
Hari yang dinanti telah tiba. Kini, aku berdiri di depan rumah, menanti kendaraan yang menjemput.
Aku tidak tahu sejak kapan, tapi membawa peti arsenal sudah menjadi kebiasaan. Hari ini, tanpa peti arsenal, punggungku terasa kosong, kesepian. Meski keamanan sudah terjamin karena elemen berpengaruh kerajaan melindungiku, tetap saja ada rasa waswas.
Dulu, sebelum keterlibatanku di pasar gelap menjadi konsumsi publik, aku sering merasa waswas karena tidak membawa peti arsenal. Beberapa bulan yang lalu, ketika mulai membawa peti arsenal walaupun siang bolong, aku mulai tenang.
Akhirnya, sebuah mobil sedan panjang datang. Mobil ini anti peluru dan kedap, membuatku tidak bisa merasakan hawa keberadaan siapa pun yang ada di dalam. Mobil ini adalah barang langka. Bahkan, pemerintahan kerajaan Bana'an tidak memiliki mobil sekedap ini.
Normalnya, aku akan siaga. Bisa saja kan ada pihak lain datang dan berusaha membunuhku? Namun, aku tahu benar siapa yang mengirim mobil ini. Sejauh yang aku tahu, hanya ada 3 unit mobil ini di Bana'an. Dan, semuanya, dimiliki oleh Akadia.
Pintu mobil terbuka, memperlihatkan sosok yang familier.
"Masuk, Gin."
"..."
Aku terdiam ketika mendengar suara sosok berpakaian rapi di balik pintu, Arde.
"Jangan bengong! Ayo masuk!"
"Ah, iya ..."
Aku menurut dan masuk ke mobil.
Arde memang menjadi anggota Akadia. Jadi, seharusnya, ini adalah hal yang wajar. Namun, meski demikian, seharusnya ibu memberi tahuku. Kemarin, seharian, Arde tidak datang ke rumah. Aku pikir dia tidak merestui pernikahanku.
"Kenapa kamu diam saja? Kaku banget. Gugup?"
"Ah, um, sebenarnya..." Aku mengalihkan pandangan. Tidak berani memandang mata Arde.
"... Illuvia dan Maila?"
Aku mengangguk.
"..."
Arde tidak langsung merespons. Dia juga mengalihkan pandangan ke jendela. Namun, tidak butuh waktu lama untuk Arde menghilangkan kesunyian ini.
"Jujur, aku sangat sedih ketika mendengar informasi kalau Illuvia dan tante Hervia tewas pada pertarungan malam itu. Dan, aku juga sedih ketika mendengar kondisi Maila. Aku sempat berpikir untuk mengunjungi dan meminta penjelasan pada Maila setelah kondisinya normal. Namun, ternyata, Malia sudah dibawa oleh keluarganya, meninggalkan Bana'an untuk selamanya."
"Mungkin ini terdengar tidak sensitif dan tidak tahu diri, mengingat aku yang membuat mereka berdua mengalami semua itu, tapi kenapa kamu tidak mendatangiku kemarin?"
__ADS_1
"Karena kamu bukanlah Lugalgin yang aku kenal."
Jujur, aku ingin kaget dan tertegun. Namun, aku tidak memiliki hak. Ucapan Arde adalah benar. Sosok Lugalgin yang kutunjukkan di masa SMA adalah Lugalgin yang lain, bukan Lugalgin yang terjun di pasar gelap.
"Gin, apa kamu keberatan kalau kamu menceritakan siapa dirimu yang sebenarnya? Dan, apa yang membuat Illuvia dan Maila harus berhadapan denganmu?"
"Jujur, kalau meminta cerita lengkap, akan butuh waktu lama. Bisa seharian atau bahkan lebih lama. Namun, kalau mau diringkas, seringkas-ringkasnya ... "
Aku terhenti sejenak. Tidak. Aku tidak khawatir Arde akan membocorkan informasi ini. Dia adalah teman baikku selama SMA. Dan, aku percaya dia bisa menjaga rahasia. Ditambah lagi dia bekerja di Akadia, yang adalah milik ibu. Yang aku khawatirkan adalah si sopir.
"Jangan khawatir. Sopir mobil ini adalah Pak Marlien. Dan mobil ini tidak memiliki alat perekam sama sekali. Rahasiamu aman."
Karena mobil ini begitu rapat, aku tidak bisa merasakan hawa keberadaan sopir yang dipisahkan oleh pembatas. Jadi, aku baru tahu kalau sopirnya adalah Marlien. Kalau Marlien mah dia sudah tahu seluk beluk masalah pasar gelap dan identitasku. Jadi, kurasa, tidak masalah menceritakannya ke Arde sekarang.
"Oke, aku berikan cerita singkatnya. Aku adalah Sarru, pendiri Agade. Untuk memenuhi janji, aku berusaha menghilangkan perdagangan anak di Bana'an. Maila dan tante Hervia sebagai pendukung perdagangan anak melawan. Mereka menganggap ideku akan membuat kestabilan kerajaan terganggu. Diskusi gagal. Tante Hervia lebih memilih mati daripada menurut. Maila mengonfrontasi Inanna tapi kalah. Efeknya dia terluka parah. Untuk Illuvia, dia tidak terima aku menjadikan Emir dan Inanna calon istri. Illuvia hampir membunuh Emir, aku pun terpaksa membunuhnya."
"..."
Arde terdiam, pandangan kosong.
Apakah ceritaku terlalu padat? Atau sulit dicerna? Atau mungkin dia tidak memercayainya? Ya, tidak kaget sih. Maksudku, sebuah kisah selama berbulan-bulan, tersusun atas puluhan atau bahkan ratusan event, diringkas menjadi beberapa kalimat. Tentu saja dia pusing. Sebenarnya, aku ingin meringkasnya menjadi kurang dari 20 kata. Namun, tampaknya tidak mungkin. Atau mungkin?
"Tidak. Lugalgin yang menjadi temanmu adalah aku, Lugalgin Alhold. Namun, Lugalgin yang kamu kenal bukanlah seluruh Lugalgin, hanya sebagian. Percayalah. Aku tidak pernah berbohong ... padamu."
Aku sebenarnya hanya ingin bilang "tidak pernah berbohong". Namun, aku sering berbohong kalau keadaan memaksa. Oleh karena itu aku menambah "padamu". Arde adalah orang pertama yang tidak pernah menerima kebohonganku. Aku masih beberapa kali berbohong pada Illuvia dan Malia. Emir dan Inanna pun masih menerima kebohonganku di awal pertemuan. Namun, aku tidak pernah berbohong pada Arde. Aku hanya tidak mengatakan seluruh kejadian.
"Apa kamu marah padaku?"
Arde menggeleng, "Aku tidak punya hak untuk marah. Ada sebagian dari diriku yang tidak kamu ketahui. Jadi, menurutku, kita impas."
Sebenarnya, aku mengetahui semua hal tentangmu, Arde. Namun, aku tidak akan merusak suasana dan mengatakannya. Dan, ini bukanlah kebohongan. Kalau aku tidak mengatakan apapun, aku tidak berbohong.
"Gin, aku bergabung dengan Akadia karena ayah menceritakan bagaimana Akadia mampu menjadi Enam Pilar tanpa memperdagangkan anak. Aku mengagumi Akadia karena hal ini. Kalau tante Hervia dan Maila menentangnya, tanpa kamu, mungkin aku lah yang akan berhadapan dengan mereka. Dan, untuk Illuvia, aku hanya bisa bilang cinta membutakan logika."
Sesuai ucapan Arde cepat atau lambat, tanpa Agade, Akadia lah yang akan berhadapan dengan Orion. Namun, berkat kehadiranku dan Agade, Akadia tidak pernah berhadapan dengan Orion. Akadia hanya berhadapan dengan Quetzal. Jadi, aku menghindarkan Arde dari skenario dirinya melawan tante Hervia dan Maila.
"Suatu saat nanti, kalau semua konflik ini sudah selesai, apakah kamu mau berbagi cerita hidupmu?"
"Tentu saja. Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu."
Arde tersenyum ringan. "Terima kasih, Gin."
__ADS_1
Mobil berhenti. Aku membuka pintu dan turun dari mobil. Kami tidak berhenti di depan, tapi di belakang gedung.
"Ayo kak, cepat!"
"Ayo Kak Lugalgin!"
Ninlil dan Ninshubur sudah menunggu. Mereka berdua langsung menarik kedua tanganku, meninggalkan mobil.
"Selamat atas pernikahanmu, Gin."
"Terima kasih, De."
Tidak banyak yang tahu, tapi, ucapan selamat dari Arde sangatlah berarti bagiku. Dia bukanlah anggota Agade yang merasa berhutang padaku. Arde juga bukan orang yang memiliki kepentingan. Dia juga tidak seperti teman SMA lain yang tidak mengetahui keterlibatanku di pasar gelap. Bahkan, Arde sudah melihat sosokku sebagai anak SMA. Sosok yang tidak pernah disaksikan oleh Emir, Inanna, atau Rina.
Ke depannya, seiring Arde aktif di Akadia, dia akan sering berhubungan denganku. Aku tidak akan memungkiri kalau orang mengatakan Arde akan menjadi teman terbaik yang paling mengenalku. Ya, aku tidak akan memungkirinya.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1