I Am No King

I Am No King
Epilog 1 – Intelijen


__ADS_3

"Ulangi!"


"Siap, Instruktur Emir!"


"Aku tidak dengar!"


"SIAP! INSTRUKTUR EMIR!"


Aku melihat latih tanding kembali dimulai. Untuk memudahkan pengamatan, aku menggunakan pengendalian dan terbang, melihat dari langit.


Di hutan, lima puluh pemuda pemudi sedang melakukan latih tanding. Sebagian besar melakukan manuver gerakan, melompat dari satu pohon ke pohon lain. Mereka melakukannya untuk menghindari serangan lawan atau menyerang dari belakang. Namun, ada juga yang frustrasi dan berusaha merobohkan pepohonan yang dia lihat.


"Emir, apa menurutmu proposal kita akan dikabulkan?"


"Seharusnya sih dikabulkan." Aku menjawab Shinar. "Maksud dan tujuan Lugalgin sudah sangat jelas. Bahkan Yuan juga sudah membuar proposal yang sesuai prosedur kerajaan. Dan, seharusnya mereka tidak memiliki masalah mengingat anggaran yang kita minta relatif lebih sedikit dibanding kepolisian dan militer."


Shinar telah tumbuh menjadi wanita yang menarik perhatian. Tubuh berisi dengan kaki panjangnya benar-benar memesona. Rambut hitam yang dipotong pendek seolah menunjukkan kalau dia ingin memamerkan tubuhnya.


"Menurutmu bagaimana, Yarmuti?"


"Tidak ada gunanya juga sih sebenarnya proposal kita dikabulkan atau tidak. Kalau pun tidak dikabulkan, kita tinggal melakukannya tanpa diketahui siapa pun. Kita intelijen. Melakukan hal yang 'tidak pernah ada' adalah keahlian kita. Kita juga bisa menaikkan sedikit retribusi transaksi pasar gelap kalau memang membutuhkan dana."


"Heh! Pemikiranmu benar-benar berani."


Ya, aku setuju dengan perempuan berambut hitam ini. Kami tetap bisa melakukan apa pun meskipun proposal tidak dikabulkan. Melakukan pekerjaan yang "tidak pernah ada" adalah keahlian kami.


Yarmuti tidak mengecat rambutnya menjadi hijau seperti dulu. Dia membiarkan rambut hitamnya tumbuh panjang hingga menutupi pinggul. Menurutku, dengan dada yang datar, seharusnya Yarmuti tidak memanjangkan rambut. Kalau rambutnya hanya menyentuh punggung, dia bisa membuat pinggulnya lebih mencolok.


Di lain pihak, aku sudah memiliki tiga anak tapi dua perempuan ini masih belum menunjukkan ketertarikan pada pernikahan, terutama Yarmuti. Shinar masih cukup muda, jadi dia belum menunjukkan ketertarikan adalah normal. Yang membuatku khawatir adalah Yarmuti. Dia lebih tua dariku, kan? Yah, sudahlah. Keputusan berada di tangan mereka.


"Nomor 37, kalah!"


"Nomor 15, kalah!"


Peserta yang terkena cat dari pisau atau peluru mengangkat tangan dan berteriak.

__ADS_1


Sesuai rencana Lugalgin, pelatihan dan perekrutan murid intelijen dimulai sejak jenjang SMP dan SMA. Saat ini, kami melatih mereka yang setara dengan jenjang SMA kelas 2. Kelas yang kami latih adalah kelas A, kelas khusus. Di masa depan, diharapkan murid kelas A akan menjadi agen elite. Jadi, mereka mendapat latihan yang paling keras dan berat dibanding kelas lain.


Sejak perang pasar gelap berakhir, intelijen Bana'an menjadi ketergantungan pada Empat Pilar. Lugalgin tidak menginginkan hal ini terjadi. Dia ingin intelijen Bana'an bisa berdiri sendiri, independen, tanpa bergantung ke organisasi pasar gelap.


Saat ini, alasan pasar gelap bisa terkendali adalah karena Lugalgin yang memimpin. Dengan Lugalgin sebagai ujung tombak, dia menjalin koneksi dengan Empat Pilar. Namun, Lugalgin khawatir kalau dia pensiun atau tidak lagi menjabat. Ada kemungkinan Empat Pilar tidak akan bisa dikendalikan lagi. Jangankan Empat pilar, organisasi pasar gelap biasa pun memiliki potensi untuk berontak.


Jika intelijen Bana'an memiliki kekuatan tempur setara Empat pilar, secara tidak langsung, intelijen menjadi pilar kelima.


"Ngomong-ngomong, sampai sekarang, aku masih cukup terkejut Agade mau memberikan tempat ini, Yarmuti."


"Tidak apa. Tempat ini juga tidak pernah kami gunakan lagi. Semenjak kematian Mari, entah kenapa, kami tidak ada niatan untuk melakukan tes ulang. Kami tidak mau menggeser posisi Mari di nomor 6."


Aku terdiam sejenak, mengingat sosok perempuan berambut putih pendek dengan wajah juteknya.


"Aku paham. Aku sendiri tidak ingin menggeser posisi Mari."


Sebuah kenangan melintas. Dulu, ketika Lugalgin membeberkan kalau dia adalah Sarru, aku dan Inanna harus melalui tes. Kami harus bertarung melawan Lugalgin di tempat ini, hutan di pegunungan. Menurut tes itu, Mari berada di posisi keenam. Dan, sejak kematiannya, semua anggota elite Agade tidak ada niatan untuk menyelenggarakan tes lagi.


"Ngomong-ngomong, Yarmuti, dulu kriteria kalian menerimaku dan Inanna apa ya? Apa hanya karena kami lebih baik dari Ibla? Atau apa? Aku jadi penasaran."


Oke. Alasan diterima. Aku tidak bisa menyanggah.


"Hei!" Shinar menyela. "Aku benci ketika kalian membicarakan Agade! Kalau membicarakan Agade, kalian membuatku merasa tersisih."


"Ahahaha. Maaf, maaf. "


Setelah Federasi Kerajaan Nina berdiri, intelijen kembali dilebur. Sejak saat itu, Shinar dan Yarmuti mendapat wewenang khusus dari Lugalgin untuk menjalankan intelijen. Selain Lugalgin, satu-satunya orang di intelijen yang memiliki wewenang lebih tinggi dari mereka adalah Yuan. Bahkan aku tidak memiliki wewenang. Aku hanyalah seorang instruktur.


Tiba-tiba saja nada dering berbunyi. Aku membuka layar smartphone dan membaca pesan yang masuk.


"Permaisuri Rahayu dan Perdana Menteri sudah mengabulkan proposal kita. Jadi, kita bisa melaksanakannya sekarang juga."


"Akhirnya!"


"Eh? Sekarang juga?"

__ADS_1


Sementara Yarmuti senang dengan pengumuman yang kubawa, Shinar justru setengah terkejut.


"Apa tidak terlalu cepat? Kita bahkan belum memberi penjelasan singkat soal proposal ini, kan?"


"Shinar," Yarmuti menyanggah. "Intelijen harus bersiap untuk menghadapi skenario terburuk. Belum lagi mengingat mereka akan disandingkan dengan anggota elite dari Empat Pilar. Kalau tidak bisa beradaptasi, mereka tidak akan bisa mencapai posisi kita!"


Aku cukup kagum dengan Yarmuti. Ucapan yang muncul dari mulutnya bukanlah omongan tanpa bobot. Beberapa tahun terakhir, dia terus melawan trauma masa kecilnya. Sekarang, dia bisa menghadapi dengan semua anggota Alhold tanpa gemetaran.


Aku menambahkan. "Ayolah Shinar. Kamu sudah membaca proposalnya, kan? Sebagai orang yang mendapatkan latihan fase kedua dari Yarmuti, kamu tahu betapa signifikannya proposal ini, kan?"


"Ukh ...."


Dulu, aku terkejut ketika mendengar kalau latihan yang diberi Lugalgin ke Shinar hanyalah fase pertama. Awalnya, Lugalgin berencana melanjutkan fase latihan setelah Shinar sudah dianggap cukup. Namun, pengkhianatan oleh ayah mengubah segalanya. Pelatihan fase kedua dilaksanakan oleh Yarmuti ketika mereka menjalankan intelijen yang independen.


"Hah .... "Shinar menghela napas. "Baik, aku mengerti."


Sebenarnya, proposal yang kami ajukan bukanlah izin menjalankan fase kedua. Proposal yang kami ajukan hanyalah penambahan dana untuk melakukan penanaman ulang pohon di hutan ini. Kenapa kami mengajukannya? Alasannya adalah ini.


Aku menarik napas dan berteriak kencang. "Satu menit lagi, kami bertiga akan melepaskan tembakan dan ledakan secara acak. Jadi, sambil bertarung, kalian harus menghindar! Pastikan kalian tidak terkena ledakan dan tewas ya!"


"Hah?"


"Anda pasti bercanda, instruktur Emir!"


"Instruktur Shinar, Instruktur Yarmuti, tolong hentikan Instruktur Emir!"


Semua murid berteriak dan merengek. Aku bisa mendengarnya dari seluruh penjuru hutan. Aku punya pilihan untuk memberi teguran. Namun, aku lebih memilih untuk mengabaikan mereka. Shinar dan Yarmuti pun melakukan hal yang sama.


Yarmuti menggunakan pengendalian pada 8 buah senapan laras panjang. Shinar membuat beberapa tombak tumpul. Aku, tentu saja, menyiapkan 8 buah turret tank.


Meski tampak berbahaya, sebenarnya, tidak ada satu pun amunisi yang kami tembakkan mengarah ke seseorang. Semua tembakan memang ditarget ke lahan kosong di sekitar peserta. Namun, tentu saja, mereka tidak mengetahuinya. Kalau ada yang mampu mengasah insting untuk mengetahui arah tembakan, bisa dibilang, murid itu layak lulus.


"Satu menit sudah berlalu!"


 

__ADS_1


 


__ADS_2