
~Lugalgin's POV~
Drrr
"Hah?" aku menggumam.
Apa itu? Baru saja, aku merasakan sebuah getaran yang cukup kuat. Apa ada gempa? Namun, Bana'an tidak terletak di daerah aktif gempa. Bahkan, sejak lahir, aku belum pernah merasakan gempa. Atau ada barang besar roboh di dekat sini? Bisa jadi. Ah, sudahlah. Abaikan saja.
"Sampai mana ceritaku tadi?" Aku bertanya pada Ufia yang memeras kain pel.
"Orang dengan pengendalian normal juga terlahir di keluarga Alhold."
Kami sudah hampir selesai membersihkan rumah. Sebelumnya, aku baru menjelaskan mengenai praktik suplai anak-anak ke organisasi para gelap yang dilakukan oleh keluarga Cleinhad. Awalnya, aku mengira Ufia sudah tahu. Namun, ternyata belum. Jadi, aku terpaksa memulai cerita dari situ.
Ketika bercerita, beberapa kali aku mendapati wajah Ufia menjadi masam. Bukan hanya Ufia, orang lain di tempat ini yang mendengar juga masam.
Aku hanya menceritakan sistem yang diberlakukan oleh keluarga Cleinhad secara umum. Aku sama sekali tidak membahas masalah Tasha. Nope. Sama sekali tidak.
"Ah, ya. Itu. Jadi, sebenarnya, keluarga Alho–"
Belum sempat aku mencapai topik utama, sebuah alunan musik terdengar.
"Sebentar,"
Aku mengambil handphone dari saku celana dan mengaktifkan proyektor, menampilkannya ke udara. Terlihat ibu-ibu berambut pirang panjang, Shu En, di hadapan.
"Ada apa?"
[Urgen! Kita kehilangan kontak dengan agen yang bertugas memonitor keluarga Alhold, Apollo, dan Orion.]
"Ung, semuanya?"
[Semuanya! Dan, informasi visual baru masuk.]
Tanpa aku minta, gambar yang ditayangkan oleh proyektor telah berganti. Kini, semua orang di dekatku berhenti bersih-bersih. Mereka melihat panggilan video juga.
Di proyeksi terlihat sebuah bangunan penuh dengan debu. Bangunan itu hancur total. Bahkan aku tidak bisa menerka bentuk asal bangunan itu. Dari ketinggian dinding, seharusnya, bangunan itu memiliki tinggi tiga lantai.
Belum sempat debu menghilang, muncul beberapa titik cahaya, tembakan. Pelak, beberapa orang pun tergeletak di lantai. Namun, masih ada empat atau lima orang yang masih hidup.
"Kok rasanya kenal ya dengan bangunan itu?"
Aku mengabaikan Ufia. Saat ini, pandanganku fokus pada laki-laki berambut pirang. Berbeda dengan beberapa sosok lain yang penuh luka, laki-laki berambut pirang itu sama sekali tidak terluka.
"Shu En, jelaskan keadaan."
[Ya, baik,] Shu En mulai memberi penjelasan tanpa mengganti gambar. [Beberapa menit yang lalu, kami mendapati sebuah gedung melayang lalu menerjang bangunan itu. Pelakunya adalah beberapa orang dengan helm full face yang tadi melepas tembakan.]
__ADS_1
Helm full face ya. Berarti yang beraksi adalah Akadia, Ibu. Namun, siapa target ibu?
Belum sempat aku membiarkan pertanyaan itu muncul dari bibir, sebuah jawaban muncul.
[Tempat itu adalah salah satu aula milik keluarga Alhold, yang terletak di distrik Kainama, kota satelit. Karena daerah ini distrik bisnis, populasi di siang hari cukup banyak. Proses evakuasi sedang berlangsung. Lalu, sinyal pelacak dari agen yang mengawasi Keluarga Alhold, Apollo, dan Orion, juga terakhir kali terdeteksi di distrik ini.]
"Ah, iya, itu aula kedua."
Ufia berbisik. Meski ingin menanyakan aula apa itu, aku menahannya untuk sekarang.
Tampaknya, ibu menyerang Enlil. Aku hampir tidak menyadari kalau Enlil ada di tempat itu. Perhatianku terlalu fokus pada satu laki-laki.
"Agen yang mengawasi mereka tidak usah kau cari. Aku bisa pastikan mereka sudah tewas."
[Tewas?]
"Pelakunya adalah laki-laki berambut pirang itu, Ukin. Dia adalah satu dari tiga murid Lacuna di Bana'an. Aku yakin dia lah yang melakukannya."
"[Hah]"
Ketika aku memberi penjelasan, semua orang pun tersentak. Tidak hanya orang-orang di sekitarku, aku juga bisa mendengar suara Shu En tersentak. Namun, keterkejutan mereka tidaklah penting untukku. Saat ini, mengumpulkan informasi mengenai Ukin jauh lebih penting. Bahkan, jauh lebih penting daripada kakek tua itu.
"Shu En, ada berapa orang yang saat ini mengawasi tempat itu?"
"Apa mereka semua membawa senapan?"
[Yang berjaga tidak. Yang perjalanan sudah membawa.]
"Ketika sampai sana, kalian tidak usah menyiapkan senapan. Siapkan saja kamera agar bisa mengirim visual ke sini. Aku mau mereka tersebar, memberi pandangan dari semua arah. Pastikan mereka tidak mendekat ke area pertarungan. Jangan memegang perlengkapan rekaman, kalian pasang saja pada tripod. Kalau Ukin menyerang, tinggalkan semua barang, selamatkan diri."
[Ah, tidak usah menyiapkan senapan?]
"Ya. Tidak usah. Percaya lah. Kalian tidak mau menyinggung Ukin."
[Baiklah kalau begitu.]
Aku ingin melihat sejauh apa kekuatan Ukin saat ini. Kalau dia bisa lolos dari gedung yang dilempar tanpa luka, bahkan melindungi orang di belakangnya itu, maka kekuatannya benar-benar jauh lebih mengerikan dibandingkan dulu.
Aku meletakkan kain pel di lantai dan duduk di sofa. Yang lain pun berhenti dan duduk di dekatku. Emir dan Inanna duduk di kanan kiri. Ninlil duduk di pangkuan. Jeanne dan Ufia mengambil kursi dan duduk di belakang sofa.
Untung Jeanne dan Ufia tidak duduk di bawah sofa, di dekat kaki. Aku tidak bisa membayangkan pemandangan yang akan terjadi kalau mereka melakukannya.
Oke, kembali ke Ukin.
Video melakukan pembesaran. Setidaknya ada 8 orang mengenakan helm full face, 5 orang membawa pedang mata satu, 3 orang membawa tombak. Mereka semua membawa assault rifle. Setelah menyadari tembakan tidak mampu mencapai target, para penyerang pun maju dengan pedang dan tombak.
__ADS_1
Selain Ukin, ada tiga orang lain. Enlil, lalu ada petarung terkuat Apollo, Karla, dan pemimpin Orion, Constel. Dari tiga orang ini, perhatianku jatuh pada Constel, terutama pada wajahnya yang tampak robek tapi tidak mengeluarkan darah. Tampaknya dia mengenakan topeng silikon.
Delapan lawan empat. Pertarungan ini tidak seru karena aku sudah tahu hasilnya. Namun, setidaknya, aku bisa mendapatkan informasi.
Sebenarnya, saat ini, aku memiliki beberapa pertanyaan. Pertama, kenapa mereka, penyerang, tidak mencoba melempar gedung lain? Apa mereka berpikir kemungkinan menang lebih besar jika langsung menghadapi Ukin dan yang lain? Atau mereka ingin pamer kekuatan?
Dan orang bilang aku pintar? Tidak! Aku tidak pintar! Orang-orang di sekitarku lah yang bodoh. Yah, sudahlah. Daripada menanyakan sesuatu yang mungkin tidak akan terjawab sekarang, lebih baik aku melihat pertarungan ini.
Enlil menyelimuti kedua tangannya dengan sarung tangan besi. Dia membuat sarung tangan besi itu dari logam di lantai. Dengan sarung tangan besi, Enlil menahan semua serangan dari dua penyerang. Salah satu penyerang mundur dan melepaskan tembakan. Namun, Enlil mampu melayani serangan itu dengan mudah.
Sementara tangan kanan Enlil menangkis pedang, tangan kiri menahan tembakan. Dia menggunakan pengendalian untuk mengubah sarung tangan besi di kiri menjadi sebuah perisai. Dengan memiringkan sudut perisai, Enlil membelokkan jalur peluru yang datang.
Meskipun tubuh Enlil terluka cukup parah, gerakannya masih gesit. Tidak salah dia menjadi kepala keluarga Alhold. Dari pertarungan ini, aku bisa melihat dia menggunakan bela diri Wich. Wich adalah bela diri yang fokus pada kekuatan dan kecepatan tangan. Kalau seorang master melepaskan pukulan bertubi-tubi, tangannya tampak menjadi banyak.
Namun, dari yang aku dengar Wich yang sekarang bukanlah bela diri yang utuh. Wich hampir tidak menggunakan kaki. Kekuatan kaki hanya digunakan untuk berdiri di tempat dan bergerak dengan cepat, tidak untuk menyerang. Ada yang bilang Wich yang sesungguhnya juga menggunakan kaki untuk menyerang dan bertahan. Dengan kata lain, Wich yang sekarang adalah versi downgrade.
Akhirnya, satu penyerang tidak sabar dan menyerang dengan gegabah. Enlil memanfaatkan serangan itu. Dia merendah lalu mengangkat tangan beserta badan. Saat itu juga, sebuah tombak muncul dari lantai, menembus dada penyerang.
Melihat kawannya ditembus oleh tombak, penyerang satunya lengah. Enlil tidak melepaskan kesempatan begitu saja. Dia melepas tinju dari jauh, mengirimkan sarung tangan besi. Ketika di udara, sarung tangan besi yang diluncurkan oleh Enlil berubah menjadi mata bor, menancap di dada penyerang.
[Tim tambahan sudah tiba di lokasi.]
Baru saja aku selesai memperhatikan pertarungan Enlil, beberapa layar lain muncul. Bukan muncul. Lebih tepatnya, proyeksi yang sekarang terbagi menjadi 9 bagian. Pada bagian tengah kanan dan tengah kiri, tidak ada tampilan karena yang merekam hanya 7 orang.
"Arahkan masing-masing 2 kamera pada Enlil, Karla dan Constel."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1