
Setelah insiden tadi, agen schneider yang bekerja di bawahku membawa pergi agen yang menyerang. Shinar dan dua saudaranya juga dibawa pergi. Aku ingin bilang kedua temannya, tapi agak aneh mengatakan mereka teman padahal mereka adalah saudara.
Saat ini, aku sedang menyiapkan makan malam sementara Emir dan Inanna mandi. Tubuh dan pakaian mereka penuh kotoran, debu, dan darah setelah serangan tadi. Aku tidak khawatir karena darah yang menempel di tubuh mereka adalah milik orang lain. Di lain pihak, aku yang tidak bertarung sama sekali masih bersih. Jadi, aku menyuruh mereka mandi sementara aku memasak.
Tugas memasak sering diambil alih oleh Inanna. Emir terkadang memasak juga, tapi masih di bawah pengawasan Inanna. Dan, sejak Inanna datang, aku sudah jarang sekali memasak seperti sekarang. Untuk menu malam ini, aku memutuskan membuat nasi goreng dengan sosis dan tumis sayur.
"Ah, baunya harum sekali...."
Suara Emir terdengar di pintu dapur. Selain Emir, terlihat Inanna juga berdiri di pintu.
"Kalian siapkan piringnya. Ini hampir selesai."
"Okee!!!"
Mereka berdua membawa beberapa piring dan mulai menyiapkan meja. Karena sudah malam, mereka berdua sudah mengenakan piama. Lebih tepatnya setengah piama.
Aku tidak tahu sejak kapan, tapi tampaknya Inanna sudah ketularan Emir. Kini, mereka berdua hanya mengenakan celana dalam dan atasan piama, tanpa bra. Emir, dengan rambut merah membaranya, tampak lebih lunak dengan piama berwarna pink. Di lain pihak, rambut hitam panjang Inanna terlihat lebih netral dengan piama berwarna kuning.
Aku tahu kalau aku adalah calon suami mereka, tapi apa mereka tidak bisa menahan diri sedikit? Salah-salah, instingku sebagai lelaki bisa menguasai dan..... tidak. Aku rasa itu tidak mungkin terjadi. Kalau instingku tidak dapat kukendalikan, aku pasti sudah melakukannya dengan Emir sejak lama.
"Terima kasih atas makanannya."
Emir dan Inanna mengucap syukur setelah makan. Malam ini kami bisa makan dengan tenang seperti malam-malam lain. Aku bersyukur karena masih bisa menjalani malam normal seperti ini.
"Sudah. Biar kami saja," Ucap Inanna.
Aku menerima tawaran Inanna dan Emir lalu pindah ke ruang keluarga. Sementara itu, mereka pergi ke dapur, membersihkan piring dan peralatan masak. Aku menyalakan televisi, menonton saluran berita.
"Gin? Boleh aku bertanya?" Emir berteriak dari dapur.
"Tidak biasanya kamu meminta izin." Aku menjawab dengan berteriak juga. "Tapi, ya silakan. Ada apa?"
"Perempuan tadi. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia tiba-tiba histeris seperti itu?"
Aku terdiam sejenak. "Kamu baru menanyakannya sekarang?"
"Awalnya, aku mengira dia histeris karena kamu memancarkan aura haus darah dan niat membunuh. Namun, setelah kupikir-pikir lagi, mungkin bukan itu alasannya. Maksudku, dua temannya dan semua agen di dekatmu pingsan, kan? Kenapa dia malah histeris?"
Dia cukup tajam, tapi lambat dalam berpikir. Aku penasaran, prioritas pikirannya itu kemana sih?
"Inanna, menurutmu?" Aku mengarahkan pertanyaan itu ke orang lain, Inanna.
__ADS_1
"Hmm..... satu-satunya hal yang terpikir olehku adalah dia pernah merasakan aura haus darah dan membunuhmu, gin. Jadi, semacam trauma? Mungkin ketika pertama merasakannya, dulu, dia pingsan. Namun, untuk yang kedua, dia sudah sedikit lebih kebal, tapi tubuhnya masih mengingat sensasi dan rasa takut yang dirasakan saat itu. Apa perkiraanku benar?"
"Yap, benar." Aku membenarkan Inanna. "Dan–"
Emir menyela, "apa itu berarti, perempuan itu adalah keluarga Cleinhad?"
Oke, Emir cepat mengambil kesimpulan, dan tepat.
"Ya, benar. Meskipun bukan dari keluarga utama, dia adalah anggota keluarga besar Cleinhad."
"Ah, begitu ya."
Setelah respon itu, suasana kembali tenang, kecuali suara televisi. Tidak lama kemudian, Emir dan Inanna duduk di sampingku. Emir di kiri, Inanna di kanan.
"Sudah larut, kalian tidak tidur? Apalagi kalian sudah mengenakan piama, kan?"
"Hehe, tidak, kami ingin duduk di sini dulu." Emir menjawab.
"Boleh?" Inanna menambahkan, meminta konfirmasi.
"Silakan. Ini rumah kalian juga, kan?"
Padahal aku hanya memberi mereka jawaban sesederhana ini, tapi aku bisa melihat sebuah senyum dan kebahagiaan di wajah mereka. Ketika melihat mereka bahagia, entah kenapa aku juga ikut bahagia. Suasana ini, aku berharap bisa bertahan lebih lama.
Apa ini yang ayah dan ibu rasakan ketika mereka berdua saja?
Ngomong-ngomong soal ayah dan ibu, aku sudah jarang mendengar kabar dari Ninlil. Apa dia baik-baik saja di sekolah? Semoga dia tidak dibully karena aku. Maksudku, meski aku menang battle royale, menyelamatkan ibu dan adik Inanna, menghentikan aksi terorisme, semua itu kulakukan dengan cara yang licik. Atau bahasa halusnya, strategi.
Aku khawatir dia dibully karena kakaknya tidak dapat menyelesaikan sesuatu secara jantan. Aku akan menanyakannya akhir minggu ini ketika kami berkunjung.
Ketika pikiranku masih melayang entah kemana, aku merasakan sesuatu menumpu pada bahu kanan.
Aku menoleh ke kanan dan melihat Inanna sudah tertidur, menumpu pada badanku.
"Hehehe, Inanna tampak kelelahan." Emir tertawa kecil.
"Kamu juga. Matamu sudah mulai lemas kayak zombi tuh. Sudah waktunya kamu istirahat juga."
"Kalau begitu, terima kasih ya, Lugalgin."
__ADS_1
Emir menyandarkan kepala dan badannya padaku. Kini, Inanna dan Emir menumpu padaku di kanan dan kiri.
"Sama-sama."
***
Hari berikutnya, aku kembali ke kantor. Hari ini, aku memutuskan untuk memeriksa dokumen perekrutan yang ditinggalkan oleh keluarga Azzaha. Meski manajemen mereka buruk, mungkin aku bisa mendapat satu atau dua siswa berbakat seperti Emir. Ya, meski rasanya seperti mencari jarum dalam jerami, sih.
Emir dan Inanna sedang berjalan-jalan bersama anggota Agade yang menjadi instruktur, mendatangi beberapa fasilitas yang dimiliki intelijen kerajaan seperti gudang senjata, tempat berlatih, aula, dojo, dan sebagainya. Shu En dan Jeanne pergi bersama mereka, tentu saja.
Tok tok
"Ya, masuk,"
Aku merespon suara ketukan pintu.
Setelah balasanku, dua perempuan masuk ke ruangan. Yang satu adalah perempuan yang kemarin histeris dan yang satu adalah perempuan yang sudah tidak kutemui selama....satu bulan? Ya, sekitar satu bulan. Perempuan itu adalah Ufia. Dia mengenakan celana pendek dengan kaos hitam dan rompi. Seperti biasa, rambutnya diikat di belakang leher seperti ekor. Shinar mengenakan celana jeans biru dan kemeja putih.
"Maaf, Lugalgin, apa kami bisa meminta waktumu?"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1