I Am No King

I Am No King
Chapter 96 – Serangan yang Dinanti


__ADS_3

[Dugaanmu benar, Ukin datang dengan mengenakan topeng kepala serigala, menyamar menjadi anggota kita.]


 


Aku tersenyum simpul setelah membaca pesan Ibla.


 


Saat ini, aku sedang duduk di balkon hotel. Meskipun tante Filial adalah selir, dia sudah tidak memiliki harta lagi. Tempat tinggalnya sebagai kedutaan pun tidak terlalu besar. Maksimal, dia bisa menampungku, Emir, dan Inanna. Namun, kalau dengan ayah, ibu, dan Ninlil, tidak cukup.


 


Jadi, keputusan akhirnya, Ninlil menginap di rumah tante Filial karena dia masih ingin bermain dengan Ninshubur. Kami, sisanya, menginap di hotel. Ibu dengan Emir sedangkan aku dengan ayah.


 


Kembali ke Ukin. Aku belum tahu pasti motif Ukin mencempungkan Illuvia ke pasar gelap. Daripada Ukin, aku berpikir ada orang lain di belakangnya. Ukin adalah tipe yang tidak suka berpikir. Dulu, dia hanya bergantung pada insting atau perintah Lacuna. Namun, hanya dengan instingnya saja dia sudah bisa menjadi ancaman terbesar bagi kami.


 


Kalau sampai Ukin repot-repot menyamar menjadi anggota Agade, ada kemungkinan suatu hari nanti dia akan menyebut namaku sebagai pembunuh Illuvia Nerras, menghancurkan image dan kredibilitasku.


 


Pertanyaan lain yang muncul di kepalaku adalah kenapa baru sekarang dia muncul? Kenapa tidak dari dulu? Dan kenapa melalui Illuvia? Dan kenapa menggunakan identitas Sarru? Begitu banyak pertanyaan tapi belum ada jawaban.


 


Kalaupun Ukin mengetahui aku adalah Sarru dan pendiri Agade, dia seharusnya tidak tahu kalau Illuvia memiliki hubungan denganku. Dengan kata lain, otak di belakang Ukin adalah orang yang mengetahui atau mengenalku dengan baik.... atau tidak.


 


Sejak aku menang battle royale, Emir datang, pergi ke Mariander, dan Inanna datang, informasi mengenai kehidupanku pasti sudah tersebar. Wartawan bahkan sempat mempublikasikan rekam jejak pendidikan dan mewawancarai teman-temanku, mulai dari SD hingga SMA.


 


Kalau orang itu dan Ukin bekerja sama, hanya tinggal masalah waktu hingga identitasku sebagai Sarru terbeber. Kalau semua itu terbeber, termasuk semua yang telah kulakukan di pasar gelap, aku penasaran bagaimana hidupku nanti.


 


Ya, kalau benar terjadi, aku hanya tinggal menjalaninya. Tidak ada gunanya dipikirkan sekarang.


 


"Gin."


 


"Ya?"


 


Aku merespon panggilan ayah yang muncul ke beranda. Dia duduk di sampingku. Kami hanya dipisahkan oleh sebuah meja bundar kecil. Ayah meletakkan dua kaleng bir di atas meja.


 


"Ayah yakin memberi bir padaku? Ibu nanti marah loh."


 


"Hahaha, tidak apa. Tinggal besok pagi sikat gigi saja dan makan permen mint yang banyak."


 


Aku menerima tawaran ayah dan menenggak satu kaleng bir.


 


"Gin, aku ingin berbicara denganmu, serius."


 


"....ya?"


 


***

__ADS_1


 


~Mulisu POV~


 


"Halo, Ukin, lama tidak berjumpa."


 


"Halo juga, Mulisu. Aku kira kau sudah pensiun, seperti Lugalgin."


 


"Tidak juga. Aku hanya bergerak di bawah radar. Dan lagi, Lugalgin sudah kembali."


 


Saat ini, kami berdua berhadapan di depan kamar tempat Illuvia dirawat. Jarak yang memisahkan kami hanyalah beberapa langkah. Pakaian kami pun mirip, jubah hitam dengan garis merah. Hanya bagian topeng yang berbeda. Ukin mengenakan topeng kepala anjing sedangkan aku mengenakan topeng rubah.


 


Saat ini, Lugalgin menjadikan Illuvia sebagai umpan. Ketika aku bilang sebagai Umpan, keamanan Illuvia benar-benar tidak dijaga. Kalau Lugalgin benar-benar peduli pada Illuvia, dia akan memindahkannya ke suatu tempat yang tersembunyi, atau bahkan memberinya selter di markas Agade. Tapi tidak. Lugalgin khawatir kalau Illuvia dipindahkan, Ukin tidak akan menyerang.


 


Sebagai gantinya, Lugalgin menyuruhku menghadapi Ukin. Dengan mudahnya, bahkan melalui telepon, dia bilang "aku ingin kamu menghadapi Ukin, gali informasi sebanyak mungkin darinya. Aku ingin tahu dia bekerja dengan siapa". Tambahan lain, dia mengatakan "Kalau sudah berhadapan denganmu, aku ragu Ukin masih ingin membunuh Illuvia. Ya, mungkin sih. Haha,".


 


Sebagai persiapan, aku meletakkan satu lipan di dalam kamar Illuvia dan menunggu di kamar samping. Meski Ukin tidak memancarkan niat membunuh atau aura haus darah, aku bisa mengetahui kalau dia dekat, sama seperti jika Lugalgin sudah dekat.


 


Kami bertiga dilatih oleh Lacuna dan telah bersama-sama melewati puluhan pekerjaan. Tentu saja kami mampu mengenali keberadaan satu sama lain.


 


"Jadi, apa kita akan bertarung di sini?"


 


 


"Hehe, hahahaha," Ukin tertawa terbahak-bahak.


 


Normalnya, kalau kamu tertawa keras di rumah sakit, di tengah malam, akan ada perawat atau keluarga pasien yang muncul, memintamu untuk diam. Namun, hal itu tidak akan terjadi pada Ukin. Tanpa perlu memancarkan niat membunuh atau aura haus darah, keberadaannya saja sudah membuat bulu kuduk orang normal merinding. Berbeda denganku dimana orang hanya akan merasa setengah tidak nyaman atau dengan Lugalgin yang sama sekali tidak memancarkan ancaman. Aku benci mengakuinya, tapi sekuat itu lah kekuatan pengendalian Ukin.


 


Kalau pengendalian utama Ukin hanyalah pengendalian besi yang generik, seperti Ur, aku tidak akan memiliki masalah. Pengendalian utama Ukin adalah dua macam besi yaitu ferum dan aluminium. Pengendalian dua besi ini lah yang membuat Lugalgin mengatakan kalau Ukin berbakat.


 


Di masa lalu, Ukin terlalu sombong dan hanya bersedia mengendalikan ferum atau aluminium murni, tanpa campuran karbon atau apa pun, membuat pengendaliannya tidak terlalu mengancam.


 


Masih di masa lalu, walaupun pengendaliannya sederhana, magnitudo pengendaliannya bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Kalau dia mau, dia bisa mengangkat gedung dengan menggunakan pengendaliannya pada tiang-tiang besi yang menjadi rangka.


 


Namun, kali ini, aku tidak yakin Ukin masih sama seperti yang dulu.


 


"Aku kira kamu akan meminta agar kita bertarung di tempat lain. Maksudku, kamu kan yang meyakinkan Lugalgin agar mendirikan Agade untuk orang-orang itu. Kalau tidak, dia tidak akan pernah memandang orang-orang itu. Kamu sendiri tahu kan kalau dia jauh lebih licik, keji, dan berdarah dingin dariku."


 


Ya, Lugalgin yang dulu memiliki semua sifat ini. Bahkan, terkadang, aku masih penasaran apakah Lugalgin yang mampu menunjukkan kasih sayang pada Emir dan Inanna adalah Lugalgin yang sama dengan Lugalgin yang dulu. Namun, aku harus yakin.


 


"Tidak! Lugalgin sudah berubah. Dia tidak sama seperti dulu."

__ADS_1


 


"Apakah itu benar? Lalu, kenapa perempuan itu masih ada di dalam kamar ini?"


 


Aku tidak mampu membalas ucapan Ukin.


 


Seperti yang diucapkan Ukin, Lugalgin tidak segan-segan menggunakan Illuvia sebagai umpan. Dan, Ukin pun mengenal baik sifat Lugalgin yang itu. Dan, meskipun aku juga mengenalnya dengan baik, aku tidak ingin mengakui kalau dia masih seperti Lugalgin yang dulu.


 


Aku berharap, setelah mengenal Agade dan melancarkan balas dendamnya, Lugalgin akan menjadi lebih lembut dan pengertian. Sederhananya, lebih memiliki perasaan.


 


"Lalu, kalau aku boleh tanya, dengan siapa kamu bekerja sama."


 


"Hihihihi, sudah kuduga. Kalian pasti akan langsung mengetahuinya."


 


"Tentu saja. Membuat perempuan ini menjadi Sarru palsu, menjalankan Agade palsu, dan memancing Lugalgin muncul. Aku yakin kamu bukanlah orang yang datang dengan rencana itu. Maksudku, kamu tidak suka dengan hal-hal berbau strategi dan kelicikan, kan?"


 


"Hahahaha, benar sekali. Kamu benar. Kalau kamu benar-benar ingin mengetahuinya, coba paksa aku."


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


 

__ADS_1



__ADS_2