
Ninlil yang sejak kecil dielu-elukan sebagai pengendali terkuat keluarga Alhold dan orang paling spesial tidak mampu menerima ucapan Emir. Dia mengendalikan puluhan senjata dan aluminium. Namun, semuanya sia-sia. Belum sempat melepaskan serangan, semua aluminium yang dia kendalikan telah berubah menjadi pasir.
Ninlil termakan emosi dan mau menyerang Emir. Dia mengubah sebuah aluminium menjadi tombak dengan ujung penusuk.
Emir, di lain pihak, menyelimuti tangannya dengan Krat dan menghadapi Ninlil dengan sarung tangan. Ketika berhadapan dengan mata tombak Ninlil, aku mendengar suara tumpul, bukan denting. Dengan kata lain, sarung tangan Emir tidak terbuat dari besi, tapi dari silikon. Suara yang dihasilkan mirip seperti bodi plastik kendaraan dihantam.
Emir dan Ninlil berdua saling melempar, menahan serangan, dan menghindar. Di sekitar mereka, selendang Emir dan senjata api Ninlil masih terus bertarung, menghasilkan pasir yang ditiup oleh udara.
Aku tidak tahu kenapa, tapi tampaknya efek pencucian otak Ninlil masih belum stabil. Ketika menghadapi orang lain selain aku, dia tampak termakan emosi, seolah ingin segera menyingkirkan orang itu dan kembali berurusan denganku.
Sejak awal, Emir sengaja memberi provokasi pada Ninlil. Semakin Ninlil terprovokasi, semakin mudah pula serangannya dibaca.
Di lain pihak, dinding api masih membumbung tinggi, memisahkan kami dari dunia luar. Inanna terus memastikan dinding api berdiri, membuat orang luar tidak mampu mengetahui apa yang terjadi di dalam sini. Emir pun sudah mematikan video kamera dan drone. Dia harus fokus dengan pertarungannya melawan Ninlil. Kalau tidak, risiko Ninlil terluka akan meningkat drastis.
Terkadang, jika ada anggota keluarga Alhold terlihat di kejauhan, Inanna akan langsung menghujaninya dengan peluru. Namun, dia tetap menjalankan permintaanku yang menginginkan mereka hidup-hidup. Setelah ini berakhir, mungkin dia akan meminta penjelasan detail kenapa aku meminta anggota keluarga Alhold dalam kondisi hidup sebanyak mungkin.
Emir sibuk dengan Ninlil. Inanna sibuk dengan dinding api dan keluarga Alhold yang lain. Aku masih menunggu.
Sementara itu, aku terus melihat ke arah ayah. Sampai sekarang, dia belum bergerak. Ayah hanya diam di samping, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menolong Ninlil.
Perlahan, aku bisa merasakan nafasku semakin tenang. Meski belum sepenuhnya sembuh, setidaknya aku sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Perlahan, aku mencoba berdiri, lalu merenggangkan tubuh, pemanasan. Aku harus segera membiasakan tubuh ini dengan rasa sakit agar bisa bergerak dengan lancar lagi.
"Lugalgin, kamu sudah bisa bergerak?"
"Ya, sudah."
Aku melompat-lompat kecil, membiasakan sarafku dengan rasa sakit yang menjalar.
"Masih belum juga ya?"
__ADS_1
"Dia harus pergi ke kantor dulu. Apa yang kamu harapkan?" Inanna merespons dengan enteng.
Meski tampak normal, aku yakin mempertahankan dinding api dan mengeliminasi semua keluarga Alhold yang terlihat menghabiskan staminanya dengan cepat. Keringat pun mengalir dengan deras dari seluruh tubuhnya. Bukan hanya Inanna, Emir juga sama. Keringat yang menempel di tubuh membuat mereka berdua sedikit berkilau. Cukup merangsang.
"Gin, aku mendapatkan perasaan kamu berpikiran hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan serangan ini."
"Yah, mau bagaimana lagi. Kalian sudah membuat adrenalinku turun. Jadi, pikiranku normal lagi. Dan, Inanna, kamu tidak perlu menjawabku. Kamu cukup berkonsentrasi pada apa yang kamu lakukan. Sebelum kamu bertanya, adrenalinku belum turun sejak serangan semalam. Dan, entahlah, mungkin kalian marah tadi siang adalah kejadian yang membuatku paling terguncang sejak semalam."
Dengan kata lain, secara tidak langsung, aku menyalahkan Emir dan Inanna untuk keteledoran ini.
Inanna memicingkan sebelah mata, tampak tidak terima dengan ucapanku.
Yah, aku hanya bilang mungkin sih. Tidak pasti juga. Mungkin, lebih tepatnya, hal buruk terjadi secara bertubi-tubi membuat pikiranku stres.
Aku menarik nafas dalam, mencium baru asap yang tersebar di udara.
Kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini, aku sering stres sendiri ya? Hal ini membuatku menjadi teledor dan lebih mementingkan menyerang langsung. Aku penasaran apa penyebabnya.
Aku melihat ke atas, ke arah Mulisu yang tersenyum sambil memberi salut dari atas lipan logam. Ya, Mulisu baru saja pergi ke markas Agade, mengambil tombak dan shotgunku, lalu kembali ke sini. Dia bisa pulang pergi dalam waktu kurang dari 15 menit. Aku penasaran secepat apa dia? Apa dia menggunakan wewenangnya sebagai intelijen kerajaan? Yah, aku tidak peduli juga.
Aku berjalan dan mengambil shotgun yang terikat. Ketika mengecek isinya, shotgun ini sudah terisi oleh peluru karet sebanyak 6 buah dan 6 peluru karet cadangan terpasang di samping. Bagus! Kalau hanya peluru karet, Ninlil tidak akan terluka parah.
Di kanan, sebuah tombak sepanjang dua setengah meter berwarna hitam dengan garis biru berpindah ke tangan. Di bagian ujung, terlihat tiga mata tombak terpasang. Satu mata berupa pisau berbentuk segitiga. Di bawah mata tombak pertama, di kanan dan kiri, terpasang mata tombak yang melengkung. Ketiga mata tombak itu memakan tempat sebanyak 40 cm dari dua setengah meter panjang tombak dengan lebar hanya satu jengkal.
Shotgun putar di tangan kiri, tombak tiga mata di tangan kanan. Kalau kondisiku sedang fit, mungkin aku akan melakukan dual wielding dengan kedua senjata ini. Namun, saat ini, tubuhku di ambang kehancuran. Hell! Bahkan tidak berlebihan kalau aku mengatakan tubuhku di ambang kematian. Aku harus mencari strategi yang tidak terlalu membebani tubuh.
Saat ini, Ninlil masih sibuk bertarung dengan Emir. Di lain pihak, Inanna masih sibuk dengan dinding api. Aku tidak melihat ada keluarga Alhold yang masih bisa bergerak, jadi, seharusnya, beban Inanna sudah berkurang.
Di saat ini, bisikan Inanna terngiang di benakku, "Saat ini, Mulisu sedang mengambil tombak tiga mata dan shotgun putarmu. Sementara itu, kami akan mengulur waktu agar kamu bisa istirahat dan memikirkan strategi dengan pikiran jernih. Kalau kamu sudah bisa bertarung, kami percayakan nyawa kami dan semuanya padamu."
__ADS_1
Entah sejak kapan, aku merasa wajahku lemas lagi. Sekarang, aku bisa merasakan dengan jelas sebuah senyum terpampang di wajah. Meski sempat mengkhianati kepercayaan mereka, kedua calon istriku masih mempercayaiku. Aku yang sempat bimbang apakah bisa mendapat kepercayaan mereka lagi pun menjadi yakin.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
Aku berteriak, "Emir, terus buat Ninlil sibuk. Inanna, tetap pertahankan dinding apimu. Aku akan mematikan pengendalian Ninlil."
"SIAP!"
Emir dan Inanna menjawab dengan tegas dan lantang. Tidak terdengar sedikit pun keraguan dari suara mereka padahal tidak mendengar rencana yang kubuat.
Terima kasih, Inanna. Terima Kasih Emir. Terima kasih karena kalian sudah mempercayaiku.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1