
"Tunggu dulu!"
"Hah?"
Tiba-tiba saja instingku berontak. Aku menoleh ke belakang, melihat ke pintu ruang makan yang tertutup.
Ibu Amana menghela napas. "Bilad, apa itu kamu?"
Pintu terbuka, menunjukkan sosok laki-laki berjanggut. Rambut dan janggut laki-laki itu juga putih, tapi tidak putih karena warna alami seperti Ibu Amana dan Rina. Rambut dan janggutnya putih karena uban.
"Jadi ini menantuku?"
"Selamat malam ... "
Bukannya aku tidak tahu siapa sosok laki-laki berjanggut ini. Lebih tepatnya, aku tidak tahu harus memanggilnya apa? Statusnya hanyalah sebagai suami Ratu, tidak lebih. Dia bukan Raja.
"Kamu bisa memanggilku Bapak Bilad."
"Baiklah." Aku menurut "Jadi, ada keperluan apa orang nomor 1 dan nomor 2 kerajaan Nina menemuiku?"
Bapak Bilad mengembangkan senyum. Dia berjalan, memutari meja. Sama seperti Ratu Amana, Bapak Bilad mengenakan pakaian tidur, menempel pada tubuhnya yang penuh otot. Dengan masuknya Bapak Bilad, satu-satunya orang yang tidak mengenakan pakaian tidur di ruangan ini adalah Ira, pelayan istana.
Sementara Bilad duduk dengan senyum terkembang, Ibu Amana memegang kening.
"Kenapa kamu ada di sini? Aku kan sudah bilang biar aku saja yang berbicara dengannya."
"Tidak mungkin. Kalian sama-sama Alhold. Hampir tidak mungkin kalian tidak bertikai."
"... sial."
Ratu Amana membuang wajah dari Bapak Bilad. Wajahnya tampak kesal dengan gigi menggertak.
Sejenak, mereka tampak seperti suami istri yang tidak akur. Namun, kalau dilihat lebih dalam, sebenarnya mereka sangat akur. Bapak Bilad tampak sangat mengenal istrinya. Dia tahu kalau istrinya dan aku, hampir bisa dipastikan, akan mengakhiri diskusi dengan pertikaian denganku.
Di lain pihak, Ibu Amana terlihat sadar akan hal kemungkinan pertikaian. Karenanya, dia tidak melawan lebih jauh. Yang bisa dilakukan hanya mengatakan kekesalannya. Namun, Ibu Amana menunjukkan kekesalan di depan Bapak Bilad adalah bukti kalau dia percaya pada Bapak Bilad. Dia pasti percaya kalau ungkapan kekesalan sederhana itu tidak akan membuat suaminya marah.
"Kenapa, Gin? Kenapa kamu melihat wajahku dengan saksama seperti itu?"
"Sekarang aku paham dari mana Rina mendapat dagunya yang lancip itu."
__ADS_1
"Hahaha. Matamu jeli. Ya, tepat sekali. Mata indah dan rambut putih berkilau Rina memang dari ibunya. Tapi dagu yang lancip adalah dariku. Kalau dia juga memiliki dagu bundar seperti istriku ini, mungkin dia akan terlihat lebih chubby."
"Jadi kamu bilang aku chubby?"
"Hahahaha."
Bapak Bilad benar-benar santai. Bahkan, atmosfer yang dia pancarkan jauh lebih bersahabat dari Ibu Amana dan Ira pelayan istana.
"Jadi, Lugalgin," Bapak Bilad membuka pembicaraan. "Kami ingin kamu menghentikan Rina lalu menjadi Raja Bana'an, Nina, dan Mariander."
"Lupakan."
"Wow, langsung menjawab."
Tanpa pikir panjang, tanpa jeda, aku langsung memberi penolakan.
Sementara Bapak Bilad masih tersenyum, istrinya, Ibu Amana, melongo. Ibu Amana tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh suaminya.
"Daripada itu, aku ingin bertanya satu hal pada Ibu Amana. Ibu, kalau kamu tidak ingin menjadi ratu lagi, kenapa tidak ubah saja sistem kerajaan ini menjadi republik atau full demokrasi? Atau setidaknya selain oligarki, lah."
"Hah." Ibu Amana menghela napas. "Gin, kamu tidak benar-benar menanyakan itu, kan?"
Aku tersenyum. "Justru sebaliknya, aku sangat serius dengan rencana itu. Bahkan, saat ini, aku sedang melakukannya pada Bana'an."
"Kamu apa?"
Aku mulai memberikan penjelasan mengenai rencanaku pada Ibu Amana dan Bapak Bilad.
Perubahan sistem pemerintahan yang ideal tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak sekali yang harus disiapkan mulai dari sosialisasi ke masyarakat, pembentukan komite kerajaan, serah terima harta bangsawan, dan lain sebagainya. Namun, aku tidak memedulikan itu semua. Aku melakukannya dengan cara lain.
Sebenarnya, yang paling merepotkan ketika mengganti sistem pemerintahan bukan bangsawan, tapi rakyat jelata. Walaupun bangsawan tidak menjadi pemimpin pemerintahan lagi, mereka masih memiliki aset dan kekayaan. Para bangsawan hanya butuh sedikit penyesuaian. Bahkan, mungkin, hidup mereka akan lebih bebas. Mereka bisa fokus membuat bisnis, mengumpulkan kekayaan. Mereka tidak lagi memiliki kewajiban dan obligasi sebagai bangsawan.
Di lain pihak, rakyat yang terbiasa diperintah dan dituntun akan bingung. Selama hidupnya, rakyat tidak pernah terlalu peduli dengan urusan pemerintahan. Lalu, suatu ketika, tiba-tiba mereka disuruh menjadi orang pemerintahan? Sulit. Amat sangat sulit sekali.
Yang mengajukan ide dan rencana perubahan sistem kerajaan Bana'an, tidak lain dan tidak bukan, adalah Emir. Mengikuti rencana tersebut, saat ini, di Bana'an, bangsawan terbagi menjadi 2, yang menetap dan pergi. Bangsawan yang pergi, seperti keluarganya, Maila akan meninggalkan Bana'an untuk selamanya, membuat wilayahnya tanpa penguasa.
Lalu, yang tidak kalah penting adalah bangsawan yang menetap di Bana'an, seperti Stella. Atau aku harus memanggilnya sebagai Selarimu karena perannya kali ini sebagai bangsawan, bukan sebagai Pimpinan Quetzal? Ah, sudahlah, tidak penting juga nama yang mana.
Kembali ke inti pembicaraan. Jadi, intinya, sebagian bangsawan pergi meninggalkan Bana'an dengan membawa sebagian kekayaan, dan sisanya menetap. Bangsawan yang menetap ini akan tetap memerintah dan menjalankan tugasnya sebagai bangsawan dengan dibantu oleh Mulisu.
__ADS_1
Daerah yang ditinggalkan oleh bangsawan bisa dijamin akan kacau. Walaupun Mulisu, sebagai permaisuri, mencoba mengatasi masalah, tetap saja tidak bisa. Satu orang tidak akan bisa mengendalikan kekacauan yang muncul di berbagai penjuru kerajaan. Dengan kondisi itu, Bana'an akan memasuki masa kekacauan.
Para bangsawan yang menetap menyatakan tidak bisa membantu wilayah yang tidak ada bangsawan karena wilayah mereka sendiri kesulitan bertahan. Tanpa ada pemerintah, jalur logistik seperti makanan dan kebutuhan lain akan terhenti, tidak bisa keluar masuk wilayah. Hal ini karena transportasi logistik tidak mendapat cap persetujuan dari bangsawan yang pergi. Bangsawan wilayah lain khawatir akan didakwa merebut wilayah kekuasaan sementara sang Tuan Pergi.
Ketika kondisi sudah kondisi Kerajaan Bana'an memasuki masa kacau, ada banyak skenario yang mungkin terjadi. Ada kemungkinan pemberontakan muncul dan berusaha menggulingkan permaisuri. Kemungkinan lain adalah pemberontakan yang ingin menggulingkan semua bangsawan. Kemungkinan yang paling aman adalah rakyat langsung mengambil alih kekuasaan wilayah yang tanpa bangsawan. Jadi, mereka menunjuk diri sendiri sebagai pemerintah yang baru.
Dengan jaringan informasi pasar gelap dan intelijen, aku akan memastikan skenario paling aman yang terjadi. Jadi, kami akan menyebar informasi dan rumor kalau bangsawan yang pergi adalah sumber masalah, perlu ada yang menggantikan. Meminta bangsawan lain untuk menggantikan akan memakan waktu lama karena ada prosedural yang harus ditempuh. Dengan informasi dan rumor yang disebar, kami bisa mengatur arah dan keinginan masyarakat.
Untuk memastikan aku tidak ditunjuk menjadi Raja, kami juga akan menyebarkan topik lain. Topik yang akan disebar adalah sistem pemerintahan monarki dan oligarki, kerajaan, sudah tidak sesuai dengan zaman. Semua warga sudah mendapatkan akses ke pendidikan yang layak, tidak seperti zaman dulu. Jadi, seharusnya warga juga sudah bisa menjabat di pemerintahan.
Dengan rumor yang beredar, beberapa orang terpilih akan muncul, mengklaim sebagai kepala pemerintahan di wilayah yang ditinggalkan. Dengan kerja sama dari bangsawan yang masih tinggal dan permaisuri, orang ini akan mengembalikan kondisi wilayahnya seperti semula. Satu kesuksesan akan berlanjut ke kesuksesan lain. Wilayah lain pun akan meniru. Akan ada rakyat yang muncul dan menobatkan diri sebagai pemimpin.
Tentu saja, orang-orang terpilih yang mengklaim sebagai kepala pemerintahan tidak asal muncul. Dari balik layar, kami akan memastikan hanya orang yang mumpuni yang mengklaim sebagai kepala pemerintahan. Kalau ada orang yang tampak bermasalah, kami akan langsung membuatnya hilang tanpa jejak.
Setelah itu, para bangsawan dan permaisuri akan menyatakan kalau sistem monarki dan oligarki sudah tidak sesuai. Regulasi-regulasi baru mulai disiapkan agar generasi selanjutnya bisa melakukan pemilihan. Jadi, di masa depan, bangsawan dan permaisuri hanya akan menjadi simbol kerajaan, tokoh masyarakat, tidak lebih. Namun, tentu saja, kalau bangsawan atau permaisuri dipilih oleh rakyat, mereka bisa memegang pemerintahan lagi.
Jadi, setelah ide dan rencana Emir berjalan sepenuhnya, Bana'an di masa depan akan menganut sistem aristokrasi-demokrasi, atau yang disebut dengan republik.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya digunakan untuk cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1