
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama?"
"Boleh. Aku menginap di ...."
"Masalah kerja sama ...."
Aku tersenyum dan mengangguk, memberi hormat para Feodal Lord yang lewat. Mereka pun melakukan hal yang sama. Di belakangku, Ira membungkuk.
Setelah semua Feodal Lord pergi, aku dan Ira melanjutkan perjalanan ke ruang konferensi di lantai 2 Kastel Silant. Di ruang konferensi masih ada Rina dan Lord Susa. Mereka mengobrol santai tanpa arah. Selain mereka berdua, hanya terlihat pelayan istana yang membersihkan meja bundar.
"Ah, Inanna!"
Perempuan berambut putih ini memanggilku. Aku hanya tersenyum dan setengah melambai sambil terus berjalan. Setelah sampai di depan Rina dan Lord Susa, aku menuangkan teh ke dua cangkir dan memberikannya.
"Ahh.... teh herbal buatan Lugalgin benar-benar menenangkan jiwa."
"Benar, Yang Mulia Paduka Ratu. Bahkan teh ini dapat mengurangi rasa kangenku pada rumah."
Dibanding 9 tahun yang lalu, penampilan Lord Susa relatif tidak berubah. Rambut hitamnya masih lebat dan berkilau. Di lain pihak, Rina berubah drastis. Kini rambut peraknya tampak lebih tebal dari dulu. Ditambah dengan rok, cardigan, dan model rambut kuncir samping, kesan kalau dia adalah ibu-ibu semakin kuat.
Namun, ada satu hal yang membuatku sedikit terkejut, Buah dada Rina tumbuh. Yah, tidak sebesar aku atau Emir sih. Namun, pertumbuhan buah dadanya terlihat begitu jelas bagi kami. Apalagi, menurut Rina dan Lugalgin, keluarga Alhold seharusnya dikutuk dengan dada rata seumur hidup. Mungkin Rina tidak mendapat kutukan ini karena dia tidak berasal dari keluarga utama.
Namun, kalau syaratnya adalah berasal dari keluarga utama, apa berarti Clara yang mendapat kutukan ini?
"Ibu!"
Tiba-tiba suara kencang terdengar dari pintu. Suara itu berasal dari laki-laki kecil yang berlari. Rina tersenyum dan meletakkan cangkir di meja. Dia pun merendahkan badan dan membuka kedua tangan, menangkap anak laki-laki yang melompat ke pelukannya. Ketika melihat pemandangan ini, semua yang melihat pasti akan terenyuh.
"Rimu! Sudah kakak bilang jangan lari!"
"Tidak apa-apa, Clara. Sini, peluk ibu juga."
__ADS_1
Rina membuka tangan kanannya, menyambut Clara yang juga memeluknya.
Clara dan Rimu sama-sama menuruni Rina dari segi penampilan, terutama di bagian rambut perak. Namun, untuk penghilang pengendalian, Clara sama dengan Lugalgin. Di lain pihak, si adik, Rimu memiliki penghilang pengendalian yang sama dengan ibunya. Karena hal ini lah Rimu mengenakan kaca mata berwarna.
"Clara, Lula dimana?"
"Ah, um."
"Lula di sini, tante."
Sebuah suara menarik perhatianku. Remaja perempuan berkulit sawo matang dan rambut hitam dikuncir masuk. Walaupun hanya sekilas, orang pasti menyadari kemiripan anak ini dengan Lord Susa. Ya, karena dia memang putri Lord Susa. Muir kecil sudah tidak kecil lagi. Dia menggandeng balita perempuan.
"Sayang, sini."
Aku merendahkan badan dan membuka badan. Seketika itu juga, putriku, Lula melepaskan tangannya dari Muir. Lula sudah bisa berjalan normal. Tapi karena masih lebih kecil dibanding Rimu, dia belum bisa berlari dengan lancar. Sebelum terjatuh, aku langsung melompat maju dan menahannya.
"Ahaha, kamu tidak usah terburu-buru sayang."
Aku bahagia putriku ini memiliki penampilan yang mirip dengan ayahnya, rambut dan mata coklat. Lugalgin menyarankan rambut Lula dikuncir supaya dia masih ada kemiripan denganku. Ditambah dengan penghilang pengendalian, aku merasa kalau Lula benar-benar hasil cintaku dengan Lugalgin.
"Jadi, minggu depan giliran siapa yang piket?"
Rina menjawab. "Minggu depan giliran Lugalgin."
"Sudah Lugalgin lagi ya."
Yang dimaksud piket oleh Lord Susa adalah jadwal yang bertugas menemani Rina. Karena Rina masih menjadi Ratu kerajaan Nina, pada hari kerja dia harus berada di kerajaan ini. Akhir minggu baru dia pulang ke Haria. Aku, Lugalgin, dan Emir bergantian menemani Rina.
Di luar, kami mengatakan kalau sistem ini diberlakukan agar Rina tidak kesepian dan memastikan kedekatan dengan anak-anak. Namun, alasan yang sebenarnya adalah memastikan Rina tidak bunuh diri. Tampaknya, mental Rina terganggu karena terpaksa membunuh Ratu Amana tanpa eksekusi di depan publik.
Namun, kami beruntung. Entah kenapa, tampaknya, Rina mulai pulih setelah melahirkan Rimu, empat tahun lalu. Kami tidak benar-benar tahu apa yang membuat Rina mulai pulih karena kelahiran Clara tidak mengubahnya. Pada akhirnya, kami tidak peduli. Selama Rina bahagia, itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
"Kalau ayahnya yang piket, berarti yang ikut adalah Mari ya?"
Aku mengangguk, "ya, Mari. Hanya dia satu-satunya yang lebih memilih ayahnya daripada ibunya."
Mari adalah anak kedua sekaligus putri pertama Emir. Nama itu dipilih untuk memberi penghormatan pada mendiang Mari. Dan, entah kenapa, seperti mari yang asli, dia sangat lengket dengan ayahnya.
Sebagai catatan, putra pertama Emir, Rian, mengambil nama Hurrian sebagai dasar.
"Ngomong-ngomong," Ira masuk. "Saya mendengar kabar bahwa minggu depan Feodal Lord lain akan membawa anak mereka. Tampaknya para Feodal Lord berpikir untuk mengakrabkan anak mereka akrab dengan Tuan Putri Clara atau Pangeran Rimu. Dengan demikian, posisi mereka akan semakin teguh di kerajaan Nina."
"Dan," aku menambahkan. "Pasti ada yang berpikir untuk menjodohkan putra-putri mereka dengan anakmu, Rina."
"Hah? Clara yang paling tua saja baru 9 tahun! Mereka pasti bercanda, kan?"
Rina memicingkan sebelah mata. Tampaknya, dia merasa terganggu dengan ucapanku.
"Sudahlah, Rina. Biar Lugalgin saja yang memikirkan hal itu. Sekarang, ayo kita beres-beres. Waktunya pulang."
__ADS_1