
"Tidak ... mungkin ... kalian pasti berbohong, kan?"
Dari awal sampai akhir, aku bisa merasakan badan Rina gemetaran. Bahkan, ketika semua cerita ini selesai, gemetaran di badan Rina justru semakin hebat. Aku merengkuh Rina erat, berusaha menenangkannya. Aku bersyukur dia hanya diam menerima rengkuhanku, tidak mencoba melepaskan diri.
"Maafkan aku, Rina. Maafkan aku."
Rina tidak memberi respons terhadap permintaan maafku. Matanya masih fokus pada Ibu Amana yang membuang pandangan.
Aku telah membohongi Rina selama 9 tahun. Meski aku melakukan ini semua demi Rina, tetap saja itu bukan pembenaran. Ya, aku mengaku salah atas semua ini.
"Rina," Ibu Amana menambah. "Kami menceritakan ini bukan ingin meminta pengertian dan permintaan maaf. Kami–"
"Aku hanya ingin kamu mendengar cerita yang sesungguhnya, Rina." Aku menyela. "Dan, sekali lagi aku tegaskan, Ibu Amana tidak memiliki peran dalam penyusunan rencana ini. Semua rencana Ibu Amana sudah tergantikan oleh rencanaku dan Tera."
Tiba-tiba saja Rina menoleh ke arahku. Pandangannya kosong. Perlahan, aku bisa melihat mulutnya yang terbuka.
Hina saja aku. Benci saja aku. Aku tidak peduli.
"Terima kasih, Gin. Aku tidak menyangka akan mendapat suami sebaik dirimu."
"... hah?"
Aku melihat ujung mulut Rina yang naik. Wajahnya tampak lemas, rileks.
Rina menarik napas dalam, lalu meminum teh. Setelah menarik napas dalam dan meminum teh, badannya tidak gemetaran lagi.
"Dengan begini, semuanya menjadi masuk akal."
"Masuk akal?"
"Gin, kamu sudah bisa melepaskan pelukanmu. Aku sudah cukup tenang."
"Ah ... kamu yakin?"
"Iya, aku yakin, sayang."
"Okelah kalau begitu."
Meski enggan, aku melepaskan Rina.
"Akhirnya aku bisa mengatakan ini." Sebuah tarikan napas dalam, sekali lagi, dilakukan oleh Rina. "Ibu, maafkan aku."
"..."
Bukan hanya Ibu Amana yang terentak, aku dan Bapak Bilad pun terentak. Kami sama sekali tidak menduga ucapan Rina. Di lain pihak, Ira masih diam dengan wajah datar, selayaknya pelayan istana kelas atas.
"Sejak Tera tewas, pikiranku terlalu fokus pada balas dendam. Aku bisa bilang telah dibutakan oleh dendam. Setelah terpaksa membunuh ratu palsu itu, tanpa mengeksekusinya, hidupku terasa hampa. Di saat itu, aku benar-benar tidak memiliki tujuan hidup. Hal ini lah yang membuatku berusaha bunuh diri berkali-laki. Bahkan, kelahiran Clara pun tidak mampu mengubahku.
"Entah karena waktu atau mungkin ada alasan lain, setelah Rimu lahir, aku menjadi lebih tenang. Melihat Clara yang bermain dengan adiknya memberiku sebuah makna hidup yang baru. Setelah pikiran mulai tenang, aku mulai mengingat semua kejadian di masa lalu. Ketika mengingat masa lalu, aku menyadari pergerakan kami di Kerajaan Nina, bisa dibilang, sangat lancar. Bahkan, terlalu lancar. Setelah mendengar kalau ternyata Lugalgin bekerja sama dengan Ira, semuanya menjadi masuk akal."
__ADS_1
Aku jadi teringat momen ketika Rimu belum lahir. Saat itu, yang lebih sering menghabiskan dengan Clara adalah aku, Emir, dan Inanna. Rina jarang sekali menghabiskan waktu dengan Clara. Kami sempat khawatir Clara akan menjaga jarak atau bahkan membenci ibunya. Namun, untungnya, hal itu tidak terjadi.
Aku benar-benar bersyukur Clara tidak membenci ibunya. Setelah bertahun-tahun hidup tanpa kasih sayang ibunya, akhirnya Clara bisa merasakannya setelah Rimu lahir. Menurutku, hal ini lah yang membuat Clara menempel lekat pada ibunya. Dia ingin mendapatkan kompensasi atas waktu yang dilalui tanpa kasih sayang ibunya.
"Semenjak saat itu aku berpikir, mungkin walaupun eksekusi berhasil dilakukan, perasaan hampa itu memang tidak terhindarkan. Bahkan, aku mulai mempertanyakan apakah keputusanku untuk membunuh ibu adalah benar. Sebagian dari diriku takut kalau ternyata keputusan yang kuambil adalah salah. Ternyata ada alasan lain yang membuat ibu melakukan semua itu. Jadi, tadi, aku gemetaran bukan karena marah atau sejenisnya. Justru sebaliknya, aku takut. Aku takut kalau–"
"Sudah," aku menyela sambil mengusap kepala Rina. "Masa lalu tidak usah terlalu dipikirkan. Intinya, ibumu sekarang masih hidup dan kamu tidak perlu merasa bersalah. Yang penting adalah itu, oke."
Meski Ibu Amana masih harus minum obat penawar setiap hari, aku tidak akan mengucapkannya lagi.
Senyum lebar terkembang di wajah Rina. Sejak menikahinya, mungkin ini adalah senyum paling lebar dan paling tenang yang pernah kulihat. Aku bisa melihat otot wajahnya yang mengendur, rileks, seolah dia mendapatkan pencerahan dan ketenangan.
Tiba-tiba Rina memelukku. "Terima kasih banyak Lugalgin. Terima kasih. Berkat kamu, aku tidak membunuh ibuku."
Aku balik memeluk Rina dan mengusap punggungnya dengan perlahan, tanpa jawaban.
Rina membenamkan wajahnya ke dadaku. Meski tidak melihat, aku bisa mengetahui kalau Rina menitikkan air mata.
Tidak lama, Rina pun melepaskan pelukannya. Setelah menyeka air mata, Rina menghadap ke Ibu Amana di depan dan sedikit membungkukkan badan.
"Semoga ibu mau menerima maafku."
"Tidak, Rina. Ibu lah yang harus meminta maaf. Karena kesalahan ibu, Tera ...."
Baik Ibu Amana maupun Rina sama-sama menunduk ketika nama Tera muncul. Hah, dasar, Tera. Lihat! Gara-gara kamu bodoh, ibu dan kakakmu jadi menderita! Kalau kamu hidup lagi, aku sangat ingin menghajarmu.
"Rina, kamu bisa melanjutkan obrolan dengan Ibu Amana di kamar tamu."
"Eh?"
"Tidak, kami tidak mau merepotkan, Gin."
"Tidak. Kalian tidak merepotkan." Aku merespons. "Ibu dan Ibu Filial sudah memintaku untuk membiarkan Ibu Amana menetap malam ini. Mereka berharap Ibu Amana dan Rina menghabiskan waktu bersama. Meski hubungan kalian tidak akan langsung baik, setidaknya ada progres."
"Eh?"
"Dan lagi," aku menoleh ke Bapak Bilad.
Bapak Bilad merespons pandanganku, "aku, Lugalgin, Barun, dan Ira sudah ada janji minum untuk malam ini."
"Ira?"
Rina dan Ibu Amana sama-sama menoleh ke Ira.
"Maaf, Yang Mulia Paduka Ratu, tapi saya butuh minuman beralkohol. Mungkin saya terdengar kasar, tapi saya benar-benar frustrasi melihat perseteruan kalian selama bertahun-tahun. Ditambah lagi aku harus menyembunyikan rencana Lugalgin dari Yang Mulia Paduka Ratu Rina selama 9 tahun. Melihat sosok Yang Mulia Paduka Ratu Rina yang tidak bersemangat membuatku stres."
"Ah, itu ...."
"Maaf, Ira."
__ADS_1
Rina dan Ibu Amana sama-sama meminta maaf ke Ira.
"Oke, sudah, silakan masuk ke kamar tamu. Semakin cepat kalian masuk, semakin cepat kami bisa mulai minum."
"Hahaha, iya deh." Rina menurut. "Terima kasih ya, Lugalgin."
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai suami."
"Meskipun begitu, sekali lagi, terima kasih."
Rina dan ibu Amana meninggalkan ruang tamu. Ira membuat panggilan dan tidak lama kemudian mobil sedan berhenti di depan rumah.
"Terima kasih sudah menjemput, Barun."
"Akhirnya aku bisa mengobrol terang-terangan dengan besanku."
"Tuan Barun, silakan pindah ke belakang bersama Tuan Bilad. Biar saya yang mengemudi."
"Oh, terima kasih atas tawarannya, Ira."
Ayah dengan senang hati pindah ke kursi penumpang di belakang. Dia pun mulai mengobrol asyik dengan Bapak Bilad.
Jujur, melihat Rina dan Ibu Amana membuatku ingin memperbaiki hubunganku dengan ibu yang hanya berbasis timbal balik. Aku ingin memperbaiki hubungan kami. Namun, aku tidak akan tergesa-gesa. Selama Ibu masih hidup, kesempatan masih ada.
Namun, tidak semua orang terlahir di kalangan keluarga yang baik. Yang aku maksud adalah Emir. Sejak menikah, Ibu dan Ibu Filial terus berusaha sekuat tenaga agar bisa menjadi sosok ibu yang baik bagi Emir. Mereka tidak ingin Emir menganggap semua ibu seperti Rahayu. Ke depannya, aku berharap, Ibu Amana bisa memberi kasih sayang juga pada Emir. Dan, tentu saja, aku dan yang lain siap mendukung Emir.
"Mari, Tuan Lugalgin. Kami sudah siap."
Aku tersenyum, memikirkan masa depan yang tampak cerah.
"Terima kasih, Ira. Ayo berangkat!"
I am No King – Selesai
__ADS_1