
“Eh? Gin kamu Sarru? Lalu, saat itu, yang menyerang kami. Apakah kamu–”
“Emir, tenang,” aku mencoba menenangkan Emir. “Dengarkan ucapan Mulisu baik-baik. Yang menyerangmu saat itu adalah Kinum palsu. Dia tidak pernah menyerangmu, dan aku tidak pernah memberi perintah melakukannya.”
Muka Emir masam. Tampaknya, dia masih kesulitan mempercayai ucapanku.
Aku menancapkan tombak ke tanah dan berjalan ke arah Emir.
“Percayalah. Mulisu adalah rekanku, aku tidak akan menyerangmu. Kamu tahu itu, kan?”
Aku mengusap kepala Emir dengan lembut, terus mencoba menenangkannya. Aku melihat, perlahan, tangan Emir yang mengepal mulai lemas. Dia pun melepaskan kuda-kudanya.
“Baiklah kalau begitu. Aku percaya kamu, Gin.”
“Terima kasih,”
Sementara Emir melunak, Inanna malah melihat kami semua dengan mata berbinar.
“Tidak kusangka aku adalah calon istri Sarru yang legendaris itu. Apa ini berarti aku akan menjadi anggota Agade juga?”
Oke, isi kepala perempuan ini tidak normal.
Di lain pihak, “Emir, saat ini, aku hanya bisa memberi penjelasan kalau aku adalah Sarru, pemimpin Agade. Apa kamu–“
Tiba-tiba saja Emir memeluk tubuhku erat, “Sebelumnya, aku tidak tahu siapa kamu yang sebenarnya. Namun, aku sudah mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Aku menyayangimu, Gin. Kalau Sarru adalah Lugalgin, maka aku akan menyayanginya juga.”
Oke, aku mengaku kalah.
"Saat ini, hanya sebatas itu penjelasan yang bisa kuberi. Karena, tampaknya," aku tidak menyelesaikan kalimat, melihat ke sekitar. Aku mengalihkan pembicaraan ke kawan-kawanku ini. "Kalian ingin aku mengetes mereka dulu sebelum memberi penjelasan lebih lanjut atau mengenalkan mereka pada kalian, kan?"
"Menurutmu?" Mari menjawabku dengan nada ketusnya.
Kalau orang pertama kali bertemu dengan Mari, mereka pasti akan mengira dia ketus. Tapi, itu hanya nadanya. Sebenarnya, tidak.
Umma menambahkan. "Sudah jelas kan kenapa kami tidak menyediakan kursi."
"Kalau terlalu lama, kasihan Ibla." Yarmuti masih menggoda Ibla.
"Hehe, ya, begitulah." Ninmar menyimpulkan, yang sebenarnya tidak benar-benar memberi kesimpulan.
Grup cewek menjawabku dengan cepat. Di lain pihak, para cowok hanya tertawa.
"Ada yang ingin kalian tambahkan? Hai para cowok?"
"Apa itu perintah?" Ur bertanya kembali.
"Tidak, aku hanya bertanya."
"Kalau begitu, bisakah kamu tidak memintanya terlalu mendadak? Kan aku ada agenda lain."
Ur, kalau kamu mau berkomentar, tidak usah bertanya apa itu perintah atau bukan.
"Halah, Ur, kali kamu cuma main Frontliners, kan?" Elam menyanggah.
"Lalu kenapa? Ada event penting sekarang! Kamu mau menyuruhku membayar tagihan handphone hanya untuk internet? Lalu apa gunanya aku membayar tagihan wi-fi di apartemen?"
"Ur, kalau kamu mau, ini kamu pegang handphoneku untuk wi-fi. Sekalian titip sementara aku menguji mereka."
Aku melempar handphone layar sentuh dari dalam saku.
Ur menerima handphone yang kulempar dan wajahnya berbinar. Setelah menerima handphone itu, dia langsung mengeluarkan handphonenya dan fokus pada game.
"Simurrum, Urua'a, bagaimana dengan kalian?"
"Ah, tidak, kami tidak ada komentar."
"Iya, kami tidak ada komentar. Kami tidak iri karena kamu bisa mendapatkan dua calon istri cantik sementara kami masih tidak mampu mendapatkan satu pun kekasih."
Ung, kalau kalian mau mencari kekasih, bagaimana kalau kalian mengganti cara berpakaian kalian? Sudah berapa kali aku bilang pakaian kalian itu, secara tidak langsung, mengusir cewek. Bahkan cewek pasar gelap juga tidak akan sudi dengan cowok yang tampak seperti berandal jalanan kelas teri.
"Ibla?" Aku bertanya pada Ibla.
"Aku hanya time keeper."
"Jadi, kesimpulannya, langsung dimulai saja?" Mulisu mengakhiri percakapan kecil kami.
"Ya, baiklah. Emir, bisa tolong lepaskan pelukanmu?”
“Ung...”
Emir mengangguk dan melepaskanku.
“Mulisu, di mana shotgunku? Di lemari hanya ada tombak ini. Aku tidak melihatnya."
"Ini..."
Dari dalam tanah, sebuah lipan besar muncul. Lipan itu terbuat dari puluhan pisau yang dihubungkan oleh kawat baja. Di atasnya, terlihat sebuah shotgun yang disarungkan. Aku pun mengambil shotgun itu. Sudah lama sekali aku tidak memegang senjata tipe ini, shotgun lever-action 18 inci.
Aku terdiam sejenak. Mulisu, apa kamu harus memunculkan lipan ini? Apa kamu tidak bisa memberikan shotgun ini dengan cara normal?
Namun, aku sedikit terkejut ketika melihat reaksi Emir. Emir terdiam, kedua kaki gemetaran. Mungkin Mulisu ingin menunjukkan pada Emir kalau dia memang benar Kinum.
"Seperti biasa, untuk tes hanya 5 peluru karet." Mulisu memberi penjelasan
"Oke, terima kasih," Aku merespon.
Mulisu berjalan menuju Emir dan Inanna sementara aku mengikat tas panjang berisi shotgun di bahu, melintang dari bahu kiri ke pinggang kanan.
Ketika Mulisu mendekat, dengan pakaian Kinum, aku bisa melihat Emir sempat akan, akan, melangkah mundur. Namun, dia mampu menahan diri dan menunggu Mulisu.
"Jadi, begini aturan mainnya," Mulisu memberi penjelasan. "Ini adalah tes untuk kalian menjadi anggota Elite Agade. Kalian akan berlari ke belakang, pergi ke dalam pegunungan dan hutan. Kalian tidak boleh pergi lebih dari 1 Km. Kalian akan menemui pagar pada jarak 1 Km tersebut.
“Setelah satu menit berlalu, Lugalgin akan mengejar kalian. Tujuan kalian sederhana, bertahan selama mungkin. Kalau kalian sudah terkena peluru atau ditodong atau mendapati tombak Lugalgin di depan organ vital, maka tes dianggap selesai.
"Kami tidak membatasi cara yang harus kalian tempuh untuk memperpanjang waktu. Mau kalian kabur, bersembunyi, atau melawan Lugalgin, terserah, yang penting tidak lebih dari 1 Km. Dan, kalau kalian menyerang Lugalgin, lakukan dengan niat membunuh. Jangan khawatir, dia tidak akan tewas."
Hei! Kamu bercanda kan? Aku masih bisa tewas. Dan lagi, kalau serangan jarak jauh, dua perempuan itu adalah monster. Mereka bisa membunuhku.
"Hingga saat ini, waktu paling cepat dipegang oleh Ibla, yaitu 5 menit 28 detik."
"Dan waktu terlama dipegang oleh Mulisu dengan waktu 1 jam 57 menit 11 detik." Aku menambahkan ucapan Mulisu.
Aku sudah berdiri di samping Mulisu, melihat ke arah Emir dan Inanna.
Inanna mengangguk-angguk. "Maaf, apa aku boleh bertanya."
"Kalau pertanyaannya seputar tes ini, aku akan menjawabnya," Mulisu merespon.
__ADS_1
"Yang namanya Simurrum yang mana?"
Inanna bertanya menggebu-gebu. Entah kenapa, tampaknya, dia begitu bersemangat.
"Simurrum adalah laki-laki berambut merah ini," Yarmuti menjawab dengan cepat sambil menunjuk sosok di sampingnya dengan jempol. "Waktu Simurrum adalah 30 menit 21 detik. Menurutku, mungkin kamu berada di menit 30 atau 29. Kalau kamu berusaha, mungkin kamu bisa mendapatkan angka 31 menit. Sebagai referensi, Simurrum adalah tipe orang yang hit and run. Well, sebagian besar dari kami menggunakan hit and run sih ketika menjalani tes ini."
"Eh? Yarmuti, menurutmu perempuan berambut hitam ini memiliki potensi untuk mengalahkanku? Tidak! Sebelum itu, bahkan, kamu mengatakan dia lebih baik daripada kamu dan Uru'a?"
"Sayangnya, iya."
Nada Yarmuti terdengar berat sedangkan Simurrum ringan.
"Terima kasih, Yarmuti."
"Ya, sama-sama." Yarmuti merespon Inanna dengan enteng.
Di lain pihak, Emir tidak mengatakan apapun.
"Emir?"
Emir tidak merespon. Matanya masih melekat pada Mulisu, yang melihat ke Inanna. Ini tidak bagus. Tampaknya, traumanya ketika menghadapi Kinum palsu itu muncul. Mungkin dia berpikir kalau yang palsu saja bisa mengeluarkan teror yang begitu besar, bagaimana dengan yang asli? Mungkin.
Aku meletakkan kedua tangan di pipi Emir dan menatap matanya dalam.
"Emir!"
"Eh?"
"Kalau kamu takut, tidak apa, aku tidak akan memak–"
"Gin," Emir menyela. Dia membalas tatapanku. "Kalau aku mengikuti tes ini, aku akan mengetahui semua hal tentang dirimu?"
"Ya, aku... tidak," aku mengoreksi ucapanku. "Kami semua akan mengatakannya."
"Kalau begitu, aku akan mengikuti tes ini."
Emir mengatakan semua itu setelah mendapatkan konfirmasi.
Aku penasaran, kalau aku mengatakan tidak, apa dia masih akan mengambil tes ini? Yah, tidak ada gunanya memikirkan apa yang tidak terjadi.
Aku melepas tangan dari pipi Emir dan mundur beberapa langkah. Emir menarik dan menghembuskan nafas.
"Ah, aku lupa mengatakan." Mulisu kembali memberi penjelasan. "Ketika Lugalgin mulai mengejar, dia akan terus memancarkan aura haus darah dan niat membunuh. Anggap ini sebagai handicap untuknya. Kalau dia tidak melakukannya, kamu tidak akan tahu keberadaan Lugalgin dan saat kamu sadar, BOO, dia sudah berada di belakangmu. Selain itu, ini juga ujian apakah kalian bisa menahan haus darah dan niat membunuh yang dipancarkan Lugalgin."
Meskipun aku ingin berteriak "kamu kira aku hantu?", aku tidak mengatakannya. Maksudku, ayolah, aku adalah seorang inkompeten. Tidak mungkin kan aku menerjang lawan dari depan? Sama saja aku cari mati, kan? Cara yang terbaik bagiku adalah menyelinap dan menyerang dari titik buta mereka.
"Emir, maaf, bukan maksudku menghina, tapi ini fakta." Mulisu melihat Emir. "Karena kamu lebih lemah, jadi kamu yang akan menjalani tes ini pertama. IBLA!"
"Ya!"
Ibla mengeluarkan handphone dari dalam saku. Dia bertugas mencatat waktu.
"Emir, silakan bersiap."
"Baik!"
Emir menjawab dengan teriakan. Kini, dia tidak terlihat gemetaran lagi. Pandangannya kembali tajam. Ya, Emir dengan pandangan tajam ini adalah Emir yang biasanya.
"Mulai!"
Beberapa ledakan langsung muncul di salah satu dinding. Dalam waktu singkat, Emir sudah melubangi dinding dengan turret tank dan kabur, memasuki hutan.
"Kukira dia akan bertanya bagaimana caranya pergi." Mulisu memberi respon. "Elam, bagaimana menurutmu? Mengingat kamu juga meledakkan dinding ini ketika mengambil tes ini?"
"Secara raw power dan kekuatan pengendalian, dia spesial. Dia mampu mengubah empat turret menjadi zirah, pelindung tangan, dan pelindung kaki, dalam waktu yang sangat singkat. Di saat yang bersamaan, dia melepaskan empat tembakan dari empat turret yang tersisa. Semuanya dilakukan kurang dari dua detik."
Elam menjelaskan analisis yang dia dapatkan dari aksi pertama Emir.
"Tapi, tes ini tidak hanya bergantung pada kekuatan pengendalian dan raw power," Ur, yang melihat layar handphone, memberi tambahan. "Yang terpenting adalah bagaimana dia menjaga jarak dari Lugalgin tanpa keluar batas. Kalau kita hanya membicarakan peringkat berdasarkan dua hal itu, Umma lah yang akan berada di atas. Tapi, nyatanya tidak! Setelah Mulisu, aku lah yang ada di puncak."
"Heh!" Umma masuk. "Selisih waktu kita tidak sampai 2 menit."
"Dan berapa kali kamu mengambil tes ini tapi masih belum bisa mengejar dua menit itu?"
"Uuhh......"
Ummu, perempuan berambut merah-coklat, tidak mampu melawan. Aku seperti melihat remaja yang dibully oleh anak SD. Lucu sekali. Padahal, umur mereka adalah sama.
"Lugalgin, sudah hampir 1 menit."
"Baik."
Aku mengonfirmasi Ibla dan menarik tombak yang menancap di tanah. Aku mulai berjalan ke dinding.
"Siap? Mulai!"
Blar blar blar
Ledakan demi ledakan muncul di lubang dan di luar dinding. Semua ledakan itu tidak muncul bersamaan, tapi bergantian. Tampaknya, Emir berusaha menghentikan pergerakanku.
"Wow, cukup kreatif juga perempuan itu," Mari memberi komentar dengan nada ketus. "Selain itu, serangannya sangat akurat. Dia bisa melepaskan tembakan entah dari mana tapi tidak satu pun ledakan berada di dalam dinding."
"Apa yang akan dilakukan Lugalgin? Apakah dia akan menanti begitu saja, menunggu bombardir ini berhenti, atau langsung menerobos? Kita nantikan, para pemirsa."
Ninmar, kamu kira kamu komentator? Dan, kamu kira ini pertandingan sepak bola?
Aku menarik nafas sejenak. Hanya dengan satu nafas, aku memancarkan semua haus darah niat membunuh. Dalam waktu sejenak tersebut, ledakan-ledakan itu terhenti. Aku langsung berlari, menuju ke hutan. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
***
Emir POV
Ini, apakah ini haus darah dan niat membunuh Lugalgin? Perasaan dan teror ini benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Kinum palsu itu. Padahal, aku sudah melakukan latihan mental untuk menghadapi aura membunuh. Namun, akhirnya, aku masih harus menyayat telunjuk kiri agar tetap sadar.
Dan, sialnya, aku sudah berada di ujung arena. Di depanku, sebuah pagar kawat setinggi satu meter berdiri. Jadi, setidaknya, aku sudah berada sejauh 1 kilometer dari bangunan itu. Namun, kini, aku merasa jarak yang kubuat ini sama sekali tidak berguna. Seolah-olah, Lugalgin bisa muncul kapan saja.
Aku sempat menghentikan bombardir ketika Lugalgin memancarkan aura. Di saat itu, Lugalgin pasti sudah pergi dari bangunan.
Sambil berpikir, aku masih melepaskan bombardir ke sumber aura membunuh ini. Namun, seperti ucapan Mulisu, tampaknya Lugalgin tidak akan tewas hanya karena hal ini. Bukannya aku mau membunuh Lugalgin, tapi, sumber aura membunuh ini terus bergerak, menghindari bombardir. Seolah-olah, Lugalgin sudah tahu kemana aku akan melepaskan tembakan.
Aku menghentikan bombardir dan mengubah empat turret tank menjadi satu katapel besar. Dengan sedikit perubahan di ikatan kimia dan struktur atom, aku bisa mengubah sebagian dari silikon menjadi keras dan di bagian lain lentur.
Aku melempar tubuhku ke katapel, melontarkan diri. Tentu saja aku tidak meninggalkan Krat. Begitu aku dilontarkan katapel, aku mengubah Krat menjadi selendang.
Lontaran katapel mampu melemparku hingga 200 meter. Sebelum aku mendarat, aku mengubah Krat menjadi sebuah trampolin, membuatku memantul terus-menerus.
__ADS_1
Meski aku tidak bisa pergi lebih jauh dari 1 kilometer, setidaknya aku harus terus bergerak.
Sudah lebih dari tiga menit sejak Lugalgin mulai mengejar. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi sepertinya Lugalgin masih bergerak. Bagaimana bisa dia terus berlari selama tiga menit tanpa berhenti? Apa dia tidak kelelahan?
Aku capek, aku ingin berhenti dan mengambil nafas. Mengubah ikatan kimia dan struktur atom Krat menghabiskan stamina. Ditambah lagi, tekanan udara yang dihasilkan oleh aura haus darah dan membunuh Lugalgin begitu besar, membuat nafasku lebih pendek. Namun, aku tidak berani istirahat. Aku khawatir Lugalgin mengejarku.
Namun, aku, capek. Aku akan berhenti sejenak di atas pohon, beberapa detik.
"Hah.... hah....."
Tidak peduli kemana pun aku pergi, sumber aura membunuh Lugalgin selalu mendekat, seolah-olah, dia tahu kemana aku akan pergi.
Nafasku tersengal-sengal. Bahkan keringat sudah mengalir deras. Namun, aku harus pergi lagi.
"Eh?"
Aku ceroboh, kakiku terselip. Aku membuat tubuhku melayang di Udara dan kembali ke pohon. Kalau bukan karena Krat, aku pasti sudah terjatuh dari pohon.
Dor
Aku langsung menunduk ketika mendengar suara tembakan.
Lho? Sejak kapan Lugalgin sudah sedekat ini? Aku bisa merasakan aura haus darah dan niat membunuh Lugalgin sudah dekat. Tampaknya, momen singkat tadi hampir jatuh membuatku lengah.
Saat ini, aku tidak tahu dimana Lugalgin berada. Kelihatannya, setelah berada pada jarak tertentu, aku tidak akan bisa mengetahui lokasi Lugalgin secara pasti. Aku hanya tahu dia dekat. Aura haus darah dan niat membunuh Lugalgin memberi tekanan yang terlalu besar.
Aku mengoleskan keringat ke luka di telunjuk kiri. Meskipun terasa perih, tapi ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap sadar. Aku tidak boleh pingsan karena aura Lugalgin.
Dugg
Pohon tempatku berpijak tiba-tiba bergetar kuat, seperti ditendang. Aku takut, dan khawatir, tapi aku memaksakan diri untuk melihat ke bawah. Di bawah, terlihat sosok Lugalgin yang mengarahkan shotgun ke arahku.
Dor
Aku langsung melompat, menghindari tembakan Lugalgin. Lugalgin sudah menggunakan dua dari lima peluru. Kalau aku beruntung, mungkin Lugalgin akan kehabisan peluru.
Aku berlari dari pohon ke pohon. Sesekali, aku melihat ke belakang. Lugalgin menggunakan tombak untuk bergerak dari pohon ke pohon. Dia melompat, lalu menggunakan tombaknya seperti lompat galah.
Jadi begitu ya caranya Lugalgin bisa bergerak begitu cepat. Namun, ini tidak menjelaskan staminanya yang gila itu.
Dor
Aku berhenti ketika Lugalgin melepas tembakan, melihat sebuah peluru melintas di depan mata. Kalau tidak berhenti, peluru itu pasti sudah mendarat di tubuhku.
Sementara itu, Lugalgin semakin dekat.
Apa yang harus kulakukan? Apa aku akan menghadapi Lugalgin dalam pertarungan jarak dekat? Tidak. Aku tidak yakin bisa mengimbangi Lugalgin dalam pertarungan jarak dekat. Kalau begitu.
Aku mengubah semua Krat menjadi turret dan mengirim mereka ke langit. Delapan turret melepaskan tembakan secara bergantian. Aku tidak melepaskan tembakan ke arah Lugalgin, tapi beberapa meter di depan, membuat dinding ledakan antara aku dan Lugalgin.
Jadi, Lugalgin, apa yang akan kamu lakukan?
Aku melihat Lugalgin mengambil handphone candybar dari saku celana. Sebenarnya kamu punya berapa handphone sih, Gin?
Entah kenapa, Lugalgin tersenyum. Dia mengarahkan senjatanya ke depan.
Eh? Apa Lugalgin berniat melepaskan tembakan? Melewati bombardir ini? Apa dia bisa melakukannya?
Dor
Bersambung
\============================================================
Chapter ini diupload Sabtu sore.
Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya.
Tampaknya, ada beberapa komentar yang bisa author respon. So, selanjutnya, ke sesi respons komentar
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Mengenai identitas Lugalgin sebagai Sarru. Tampaknya, hal ini memberi kejutan tersendiri ya. Author juga terkejut (Lho?). Ahaha, bercanda. Tidak, tentu saja tidak. identitas Lugalgin sebagai Sarru sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal. Cukup banyak foreshadowing mengenai hal ini. Lalu, untuk Agade, organisasi pasar gelap apakah Agade? Nantikan di chapter berikutnya.
Kemudian, nama Sarru. Untuk yang dari jawa, pasti terheran-heran. Untuk yang wibu atau otaku, juga pasti terheran. Di bahasa jawa, Sarru bermakna otak porno. Di bahasa jepang, Sarru identik dengan monyet, bawahan Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi. Sayangnya bukan.
Nama Sarru diambil dari kisah yang lain. Untuk yang maniak sejarah, atau game, mungkin sudah menemukan hubungan antara nama Lugalgin, Sarru, Kinum, Agade, dan juga nama masing-masing anggota elite. Namun perlu diingat, nama itu hanya sebagai referensi. Apakah kisah Lugalgin mengikuti kisah itu? Oh, jelas...... tidak! wkwkwkwk.
Nama hanyalah nama, tidak menentukan kisah seseorang.
Lalu, soal kena gen resesip, yah, dinantikan saja. wkwkwk.
Nan, ini ada sedikit hal yang sempat mencuat di beberapa grup dan tulisan lain, yaitu promosi judul di kolom komentar novel lain. Jujur, di kalangan penulis, promosi semacam ini dianggap tidak beretika. Hal ini tidak hanya terjadi di I am No King. Beberapa tulisan lain juga mendapat komentar promosi yang sama. Dan, ternyata, admin mangatoon juga menyatakan kalau tindakan semacam ini dilarang. User yang melakukan hal ini bisa berujung pada ban.
Yang repot lagi adalah, judul yang dipromosikan sudah memiliki tempat tinggi. Kalau promosi di novel setingkat I am No King, malah rasanya kalian merendahkan standar judul itu. Selain itu, secara tidak langsung, kalian mencoreng nama baik sang author. Kalau kalian benar-benar peduli dengan sang author, lebih baik jangan promosi di kolom komentar judul lain.
Author juga meminta agar reader I am No King tidak melakukan hal ini. Meski rasanya kecil sih kemungkinannya, mengingat I am No King hanya novel kelas menengah ke bawah :P.
Author tidak me-reply komentar promosi tersebut bukan berarti author tidak keberatan. Hanya saja, style author adalah merespon komentar di post note, seperti yang dulu sudah author sampaikan dan disetujui juga oleh reader. Jadi, lewat post note ini lah author memberi respons.
Kalau masih terjadi, yang terpikir adalah user yang promosi di kolom komentar judul lain memang adalah double agent, ingin mencoreng nama baik sang author.
Yah, author tidak akan membahas lebih lanjut karena tampaknya admin mangatoon sendiri yang akan turun tangan.
Dan, ya, author sadar respons komentar di post note ini memiliki risiko diserang.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekarang, post note soal certita. Di chapter ini, sudut pandang menggunakan Emir. Ke depan, pergantian sudut pandang akan lebih sering terjadi. Jadi, dengan demikian, cerita akan memiliki variasi.
Lalu, game frontliners. Yang main gamenya, tahu lah ini reference dari apa. Author tidak akan menyebutkan lebih jauh. Kalau cek ig, kalian bisa tahu reference game yang author maksud.
Lalu, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1