
~Maul/Hurrian POV~
"Lemah!"
Aku berusaha melepaskan diri dari dinding.
Tampaknya, gada Shanna lebih kuat dari pedangku. Pedangku hancur berkeping-keping dan Shanna melanjutkan serangan. Pukulan Shanna begitu kuat hingga melemparku yang mengenakan armor hingga menembus satu dinding.
Gara-gara serangan Shanna, kini tubuhku menempel di dinding, di dalam bangunan rumah sakit. Tanpa armor ini, mungkin tubuhku sudah terpisah menjadi dua.
Di lain pihak, aku beruntung karena kami berada gedung yang sudah dievakuasi, jadi tidak ada korban jiwa. Dan, karena berusaha memperdaya musuh, lampu dan peralatan pun masih menyala. Berkat tubuhku yang terlempar, ruangan yang seharusnya resepsionis ini menjadi porak-poranda. Meja dan kursi hancur dimana-mana.
"Kau tidak mengenakan topeng atau jubah. Kau bukan anggota elite Agade, ya? Hah! Kalian meremehkanku atau apa? Kalian pikir anggota biasa bisa mengalahkanku?"
Shanna berteriak tidak jelas. Dia bahkan tidak melihat ke arahku. Pandangannya mengarah entah kemana.
Shanna, kamu masih saja seperti dulu, congkak. Kamu benar-benar tidak berubah.
Aku mengangkat tangan, mengendalikan kepingan-kepingan pedang yang tersebar di dekat Shanna.
"Hah?"
Shanna mengeluarkan respon pelan, sedikit terkejut atas seranganku. Namun, dia bergerak dengan cukup cepat dan melindungi tubuhnya dengan Gada. Namun, karena seranganku mendadak, Shanna pun terpisah dari papan selancarnya.
Aku tidak sekedar menyerang Shanna. Aku mendorongnya, membuat tubuh Shanna melayang ke arahku. Begitu dia sampai, aku menjulurkan tangan kanan lurus dan menghantam wajahnya, serangan lariat gulat.
Tubuh Shanna berputar di udara dan menghantam dinding, seharusnya. Shanna berhasil mendaratkan kakinya di dinding dengan cepat. Di saat itu juga, dia melontarkan tubuh dan menerjangku.
Kali ini, aku tidak menerima serangan Shanna dengan pedang, tapi dengan lengan berlapis armor baja. Hasilnya? Gada Shanna hancur dan tubuhnya kembali terpental. Kali ini, tubuh Shanna benar-benar menghantam dinding. Tidak ada lagi aksi akrobat mendarat di dinding. Setelah menghantam dinding, tubuh Shanna terjerembap di atas lantai.
"BRENGSEK! SIAL! BERANINYA KAU!"
Sambil berteriak dan mengumpat, Shanna berusaha bangkit.
Aku tidak langsung menyerang Shanna. Aku menunggunya bangkit.
"MATI KAU!"
Shanna menambatkan ujung cambuk logam di tanah sampingku. Dengan cambuk itu, dia menarik tubuhnya dengan kencang. Dari belakangku, papan seluncur melayang dan mendarat di tangan Shanna. Shanna mengubah papan seluncur menjadi sebuah gada baru. Kali ini, gadanya jauh lebih besar dari sebelumnya.
Aku tidak bergeming begitu saja. Aku berjalan ke depan, ke arah Shanna. Gada Shanna melawan tangan berlapis armor. Dan, sekali lagi, tangan berlapis armor kembali menang.
Gada milik Shanna pecah. Karena dia melontarkan badan begitu cepat, begitu wajahnya berhadapan dengan tinju besiku, tubuhnya pun berputar di udara dan menghantam dinding, lagi.
"SIAL! SIAL! BRENGSEK!"
Ketika melihat Shanna yang mengumpat dan bersumpah ketika dia gagal, aku menyadari Shanna memang belum berubah. Dia masih omong besar tapi minim prestasi. Momen-momen masa kecil kami jadi muncul ke benakku.
Aku jadi teringat ketika kami mencoba memasak untuk pertama kalinya. Dan, seperti biasa, Shanna selalu menyombongkan diri.
(Huh, kalau hanya memasak, semua orang juga bisa. Lihat saja! Akan aku buat kalian terpukau.)
Namun, setelah itu, hasil masakan Shanna justru paling hancur. Bukan hanya dari tampilan, rasanya pun tidak layak dimakan. Ada yang mencoba memakannya, tapi dia langsung memuntahkannya. Bahkan, walaupun sudah memuntahkannya, dia masih terkena diare.
Ketika hal itu terjadi, Shanna akan pergi ke pojok ruangan dan menangis. Kak Tasha pun terpaksa menenangkan Shanna, mengatakan selama dia belajar, Shanna pasti akan bisa mendapatkan hasil yang diinginkan.
Dulu, ketika dia masih kecil, wajah kesal dan kelakuannya masih terlihat lucu. Namun, sekarang, dengan tubuh orang dewasa, justru tampak menyedihkan. Dia, dengan air mata di ujung kelopak, mengumpat dan berteriak tidak jelas.
Sebagian besar dari dirinya tidak berubah. Mungkin, masih belum terlambat untuk Shanna. Mungkin, aku bisa menariknya kembali ke jalan yang benar.
"Dari dulu, kamu tidak berubah ya, Shanna."
"HAH? KAU PIKIR SIAPA KAU MENGATAKAN AKU TIDAK BERUBAH?"
Kenapa perempuan ini selalu berteriak? Apa yang membuatnya begitu emosional?
Aku membuka helm yang menutupi wajah, membiarkan Shanna melihatku.
"....Maul?"
__ADS_1
"Kamu masih mengenaliku?"
"Bagaimana aku tidak mengenalimu? Beberapa saat lalu, wajahmu muncul di berita sebagai anak yang dijual ke Mariander."
Ah, ya, aku lupa soal itu. Bodohnya aku.
"Aku kira kamu sudah melupakan kami semua, keluargamu."
"A-apa maksudmu? Aku melupakan kalian semua? Ba-bagaimana bisa?"
Beberapa kali Shanna menjawab dengan terbata-bata.
Saat ini, kelakuan Shanna benar-benar berbeda dari sebelumnya. Apa ini berarti ada harapan?
"Lalu, kenapa kamu tega melakukan hal itu pada Lili?"
"Pada Lili? Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura kamu! Aku mendengar semuanya! Kau menganiaya organ vital Lili hingga dia tidak mampu memiliki keturunan. Kamu lah yang membuat Lili menderita."
"I, itu......" Shanna tidak mampu memberi jawaban. Dia menundukkan wajah. "Ma, maafkan aku. Aku tidak bermaksud. Aku.....aku tidak tahu apa yang merasukiku saat itu. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku."
Tanpa bisa kucegah, ujung bibirku naik. Tampaknya, tidak bisa aku pungkiri kalau hal ini memang yang kuinginkan.
"Apa kamu bersedia meminta maaf pada Lili kalau diberi kesempatan?"
Shanna mendongak, melihat ke arahku. "Apa menurutmu Lili akan memaafkanku?"
"Aku akan turut serta meminta maaf bersamamu. Bagaimana?"
"I, itu....."
Blarr
Tiba-tiba saja sebuah suara keras terdengar dari belakang. Bersamaan dengan suara keras tersebut, penerangan di lantai ini mati.
Aku berbalik dan melihat sebagian lantai ini sudah hancur. Bahkan, mungkin, sebagian gedung ini sudah hancur. Di depanku, terlihat beberapa pedang raksasa yang tergeletak, menyandar gedung.
Di dalam gedung, terlihat sosok yang..... bukan manusia? Entahlah, aku tidak yakin. Dari pakaiannya yang compang-camping, aku melihat banyak sekali benda berkilau, logam. Hanya sebagian tubuh di dada hingga kepala yang tampak tidak bercahaya.
"Diam kau!"
Sebuah pedang raksasa datang menghantam sosok yang aku perkirakan adalah Weidner.
Aku tidak yakin apa yang terjadi, tapi serangan itu pasti membunuh Weidner, kan? Namun, tidak berhenti sampai situ. Beberapa pedang raksasa lain muncul, menghantam tempat Weidner berada.
"Mari, apa kau tidak berlebihan?"
Meski belum melihat sosoknya, aku berteriak. Namun, tampaknya, Mari tidak mampu mendengarku. Di luar dugaan, aku baru sadar kalau aku sudah tidak memanggil Mari dengan Hanna. Sekarang, bahkan di pikiranku, aku memanggilnya dengan Mari.
"Eh?"
Tiba-tiba saja instingku berontak. Aku melompat ke samping sambil berbalik. Namun, gerakanku terlambat. Sebuah benda tumpul berhasil mendarat ke pelipis kananku. Seolah ingin mencegah kepala terputus, tubuhku melompat ke kiri.
Tubuhku pun terjatuh ke lantai. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha memutar tubuh, melihat ke arah Shanna.
"Shanna?"
"Kau pikir aku akan meminta maaf pada perempuan ****** itu? Dia sudah merebut Weidner dariku! Aku tidak akan memaafkan atau meminta maaf padanya!"
Di saat itu, aku jadi teringat siapa orang yang memakan masakan Shanna atau paling sering menghiburnya. Orang itu bukanlah Kak Tasha, tapi Weidner. Jadi, perlakuannya pada Lili bermula dari kecemburuan.
"Kau mengecewakanku, Shanna."
Aku berlutut, mencoba bangkit. Namun, entah kenapa, susah sekali untuk bangkit. belum sempat aku bangkit, kedua kaki Shanna sudah terlihat di depanku.
"Apa aku tampak pedu–"
Tiba-tiba saja suara Shanna menghilang. Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku mendongakkan kepala. Tidak terlihat sosok Shanna di depanku. Bahkan, tidak ada apa-apa di depanku. Aku menoleh ke kiri dan melihat sebuah pedang raksasa sudah menancap di dinding. Di ujung pedang itu, tampak tubuh Shanna yang ditembus oleh pedang dari samping.
Bukan hanya ditembus. Lebih tepatnya, tubuh Shanna sudah terpisah. Bagian bawah badannya tergeletak di bawah pedang raksasa sementara bagian atasnya terletak di atas pedang. Aku bisa melihat darah dan usus yang terburai di lantai. Sebagian tangan Shanna pun putus oleh tusukan pedang Mari.
__ADS_1
Di saat itu, aku merasa mual. Isi perutku serasa ingin keluar, mendorong melalui tenggorokan. Tanpa bisa aku tahan lagi, isi perutku pun keluar melalui mulut.
Sial! Padahal aku sudah berkali-kali melihat anggota tubuh hancur atau terburai. Aku sudah berhenti muntah sejak lama. Namun, entah kenapa, kali ini, aku tiba-tiba merasa mual. Apa karena Shanna adalah orang yang kukenal?
"Tampaknya perempuan itu belum menjadi robot seperti Weidner."
"Robot?"
Di depanku, tiba-tiba, terdengar suara Mari. Aku mengalihkan pandangan dan melihat sosok Mari yang mengenakan jubah. Dia tidak lagi mengenakan topeng. Dari situ, aku bisa melihat wajahnya yang berlumuran darah. Bahkan, sebagian rambutnya pun sudah hilang, terbakar.
"HAHAHAHA! KAU PIKIR SERANGAN INI SUDAH CUKUP UNTUK MEMBUNUHKU?"
"Sial! Laki-laki ini benar-benar tidak mau mati!"
Mari mengalihkan pandangan dari Shanna dan aku. Pandangannya kembali ke Weidner.
"Hurrian, tolong minta bantuan."
"Eh? Bantuan?"
"Ya. Bantuan. Aku tidak yakin bisa membunuhnya. Headset dan topengku hancur. Jadi, aku tidak bisa meminta bantuan."
"Ba, baiklah."
Aku memegang telinga kanan. Namun, aku baru sadar kalau headsetku sudah tidak ada. Tidak bukan tidak ada. Ketika aku pegang-pegang pelipis dan telinga kanan, tampaknya headset itu hancur. Sebagian suku cadang headset tampaknya masuk ke telinga. Sebagai gantinya, aku bisa merasakan darah mengalir dengan deras dari telinga.
Kenapa aku baru menyadari hal ini sekarang? Alasan kenapa tubuhku susah sekali bangkit sebelumnya adalah karena benda ini masuk ke dalam telinga, merusak keseimbanganku. Dan sebagai efeknya, aku mual bukan karena melihat organ tubuh Shanna yang tersebar, tapi karena aku menoleh terlalu cepat, membuat kepalaku menjadi pusing jauh lebih mudah.
Apa ini yang mereka bilang adrenalin membuat kita tidak sadar pada luka yang diterima?
"Maaf, Mari. Headsetku juga rusak. Aku rasa kita terpaksa membunuh Weidner sendiri atau menunggu bantuan datang."
"Sial juga....."
"Mati kalian!"
Beberapa pedang dan lempeng besi besar melayang. Mari melompat untuk menghindar. Aku juga melompat, niatnya. Sayangnya, tubuhku tidak menurut. Karena keseimbanganku hancur, aku menerima serangan Weidner dengan telak.
"Hurrian!"
Aku terdorong ke ujung hingga menempel tembok. Karena bentuk armorku yang tidak rata, pedang raksasa yang datang mungkin sedikit tergelincir. Jadi, pedang raksasa ini tidak menghantam bagian tengah tubuhku, tapi bagian kiri bawah. Mulai perut kiri hingga kakiku sudah hancur, terlumat oleh pedang raksasa ini.
Belum selesai, masih ada lempengan besi datang. Kali ini, tampaknya, tubuhku mau sedikit menurut. Aku berhasil memiringkan badan ke kiri, membuat lempengan besi itu meleset, seharusnya. Sayangnya, gerakan yang terjadi tidak sejauh yang kuinginkan. Pergeseran badanku terlalu sedikit. Sebagai efeknya, lempeng itu mendarat di bahu kanan, memotong seluruh tangan kananku.
"Aaa....aa....."
Rasanya, aku sangat ingin berteriak, melampiaskan rasa sakit yang muncul di kaki kiri dan bahu kananku. Namun, entah kenapa, suaraku pun tidak mau keluar. Tenggorokanku terasa begitu kering.
Samar-samar, mataku melihat ke sebelah kiri. Di situ, terlihat bagian atas tubuh Shanna yang telah terbelah. Kedua matanya membelalak, memancarkan teror dan kemarahan walaupun sudah tidak bernyawa.
Maafkan aku, Kak Lugalgin. Maafkan Aku, Mari. Tampaknya, aku akan menyusul Kak Tasha.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1