I Am No King

I Am No King
Chapter 185 – Alhold Tamat?


__ADS_3

~Emir POV~


"Wow, aku benar-benar tidak menduganya."


"Sama, aku juga."


Inanna merespon ucapanku dengan santai. Bahkan mungkin, terlalu santai.


"Inanna, kamu tidak apa-apa?"


"Ah? Aku tidak apa-apa. Justru aku sedang merasa santai karena kamu membantuku."


Jujur, hari ini, aku merasa Inanna agak aneh. Moodnya naik turun drastis hari ini. Tadi siang, dia menangis ketika tahu Lugalgin meniduri Lacuna. Yah, aku juga sebenarnya ingin menangis sih, tapi masih bisa menahannya.


Kembali ke Inanna. Setelah siang menangis, baru saja dia marah dan membentak Lugalgin. Lalu, sekarang, dia bisa merespon cerita Enlil yang didengar dari earphone dengan tenang. Apa dia sedang masanya? Namun seharusnya, tanggalnya bukan sekarang.


Saat ini, aku dan Inanna duduk di antara puing-puing kediaman Alhold. Sementara Inanna mempertahankan dinding api di utara dan timur, aku mempertahankan dinding api di selatan dan barat.


Bersama kami, ada Om Barun dan Ninlil. Om Barun tampak kelelahan. Dia merebahkan diri di atas tanah. Ninlil masih tengkurap dengan tangan dan kaki terikat. Terkadang, dia masih meronta. Namun, karena aku mengikatnya dengan sebagian dari Krat, dia masih tidak bisa melepaskan diri.


Aku beruntung karena membawa botol minum kecil berisi teh herbal. Bukan hanya aku, Inanna juga membawa botol minum kecil. Kami pun tidak bosan atau haus karena harus menanti Lugalgin.


"Yuan, kamu mendengar semua cerita itu juga?" aku bertanya.


[Ya, aku mendengarnya juga.]


"Kami melarangmu menceritakan hal ini pada siapa pun juga tanpa izin dari kami bertiga. Mengerti?"


[Baik!]


Perempuan ini, Yuan, memberi respon yang cepat dan lantang. Inanna juga penurut, tapi dia jarang memberi respons seperti Yuan. Kalau seperti ini, malah tampak Yuan yang sudah menerima latihan militer dan belum.


Tunggu dulu, latihan militer? Apa ini berarti Yuan berasal dari militer? Bisa jadi. Di lain pihak, entah kenapa, aku merasa bisa mempercayai perempuan ini. Bahkan, aku merasa dia lebih bisa dipercaya daripada Jeanne. Kenapa ya?


Untuk Lugalgin, dia bilang bisa mempercayai Yuan karena yang membawa adalah teman baiknya, Jin, yang kebetulan adalah pemimpin Guan. Kalau sampai Yuan berkhianat, Lugalgin tinggal menganggap Jin dan Guan memang ingin menjadi musuh.


Lugalgin, enteng sekali kamu bilang membuat satu dari enam pilar sebagai musuh. Mereka satu dari enam pilar tahu! Enam pilar! Satu dari organisasi pasar gelap terbesar di Bana'an. Meskipun saat ini kamu memiliki kendali atas dua dari enam pilar, bukan berarti kamu bisa mendeklarasikan perang begitu saja.


Ah, sudahlah. Memikirkan logika Lugalgin hanya membuang waktu.


***


~Lugalgin POV~


Membiarkan Enlil bercerita selama satu jam lebih adalah ide yang buruk. Meski tanpa pengendalian, dia masih mampu melancarkan serangan tangan kosong dengan cepat dan lihai. Karena ayah hanya menghabiskan stamina Enlil, dengan beristirahat dia bisa kembali normal seperti sebelumnya.


Sebuah tinju mendatangi kepala. Aku menggunakan tombak tiga mata untuk menangkisnya, lalu menggunakan bagian belakang untuk menghantam kepala Enlil. Enlil hanya perlu menahan seranganku dengan tangan kiri berlapis zirah, lalu melancarkan serangan lain dengan kaki.


Saat ini, posisiku tidak lebih baik dari ayah tadi. Aku lebih sering menghindar dan menghalau serangan Enlil daripada melancarkan serangan. Tidak! Posisiku lebih buruk. Enlil hanya kehabisan stamina dan kehilangan pengendalian, dan staminanya sudah pulih. Di lain pihak, aku sudah terluka parah gara-gara Ninlil. Kondisi tubuhku sama sekali tidak fit.


Enlil bertarung dengan mengenakan baju zirah, membuat seranganku hampir tidak efektif. Kalau aku ingin melubangi baju zirahnya, aku harus melancarkan serangan tusukan. Namun, hanya dengan memiringkan tubuh, Enlil membiarkan baju zirahnya didorong oleh tombakku. Bukan hanya tombak, shotgun dengan peluru karet ini juga tidak berfungsi.


Ketika aku mengincar persendian, terutama pinggang dan ************ Enlil, dia akan langsung meloncat mundur sambil menggunakan sarung tangan besi sebagai pelindung.

__ADS_1


"Apa hanya segitu kekuatanmu, inkompeten?"


"Kau menghinaku memang karena benci atau sengaja ingin membuatku marah? Membuatku lengah?"


"Hehehe, yang mana ya?"


Enlil yang sekarang jauh lebih merepotkan dari yang sebelumnya. Kalau sebelumnya, dia hanya berteriak "inkompeten! Inkompeten!" dan menyerang membabi buta. Namun, sekarang, serangan Enlil menjadi terorganisir, lebih terhitung. Aku jadi sedikit menyesal atas perbuatanku.


"Enlil, aku ingin bertanya satu hal?"


"Apa?"


Kami berbincang di antara suara dentingan logam, di antara suara zirah dan tombak yang saling menghantam.


"Kenapa baru sekarang kau mengambil aksi frontal seperti ini? Kenapa sebelumnya tidak?"


"Karena komunikasimu dengan Raja sudah semakin intensif."


Aku melayangkan sebuah tendangan. Dengan alas bot besi menghantam, tubuh Enlil terhempas beberapa langkah ke belakang. Namun, dia masih berdiri, bahkan maju kembali. Kami pun melanjutkan pertikaian ini.


"Memangnya kenapa kalau aku berkomunikasi dengan Raja?"


"Kalau kau memiliki wewenang, dan didukung oleh Raja, tinggal menunggu waktu sebelum kau membersihkan kami. Sebelum itu terjadi, sudah selayaknya kami menyerangmu, kan?"


Well, aku tidak menyalahkan logika Enlil. Namun, sayangnya, dia sendiri tidak sadar sedang dimanfaatkan oleh Raja itu. Atau dia sadar? Coba kita pastikan.


"Siapa yang memberimu informasi mengenai komunikasiku dengan Raja sudah semakin intensif?"


"Tidak juga. Sebenarnya, aku sudah tahu apa yang terjadi."


Ya. Seharusnya, pertemuanku dengan Fahren adalah hal yang paling rahasia di kerajaan ini. Bahkan, Agade dan Akadia, termasuk ibu, tidak mengetahui kalau aku beberapa kali berkomunikasi dengan Raja. Yah, setidaknya, itu sebelumnya sih. Sebelum aku memerintahkan mereka mengintai agen schneider.


Kalau ucapan Enlil benar, dimana dia bergerak karena komunikasiku dengan Fahren sudah semakin intensif, berarti ada pengkhianat. Dan, satu-satunya pihak yang terlintas di pikiranku adalah agen schneider. Agen Schneider adalah kaki, tangan, dan mata Raja. Jadi, normal kalau agen schneider tahu Fahren berkomunikasi denganku.


Dengan kata lain, ada agen schneider yang sengaja membocorkan informasi itu pada keluarga Alhold atau bahkan pada Enlil langsung. Dan, rekaman yang diberi Jin dan yang lain pagi ini memastikan semuanya. Dengan kata lain, Fahren sengaja mengadu domba keluarga Alhold dan aku.


"Apa kau sadar sedang dimanfaatkan oleh Fahren?"


"Hoh, kau memanggilnya hanya dengan nama? Aku tidak tahu apakah kalian sudah sangat akrab atau kau tidak memiliki hormat padanya."


Yang benar adalah yang kedua. Aku tidak memiliki hormat padanya.


Enlil melanjutkan, "namun, ya, aku sadar. Dan, tidak peduli walaupun sedang dimanfaatkan atau tidak. Selama kau mati, aku tidak keberatan. Setidaknya dengan kau mati, rasa tidak nyaman di urat nadi ini bisa menghilang."


Enlil menyerang, tapi aku berhasil menghindar. Aku mencoba menggunakan tombak tiga mata sebagai tongkat pemukul, mengerahkan seluruh tenaga pada ayunan. Namun, Enlil berhasil menahan seranganku. Meski dia harus menggunakan kedua tangan, fakta kalau tombak tiga mata berhasil dihentikan tidaklah berubah.


Di saat itu, aku mengambil shotgun dari sarung di punggung dan melepaskan tembakan ke kepala Enlil.


Enlil terpaksa melepaskan tombakku dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan.


Dor dor dor


Aku melepaskan tiga tembakan dengan cepat lalu memasukkannya ke dalam sarung shotgun di punggung. Walaupun hanya peluru karet, tekanan yang dihasilkan sekuat ayunan palu. Meski dia menggunakan zirah, tangannya pasti masih sedikit kesemutan gara-gara mencoba menahan tembakanku.

__ADS_1


"Emir, aku serahkan hidupku padamu."


[Eh?]


Tepat setelah mengatakan itu aku berlari menuju balkon, lalu melompat. Sebelum melompat, aku memberi instruksi pada Emir dan Inanna.


"Emir, tangkap dan bawa aku menjauh dari tempat ini. Inanna, ledakkan seluruh tempat ini. Pastikan darahku menguap atau menghilang dalam serangan."


[Oke!]


[Eh, tunggu, aku belum siap.]


Sementara Inanna memberi konfirmasi, Emir panik.


Emir, kalau kamu belum siap, aku akan mati. Jadi, semoga berhasil.


Bugg


Aku mendarat di sebuah turret tank melayang. Namun, sayang sekali, turret tank ini langsung tidak bisa dikendalikan. Ketika mendarat di atasnya, sebagian darahku terciprat ke permukaannya, membuatnya tidak bisa dikendalikan.


[Ah, Lugalgin! Aku tidak bisa mengendalikan Krat yang kamu kendarai!]


Kendarai? Aku sama sekali tidak mengendarainya. Aku mendarat di atasnya. Atau, lebih tepatnya, jatuh bersamanya.


[Kalau begitu,]


"Akh,"


Entah dari mana, sebuah kain panjang sudah melilit leherku. Bukan, ini bukan kain panjang, ini adalah selendang milik Emir. Saat itu juga, aku mendapati tubuhku ditarik di bagian leher. Emir, apa kamu mau membunuh calon suamimu?


Untuk sejenak, sebuah pemandangan muncul dimana Enlil duduk di sofa, tersenyum. Sebuah senyum dari ujung ke ujung terpasang di wajahnya, seolah dia lega dengan hasil ini. Sementara tangan kiri memegang tombak tiga mata, tangan kananku mengacungkan jari tengah.


Sayangnya, interaksi senyum dan jari tengah tidak bertahan lama. Dalam waktu singkat, bangunan utama Alhold dilalap api besar.


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2