I Am No King

I Am No King
Chapter 125 – Cerita Masa Lalu, Selesai


__ADS_3

"Dan, itulah cerita hidupku sebelum bertemu Lacuna. Cerita mulai dari masa kecil, lalu tentang Tasha, perempuan yang kukasihi."


 


Emir dan Inanna, yang hanya mengenakan celana dalam dan atasan piama, tidak memberi respon. Mereka berdua terdiam, menutup mulut dengan kedua tangan, pipi lembap, dan mata memerah bengkak.


 


Kami duduk di sofa. Sementara aku duduk sendirian, mereka duduk bersebelahan.


 


"Ma, maafkan aku, Gin. Aku... aku tidak tahu hidupmu se..."


 


Inanna berusaha memberi respon. Namun, dia tidak mampu memberi respon dengan benar, suaranya sesenggukan.


 


Aku menuangkan air putih dan membantunya minum. Sementara tangan kiriku memegangi gelas, tangan kanan mengusap punggung Inanna.


 


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak salah apa-apa."


 


"Tidak, aku... minta maaf. Apalagi, aku sudah berulang kali, mencoba mengikutimu."


 


"Sudah kubilang kamu tidak salah. Kamu juga tidak tahu apa-apa saat itu."


 


Kalau rasa bersalah Inanna saja sudah sebesar ini, aku tidak bisa membayangkan rasa bersalah Emir. Maksudku, dia adalah putri Kerajaan ini. Ditambah lagi, keluarga Cleinhad beroperasi dengan izin dari ayahnya, Fahren.


 


"Gi-Gin, aku... aku... aku..."


 


"Sshh... sshh... sshh...."


 


Aku langsung meraih Emir sebelum dia sempat mencoba berbicara lebih jauh. Kini, aku meraih kedua calon istriku dalam pelukan, mencoba menenangkan mereka.


 


"Kalian tidak salah. Kalian tidak salah apa-apa. Tarik nafas, tenang...."


 


"Uaahhh....."


 


"Waa....."


 


Efek yang terjadi justru sebaliknya. Mereka berdua menangis di pelukanku.


 


Ahh... dua calon istriku ini memang tidak tertolong lagi.


 


Aku terus memeluk dan mengusap punggung mereka. Ini adalah urusanku dengan kerajaan Bana'an. Mereka tidak perlu merasa bersalah. Namun, aku paham sih. Orang sebaik mereka pasti akan merasa iba padaku.


 


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berdua berhenti menangis. Kami kembali ke posisi semula, aku duduk sendiri di seberang mereka berdua.


 


"Jadi, biar aku ulangi. Itulah cerita hidupku sebelum bertemu Lacuna."


 


Emir merespon pertama, "sekarang aku paham kenapa kamu tampak tidak menghormati ayahmu."


 

__ADS_1


"Masalah hormat... bagaimana ya..." Aku bingung memberi respon. "Kelihatannya sih memang tidak. Aku selalu menggunakan ayah sebagai kambing hitam atas sesuatu seperti masalah kostum di pesta inaugurasi. Namun, bagaimanapun juga, dia ayahku. Entahlah, aku sendiri tidak terlalu memedulikan hubunganku dengan ayah. Selama dia tidak mengganggu, aku akan membiarkannya."


 


"Gin," Inanna masuk. "Ibu dan ayahmu sudah tahu soal ini, tapi bagaimana dengan Ninlil? Kamu dulu menjanjikan ingin mengenalkannya pada Tasha, kan?"


 


"Aku belum pernah menceritakan ini pada Ninlil. Jujur, aku khawatir. Maksudku, kalau kalian saja merasa bersalah seperti ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Ninlil akan merespon. Sekal lagi, aku khawatir."


 


Ninlil orangnya penurut, pendiam, dan dia juga sangat baik. Kalau Ninlil mendengar semua ini, aku tidak tahu akan sebesar apa perasaan bersalahnya. Dia pasti akan menyalahkan dirinya karena merasa tidak sensitif dan tidak mengetahui penderitaan yang kualami.


 


Padahal, kalau bukan karena Ninlil, aku pasti sudah kabur dari rumah sejak lama. Dan, kalau aku kabur dari rumah, mungkin aku akan tewas sebelum menginjak usia lima tahun. Kalau itu terjadi, aku tidak akan pernah bertemu dengan Tasha.


 


Kalau suatu saat nanti tiba momen dimana aku harus menceritakan ini pada Ninlil, aku justru ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Berkat dia, aku bisa bertahan hidup hingga akhirnya bertemu dengan Tasha.


 


"Jadi, apakah ceritaku sudah memuaskan kalian, wahai para anggota Agade?"


 


[Hahaha, maaf ya Gin, kami menguping.]


 


[Ini ide Mulisu! Salahkan dia!]


 


[HEI!]


 


Sebuah suara statis terdengar dari bawah sofa.


 


Inanna dan Emir sama-sama mengalihkan pandangan.


 


 


[Hahaha, tampaknya memang percuma mencoba mencuri dari Lugalgin, walaupun hanya mencuri dengar.]


 


[Sekali lagi, kami minta maaf, Gin.]


 


"Iya, iya, aku paham kok. Sekarang, matikan ya. Aku ingin berbicara dengan kedua calon istriku. Urusan keluarga."


 


[Baik!]


 


Semua anggota Agade menjawab secara bersamaan.


 


Setelahnya, Emir mengambil benda silinder seukuran bolpoin dan menekan tombol di ujungnya.


 


"Sekarang, apa yang ingin kalian lakukan?"


 


"Huh?"


 


Emir dan Inanna memiringkan kepala, menunjukkan kebingungannya.


 


"Maksudku, aku belum bisa move on dari Tasha. Aku bahkan tidak yakin rasa sayangku pada kalian sebesar rasa sayangku pada Tasha. Di sini, justru aku yang merasa bersalah pada kalian."

__ADS_1


 


Emir dan Inanna saling memandang. Tidak lama kemudian, mereka tertawa kencang.


 


Sebenarnya, aku sudah mengenal kedua calon istriku dengan baik. Jadi, sebenarnya, aku sudah tahu respon yang akan mereka beri. Namun, aku membutuhkan konfirmasi. Aku ingin mendengarnya langsung dari mulut mereka.


 


"Kami tidak keberatan," Emir dan Inanna menjawab bersamaan.


 


Emir yang pertama berbicara, "Kamu belum move on dari Tasha? Ayolah. Kami tidak akan mempermasalahkan hal itu. Kami tahu kalau kamu sudah berusaha menyayangi kami dengan setulus hati. Kami tidak akan mengambil tempat Tasha di hatimu karena kami bukan penggantinya. Kami hanya ingin kamu menyisakan tempat untuk kami."


 


"Dan lagi," Inanna menambahkan, "kalau jalan pikiran kami serendah itu, kami tidak akan pernah setuju dengan poligami, yaitu kamu menikahi kami berdua, kan? Jangan remehkan tuan putri. Sejak lahir, kami sudah dilatih untuk menerima itu semua."


 


Well, aku tidak pernah meremehkan kalian. Aku hanya membutuhkan konfirmasi. Di lain pihak, aku agak prihatin dengan latihan yang kalian terima.


 


"Gin, kami akan selalu menyayangimu."


 


***


 


Aku melepas headset dari telinga. Tanpa cahaya, aku mendengarkan semua cerita itu. Dan sekarang, aku tidak yakin apakah keputusanku untuk menguping adalah benar. Ternyata, selama ini, ada sebuah kisah yang sangat memilukan yang tidak kuketahui.


 


Aku tidak bisa membendung semua kesedihanku. Tanpa bisa kukendalikan, air mata mulai menetes.


 


"Kakak, maafkan Ninlil, Kak."


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Dengan chapter ini, arc 5 pun akhirnya selesai. Arc 6 juga sebenarnya sudah selesai juga, tapi tidak tahu mau crazy update juga atau tidak. Yah, biar author pikir-pikir dulu lah.


 


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


__ADS_2