I Am No King

I Am No King
316.2 – Webnovel vs Novel cetak


__ADS_3

Hai Haiii…… Ren Igad desuyoo…..


So, chapter pengumuman ini lebih ditargetkan untuk author-author lain yang ingin membuat novel. Banyak yang ingin membuat novel. Dan banyak juga yang bertanya bagaimana cara membuat novel yang bagus. Untuk yang tidak tertarik bisa langsung skip karena ini sangat panjang.


Ada 1001 cara membuat novel yang baik mulai dari plot, karakter, dan lain sebagainya. Namun, yang akan author bahas kali ini adalah media. Media yang berbeda tentu saja membutuhkan pendekatan yang berbeda. Dan, saat ini, media membaca novel ada 2 macam, yaitu web (platform) dan cetak. Perbedaan ini juga memengaruhi penyajian cerita dan, secara tidak langsung, juga akan mempengaruhi jumlah read.


Isi tulisan ini tidak fix, hanya kesimpulan dari pengamatan baca web novel dan novel cetak. Referensi utama adalah ******** (baik jepang dan cina), light novel, dan qidian. Jadi, hanya personal opinion. Fokus review ini lebih kepada komponen penulisannya. Jadi, writer tidak akan membahas origin dengan detail. Dan, karena ini bukan tulisan ilmiah, ga ada daftar pustaka atau referensi ya :P


 


 


\===============================================


 


 


Apa itu web novel? Apa itu Novel cetak?


Well, sederhananya, web novel adalah novel yang dipublikasi di website (internet) atau platform sedangkan novel cetak publikasi di penerbit (cetak). Genre pun beragam, mulai dari drama, slice of life, action, horror, dll. Lalu apa yang membedakan kedua jenis tulisan ini? Jelas, media publikasi. Namun, perbedaan media publikasi ini juga melahirkan perbedaan-perbedaan lain.


Kalau menggunakan analogi bentuk tulisan yang diketahui, web novel bisa dianalogikan sebagai manga atau komik sedangkan novel cetak ... ya novel. Hahahaha, agak ambigu ya? Ya, sederhananya seperti itu sih.


Oke kita ulas satu per satu masing-masing unsur. Ah, karena ini review, bukan cerita karangan, kata ganti pertama pake istilah writer. Author biasanya digunakan untuk pengarang (berlaku untuk tulisan fiksi seperti novel, komik, cerpen, dsb.) sedangkan Writer digunakan untuk penulis (berlaku untuk tulisan non fiksi seperti biografi, resensi, review, dsb.)


Unsur pertama yang akan writer bahas adalah jumlah kata. Pada media website atau platform, author memiliki rintangan pada jumlah kata yang akan dimuat dalam satu bab. Rintangan jumlah kata bukan disebabkan oleh batasan platform atau media internet, tapi lebih kepada kenyamanan pembaca. Jika bab terlalu pendek, minat pembaca bisa berkurang. Namun, jika terlalu panjang, minat pembaca juga bisa berkurang.


Lalu berapa jumlah kata yang ideal untuk web novel? Di internet, banyak berseliweran mengenai jumlah kata ideal. Ada yang bilang 1.000 – 2.000. Ada yang bilang 2.000 – 3.000. Mayoritas, berkutat antara 1.000 sampai 3.000 kata. Kurang dari 1.000 kata dianggap bab selingan. Lebih dari 3.000 kata dianggap bab spesial.


Namun, jumlah kata itu dibuat pada masa ******* dan wordpress berkuasa. Saat ini, mulai ada tren platform berbayar baru. Pada mangatoon ini misalnya. Jumlah kata yang sering ditemui adalah 700 sampai 1.000-an kata. Lebih dari itu dianggap mubazir karena dianggap tidak bisa menyumbang view yang banyak.


Pada Web novel, secara tidak langsung, jumlah kata berhubungan dengan frekuensi update. Semakin sering update, jumlah kata lebih sedikit tidak masalah. Namun, kalau update lama misal 2 minggu sekali atau sebulan sekali, jumlah kata lebih banyak sering digunakan.


Novel cetak juga mengalami dilema yang sama, tidak adanya standar baku untuk jumlah kata. Namun, jika jumlah kata yang dipermasalahkan pada web novel adalah per bab, pada novel cetak adalah per volume. Jumlah kata per volume tidak bisa ditentukan oleh author. Hal ini sepenuhnya wewenang penerbit.


Di luar negeri, novel umumnya memiliki jumlah kata 40 – 60 ribu. Di Indonesia, novel yang umum ditemukan berada pada jumlah 30 – 40 ribu. Untuk novel teenlit atau chicklit, di Indonesia mayoritas di bawah 30 ribu kata. Jadi, untuk jumlah kata, juga bervariasi.


Unsur kedua yang akan writer bahas adalah bab atau chapter. Umumnya, satu tulisan atau satu publikasi dalam web novel dianggap sebagai satu bab. Dalam web novel jarang dikenal istilah sub-bab. Satu publikasi ya satu bab. Dan, salah satu tantangan terberat dalam web novel ketika publikasi adalah memberi bab tersebut judul. Judul di bab web novel akan memberi gambaran mengenai isi web novel. Kalau kalian membaca "I am No King", setiap bab akan memiliki judul tersendiri. Seperti manga, kan?


Namun, hal ini berbeda dengan novel cetak. Dalam satu volume, novel cetak memiliki beberapa bab, dan masing-masing bab dapat memiliki sub bab. Seorang author tidak memiliki obligasi untuk memberi judul pada setiap bab atau sub-babnya. Tidak jarang juga writer membaca novel cetak hanya menulis "prolog, bab 1, bab 2, epilog".


Lalu untuk sub bab\, writer jarang sekali melihat sub bab novel cetak yang diberi judul. Jadi\, untuk sub bab pada novel cetak\, biasanya hanya ditulis "part 1\, part 2\, part 3" atau hanya diberi tanda bintang (***) atau simbol lain.


Di lain pihak\, tanda bintang (***) atau simbol lain pada Web novel biasanya digunakan jika ada time skip\, atau perpindahan sudut pandang\, atau lokasi. Ada juga yang mengatakan tanda bintang ini menunjukkan perbedaan sub bab pada web novel.


Unsur ketiga yang akan dibahas writer adalah Arc. Sederhananya, Arc adalah semacam satu konflik atau bahasan yang menghubungkan beberapa bab. Secara garis besar, Arc pada Web novel dan novel cetak adalah sama, tapi cara penyajiannya yang berbeda.


Penyajian Arc pada novel cetak biasanya jauh lebih tertata daripada Web Novel. Yang writer maksud bukan masalah perencanaan, tapi masalah urutan dan struktur penyajiannya. Kalau menggunakan analogi, anggap Arc Web novel seperti nasi soto campur sedangkan Arc printed  novel seperti nasi soto pisah. Hahaha, agak aneh ya analoginya? Biar writer jelaskan kenapa menggunakan nasi soto sebagai analogi.

__ADS_1


Kali ini, writer mulai membahas novel cetak dulu, yang lebih sederhana untuk penjelasan Arc. Pada novel cetak, umumnya, satu volume mencakup satu Arc. Pada satu volume novel cetak, penulisan dan penyajian akan terstruktur cukup sederhana mulai dari pengenalan, pengenalan masalah, konflik, puncak (biasanya puncak battle di sini kalo novel cetak tipe pertarungan), dan penyelesaian atau resolusi.


Di sini, writer akan mengambil contoh pada To Aru Majutsu no Index. Pada volume 1, Arc To Aru majutsu no In Index fokus pada pengenalan Index. Pada bab awal, diceritakan mengenai daily Life MC (Kamijou Touma), tempat tinggal, kemampuan, dan pertemuan dengan Index. Intinya perkenalan setting. Beberapa penulis menganggap satu bagian ini termasuk pada Sub Arc.


Bab selanjutnya pada volume 1 To Aru Majutsu no Index membahas tentang Stiyl Magnus dan Kanzaki Kaori. Masing-masing tokoh membawa eksposisi lain dan mulai memperkenalkan konflik yang akan dihadapi oleh MC. Jadi, semua dipersiapkan demi puncak konfliknya, saat Kamijou Touma dipaksa memilih untuk membiarkan ingatan index hilang atau tidak. Setelah konflik, tentu saja kesimpulan dan resolusi.


Alur itu adalah yang sering digunakan pada novel cetak. Karena satu bagian tidak akan tercampur dengan bagian yang lain, writer bilang seperti nasi soto pisah. Writer bilang sering, tapi tidak semua, seperti novel cetak macam durarara.


Karena jumlah kata sudah ditentukan oleh penerbit, Author harus pintar-pintar membagi porsi masing-masing sub arc dan bagian. Semakin ke belakang, biasanya, 1 Arc pada novel cetak akan terdiri dari beberapa volume. Lalu pada satu volume hanya membahas 1 Sub Arc. Di bawah masing-masing sub Arc, ada sub sub Arc. Hal ini baru akan terjadi setelah beberapa volume dan novel cetak sudah cukup populer.


Meski 1 volume hanya 1 sub Arc, tapi masing-masing volume tetap memiliki komponen yang lengkap mulai dari perkenalan hingga penutupan. Perkenalan konflik baru pun umumnya hanya disajikan pada prolog dan epilog, sebagai foreshadowing dan pengenalan sub Arc/volume selanjutnya.


Lalu, untuk Arc Web Novel, bisa dibilang cukup berantakan jika dibandingkan novel cetak. Karena tidak ada yang namanya volume, panjang dan pendeknya satu Arc pun tidak teratur, mulai dari beberapa hingga puluhan bab. Selain itu, alur normal seperti pada novel cetak jarang digunakan pada Web Novel. Karena pencampuran ini lah writer mengatakan Arc Web novel seperti nasi soto campur.


Jika pada bagian awal novel cetak disajikan dengan perkenalan dan sedikit plot (atau konflik), pada bagian awal Web Novel perlu lebih banyak plot dan sedikit perkenalan. Hal ini karena Web novel biasanya update mingguan atau beberapa hari sekali, berbeda dengan novel cetak dimana pembaca sudah membeli 1 volume.


Kalaupun pembaca novel cetak agak bosan, dia bisa “curang” dengan mengintip ke bagian tengah novel. “kecurangan” ini memberi motivasi tambahan bagi pembaca untuk terus lanjut. Namun, hal ini tidak berlaku pada web novel dimana reader tidak bisa curang. Reader hanya bisa membaca sesuai yang telah publish.


Jadi, supaya pembaca akan kembali di bab selanjutnya (yang mungkin minggu depan), plot dan konflik harus dihadirkan lebih awal. Motif agar pembaca kembali ini lah yang membuat bab Web novel hampir selalu berakhir dengan cliffhanger.


Masih di Web Novel. Umumnya, web novel baru akan menghadirkan penjelasan yang lebih detail tentang plot dan dunianya (world building) agak di belakang, disisipkan di antara plot. Karena hal ini, sering sekali di tengah, plot Web novel tampak tidak berkembang, memberi penjelasan plot.


Writer akan menggunakan I am No King sebagai referensi web novel. Pada Arc 1 (chapter 1 – 13), I am No King dibagi menjadi 3 sub arc yaitu bagian pertemuan dengan Emir, battle royale, dan lamaran. Pada bab 1, I am No King memberi perkenalan. Namun, masih pada bab 1, plot dan konflik sudah dihadirkan pada bagian tengah. Padahal masih bab 1, tapi baru setengah sudah konflik. Dan di bab 1 pun Cliffhanger pun sudah dimainkan. Bab 2 hampir penuh dengan plot dan konflik, bab 3 baru penjelasan dan perkenalan dunia (world building) yang lebih banyak dari bab 1 dan bab 2.


Sub Arc 2, battle royale, tidak langsung memunculkan plot, tapi memberi perkenalan dan penjelasan dulu. Pada bagian tengah dan akhir baru fokus di plot. Sub Arc 3 menjadi kesimpulan dari Arc 1. Dari contoh ini, terlihat susunan penulisan yang cukup berbeda dibandingkan novel cetak.


Unsur keempat yang akan writer bahas adalah plothole dan plothook. Lho? Kok plothole dan plothook? Bukannya dua hal itu beda banget ya? Plothook yang bikin novel bagus, plothole yang bikin novel jelek. Well, normalnya seperti itu. Dan, novel cetak dan Web Novel pun juga menganut cerita yang baik adalah yang minim plothole dan banyak plothook.


Namun, di sini, writer memiliki opini pribadi. Menurut writer, plothole dan plothook adalah sesuatu yang hampir sama. Kalian mungkin waktu membaca sering berpikir "kok gini sih. aneh." Nah, kalau keaneah itu dijelaskan di akhir, maka itu adalah plothook. Tapi, kalau dibiarkan begitu saja tanpa penjelasan, itu menjadi plothole.


Untuk pembahasan, writer akan lebih fokus pada plothook. Jadi, plothook sering dipasang dengan satu tujuan. Apa itu? Tentu saja untuk membuat pembaca penasaran dan berharap volume atau bab atau bahkan Arc selanjutnya membahas plothook tersebut.


Plothook memiliki dua kategori, plothook yang akan diselesaikan pada arc itu dan plothook untuk suplai atau investasi masa depan. Plothook tipe pertama sudah cukup jelas. Biasanya, plothook tipe ini muncul di awal hingga tengah Arc, lalu pada bagian tengah hingga akhir digunakan untuk menjelaskan plothook tersebut. Pada kategori pertama, Web novel dan novel cetak cukup sama.


Lalu, kategori yang kedua, plothook untuk suplai atau investasi masa depan. Plothook ini sengaja dibiarkan dan baru akan dibahas pada volume atau arc lain. Tujuannya? Tentu saja membuat pembaca tetap setia. Jika satu plothook investasi sudah dijelaskan, akan diletakkan plothook investasi baru yang menggantikannya.


Pada novel cetak, plothook investasi biasanya muncul di tengah dan dibahas di akhir (epilog). Misal di tengah ada musuh yang tidak dibunuh. Biasanya, di akhir, musuh ini akan muncul lagi, memberi foreshadowing kalau di Arc/volume selanjutnya dia memiliki peran.


Namun, pada Web novel, plothook investasi dan penjelasan tidak jelas kapan munculnya. Bisa di awal arc, di tengah, atau bahkan di akhir. Semau-maunya. Namun, tidak baik juga kalau plothook dibiarkan terlalu lama. Kalau sudah terlalu lama, nanti akan sulit menjelaskannya dan akhirnya terlantar deh. Ujung-ujungnya, plothook yang terlantar ini malah menjadi plothole. Jadi, saran writer, yang sedang-sedang saja.


Unsur terakhir yang akan writer bahas adalah prolog dan epilog. Ini adalah salah satu yang paling beda antara novel cetak dan Web Novel. Pada novel cetak, setiap volume memiliki prolog dan epilog. Prolog berfungsi memberi sedikit gambaran atau eksposisi mengenai plot pada volume tersebut. Epilog berfungsi sebagai penutup cerita sekaligus memberi plothook investasi, foreshadowing volume yang akan datang. Atau, kalau sudah tamat, ya tamat.


Pada Web novel hanya ada 1 prolog. Prolog pada Web novel sama sekali tidak memiliki aturan yang jelas. Bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi di tengah, bisa penjelasan world building novel, bisa apapun. Prolog ini tidak harus menjelaskan kejadian di arc awal. Bisa saja di arc tengah atau akhir. Namun, bisa saja prolognya benar-benar sekedar penjelasan exposisi, seperti menjelaskan MC tewas dan pindah dunia.


Untuk epilog, Web novel juga tidak memiliki standar. Epilog bisa hanya 1 bab, benar-benar (true) epilog. Bisa juga epilog sebagai Arc terakhir. Epilog yang merupakan Arc terakhir biasanya tersusun atas beberapa bab yang menceritakan kehidupan masing-masing tokoh setelah klimaks dan konflik tertinggi terjadi.


Pada Web novel, akhir Arc bukanlah epilog, hanya penutup Arc.


Pada bagian akhir, writer akan memberi contoh web novel dan novel cetak yang telah publikasi dan memiliki perubahan paling kentara, yaitu "death march kara hajimaru isekai kyousoukyoku" yang disingkat desumachi. Sebenarnya, hampir semua web novel dan novel cetak pasti berbeda cerita karena banyak hal di atas. Namun, menurut writer, novel desumachi adalah salah satu novel yang versi Web novel dan novel cetaknya berbeda sejak awal.

__ADS_1


Pada versi Web novel, sejak awal cerita sudah ada konflik. Di kota Seryuu, ketika Satou baru datang, demon sudah menyerang, dan Satou membunuhnya. Lalu, tangan demon yang memunculkan labirin adalah sisa dari demon itu. Di versi web novel ini, Satou bertemu dengan Zena setelah mengalahkan demon, baru lah bertemu Pochi, Liza Tama. Kalau di versi novel cetak urutannya berganti, Satou bertemu Zena, lalu bertemu Pochi, Liza, Tama, baru mengalahkan demon.


Perbedaan dua versi ini tidak lepas dari tuntutan-tuntutan web novel dan novel cetak yang berbeda dimana Web novel perlu menghadirkan konflik dan plot secepat mungkin sementara penjelasan dunia dan perkenalan tokoh sebagai sampingan. Di novel cetak, karena pembeli sudah membeli satu volume, pada bagian awal, konflik hanya bersifat sampingan dan yang utama adalah penjelasan dan perkenalan.


Pada web novel, cliffhanger pada bagian akhir setiap bab akan memberi efek membuat pembaca ingin mengetahui lanjutannya, jadi mereka akan membaca bab selanjutnya entah minggu depan atau kapan, seperti manga. Pada bagian awal memulai novel apalagi. Cliffhanger itu HARUS, WAJIB. Tidak boleh ada chapter berakhir tanpa cliffhanger. Cliffhanger pada ******** boleh dikurangi pada bagian tengah, ketika pembaca sudah mulai terkumpul.


Jika pada novel cetak, cliffhanger ini akan ada di akhir bab atau bahkan akhir buku. Akhir bab untuk membuat pembaca terus membaca buku sampai selesai, sedangkan pada akhir buku untuk membuat pembaca membeli volume selanjutnya. Cliffhanger pada buku tidak terlalu repot.


Lalu, yang terakhir, perbedaan isi. Di jepang, seringkali ******** dan novel cetak memiliki isi yang berbeda. Mulai dari hal minor seperti kehadiran editor hingga perubahan konten.


Contoh perbedaan pada novel Desumachi adalah kematian karakter. Pada web novel, banyak karakter yang tewas sedangkan pada novel cetak banyak yang bertahan hidup. Perbedaan seperti ini biasanya ada pergeseran target pembaca atau sekedar menghindari konflik dengan publik khalayak umum.


Pada web novel, bisa dibilang, ada sistem yang larangan atau peringatan jika konten novel berisi hal yang tidak layak sebagai konsumsi publik. I am No King juga menerapkan peringatan ini pada beberapa novel.


Namun, hal ini tidak terjadi pada novel cetak. Meskipun sudah ada peringatan, orang bisa tetap membelinya. Dan, setelah tahu isinya kontroversial, ramai lah di internet. Kontroversial ini sangat dihindari karena bisa merusak nama baik penerbit. Dan, selain itu, novel cetak minim kontroversial juga memberi kesempatan adaptasi anime, jadi perlu sesuatu yang bisa ditunjukkan di televisi, cerita yang lebih ringan.


Ambil contoh I am No King. Apakah aku ingin I am No King diterbitkan pada penerbit besar dan bahkan mendapat adaptasi anime? Tentu saja ingin. Siapa sih yang tidak?


Namun, tentu saja, aku harus sadar diri. Kenapa? Karena I am No King berisi:


- Kekerasan terhadap anak-anak


- Pembunuhan\, baik anak-anak hingga lansia


- Perdagangan anak atau Child trafficking


- Kekerasan seksual walaupun pada anak di bawah umur


- Prostitusi anak di bawah umur


- Keluarga yang saling membunuh


- Teori konspirasi


- Mental MC yang menganggap pembunuhan normal


Buku seperti ini tidak memiliki target pasar yang menjanjikan di Indonesia. Jangankan Indonesia. Internasional saja masih dipertanyakan.


Dan, walaupun diterbitkan, jika naskah ini mencapai khalayak umum yang belum bisa menerima fakta kalau I am No King HANYA cerita rekaan, baik pihak penerbit maupun aku sebagai author akan jadi bulan-bulanan netizen. Kalaupun ada versi cetak, itu adalah self publishing. Dan peredarannya pun amat sangat terbatas.


Jadi, bagi yang ingin novelnya diterbitkan oleh Penerbit besar Indonesia, perlu kalian telaah lagi isinya apakah sudah sesuai dengan kondisi sosial Indonesia atau tidak.


Yah, demikian yang bisa writer sampaikan. Sekali lagi, tulisan ini hanyalah personal opinion yang writer simpulkan dari berbagai web novel, novel cetak, dan omongan-omongan di forum.


Akhir kata, terima kasih :D


 


__ADS_1


__ADS_2