agrab, baik pasar gelap, intelijen, atau pihak berwenang.


Pandanganku fokus pada dua orang yang duduk. Seorang ibu-ibu dengan rambut coklat gelap panjang diikat di belakang dengan ornamen. Hal yang paling mencolok dari ibu-ibu ini adalah kakinya yang tampak panjang karena mengenakan celana. Di sebelahnya, remaja perempuan, tampak lebih muda dariku, dengan rambut coklat terang dikepang dua. Selain setelan, mereka mengenakan jubah bulu tebal.


Aku, Emir, Inanna, dan Rina berjalan maju, berjajar. Kami semua siaga menghadapi orang-orang di depan. Sementara itu, lima anggota Agade yang bersama kami menurunkan barang-barang.

__ADS_1


"Selamat datang, Lugalgin Alhold."


"Aku kira hanya pasar gelap dan intelijen yang akan menyambutku. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Permaisuri Shara dan Tuan Putri Usmu yang akan menyambut kami."


Ya, benar. Dua perempuan yang menyambut kami adalah permaisuri Kerajaan Agrab beserta Tuan Putri. Hal ini lah yang membuat kami siaga.


Permaisuri Shara membuka tangan ke depan, menunjuk ke satu kursi lipat, mempersilakanku duduk. Namun, aku tidak menerima tawaran Permaisuri Shara.


Aku mengambil kursi lipat yang sudah disediakan dan membawanya ke kiri, ke Rina.


"Rina, kamu saja yang duduk. Kamu butuh istirahat."


"... hah?"


"Sudah. Jangan melawan. Wanita hamil tidak selayaknya melakukan banyak aktivitas berat."


"... baiklah."


Meski paham tujuan yang ingin kucapai, Rina tetap memandangku tajam. Namun, aku mengabaikan pandangan tajam Rina dan berdiri di depan Permaisuri Kerajaan Agrab, Shara. Sementara Permaisuri Shara menatapku dengan senyum, Tuan Putri Usmu hanya menunduk. Dia mengepalkan kedua tangan di atas paha rapat-rapat.


"Maaf, Permaisuri Shara. Saya harap kau tidak keberatan kalau aku berdiri. Seperti yang baru saja kau dengar, istriku hamil."


Semua orang dari kerajaan Agrab terentak ketika mendengar ucapanku. Bahkan, mereka mengeluarkan aura haus darah.


"Tahan harus darah kalian!"


Teriakan Permaisuri Shara sukses menghilangkan aura haus darah yang sempat muncul.


Reaksi orang-orang di belakang Permaisuri adalah normal. Selain menggunakan kalimat informal, aku juga berdiri di hadapan Permaisuri yang duduk. Seharusnya, tidak boleh ada orang yang pandangannya lebih tinggi dari permaisuri atau Raja. Ada alasan kenapa kursi Kepala Kerajaan selalu di atas podium.

__ADS_1


Kalau permaisuri duduk, orang di hadapannya harus berlutut atau menunduk. Jadi, ketika diberi kursi, secara tidak langsung Permaisuri Shara telah memandangku sebagai lawan bicara yang setara, seharusnya. Kalau diperhatikan baik-baik, sebenarnya, kursi yang diduduki oleh Permaisuri Shara lebih tinggi. Jadi, dia masih memandangku lebih rendah.


Di lain pihak, saat ini, pandanganku yang lebih tinggi dari Permaisuri Shara sama seperti memandangnya rendah.


Namun, Permaisuri tidak marah. Dia mengikuti permainanku dan berdiri, memperlihatkan tubuh yang tinggi untuk seorang perempuan. Begitu Permaisuri Shara berdiri, pandangan kami setara. Kalau yang berdiri di posisiku adalah Emir, yang paling tinggi dari ketiga istriku, dia masih sedikit mendongak.


Tubuh yang tinggi, dada dan pinggang ideal dibalut dengan setelan, ditambah kaki yang tampak panjang karena mengenakan celana. Damn! Permaisuri ini benar-benar high spek.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2