I Am No King

I Am No King
Chapter 281 – Informasi dan Ancaman


__ADS_3

"Kenapa kamu yang datang? Dan kenapa kamu bisa mengendarai sepeda motor antik padahal ini jauh dari rumahmu?"


"Karena aku inkompeten? Dan, untuk motor ini, aku mengirimnya beberapa saat lalu ketika perang meletus untuk digunakan anak buahku."


Rina bertanya ketika aku datang. Sesuai lokasi yang diberi oleh Ibla, Rina berada di salah satu dataran tinggi di timur danau. Dulu, tempat ini termasuk dalam wilayah Mariander. Namun, karena garis peperangan sudah maju, tempat ini menjadi titik perang baru antara Bana'an dan Nina. Namun, sekarang, dataran tinggi ini sepi, hanya ada aku dan Rina.


Aku sudah memperingatkan Ibla dan Zortac agar tidak mendekat apalagi menggunakan armada udara. Kalau pesawat atau helikopter yang datang langsung berada di jangkauan senjata penghilang pengendalian, yang adalah Rina, mesinnya akan mati. Satu-satunya takdir yang menanti pilot dan penumpang pesawat dan helikopter dengan mesin tidak aktif adalah kematian.


"Aku sudah bilang kamu seharusnya tidak maju ke lini depan lagi, kan! Kamu mau mati?"


"Kehadiranmu yang memaksa! Kalau kamu tidak datang, listrik dan armada darat Bana'an tidak akan mati dan aku tidak perlu ke sini. Aku tidak mungkin diam saja ketika tidak ada orang lain yang memiliki informasi mengenai senjata penghilang pengendalian. Seharusnya, jadwalku hanyalah datang ke pangkalan-pangkalan, setor muka! Sudah! Hanya itu! Kamu yang membuatku repot, tahu?"


"Ya maaf..."


Rina tersengut-sengut, membuang pandangan dengan pipi yang mengembung.


Eh? Tidak salah? Perempuan ini bisa menunjukkan raut wajah seperti itu? Lucunya... Aku kira perempuan ini hanyalah perempuan berdarah dingin yang tidak memedulikan apapun, seperti aku. Tampaknya, aku harus mengevaluasi ulang pandanganku pada Rina.


"Kamu membawa senjata kan?"


"Iya, aku bawa."


Rina membuka box di punggungnya dan mengambil sepasang saber. Dia menjatuhkan dua assault rifle yang menggantung di bahunya. Di lain pihak, aku tidak melepas peti arsenal


"Hiat!"


Rina menerjangku dengan teriakan. Tanpa mengeluarkan seruan atau teriakan, aku juga maju. Serangan pertama datang dari kiri. Dia menusukkan pedang sementara aku memutar tubuh sambil menahan serangan yang datang dari kanan atas dengan tombak.


"Aku akan berusaha menahan diri agar tidak melukaimu."


"Tidak usah repot-repot."


Kami melangkah mundur sejenak lalu maju lagi. Kami berdua saling serang, bertahan, dan menghindar. Ketika Rina menyerang, aku akan menghindari satu serangannya dan menahan serangan yang lain. Dia menggunakan dua saber, jadi Rina bisa melepaskan dua serangan secara bersamaan atau beruntun. Beberapa kali Rina berusaha menahan gerakan tombak tiga mata dengan satu pedang dan menyerang dari sisi lain. Namun, aku bisa menghalaunya dengan memutar tombak, menahan kedua serangannya.


Di lain pihak, Rina memilih untuk tidak menerima satu pun seranganku. Setiap ayunan dan tusukan yang dihasilkan dengan tombak tiga mata selalu dihindari. Dengan panjang 2 meter, ayunan dan tusukan tombak ini memiliki tenaga yang besar. Kalau Rina menangkis seranganku, kemungkinan dia bisa bertahan tanpa luka atau kegagalan sangat kecil. Kalau dia menahan serangan tombak tiga mata, kemungkinannya adalah sabernya terlepas, atau patah, atau tangannya terkilir.


"Gin, mumpung kamu di sini, aku punya informasi yang sangat tidak mengenakkan."

__ADS_1


"Apa itu?"


Sambil bertarung, kami bertukar informasi. Alasan sebenarnya kenapa kami tidak menggunakan senjata api adalah agar mendekat. Dengan demikian, kami bisa berbicara dengan volume normal, tidak perlu berteriak. Jadi, walaupun ada yang menguping menggunakan alat, mereka tidak akan tahu isi perbincangan kami. Selain itu, suara logam berdenting dari tombak dan saber menutupi percakapan kami. Ditambah, mesin sepeda motor masih menyala. Jadi suara kami semakin tertutup.


"Rina, sebelum itu, ada helikopter mendekat dari belakangmu."


"Aku paham!"


Aku melepas tendangan tinggi ke dagu Rina. Rina dengan lincah salto ke belakang beberapa kali. Dalam prosesnya, dia beberapa kali melihat helikopter yang mendekat, membuatnya jatuh dan meledak. Melihatnya jatuh, kami beruntung karena helikopter itu masih menggunakan mesin rotasi.


Aku segera menutup jarak dengan Rina. Aku khawatir ada militer Bana'an yang mengawasi. Kalau membiarkan Rina tanpa serangan terlalu lama, ada kemungkinan militer Bana'an yang mengawasi berpikir aku tidak serius.


Rina mengayunkan kedua saber dari kiri, membuatku harus menahan dengan tombak tiga mata dan bergeser ke kanan. Begitu bergeser ke kanan, aku mengarahkan pandangan ke selatan, melihat 6 buah pesawat jet yang jatuh dan meledak.


"Gin, baru saja ada pesawat jet di belakangmu."


"Aku melihatnya."


Aku tidak tahu siapa yang memberi perintah untuk membiarkan keenam pesawat jet itu lepas landas dan datang ke sini. Namun, siapa pun itu, dia bertanggung jawab atas nyawa mereka. Kalau menuruti ucapanku dan tidak mendekat, mereka pasti masih hidup. Dasar bodoh!


Aku kembali menerjang Rina dan rutinitas kami lanjut saling menyerang, menangkis, bertahan, dan menghindar. Pada titik ini, pertarungan kami lebih mirip dengan koreografi seperti pada film.


"Sebelumnya, bukankah seharusnya kamu sudah dianggap tewas? Lalu kenapa kamu ada di sini? Aku kira kamu akan low profile, tidak muncul ke depan umum."


"Awalnya aku juga mengira demikian. Namun, ketika kembali, Ibu membuat pernyataan ke intelijen dan militer kalau aku berhasil diselamatkan sebelum serangan terjadi. Namun, entah kenapa, hanya intelijen dan militer yang tahu. Menurutku, ibu memiliki rencana untukku."


"Ah, begitu ya."


"Itu tidak penting, Gin!"


Tidak! Untukmu mungkin tidak penting. Namun, untukku, informasi itu cukup berharga.


"Gin, ibu berencana menggeret seluruh benua ini ke dalam peperangan."


"Hah? Kamu bercanda, kan?"


Rina menggeleng. "Aku serius."

__ADS_1


Sambil bertarung, aku menerima informasi yang diungkapkan oleh Rina. Saat ini, kerajaan Nina memang hanya fokus melawan Mariander dan Bana'an. Namun, dalam waktu dekat, Ratu Amana, Ratu kerajaan Nina, akan memobilisasi angkatan darat ke selatan dan angkatan laut ke barat.


Angkatan darat akan dimobilisasi ke selatan dengan dalih berusaha menyerang Bana'an. Namun, tentu saja, mereka tidak akan bisa melakukannya dengan mudah. Di selatan Nina, yang adalah barat Bana'an, berdiri kerajaan Agrab. Untuk mencapai Bana'an dari selatan, militer kerajaan Nina harus melewati kerajaan Agrab. Dan tentu saja Agrab akan menolak militer Nina masuk dan melewati wilayah mereka. Mereka khawatir diserang ketika militer itu "lewat". Ketika militer Nina memaksa "lewat", Agrab pun akan terseret ke peperangan.


Hal yang sama juga terjadi di pesisir barat laut benua Ziggurat. Nina akan menggerakkan angkatan laut ke barat, memutari benua, untuk menyerang Bana'an. Namun, tentu saja, Nina tidak benar-benar berencana memutari benua hanya untuk menyerang Bana'an. Yang diinginkan oleh Nina hanyalah memasuki zona perairan kerajaan Nippur, menyeretnya ke peperangan. Bahkan, kalau dibiarkan begitu saja, Republik Dominia di barat daya benua juga akan terseret ke peperangan.


"Apa ibumu sudah Gila? Apa yang dia inginkan sampai berusaha menyeret semua kerajaan dan Republik Dominia di benua ini ke peperangan? Kupikir dia hanya ingin menjadikanku Raja."


"Awalnya aku juga berpikir demikian. Aku juga hanya mengira ibu ingin menjadikanmu Raja."


"Terus itu apa?"


"Aku tidak tahu!"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2