
~Lacuna POV~
Beberapa ledakan muncul. Aku dan Sonya masih melepaskan tembakan berkali-kali.
"Hei, Lacuna, apa kamu yakin mau langsung meledakkannya? Apa kamu tidak mau tahu cara membuat senjata penghilang pengendalian itu?"
"Tidak, terima kasih," aku menjawab Sonya. "Aku sudah bilang kan Keluarga Ibrahim menjadi musuh karena senjata penghilang pengendalian itu? Apa kamu mau menjadi musuh semua mafia di negeri ini?"
"Tidak, terima kasih."
Sonya tidak melanjutkan sanggahannya. Perempuan ini suka bertanya, tapi kalau alasannya cukup masuk akal, dia akan berhenti bertanya. Aku suka jika muridku seperti ini.
Pada bagian pabrik ini, tidak ada perubahan banyak dibandingkan kantor. Semuanya berjalan lancar seperti rencana.
Sebuah mobil datang, menjemput dan membawa kami ke tempat selanjutnya, kediaman keluarga Ibrahim. Ketika kamu didukung oleh dua keluarga mafia besar di negara ini, Adams dan Anastasia, semuanya menjadi sangat mudah, seperti mobil ini. Sopirnya pun tidak mengatakan apapun, hanya diam, mengantar kami.
Sekarang, bagian paling sulit, kediaman keluarga Ibrahim. Meski aku dan Sonya sudah membunuh semua personil yang ada di kantor dan di pabrik, pasti ada satu atau dua orang Keluarga Ibrahim yang mengawasi dua lokasi dari kejauhan. Dengan kata lain, informan yang posisinya tidak diketahui. Namun, umumnya, informan ini tidak memiliki kekuatan tempur, jadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Yang merepotkan dari informan ini adalah, mereka pasti sudah memberi laporan kepada kepala Keluarga Ibrahim. Oleh karena itu, keamanan kediaman Keluarga Ibrahim pasti menjadi sangat ketat saat ini. Namun, aku tidak terlalu peduli.
"Sonya, apa kamu ingat rencananya?"
"Ya!" Sonya mengangguk. "Sementara kamu menyerang dari depan, aku menyelinap, memasang jebakan di semua tempat. Ketika mereka berencana kabur, aku meledakkan tempat yang paling ramai, menutup jalan keluar, yang secara tidak langsung menggiring mereka padamu."
"Oke, bagus."
Akhirnya, aku turun tidak jauh dari kediaman keluarga Ibrahim. Karena aku akan mengetuk dari gerbang depan, aku tidak membawa magnum sniper rifle. Aku meninggalkannya di mobil dan menyuruh sopir menyimpannya hingga aku kembali.
Senjata yang kubawa? Hanya sebuah assault rifle AK-12, pita, dan benang. Untuk assault rifle, komposisinya adalah logam campuran, membuat benda ini tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun. Jadi, untuk menggunakannya, hanya bisa dengan cara normal, tekan jari di pelatuk.
Untuk pita dan benang, terbuat dari perak. Pitanya tersebar di seluruh jaketku, terikat di sana-sini seperti sebuah bondage play. Untuk benangnya? Sebagian berada di jaket, sebagian lagi di rambutku, bercampur dengan wig.
__ADS_1
Sebagai tambahan, aku juga mengenakan masker gas, memastikan tetap bisa bernafas lancar kalau ada racun atau asap. Ah, hampir lupa, aku juga membawa katana pemberian Lugalgin, tersarung rapi di pinggang kiri.
Baik, waktunya memulai serangan.
Blarr Blarr Blarr
Setelah aku menekan tombol pemicu di dalam jaket, beberapa ledakan muncul. Bagian yang meledak hanyalah tempat tinggal anggota dan gerbang depan.
Aku berlari, menembus asap dan api.
"APA?"
"AHH!"
"SI-AHH!"
Beberapa orang yang kebetulan berada di pintu depan langsung pergi ke dunia lain. Peluru demi peluru berpindah tempat, dari assault rifle di tanganku ke kepala atau dada mereka. Aku terus bergerak, berlari ke sana sini, mencari tempat berlindung, lalu melepaskan tembakan.
Beberapa orang muncul di kejauhan. Dengan benang perak, aku memenggal kepala mereka. Kini, rambutku terlihat lebih tipis karena sebagian benang perak di wig sudah berpindah ke tangan, menjadi senjata.
Di tangan kanan, sebuah benang perak sepanjang beberapa puluh meter, di tangan kiri, sebuah pita sepanjang beberapa meter. Benang kugunakan untuk membunuh musuh di kejauhan, pita untuk musuh di jarak dekat.
Akhirnya, aku tiba di depan pintu utama. Di sela-sela jendela, terlihat puluhan orang bersiap menerimaku. Dengan benang di tangan kanan, aku memilih untuk memotong tembok, beserta orang-orang yang bersiap di dalamnya.
Ruangan utama, yang tampak seperti aula, runtuh, tidak menyisakan apapun.
Ung, apa aku terlalu berlebihan? Mungkin, tapi aku tidak peduli.
"Hiiaaattt!"
Aku melangkah ke kiri, menghindari serangan yang tiba-tiba muncul dari belakang. Saat aku berbalik, seorang laki-laki tinggi dan besar sudah berdiri. Dia menggenggam sebuah tombak di tangan kanannya.
__ADS_1
Dia cukup hebat karena dapat menghilangkan keberadaan atau rasa haus darahnya. Atau mungkin dia adalah tipe orang yang tidak bisa memancarkan haus darah? Mungkin saja. Tapi dia bodoh karena berteriak.
Aku mengayunkan tangan kiri, mengarahkan pita ke lehernya. Namun, tidak semudah itu. Untuk badannya yang besar, dia memiliki gerakan yang sangat lincah. Dia mampu menghindar dari pitaku dengan mudah. Namun, yang membuatku sedikit terkejut adalah dia melilitkan tombaknya ke pitaku. Di saat itu, aku tidak bisa merasakan pitaku lagi, seolah-olah bagian tubuhku hilang begitu saja.
"Apa kamu terkejut? Tombak ini dilapisi dengan–"
Dor
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Sebagai catatan, author sempat down ketika melihat komentar promosi ke judul lain.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1