I Am No King

I Am No King
Chapter 278 – Kunjungan Medan Perang


__ADS_3

"Selamat datang di Front Danau Mein."


"Sungguh suatu kehormatan saya disambut langsung oleh mayor jenderal Zortac."


Begitu turun dari pesawat pengangkut personel militer, aku langsung disambut oleh satu peleton tentara dan beberapa petinggi. Dari semua petinggi, mungkin, orang yang menyambutku ini adalah yang pangkatnya tertinggi.


Untuk orang yang tidak mengenal pangkat militer, mereka tidak akan terkejut kalau melihat seorang dengan pangkat mayor jenderal di sini. Namun, seharusnya, orang dengan pangkat ini tidak berada di medan peperangan.


Orang-orang yang berada di medan perang umumnya hanya setingkat mayor atau lebih rendah. Sesekali akan ada letnan kolonel yang datang untuk mengatur operasi baru, maksimal kolonel. Pangkat Jenderal seharusnya hanya menanti di pangkalan militer kota atau bahkan di ibukota, tidak di front perang seperti ini.


Kami tidak berjalan ke ruang terdekat, tapi langsung naik mobil, meninggalkan pangkalan udara. Lima mobil berjalan iring-iringan. Dua peti arsenal yang kubawa dan tombak tiga mata terletak di mobil lain, tidak di mobil ini.


"Jujur, meski sudah mendengar informasi mengenai kehadiran Jenderal Mayor Zortac, saya masih belum bisa percaya sepenuhnya kalau Anda berada di front peperangan."


"Hahaha. Lugalgin, kamu bisa membuang cara berbicara yang formal itu. Posisimu adalah kepala intelijen. Secara pangkat, posisimu setara dengan kolonel jenderal."


"Baiklah kalau begitu." Aku tidak menolak. "Jadi, jawabannya?"


"Perang terakhir dimana Bana'an menjadi peserta adalah 50 tahun yang lalu. Dan, semua tentara yang berpartisipasi pada perang itu, setidaknya, sudah menjadi brigadir jenderal. Sayangnya, orang-orang yang menjadi brigadir jenderal, umumnya, hanyalah kapten. Untuk melihat jalan perang lebih baik, butuh letnan kolonel atau kolonel yang pernah berpartisipasi. Dan, kebetulan, pangkatku adalah yang paling rendah di antara semua orang itu."


Alasan yang masuk akal. Namun, tetap saja aneh ketika seorang mayor jenderal ada di front peperangan.


"Jadi, karena ada mayor jenderal di sini, otomatis petugas dengan pangkat brigadir jenderal dan di bawahmu juga datang, kan?"


"Hahaha, tentu saja. Mereka tidak mungkin diam saja ketika atasannya mendatangi front perang."


Aku tersenyum masam ketika mendengar laki-laki berusia kepala 7 ini.


Perang yang dimaksud Zortac adalah perang dunia yang terjadi di benua lain. Perang ini tidak memiliki pengaruh besar pada negara-negara di Benua Ziggurat. Negara-negara di tempat ini hanya mengirimkan tentara karena negara sekutu ikut berperang, tidak lebih.


Mobil berhenti dan kami tiba di sebuah bangunan besar. Bangunan ini adalah balai kota yang terletak di pesisir danau Mein, kota Merkaz. Kota ini, selain kota wisata, juga memiliki pangkalan militer yang cukup lengkap mulai dari angkatan darat, laut, dan udara. Meski tidak di laut, danau Mein yang begitu besar hampir terlihat seperti laut. Bahkan, kamu tidak akan bisa melihat ujung danaunya. Jadi, meletakkan kapal di sini adalah hal yang lumrah. Dan, tentu saja, Mariander dan Nina melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Kami masuk ke balai kota dan pergi ke ruang bawah tanah yang sangat besar. Di dalam ruangan ini, terlihat ada banyak orang berpakaian militer mondar-mandir dengan membawa dokumen. Di dinding ruangan terpasang layar monitor yang menunjukkan peta Danau Mein dan sekitarnya. Terlihat beberapa titik berwarna merah, kuning, dan biru di layar. Titik merah berada di daerah Mariander, kuning di Nina, dan biru di Bana'an.


Dari semua sosok di ruangan ini, hanya satu sosok yang aku kenal.


"Lugalgin, selamat datang."


"Ibla."


Aku tersenyum dan menjabat tangan Ibla.


Saat ini, Ibla tidak menggunakan topeng silika. Dia menggunakan wajah aslinya, mata sipit dengan rambut coklat. Namun, rambutnya tidak panjang lagi. Sekarang rambutnya pendek, rapi.


"Ah, hati-hati!"


Aku langsung melompat dan mencengkeram tombak tiga mata yang hampir menyentuh salah satu alat elektronik. Ketika turun dari mobil, peti arsenal dan tombak ini dibawa oleh tentara yang menemani kami. Namun, entah tentara ini penasaran dan membukanya atau memang ceroboh, kain yang melilit tombak tiga mata setengah terbuka.


"Tombak ini terbuat dari material penghilang pengendalian. Kalau salah satu ujungnya menyentuh alat elektronik, efeknya sama seperti mati listrik. Paham?"


"Ma-maaf Pak."


"Siap, Pak!"


Aku mengambil tombak tiga mata dan memperbaiki kain yang melilitnya, memastikan tidak ada satu pun bagian yang menyembul.


"Lugalgin, Ibla, mari kita pergi ke ruanganku."


Aku dan Ibla menurut dan pergi ke ruangan lain di sebelah. Ruangan ini tidak dipenuhi oleh alat elektronik seperti ruang utama sebelumnya. Di ruangan ini lebih banyak dokumen dan lemari. Satu-satunya alat elektronik yang terpasang di ruangan ini adalah televisi layar lebar di ujung ruangan. Di ujung satunya, sebuah meja tinggi lengkap dengan tiga kursi.


Zortac duduk di satu kursi, aku dan Ibla duduk di kursi seberang meja. Baru saja kami duduk, seorang tentara masuk, meletakkan tiga cangkir teh di atas meja, dan keluar lagi.


"Baiklah. Jadi, apa yang harus kulakukan di sini?"

__ADS_1


"Tidak banyak," Zortac menjawab. "Kamu hanya perlu mengunjungi beberapa base militer, berbincang-bincang, sudah. Tujuanmu ke sini hanya untuk meningkatkan moral, meyakinkan para tentara kalau intelijen masih berjuang bersama mereka."


Sangat sederhana. Tidak lebih. Meski aku meragukan kebenarannya.


"Maaf ya, Lugalgin. Kamu terpaksa meninggalkan Emir yang sedang terluka. Meskipun seharusnya keberadaan Ibla, yang adalah perwakilanmu, sudah menunjukkan hal itu, permintaan dari atas tidak bisa ditolak."


"Tidak apa-apa. Kamu juga tidak mungkin mengabaikan perintah, kan? Apalagi, kalau menolak permintaan ini, aku khawatir hubungan baik militer dan intelijen jadi buruk."


Zortac menghela nafas. "Aku harap Permaisuri Rahayu tidak melakukan hal buruk pada Emir."


Aku terdiam sejenak. "Informasi itu sudah mencapai telingamu?"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2