I Am No King

I Am No King
Chapter 98 – Kabur


__ADS_3

~Mulisu POV~


 


"Hahaha! Ayo, Mulisu! Hibur aku! Apa hanya segini kemampuanmu? Dalam beberapa tahun ini, tampaknya, hanya aku yang bertambah kuat. Kalian tidak ada perubahan."


 


"Benarkah?"


 


Aku melepas jubahku dan melemparkannya ke arah Ukin. Pada beberapa tempat, jubahku terpasang logam sehingga lebih mudah untukku melemparnya. Dan, karena jubah itu terbuat dari kevlar, dia tidak bisa memotong dengan mudah. Jubah itu tersangkut di pedangnya.


 


Kini, aku hanya mengenakan celana pendek di atas pakaian igni.


 


"Kita pergi dari sini!"


 


Beberapa lipan datang melalui jendela, memecahkan kaca. Sementara dua lipan melilit Illuvia dan Nerva, aku menaiki satu lipan.


 


"AAHHH."


 


Maaf, Illuvia. Aku tahu bahumu sakit, tapi aku tidak ada waktu untuk memperlakukanmu dengan lembut.


 


Lipan yang melilit mereka berdua tidak memiliki bagian tajam, hanya bagian tumpul. Sementara kami pergi, beberapa lipan menuju ke arah Ukin.


 


"Dasar bodoh!"


 


Ukin mengangkat tangan kanannya, meluncurkan beberapa pedang yang menembus lipan-lipan logam itu, menancapkan mereka di lantai dan langit-langit.


 


"Berapa kali kamu mau mencoba, lipan-lipan ini tidak akan bisa menghentikanku."


 


"Tapi, jubah itu bisa."


 


"Hah?"


 


Aku mengambil sebuah tombol dari saku dan menekannya.


 


Blarr.


 


Aku meletakkan beberapa granat dengan kekuatan ledakan yang kukecilkan. Aku tidak mau menghancurkan rumah sakit ini. Alasan lain adalah, meskipun aku menggunakan granat dengan ledakan normal, ledakan itu tidak akan cukup untuk membunuh Ukin.


 


Dan, dugaanku benar. Sebuah sosok muncul dari dalam asap. Jubah dan topengnya sudah hancur, menunjukkan sosok dengan celana kargo dan jaket pilot. Akhirnya, sudah lama sekali aku tidak melihat wajah itu. Sebuah rambut pirang bergelombang dengan mata biru setajam silet. Walaupun baru menerima ledakan, senyum tidak kunjung hilang dari wajahnya.


 


"Hahahaha. Sudah sekian lama aku tidak merasakan sensasi ini! Di kota ini, di negeri ini, memang hanya kamu dan Lugalgin yang mampu memberikan sensasi ini padaku!"


 


Ketika mendengar nama Lugalgin, Nerva dan Illuvia langsung melempar pandangan ke arahku. Tadi, kami mengobrol di luar, jadi aku yakin mereka tidak mendengar percakapan kami. Namun, kini, ya sudahlah. Maafkan aku Lugalgin. Aku membuat identitasmu terungkap pada dua orang ini.


 


Kami pergi menaiki lipan yang melayang. Namun, Ukin terus mengejar kami. Di pakaian dan sepatunya, pasti dia meletakkan logam yang bisa dikendalikan. Saat ini, kami bergerak lebih cepat dari mobil.


 


Aku mengambil dua pedang dari kaki lipan yang kunaiki sementara pedang ular aku pasang di salah satu kaki. Beberapa kali Ukin mencapaiku dan pedang kami saling bertukar serangan. Ketika dia mundur, beberapa pedang dan pisau langsung meluncur ke arahku. Aku mampu menangkis senjata yang mengarah padaku, tapi sebagai gantinya pedang yang kugunakan pun hancur bersama pedang yang dia luncurkan.


 


Aku pun mengambil pedang lain dan menghadapi Ukin lagi. Kalau begini terus, aku akan kehabisan pedang. Di lain pihak, Ukin hanya perlu menggunakan patahan pedang atau pisau untuk menyerangku.


 


Bagiku, sulit untuk bisa menahan Ukin sambil mengendalikan tiga lipan yang membawa kami.

__ADS_1


 


Namun, aku selalu mencamkan ucapan Lacuna.


 


"Dalam keadaan normal, kamu memang lebih lemah dari Ukin dan tidak sepintar Lugalgin. Tapi, kamu lebih kuat dari Lugalgin dan lebih pintar dari Ukin. Jadi, kamu tidak perlu berkecil hati."


 


Aku tidak peduli kalau aku lebih bodoh atau lebih kuat dari Lugalgin. Yang menjadi targetku selalu Ukin. Dia bisa memorak-porandakan semua usahaku selama bertahun-tahun ini. Aku tidak akan mengecewakan Tasha.


 


Akhirnya, kami pun memasuki jalan tol. Aku menekan tombol di dekat leherku dan berbicara.


 


"Ibla, sekarang!"


 


[Baik!]


 


Dar


 


Beton jalan di samping Ukin meledak.


 


[APA? DIA BISA MENGHINDARI SENAPAN ANTI TANK? PADAHAL AKU TIDAK MENGGUNAKAN LASER ATAU APAPUN!]


 


Jangan berteriak. Telingaku sakit mendengar teriakanmu.


 


Ukin kembali mencapaiku dan kami kembali bertukar serangan.


 


"Kamu sudah mempelajari pengendalian timah, ya?"


 


"Meski aku tidak bisa menghentikan peluru atau memantulkannya, setidaknya aku bisa merasakannya datang."


 


 


"Sayangnya, Ukin itu sudah berubah."


 


"Kalau kita masih rekan, mungkin aku akan senang. Sayangnya, sekarang kita bukan rekan."


 


"Benar sekali!"


 


Ukin melompat ke belakang dan meluncurkan dua pedang. Dua pedang yang kupegang pun hancur bersama dengan pedang yang dia luncurkan.


 


Aku pun mengambil pedang ularku, pedang terakhir yang ada. Namun, senyum masih terkembang di wajahku.


 


Dar Dar Dar


 


Beton terus menerus meledak di dekat Ukin, membuat gerakannya terhambat. Bukan hanya beton, beberapa peluru sengaja mengarah ke pedang Ukin.


 


"Hahahaha! Kamu tidak akan pernah bisa menyarangkan peluru itu di kepalaku!"


 


"Ya, benar sekali. Sayangnya, targetku bukanlah kepalamu."


 


"Hah?"


 


Di saat itu, tiba-tiba saja Ukin terjatuh dan menggelundung di atas jalan. Bukan hanya Ukin, pedang dan proyektil yang dikendalikannya pun terjatuh ke tanah.

__ADS_1


 


Aku memfokuskan konsentrasi pada pengendalian lipan, meningkatkan kecepatan. Dan, akhirnya, kami pun dapat memisahkan diri dari Ukin. Begitu sosok Ukin tidak lagi terlihat, aku pun bisa bernafas lega dan duduk di atas lipan.


 


Aku membiarkan semua pedangku dihancurkan oleh Ukin. Sebagian besar dari pedang-pedang itu terbuat dari tembaga. Ketika Ukin menghancurkannya, aku membuat tembaga menempel di pedang yang dia kendalikan. Ketika kami saling bertukar serangan, aku pun melakukan hal yang sama.


 


Saat dia melompat mundur, aku meletakkan beberapa tembaga di tempat dia mendarat, membuat tembaga menempel di sol sepatunya. Ketika tembaga yang menempel sudah cukup banyak, aku pun langsung meningkatkan suhu semua tembaga itu, membuat senjata dan sol sepatu Ukin menjadi alloy, bukan logam lagi.


 


Mungkin Ukin sudah bisa mengendalikan Alloy, tapi perubahan yang mendadak, apalagi ketika dia berlari seperti tadi, membuat dia tidak bisa langsung mengendalikannya. Sebagai efek, karena dia berlari terlalu cepat, dia pun terjatuh.


 


"Agh...."


 


Klang klang klang


 


Sial. Tampaknya aku terlalu cepat senang. Tanpa aku duga, tampaknya, dia melemparkan sebuah tombak dengan cepat. Jika tombak itu bisa menancap atau menghancurkan logam, apalah dadaku yang hanya daging dan tulang.


 


Karena dadaku sudah ditembus tombak, pengendalianku pun menghilang. Lipan yang membawa kami semua berserakan di jalan.


 


[MULISU! MULISU!]


 


Ibla, sudah kubilang jangan berteriak. Headset ini menempel di telingaku, tahu. Tanpa aku mengatakannya, tampaknya dia menurut. Perlahan, aku tidak mendengar teriakannya lagi.


 


Ah, entah kenapa. Aku merasa tiba-tiba mengantuk. Aku jadi ingin tidur.


 


"HEI! HEI! JANGAN TUTUP MATAMU! HEI!"


 


Selamat malam


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 


 

__ADS_1



__ADS_2