I Am No King

I Am No King
Chapter 71 – Pekerjaan Selesai, Pembayaran


__ADS_3

~Lacuna POV~


 


"Kamu hebat sekali Lacuna. Aku sama sekali tidak menduga...."


 


Perempuan ini, Sonya, tidak henti-hentinya memujiku sejak sopir kami datang. Sopir yang menjemput kami adalah orang yang mengantar kami sebelumnya. Kami menaiki mobil sedan dan senapan Lupusku berada di bagasi belakang.


 


Aku merasakan getaran dari smartphone. Ketika membuka layar smartphone, aku melihat sebuah dana sudah masuk ke rekening transitku. Menyusul, sebuah telepon dari nomor yang tidak aku kenal.


 


"Sonya, bisa diam dulu?"


 


"Ya?"


 


"Halo?" Aku mengangkat telepon.


 


[Selamat malam, Nona Lacuna. Saya Nora, dari keluarga Adams. Saya telah mengirimkan sisa uang yang saya janjikan.]


 


"Ya, aku sudah menerimanya. Terima kasih."


 


[Tidak, kami lah yang harus berterima kasih,] Nora menolak ucapanku. [Berkat Anda, kehormatan keluarga Adams pun terjaga. Kami menghaturkan terima kasih.]


 


Aku tidak bermaksud memperpanjang percakapan ini, jadi aku tidak akan mengelak ucapannya.


 


[Jadi, dari informasi sopir saya, apa benar kini Anda menuju kediaman Anastasia?]


 


"Ya, benar. Tidak apa-apa kan aku menggunakan sopirmu ke tempat lain?"


 


[Kami tidak memiliki masalah. Bahkan, kalau Anda mau, Anda bisa menyuruhnya untuk menunggu ketika memasuki kediaman keluarga Anastasia.]


 


"Tidak, aku akan pulang sendiri. Setelah mengantar kami, sopir Anda saya kembalikan."


 


[Oh, benarkah? Baiklah kalau begitu. Saya tidak akan memaksa.]


 


Kami mengakhiri panggilan. Sesuai isi panggilan, saat ini, kami sedang menuju kediaman keluarga Anastasia, klien kami. Dan, aku akan menemui ibu sekali lagi. Aku ada banyak pertanyaan yang ingin kuajukan, termasuk misi ini.


 


"Sonya, aku lelah. Aku mau tidur dulu. Bangunkan kalau sudah sampai ya."


 


"Eh? Padahal kita sampai tidak sampai setengah jam lagi, kan?"


 


"Tidak apa."


 


Meski hanya setengah jam, tidur adalah tidur. Selain memulihkan sedikit staminaku, aku ingin mempersiapkan mental.


 


***


 

__ADS_1


"Lacuna, sudah sampai. Ayo bangun."


 


Dengan berat hati, aku mencoba membuka kelopak mata, membiarkan cahaya kembali memasuki pandangan. Begitu terbuka, aku disuguhkan oleh pemandangan vila besar dengan taman. Lampu kuning menghiasi beberapa sudut taman, memberi kesan klasik. Vilanya pun terkesan klasik. Secara garis besar, tempat ini hampir sama dengan mayoritas kediaman mafia besar di negara ini.


 


Aku dan Sonya pun turun. Sesuai ucapanku, sopirnya pergi. Kami berjalan masuk dengan membawa senjata. Beberapa pelayan sudah menantikan kami di gerbang dan menuntun kami. Di dalam ruangan, aku dan Sonya dipersilakan duduk sementara pelayan itu memanggil Mila.


 


Kami berada di sisi depan ruangan ini, yang bisa aku bilang adalah aula. Tempat ini cukup besar untuk mengadakan pesta kecil. Namun, kalau aku bilang, tangga putar yang menghubungkan beranda lantai dua, yang berada di tengah, tampak aneh. Normalnya, ruangan seperti ini akan memiliki tangga di kanan kiri ruangan.


 


Tapi, terserah mereka. Orang kaya mah terserah.


 


Kami meletakkan senjata di samping sofa.


 


"Akhirnya, ya." Aku menggumam pelan.


 


"Eh?"


 


"Tidak, tidak apa. Aku hanya berbicara sendiri."


 


"..."


 


Tidak lama kemudian, dari beranda lantai dua, sebuah sosok perempuan muncul, yaitu Mila. Berbeda dengan ketika menemui kami atau saat di taman, kali ini dia tidak mengenakan jaket pilot dan celana kargo, tapi setelan dengan rok mini.


 


Aku merasakan tekanan dari kekuatannya. Namun, karena dia tidak langsung duduk di sebelahku, aku tidak terlalu panik.


 


 


Lebih baik kamu duduk dulu sebelum mengajukan pertanyaan. Dan, seolah bisa memahami pandanganku, dia menyeringai dan duduk di sofa.


 


Aku menjawab, "soal pertanyaanmu. Ya, aku bisa bilang keluarga Ibrahim sudah dibersihkan."


 


"Ya, aku juga sudah tahu. Informanku mengatakannya."


 


Kalau sudah tahu kenapa bertanya?


 


"Lalu, karena kalian melakukannya berdua, apa ini berarti aku akan membagi bayarannya setengah-setengah."


 


"A–"


 


"Bayarannya kirim saja pada Lacuna," Sonya menyela. "Saat ini, statusku hanyalah muridnya. Bahkan, aku sempat membuat masalah tadi."


 


"Hoo, begitu ya. Baiklah kalau begitu."


 


Mila mengeluarkan smartphone dari saku dalam setelan. Setelah dia menekan beberapa tombol, smartphoneku bergetar.


 


Meski sebenarnya tidak perlu mengecek, aku masih melakukannya. Di saat seperti ini, mengecek pengiriman dan melakukan konfirmasi adalah hal yang penting. Kalau kamu tidak melakukannya, sama saja kamu berkata pada pengirim "kamu bukan siapa-siapa. Jadi aku yakin kamu tidak akan macam-macam,", memandang rendah mereka.

__ADS_1


 


"Oke, bayarannya sudah masuk."


 


"Bagus."


 


"Aku ingin bertanya banyak hal. Apa boleh?" tanyaku sambil memasukkan smartphone.


 


"Selama itu tidak berkaitan dengan rahasia keluarga Anastasia, boleh."


 


"Tidak. Pertanyaanku justru seputar keluarga Ibrahim. Pertanyaan pertama, seharusnya, keluarga Ibrahim bukanlah satu dari lima mafia terbesar negeri ini. Namun, bagaimana dia bisa mendapatkan akses pada senjata penghilang pengendalian ini?"


 


"Baik... mau langsung kujawab atau kamu mengajukan semua pertanyaan langsung?"


 


"Langsung dijawab saja."


 


"Baiklah."


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Seperti yang dibahas pada minggu lalu, minggu ini akan menjadi penutup arc 4. Jadi, minggu depan, POV akan kembali ke Lugalgin, tidak lagi di Lacuna.


 


Special thanks kepada Ad dan Ade Chandra Hasibuan karena telah memberi tip. Author benar-benar berterima kasih atas tipsnya. Semoga ke depan I am No King bisa memenuhi ekpektasi reader sekalian.


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


 


__ADS_1


__ADS_2