
"KARENA ITU AKU SEDANG BERPIKIR!"
[....]
[....]
Tidak ada balasan terdengar, baik dari Ibla maupun Mulisu. Tampaknya, mereka tidak menduga kalau aku akan membentak mereka.
Aku masih terdiam, melihat satu benda di tangan kanan yang baru kuambil dari atas peti arsenal, pistol syringe. Selain syringe yang terpasang di pistol, terdapat 4 buah syringe lain dengan ukuran yang berbeda. Syringe ini terisi oleh cairan berwarna perak, serum pembangkit pengendalian.
Namun, setelah kupikir baik-baik, apakah aku benar-benar akan menggunakannya? Apakah aku akan mengambil semua risiko itu demi menyelamatkan Emir dan Inanna? Aku bahkan tidak pernah menggunakan serum ini untuk mencari atau menyelamatkan satu pun anak panti asuhan Sargon. Apakah Inanna dan Emir benar-benar lebih berharga dari anak-anak itu? Atau....
[Gin. Bisa tolong aktifkan fitur panggilan video?]
Emir?
Tanpa pikir panjang, aku menuruti Emir. Aku menurunkan handphone dari telinga dan mengarahkannya ke depan. Dengan jari manis kanan yang masih bebas, aku menerima panggilan Emir.
Akhirnya, di layar muncul proyeksi wajah Emir.
[Gin, maafkan kami karena tidak mampu memahamimu. Maafkan kami karena belum mampu menjadi tempatmu mencurahkan segala kesedihan dan keresahanmu. Aku ingin kamu tahu kalau kami sedang berusaha sekuat tenaga untuk menjadi sosok itu. Dan, maafkan kami karena telah membuatmu berada dalam kondisi sulit ini. Aku paham benar kalau kemungkinan kami keluar dari sini dengan selamat adalah nol persen. Jadi, aku akan meneri–Gin, tolong jangan menangis.]
Eh?
Tanpa aku ketahui, air mata sudah mengalir, membasahi pipi.
Aku.....menangis? Selama yang aku ingat, aku hanya menangis ketika menemukan Erina atau mendapat informasi kematian anak panti asuhan. Aku sama sekali tidak menduga akan menangis ketika mendengar ucapan Emir.
Ayolah Gin! Emir sudah melakukan ini semua dan kamu masih berpikir risikonya?
Aku menggertakkan gigi, mencoba meneguhkan hati. Ketika aku mengambil pistol syringe ini secara tidak sadar, insting dan alam bawah sadarku sudah mengatakan kalau Emir dan Inanna adalah sosok yang penting bagiku. Seharusnya aku tidak bingung lagi! Ya, aku tidak akan membalas kematian mereka! Aku akan mencegah kematian mereka!
"AAHHH!!!"
Aku berteriak kencang, melampiaskan semua kekesalan dan kemarahan ini. Tidak hanya berteriak, aku bahkan membenturkan kepala dengan keras ke bagian samping peti arsenal, tepat di siku peti.
[[[Gin?]]]
Suara mereka terdengar bersamaan. Emir mungkin terkejut karena melihat apa yang kulakukan. Namun, tampaknya, Ibla dan Mulisu hanya bisa menebak dari suara keras yang terdengar.
Darah menetes ke lantai dengan perlahan. Pandanganku sedikit berubah. Mata kananku tertutupi oleh warna merah.
Ya. Aku sadar kalau yang kulakukan agak klise, melukai diri sendiri untuk membuat keputusan. Namun, tidak kusangka, melakukan hal ini terasa begitu menyegarkan dan menenangkan. Seolah semua keraguanku telah keluar bersama dengan darah ini.
"Maaf semuanya. Tapi, dengarkan aku baik-baik." Aku bangkit dan kembali menghadap ke proyeksi Emir. "Aku lah yang akan menghentikan serangan ini."
__ADS_1
[Eh?]
[Apa maksudmu? Kamu hanya inkompeten!]
[Gin! Jangan gila!]
Sementara Ibla terkejut, Mulisu mengatakan sebuah fakta bahwa aku hanya inkompeten. Emir....aku tidak mengira dia akan mengatakan hal itu.
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti, setelah selesai. Sekarang, Ibla, Mulisu aku butuh bantuan kalian. Aktifkan panggilan video kalian."
Sebenarnya, aku bisa saja menjelaskannya dengan cepat di awal. Namun, akan sulit menjelaskannya dan membuat mereka percaya. Akan lebih mudah kalau sudah terjadi.
Proyeksi di udara bertambah dua kotak di samping kiri Emir. Kini, Mulisu terlihat di tengah dan Ibla di kiri.
"Ibla, aku ingin kamu mengamankan rute dari gudangku ke lapangan golf itu."
[Maksudmu mengamankan?]
"Matikan semua alat elektronik di jalurku."
[Untuk?]
"Sudah! Jangan banyak tanya! Segera lakukan!"
"Ba-baik!"
"Mulisu, aku ingin kamu pergi ke lapangan golf itu dengan menaiki pesawat. Sekarang juga."
[Siap!]
"Tapi tujuanmu bukanlah membasmi mereka. Aku hanya ingin kamu berjaga dan melihatku."
[....berjaga dan melihat?]
"Beberapa menit ke depan, aku tidak akan bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Oleh karena itu, aku membutuhkanmu, Mulisu. Untuk penj–"
[Aku akan menanti penjelasan di belakang.]
Mulisu paham kalau ada sesuatu yang tidak bisa kuucapkan sekarang. Aku beruntung karena dia lebih memercayaiku dibanding Ibla. Memang pantas dia menjadi rekan kerjaku.
Aku mengalihkan pandangan ke kanan, ke Emir. Terlihat mata Emir yang mulai berkaca-kaca. Aku tidak tahu dia menangis karena melihatku menangis atau hal lain. Namun, yang jelas, kini, aku sebagai calon suami memiliki kewajiban untuk menenangkannya.
"Emir, tunggu aku. Aku akan menyelamatkanmu."
[Baik. Aku akan menunggumu.]
__ADS_1
Emir tersenyum lebar, semringah. Aku seolah melihat cahaya di belakangnya.
Ya, benar. Aku bersedia melakukan ini semua demi melindungi senyum itu. Aku tidak mau kehilangan senyum tersebut.
"Baik semuanya, aku akan mematikan telepon."
[[[Baik.]]]
Setelah mendengar jawaban mereka, aku pun menutup telepon.
Aku ke ujung ruangan dan mengambil sebuah kain. Setelah membuatnya menjadi gumpalan, aku menggigitnya.
Kini, pandanganku fokus pada pistol syringe di depanku. Dulu, saat pertama kali menggunakan benda ini, dosis 0,5 ml akan memberiku waktu selama 7 hari. Pemakaian kedua, dosis 0,5 ml memberiku waktu selama 3 hari. Kalau perbandingannya lurus, kali ini, waktu yang akan kudapatkan adalah 30 jam. Namun aku tidak butuh 30 jam. Yang aku butuhkan hanyalah 5 menit.
Namun, dengan menggunakan syringe 0,5 ml ini, nilai yang bisa kudapatkan adalah satu per lima puluh dari 0,5 ml, yang akan memberiku waktu antara 30 hingga 40 menit. Setelah melakukan perhitungan itu, aku mengganti syringe yang ada di pistol dan menggantinya dengan ukuran 0,25 ml. Setidaknya, satu per lima puluh 0,25 ml bisa memberiku waktu 15 hingga 20 menit. Lebih dari cukup.
Aku membuang hampir semua serum yang ada di dalam syringe 0,25 ml ini, menyisakannya pada 1 baris kecil. Dengan tegas dan teguh, aku menempelkan ujung pistol syringe ke leher kanan.
Halo, rasa sakit.
Aku menarik pelatuk pistol syringe. Belum sempat tanganku memisahkan pistol ini dari leher, efeknya sudah menjalar ke seluruh tubuh.
Seluruh tubuhku terasa begitu panas seperti terbakar. Seluruh badanku terasa kejang, kaku. Daging dan kulitku seolah sedang dicabik-cabik oleh binatang buas. Semua tulang di dalam tubuhku berteriak, seperti mereka semua dipatahkan secara bersamaan.
Semua anggota tubuhku berteriak. Aku pun ingin berteriak. Tanpa kain di dalam mulut, mungkin lidahku sudah putus.
Sulit bagiku untuk bisa bergerak. Hampir semua indra di tubuh ini fokus pada rasa sakit yang menjalar ke seluruh badan. Kedua tanganku menggenggam ujung peti arsenal, mencoba melampiaskan rasa sakit. Namun, tidak ada gunanya. Tubuh ini masih merasakannya.
AAAAHHHHHH!!!!!!
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya