I Am No King

I Am No King
Chapter 247 – Janji Makan Siang


__ADS_3

"Aku benar-benar tidak menduga akan menemui tante. Apalagi di mal yang adalah markasku."


"Kamu tidak akan menyerangku di masa gencatan senjata ini, kan?"


"Meskipun sangat ingin melakukannya, tapi aku harus menahan diri. Maksudku, kalian sudah begitu baik memberi masa gencatan senjata. Masa aku membalas air susu dengan air tuba?"


Aku dan tante Hervia mengadakan sebuah pertemuan kecil. Kami tidak bertemu di kafe Ease, tapi di rumah makan buffet all-you-can eat dimana kami memanggang dan merebus makanan sendiri. Tentu saja tempat makan ini bukan tipe yang terbuka, tapi tipe tertutup dimana satu ruangan kecil berukuran 4 x 4 meter dengan satu meja di tengah.


Sudah lama aku tidak menemui tante Hervia. Dan benar, tante Hervia dan tante Filial memiliki fitur yang hampir sama. Rambut panjang hitam dan lembut bagai sutra dan mata hijau cerah. Namun, meski serupa, Tante Hervia masih memiliki perbedaan dengan tante Filial. Rahang bawah tante Hervia lebih kecil dan matanya juga lebih sipit. Namun, secara garis besar, mereka cukup mirip. Kalau tidak perhatian, orang normal tidak akan bisa membedakannya.


Ah, koreksi. Kalau orang normal, mungkin masih bisa membedakannya. Seperti ibu, seperti anak. Dada tante Hervia tampak jelas lebih kecil jika dibanding tante Filial. Namun, tante Hervia mengenakan setelan dengan rok di atas lutut. Penampilan bisnis dengan tubuh langsing ini memberikan nilai plus tersendiri.


"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Illuvia?"


"Jujur, setelah aku pulangkan, dia tidak memberi kabar lagi. Dan sejak Agade dan Orion resmi berperang, aku pun menghentikan pengawasan pada Illuvia. Ya, meski sebenarnya aku tidak perlu melakukannya karena tante pasti sudah mengawasinya, kan?"


Kami berbincang-bincang santai sambil memanggang daging mentah dan menyantap yang sudah matang.


"Tidak juga. Tante juga bisa kecolongan. Apalagi saat dia mengklaim sebagai Sarru. Tante berterima kasih karena kamu tidak membunuhnya saat itu."


"Jangan dibahas. Aku sendiri merasa berasalah karena sudah menghancurkan tangannya."


Nada dan kelakuan kami benar-benar bertolak belakang dengan topik yang dibahas. Ketika kami berbicara santai sambil makan seolah pertemuan ini adalah rekreasi, topik pembahasan kami membahas hidup dan mati orang lain.


"Jadi, tampaknya, Orion tidak memiliki masalah yang sama dengan Guan, ya? Padahal, aku sedikit berharap Orion juga pecah karena tawaran Rina."


"Tentu saja tidak! Kami melakukan penyaringan yang benar-benar serius ketika merekrut anggota, tidak seperti Guan yang hanya sebatas kumpulan mercenary. Sederhananya, kami adalah sebuah perusahaan dan Guan hanyalah pekerja yang tunduk di bawah asosiasi."


Aku menyeruput kuah kaldu, membiarkan kehangatannya merambat ke seluruh badan.


"Di lain pihak, cepat sekali Agade dan Akadia beraksi. Dalam waktu kurang dari setengah hari, sudah ada pesan datang ke Orion menyatakan Guan sudah keluar dari aliansi. Kamu benar-benar tidak mau berhutang pada kami, ya?"


"Tentu saja aku tidak mau. Di masa krusial seperti ini, hutang atau bahkan gencatan senjata seperti yang sekarang kualami akan sangat menguntungkan. Dan, aku tidak mau kalian menjadi pihak yang diuntungkan."


Tunggu dulu! Berita pelepasan Guan sudah resmi mencapai Orion? Apa ini berarti Quetzal juga sudah mendapat kabar itu? Yuan, seberapa cepat kamu bergerak?

__ADS_1


Meski terkejut, aku sama sekali tidak menunjukkannya di wajah. Hanya di depan Emir dan yang lain aku akan menunjukkan ekspresi terkejut. Di depan musuh? Jangan harap!


"Namun, sayang sekali ya. Padahal kalian sempat unggul dengan hancurnya Apollo. Namun, dengan hancurnya Guan, keadaan kita kembali berimbang."


"Tidak. Menurutku, kami masih unggul." Aku meralat pernyataan tante Hervia. "Sementara Agade dan Akadia masih bersekutu, Orion dan Quetzal tidak bersekutu, kan. Jadi, posisinya adalah 2 vs 1 vs 1. Kami masih unggul."


"Ah, sayangnya tidak." Tante Hervia menenggak teh manis. "Pagi ini, aku baru menemui Stella, pimpinan Quetzal. Dan, meskipun aliansi sudah hancur, kami membuat persetujuan non agresi selama 2 minggu. Jadi, meskipun Quetzal dan Orion tidak bersekutu, setidaknya, kami sama-sama akan menyerangmu."


"Ah, begitu ya. Sayang sekali. Hehehe...."


Aku merespon berita tante Hervia dengan sebuah tawa. Sebenarnya kondisi ini tidak cukup bagus dan membuatku kesal. Namun, aku masih bisa menyembunyikannya.


"Jadi, Gin, sejak kapan kamu tahu kalau aku adalah Constel, pimpinan Orion? Apakah kamu menyelidiki latar belakang Illuvia?"


Dan kamu menanyakannya sekarang? Ahahaha. Aku sebenarnya ingin tertawa lepas mendengar pertanyaan tante Hervia. Namun, aku mengurungkan niat itu ketika melihat tante Hervia yang memandangku tajam.


"Tidak. Tidak. Aku tidak menyelidiki latar belakang Illuvia. Yang ada justru sebaliknya. Aku mencari informasi dan latar belakang Constel. Dan dari situ, aku mengetahui identitas Constel yang sebenarnya, yang adalah tante, dan juga informasi kalau tante memiliki putri yang adalah Illuvia. Jadi, aku sudah lama mengetahui identitas tante. Jauh sebelum aku mengenal Illuvia di SMA."


"Kamu mencari informasi mengenaiku? Apa aku sudah menyinggungmu di masa lalu?"


"Coba saja."


Aku sempat ragu dengan ucapan tante Hervia. Maksudku, mungkin dia bisa mengingat anggota Orion yang tewas. Namun, aku ragu dia akan mengingat nama orang non anggota yang tewas gara-gara Orion. Aku saja tidak ingat nama semua orang yang tewas di tanganku.


Tidak! Jangankan ingat. Aku bahkan tidak yakin tante Hervia tahu kalau Orion berhubungan dengan hal itu. Namun, tante Hervia tidak melepas pandangan dariku. Dia bahkan membiarkan tangannya yang memanggang daging berhenti.


Baiklah kalau begitu.


"Beberapa tahun lalu, Orion membeli satu anak yatim dari keluarga Cleinhad bernama Luci. Anak yatim ini menangis dan merengek ketika tiba di Orion. Bukan menenangkannya, anggota Orion malah menendang anak kecil ini. Tampaknya, tendangan ini terlalu kuat, mematahkan beberapa tulang rusuk si anak kecil, membuatnya tewas di tempat. Anak kecil mengalami patah tulang rusuk dan tewas. Menurutmu, bagaimana rasa sakit yang dia alami? Dan, menurutmu, seberapa ketakutannya anak kecil itu ketika hal itu terjadi, hah?"


"...tapi–"


"Ya. Aku paham kalau anak kecil itu bukanlah satu-satunya anak yang tewas dalam transaksi Orion. Banyak anak kecil lain mungkin lebih menderita darinya. Namun, aku tidak peduli dengan anak lain. Aku hanya peduli dengan anak itu. Bukan yang lain."


Aku melanjutkan, "mungkin tante, dan orang-orang seperti tante, berpikir mereka hanyalah anak yatim tanpa keluarga, kerabat. Mereka tidak memiliki seseorang yang memiliki hubungan darah. Tidak akan ada yang peduli pada apa yang terjadi pada mereka. Namun, sayangnya, salah satu anak itu adalah seseorang yang kuanggap sebagai keluarga. Tidak. Bahkan, di saat itu, dia lebih penting dari keluarga kandungku."

__ADS_1


Tante Hervia tidak lagi menatap ke mataku. Dia mengalihkan pandangan.


Sebagai bonus, aku memberinya sebuah cerita tambahan.


"Tante Hervia, apa tante tahu bagaimana perasaanku ketika tahu kalau aku satu sekolah dengan putri dari pemimpin Orion, orang yang secara tidak langsung bertanggung jawab atas kematian keluargaku? Bahkan, dia bersikeras untuk menjadikanku wakilnya. Apa tante tahu betapa bergejolaknya perasaanku saat itu? Illuvia cukup beruntung karena aku tidak menyiksa, membunuh, lalu mengirim anggota tubuhnya ke rumahmu."


Tepat setelah aku mengatakan hal itu, atmosfer ruangan ini menjadi begitu berat. Jika orang normal berada di ruangan ini, mereka pasti sudah kesulitan bernafas. Tangan tante Hervia tampak kaku, memegang pengapit dengan begitu kuat. Tampaknya, ketika mendengar Illuvia bisa menjadi korban, niat membunuh dan aura haus darah tante Hervia langsung menyeruak. Ada alasan kenapa kami memilih ruang tertutup seperti ini.


"Namun, Lugalgin, kamu tidak melakukannya. Apa yang membuatmu menahan diri."


"Illuvia beruntung karena aku bertemu dengannya setelah membantai keluarga Cleinhad. Kalau aku menemuinya sebelum membantai keluarga Cleinhad, mungkin dia sudah mengalami semua hal yang aku deskripsikan."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2