I Am No King

I Am No King
Chapter 305 – Calon Keluarga


__ADS_3

"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Sabar. Kita akan bicarakan setelah selesai mencuci piring dan alat masak."


Inanna dan Emir sudah memasak sarapan, jadi, normal kalau yang mencuci adalah aku dan Rina.


"Kita akan membicarakannya baik-baik dengan yang lain, layaknya sebuah keluarga."


"Apa kamu lupa kalau pernikahan kita hanyalah pernikahan diplomatik? Aku hanya membutuhkan posisi dan kekuatanmu untuk membunuh ibu. Kita tidak menikah atas dasar suka sama suka."


"Lalu? Apa itu membuat kita tidak bisa berbicara baik-baik?"


"Bicara baik-baik? Tidak salah? Kamu, orang yang baru membersihkan satu keluarga, ingin bicara baik-baik?"


"Hei, aku sudah mengampuni dan mencoba bicara baik-baik dengan keluarga Fafniari sebelumnya. Mereka yang memilih untuk mengkhianatiku. Dan, sebagai catatan, aku tidak membersihkan seluruh keluarga mereka. Yang memilih untuk tidak mengkhianatiku masih hidup, kan?"


"Bicara baik-baik? Lebih tepatnya ancaman."


"Well, tanpa risiko dan ancaman, manusia tidak akan menurut, kan? Anggap saja seperti hukum. Tanpa hukuman yang jelas, kriminalitas tidak akan bisa diredam."


"Tch. Aku benci berbicara denganmu."


Tidak. Rina bukanlah tipe pemalu yang menutupinya dengan kemarahan. Dia bukan tsundere. Yang membuat Rina membenci percakapan kami adalah hal lain.


Aku dan Rina memiliki jalan pikir yang sama. Logika kami sama-sama mendominasi. Di lain pihak, kami juga bisa melihat fakta dari sisi lain untuk memunculkan logika lain. Kalau berbicara denganku, Rina pasti berpikir seolah dia ngomong sendiri. Kenapa bisa tahu? Karena aku juga merasa seperti itu. Aku merasa seperti ngomong sendiri ketika berbicara dengan Rina.


Kami akhirnya selesai mencuci dan pergi ke ruang tamu.


"Mandi dulu!"


Inanna berdiri, mencegah kami yang mau pergi ke ruang keluarga.


"Aku sudah menyiapkan baju ganti kalian di kamar mandi. Untuk mempersingkat waktu, kalian bisa mandi bareng."


"Hah?"


Bukan aku yang terkejut, tapi Rina.


"Cepat! Ini sudah hampir jam 9 tapi kalian masih belum mandi. Dan kalau gantian, akan terlalu lama. Rina, kamu mau segera memulai pembicaraan ini, kan?"


"Iya, sih. Tapi ...."


"Kalau begitu, sudah, mandi bareng saja! Gin, kamu juga harus mandi! Badanmu masih bau darah, tahu tidak?"


Tidak mungkin! Aku melakukan pembersihan dengan pakaian lain. Bahkan, pakaian yang digunakan untuk pembersihan sudah kubuang. Masa aku masih bau darah? Dan lagi, kalau benar aku masih bau darah, seharusnya Inanna menyuruhku mandi sebelum sarapan. Pasti dia memiliki niat lain.


"Sudahlah, Gin, turuti saja Inanna."

__ADS_1


Aku hanya bisa menghela nafas ketika Emir mendukung Inanna. Ketika dua calon istriku ini kompak dalam satu hal, mereka tidak bisa dihentikan.


"Sudahlah, Rina, kita turuti saja."


"Hah?"


"Sudah! Ayo! Lebih cepat mulai, lebih cepat berakhir."


"Tidak ... aku ... Gin ... tapi ...."


Rina tidak mampu mengatakan kalimat utuh sementara aku menggeretnya ke kamar mandi.


 


 


***


 


 


"Oke. Aku sudah sarapan. Sudah mencuci piring. Dan kami juga sudah mandi. Jadi, bisa kita langsung mulai saja pembicaraannya?"


Rina sudah tidak sabar.


"Baiklah." Aku menurut. "Rina, apakah terjadi sesuatu semalam?"


Rida terdiam dengan poker face, tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau yang lain. Namun, sesaat, bahunya terentak.


"Apa yang membuatmu berpikir demikian?"


"Baiklah, karena kita akan menjadi keluarga dalam waktu 5 hari lagi, kita harus mulai terbuka. Rina, sebenarnya, ada hal penting yang kami sembunyikan darimu."


"Tunggu dulu!" Rina mengangkat tangan ke depan, menghentikanku. "Aku sudah bilang pernikahan kita adalah pernikahan diplomatis. Kalian tidak perlu membuka rahasia padaku."


Aku menoleh ke kiri, meminta konfirmasi Inanna dan Emir. Mereka berdua mengangguk, memberi izin.


"Tapi, Rina, rahasia ini sangat berhubungan erat denganmu."


"Denganku."


"Sejak beberapa hari setelah kematian Tera, setiap malam, kamu histeris ketika tidur."


"...hah?"


Aku memberi penjelasan ke Rina. Penjelasan ini sama dengan yang didapat oleh Emir dan Inanna.

__ADS_1


Selama mendengarkan penjelasanku, Rina menganga dan mata membelalak. Tidak jarang juga dia berkata, "tidak mungkin,". Tampaknya, dia sendiri tidak mampu memercayai ucapanku sepenuhnya. Namun, ketika Emir dan Inanna membenarkan, Rina tidak bisa mengelak.


Setelah penjelasan selesai, Rina tidak mampu memberi jawaban. Dia hanya menunduk dengan kedua tangan menutup wajah.


Aku, Emir, dan Inanna tidak mengatakan apapun. Kami menunggu Rina. Setelah beberapa menit kesunyian, akhirnya, Rina memberi respons pertama.


"Jadi, alasan kalian selalu tidur denganku adalah karena hal itu?"


"Ya," aku mengangguk.


"Dan, apa alasan instingku tidak aktif saat tidur malam, adalah karena histerisku juga?"


"Kami tidak bisa memastikan." Inanna menjawab. "Kalau dilihat sekilas, besar kemungkinan memang itu penyebabnya. Namun, mungkin ada alasan lain. Entahlah."


"Hah ... " Rina menghela. "Aku pasti tampak bodoh sekali ya. Sejak awal aku terus menekankan kalau pernikahan ini hanyalah pernikahan diplomatis. Aku terus mencoba memberi jarak antara kita. Namun, kalian tidak memedulikannya dan tetap meluangkan waktu untuk menenangkanku. Aku pasti tampak seperti orang bodoh."


Dan, seperti biasa, sebuah klise pun muncul. Apa itu? Tokoh yang percaya diri mengalami breakdown karena fakta yang mencengangkan. Well, meski klise, repotnya, hal ini adalah normal. Akan lebih repot kalau tidak. Kalau Rina tidak mengalami mental breakdown, aku bisa bilang, dia adalah orang yang arogan dan congkak. Namun, untungnya, Rina tidak demikian.


"Tidak juga. Kamu tidak tampak seperti orang bodoh." Emir masuk. "Setidaknya kamu masih lebih normal dari seseorang yang memilih untuk tidur di makam."


"... maaf."


Seperti ucapan Emir, Rina yang histeris ketika tidur adalah normal jika dibandingkan dengan seseorang, aku.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 

__ADS_1



__ADS_2