
~Lacuna POV~
Malam di semua kota tidak memiliki perbedaan. Dari setiap kota, kamu bisa menyaksikan langit yang sama-sama indah.
Pikirku sambil mengamati ruangan salah satu petinggi keluarga Ibrahim, dari atap gedung. Ruangan yang menjadi target pengamatan berjarak tiga gedung dari tempatku berada. Aku mengamatinya di atap gedung lain, melalui teropong pada magnum sniper rifle. Dia duduk di belakang meja, pandangan dan tangan fokus pada laptop.
Ruangan itu cukup kosong kalau aku bilang. Hanya terdapat satu meja besar dan satu set sofa di depan meja. Untuk ruangan seluas 4 x 10 meter, aku merasa mereka menyia-nyiakan ruang.
Untuk saat ini, tidak terlihat apapun di luar kebiasaan – aku tarik ucapanku. Belum ada sepuluh menit aku mengamati, sudah ada keributan. Sebuah peluru mencoba masuk ke ruangan, berusaha melubangi jendela. Namun, sayangnya, peluru itu terhenti di jendela.
Dugaanku benar, jendela yang dipasang adalah jendela anti peluru. Dan, menurutku, orang yang melepaskan tembakan juga pasti mengetahuinya.
Aku mengarahkan senjata ke kanan, ke sumber tembakan. Di ujung, berjarak empat gedung, aku melihat Merah berdiri dengan magnum sniper rifle. Dia menggunakan jenis wing-C sedangkan aku menggunakan jenis lupus.
Tidak ada salahnya mencoba. Aku pun melepaskan tembakan ke Merah.
Namun, sayangnya, tepat sebelum menembus kepala target, peluruku terhenti. Sial, jadi dia pengendali timah ya.
Aku menyingkir dari tempat melepaskan tembakan. Seperti biasa, peluru yang baru saja melesat sudah melewati tempatku sebelumnya. Yang repot dari pengendali timah adalah, mereka bisa menghentikan peluru sebelum menyentuh tubuh mereka, lalu mengembalikannya.
Hal ini terjadi karena peluru umumnya terbuat dari timah. Untuk mengakalinya, aku bisa dengan mudah mengganti pelurunya. Namun, magnum sniper rifle tidak akan optimum jika tidak menggunakan peluru timah.
Dengan kata lain, akan sulit jika aku ingin membunuh Merah dari jarak jauh. Merepotkan juga orang ini.
Baiklah, misi malam ini sudah sampai sini saja. Satu serangan akan membuat keluarga Ibrahim waspada. Bahkan, mungkin, besok mereka sudah mendapatkan informasi mengenai kami bertiga –Merah, Pirang, dan aku. Tidak ada yang bisa kulakukan, selain menunggu.
"AAAHHHHH"
"UUAAAA"
"KYAAA"
"AAAGGGGHHH"
Sementara aku berpikir rencana untuk besok, Teriakan demi teriakan terdengar. Sesekali, aku mendengar suara teriakan perempuan.
Ini sudah lewat jam kerja, jadi aku memasang banyak perangkap di gedung ini. Tidak satu pun lantai yang lolos dari perangkapku. Aku jadi merasa sedikit bersalah pada cleaning service gedung ini. Besok pagi, mereka harus membersihkan banyak mayat.
Atau mungkin, justru aku malah berjasa? Setelah ini, setidaknya, beberapa hari ke depan, polisi akan memenuhi gedung ini, membuat karyawan-karyawan yang bekerja di gedung ini terpaksa diliburkan. Mereka akan mendapatkan hari libur namun masih dibayar.
Hahaha. Benar. Aku berjasa. Aku memberi mereka liburan yang dibayar.
Klang
Akhirnya, pintu besi yang menuju ke atap terbuka. Terlihat dua laki-laki berdiri di pintu, tersengal-sengal. Perasaanku saja atau memang semua anggota mafia pasar gelap di negeri ini selalu menggunakan jas? Konyol sekali. Mereka tidak akan bisa bergerak bebas mengenakan jas.
__ADS_1
Namun, karena perselisihan antar mafia pasar gelap di negeri ini diselesaikan oleh pihak ketiga, mercenary, menurutku cukup normal kalau mereka tidak bisa bertarung.
"Ka–"
Dor dor
Belum sempat mereka mengucapkan sepatah kata pun, aku sudah melepaskan tembakan dari pistol, yang sebelumnya terikat di betis.
Baiklah, waktunya pulang.
***
Tok tok
"Hah?"
Aku melihat ke jendela, ke sebuah sosok berambut pirang pendek dan mata coklat.
"Hei, Putih, tolong bukakan jendelanya. Aku bawa piza nih."
"..."
Meski penasaran kenapa dia tidak lewat depan pintu saja, aku tetap membuka jendela, mempersilakan Pirang masuk melalui beranda. Sebelum membuka jendela, aku melepas benang yang terikat di atas jendela. Dengan pengendalian, aku mengulurnya secara perlahan.
Oke, sekarang aku paham kenapa dia lewat beranda. Kalau dia lewat depan, dia harus mengenakan celana dan singlet yang lebih tebal, tidak bisa celana dalam dan singlet tipis seperti sekarang.
"Silakan duduk,"
"Terima kasih,"
Sementara pirang duduk di ruang tamu, aku mengambil satu kotak berisi enam kaleng bir dari kulkas. Kami pun mulai makan piza dan minum bir, di pagi hari.
"Jadi, ada perkembangan apa?"
"Semalam, Merah mencoba membunuh salah satu atasan keluarga Ibrahim. Namun, gagal."
"Menurutmu, dia sengaja gagal atau tidak?"
"Menurutku, dia sengaja." Aku meneguk bir sejenak. "Kalau dia serius, dia pasti sudah menggunakan pengendalian untuk menembakkan beberapa magnum sniper rifle secara bersamaan, menghancurkan kaca anti peluru itu. Tapi tidak."
Aku melanjutkan setelah melahap sebuah piza. "Setelah melepas satu tembakan, dia berhenti dan berdiri, menunjukkan kalau memang ingin lokasinya diketahui."
"Ahh, dia pasti tipe orang yang seperti itu." Pirang melahap piza lain. "Dia ingin memanggil keluarga Ibrahim untuk mengetahui apakah keluarga Ibrahim punya penawaran untuknya. Tapi, apa mereka tidak mendatangimu?"
"Banyak anak buah keluarga Ibrahim mencoba mencapaiku, tapi sayangnya mereka tewas dalam perjalanan."
__ADS_1
"Uwahh..." Pirang sedikit menyipitkan matanya. "Kamu tipe yang suka memasang jebakan ya ternyata. Untung aku tidak terkena jebakan ketika mencoba masuk tadi."
Aku menyeringai. "Kalau tadi kamu langsung masuk, satu jebakan akan langsung aktif. Kamu beruntung karena mengetok dulu."
"Uwah...."
Perempuan ini lucu sekali. Dibandingkan denganku, dia jauh lebih muda. Mungkin dia baru melewati kepala dua. Di lain pihak, aku sudah melewati kepala tiga.
Ugh, memikirkan usia membuatku sedikit depresi.
"Lalu, kamu sendiri, ada perkembangan apa?" Ganti aku yang bertanya.
"Hehe, aku mendapatkan informasi tempat produksi dart gun yang legendaris itu."
Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Pirang baik-baik. Sebentar, rasanya, aku mendengar "tempat produksi dart gun". Apa telingaku tidak salah dengar? Maksudku, baru kemarin kami menerima misi ini dan dia sudah menemukan informasi ini? Tidak salah?
Atau jangan-jangan, dia sudah menyelidiki keluarga Ibrahim sejak lama?
"Bisa tolong ulangi lagi? Kali ini, perlahan."
Aku ingin memastikan tidak salah dengar.
"Hah," Pirang menghela nafas. "Aku.menemukan.tempat.produksi.dart.gun.itu."
Bersambung
\============================================================
Chapter ini satu dari 6 chapter yang diupload secara bersamaan (53-58)
Akhirnya sudah bisa pulang dari rawat inap. Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya. Author sangat berterima kasih bagi reader yang masih kembali setelah sempat kosong gara-gara rawat inap.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1