I Am No King

I Am No King
Chapter 264 – Inkompeten


__ADS_3

Suara sirene terdengar kencang, membuatku berhenti untuk sejenak. Beberapa saat kemudian, suaranya berhenti.


"Giliranku?"


"Iya, giliran Kak Lugalgin."


Aku mengambil satu kartu dari kanan, dari tangan Rina. Ah, aku beruntung. Jack hitam pun keluar dari tanganku, berkumpul dengan kartu-kartu lain di tengah meja. Setelah itu, aku membiarkan Ami yang duduk di kiri mengambil satu kartu dari tanganku.


Tadi, sebelum pertarungan dimulai, aku sudah tiba di satu ruangan khusus di tengah kota, di kantor pemerintahan yang juga adalah rumah Count yang berkuasa, yang adalah anggota Akadia. Meski ditinggalkan, tempat ini masih rapi dengan seluruh perabotan mewah dan ekstravagannya.


Alasan utama aku berada di tempat ini adalah sistem keamanan kota ini. Di kanan dan kiri ruangan, terpasang televisi besar yang menunjukkan siaran cctv di seluruh kota secara langsung. Jadi, aku bisa mengawasi jalannya pertarungan dari sini.


Setelah mempersiapkan semuanya, pintu pun diketuk, mempersilakan empat orang masuk. Yang satu, aku memang mengundangnya ke tempat ini, tuan putri Rina. Namun, sisanya, sama sekali tidak aku duga akan datang ke sini? Siapakah mereka? Mereka adalah Etana, Ami, dan Gena si mercenary. Karena sama-sama dibuang oleh keluarganya, Etana dan Ami tidak lagi menyandang nama keluarga.


Kami berlima duduk di meja di tengah ruangan. Aku menghadap pintu karena harus mengawasi layar di kanan dan kiri. Etana di seberang, Rina di kanan, Ami dan mercenary di kiri. Kami berempat bermain kartu "Old Maid". Namun, berbeda dengan "Old Maid" biasa, kami tidak menggunakan Joker. Kami mengambil satu kartu secara acak dari tumpukan dan menutupnya di tengah meja. Jadi, kartu yang tidak memiliki pasangan baru akan ketahuan di pertengahan atau akhir permainan.


Karena kalian sudah familier dengan Etana dan dagu lebarnya, aku akan lebih fokus pada perkenalan Ami. Dia adalah anak perempuan berusia....


"10 tahun!"


Ami menyambung dan memberi jawaban.


Ya, 10 tahun. Aku menemuinya beberapa tahun lalu, sebelum Agade terbentuk. Dia memiliki mata bulat hitam yang tampak jernih. Dengan wajah yang juga bulat, anak ini benar-benar lucu dan manis. Sambil main kartu, terkadang aku mencubit bibinya yang begitu lembut dan kenyal.


Dulu, dia memiliki warna kulit kuning langsat. Namun, setelah beberapa tahun tinggal di negara tropis, warna kulitnya mulai gelap. Meskipun aku bilang mulai gelap, kulitnya masih di tingkat sawo matang, bukan sawo busuk apalagi hitam. Namun, meski demikian, hal ini membuat rambut hitamnya tidak mencolok lagi. Karena rambut hitamnya, aku sempat mengira dia adalah anak bangsawan. Namun, setelah kutelusuri lebih lanjut, bukan. Orang tuanya hanyalah warga sipil biasa.


Dulu, berkat penghilang pengendaliannya, dia dikucilkan oleh masyarakat di sekitar dan akhirnya orang tuanya pun membuangnya. Para tetangga menganggap Ami sebagai terkutuk dan semacamnya. Untungnya, tidak sampai satu tahun, aku menemukannya.


Saat itu, aku sedang menjalani misi pemburuan. Target kabur ke luar kota dan pergi ke pedalaman gunung. Aku mendatangi tempat persembunyian target hanya untuk menemukannya terkapar tewas. Di situ, aku bertemu dengan Ami yang hanya mengenakan kaos compang-camping, memegang pisau berlumur darah.

__ADS_1


Saat pertama menemuinya, dia begitu liar. Bahkan Ami langsung berusaha menusukku. Gerakannya pun sangat cepat. Namun, karena gerakannya sederhana, aku bisa menangkap dan menahannya dengan mudah. Karena dia masih anak-anak, dan aku masih memiliki memori mengenai anak-anak panti asuhan Sargon, aku tidak membunuhnya, hanya berusaha menenangkan.


Setelah itu, hampir setiap hari, aku menyisihkan sedikit waktu untuk menemuinya. Pagi sampai siang di sekolah, siang sampai sore menemui Ami, malam menemui Lacuna. Saat itu, aku selalu menggunakan alasan ekstrakurikuler dan main dengan teman sebagai alasan. Sebelumnya aku tidak pernah bermain, karena keluarga Alhold, jadi aku mengira ayah dan ibu bahagia karena akhirnya aku bermain. Namun, setelah kejadian akhir-akhir ini, aku mulai berpikir mereka hanya membiarkanku.


Saat menemui Ami, dia sudah bisa berbicara cukup lancar. Jadi aku menyimpulkan dia dibuang setelah mencapai usia 4 tahun atau lebih. Setelah akrab, Ami mulai bercerita kenapa dia hidup di situ. Setelah itu, aku menemukan cara untuk menekan kekuatan Ami dan mengirimnya keluar dari benua ini. Kenapa? Karena saat itu aku masih berurusan dengan keluarga Cleinhad. Aku tidak mau Ami terseret.


Kenapa aku mengatakan semua ini? Mudah. Karena semua hal mengenai Ami berhubungan dengan isi pembicaraan kami berempat malam ini. Ngomong-ngomong, pelayan perempuan yang datang bersama Ami adalah salah satu mercenary yang dulu kubayar untuk menjaga dan membesarkan Ami, namanya Gena. Namun, entah bagaimana, sekarang dia menjadi pelayan.


"Berbeda dengan Kak Lugalgin yang memang tidak mengurus Agade, Ami justru ujung tombak AmiAmi Corporation."


Ami memberikan pembukaan sambil membiarkan Etana mengambil satu kartu dari tangannya.


"AmiAmi Corporation?"


Tiba-tiba saja sebuah nama perusahaan multi nasional muncul di telingaku.


"Benar," Gena masuk. "Beberapa tahun lalu, saat membesarkan Ami, aku melihat dia memiliki bakat dalam pemecahan masalah. Dengan kecerdasan Ami, aku dan beberapa mercenary lain, yang kamu sewa secara terpisah, bekerja sama dan mendirikan perusahaan ini. Berkat arahan dan bimbingan dari Ami, AmiAmi Corporation pun menjadi perusahaan multinasional yang bergerak di banyak bidang."


"Jadi, sebenarnya, aku sudah tidak perlu membayar jasa kalian para mercenary."


Ami menjawab. "Sebenarnya iya, tapi karena Kak Lugalgin jarang menelepon dan mengecek keadaan Ami, jadi Ami tidak cerita. Tapi, karena Ami akhirnya sudah bertemu dan main kartu dengan Kak Lugalgin, mulai bulan depan, Kak Lugalgin sudah tidak perlu membayar mereka lagi. Ami sudah bisa membayar mereka. Hehehe."


"....oke, aku tidak ada alasan."


"Menurut dugaan Ami, Kak Lugalgin tidak mungkin aktif di pertarungan ini. Berkat kehadiran Kak Rina, Ami memperkirakan kakak hanya akan mengundangnya berbicara, kan?"


"Ya, begitulah."


Salah satu ketakutanku terjadi. Bukan soal Ami yang menjadi ujung tombak perusahaan, tapi kepada mercenary yang dibayar untuk saling mengawasi malah bekerja sama dan menipuku.

__ADS_1


"Dek Ami," Rina masuk. "Saat ini posisi pemilik dan CEO AmiAmi Corporation, secara legalitas, kan bukan dek Ami. Apa di masa depan dek Ami ada rencana mengalihkannya ke nama dek Ami?"


"Tidak mau! Ami tidak mau nama Ami terpampang dimana-mana atau bahkan tersebar dimana-mana. Ami Cuma mau hidup santai dan bermain."


Benar-benar jawaban khas Alhold. Awalnya, saat mendengar dia memimpin AmiAmi Corporation, aku sempat penasaran apakah dia benar-benar Alhold? Kan mungkin saja ada inkompeten lain yang tidak berasal dari keluarga Alhold. Namun, setelah jawaban itu, darah Alhold jelas mengalir di dalam tubuh kecil dan lucu Ami.


 


 


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2