
"Tera! Tera!"
"Sshhh ... tenang ... tenang ...."
Aku memeluk Rina dan mengelusnya dengan lembut. Perlahan, Rina kembali tenang.
Setelah Rina datang, Lugalgin memberi sebuah penjelasan yang membuatku dan Emir terkejut. Dia bilang, sejak malam ketiga adiknya tewas, Rina selalu histeris ketika tidur di malam hari. Rina terus dan terus memanggil nama Tera di tidurnya. Terkadang, meminta maaf. Mungkin Rina meminta maaf pada Tera di mimpinya.
Oleh karena itu, aku, Emir, dan Lugalgin membuat jadwal piket untuk menemani Rina ketika histeris, bergantian. Awalnya, Lugalgin bilang dia ingin aku dan Emir saja yang datang ke kamar Rina. Namun, aku dan Emir berhasil meyakinkan kalau dia juga harus melakukannya. Rina adalah calon istrinya juga. Dia tidak bisa melimpahkan tanggung jawabnya sebagai suami kepada istrinya yang lain, kan?
Ketika pagi datang, awalnya, Rina terkejut karena mendapati salah satu dari kami tidur bersamanya. Tampaknya dia benar-benar tidak sadar kalau dirinya histeris ketika tidur. Kami memilih diam, tidak mengatakannya, untuk saat ini.
Kami meyakinkan Rina kalau kami tidur dengannya adalah hal penting. Dia perlu membiasakan diri dengan kehidupan setelah menikah. Awalnya Rina protes dan menolak. Namun, setelah berapa hari, Rina menyadari selalu ada orang di sampingnya ketika dia bangun. Akhirnya, Rina menurut.
Anehnya, ketika bangun, Rina memiliki insting yang tajam, seperti Lugalgin. Dia bisa tahu kalau ada orang lain datang atau mengikutinya. Namun, tidak seperti Lugalgin, insting Rina seolah hilang ketika tidur.
Pada satu pagi, aku mendengar Rina menggumam, "kenapa aku tidak bangun? Seharusnya aku terbangun ketika mereka masuk kamar,". Tampaknya, sebelumnya, insting Rina setajam Lugalgin walaupun dia tidur. Namun, mungkin karena pengaruh mimpi buruk atau yang lain, kini instingnya mati saat tidur.
Untuk sementara, Rina menempati kamar tamu di lantai bawah. Kenapa aku bilang sementara? Karena saat ini ibu dan Tante Yueni sedang mencari rumah baru untuk kami. Setelah menikah, Lugalgin akan memiliki tiga istri. Lalu, setelah memiliki anak, jumlah keluarga kami pun akan bertambah. Rumah kecil ini tidak akan bisa menampung kami semua.
__ADS_1
Di lain pihak, berkat Rina yang histeris, aku dan Emir mengetahui rahasia baru Lugalgin. Pada satu pagi, ketika Lugalgin bertugas menemani Rina, aku dan Emir masuk. Kami terkejut ketika melihat setengah wajah Lugalgin sudah penuh dengan gumpalan daging, keloid.
Di pagi hari itu juga, aku dan Emir langsung menginterogasi Lugalgin. Namun, di luar dugaan, Lugalgin tidak banyak melawan dan langsung memberi jawaban. Awalnya, aku dan Emir hampir menangis lagi. Kami mengira Lugalgin masih belum memercayai kami. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Alasan Lugalgin merahasiakan hal ini adalah karena dia khawatir kami akan melarangnya maju ke medan perang. Kalau dia tidak bisa maju ke medan perang, kekuatan tempur kami akan berkurang. Dan, Lugalgin khawatir, di masa depan hal ini bisa membuatku atau Emir tewas. Dia lebih mengkhawatirkan kami daripada dirinya sendiri.
Setelah mendengar penjelasan Lugalgin, aku dan Emir tidak mungkin menangis atau marah. Kami jadi memiliki pertimbangan baru setelah melihat Rina. Emir dan aku khawatir Lugalgin akan bernasib sama dengan Rina kalau salah satu dari kami tewas. Kami pun terpaksa memaklumi Lugalgin dengan syarat dia tidak boleh menyimpan rahasia lagi. Kalau ada masalah, harus dibicarakan baik-baik, musyawarah.
Di lain pihak, menangis adalah senjata yang ampuh untuk melawan Lugalgin. Bahkan, hanya memperdengarkan suara terisak saja sudah membuatnya lunak. Hahaha. Jujur, kepribadian calon suamiku ini berantakan. Dia bisa membunuh anak di depan ibunya tanpa ragu. Namun, di lain pihak, langsung menurut ketika melihat calon istrinya akan menangis.
Ya, tapi dia tahu sih kalau kami pura-pura menangis. Intinya, kalau menghadapi Lugalgin, akan lebih efektif dengan tangisan, bukan emosi.
Kembali ke Lugalgin. Sampai sekarang, aku benar-benar terkejut dengan kecepatan penyembuhan Lugalgin. Tidak sampai satu jam setelah Lugalgin memotong semua keloid, wajahnya sudah kembali mulus. Pada satu titik, aku memaksa masuk ke kamar mandi bersama Lugalgin untuk mengamatinya. Dan, aku tercengang ketika tidak ada darah setitik pun menetes saat dia memotong keloid.
Namun, sesuai ucapan Lugalgin, kekuatan tempur yang dia miliki terlalu besar. Kalau dia hanya duduk di belakang, ada kemungkinan Emir atau aku akan tewas. Atau bahkan kami berdua. Aku bingung. Emir pun tidak bisa memberi banyak saran setelah aku menceritakan kekhawatiranku. Kondisi kami benar-benar buruk.
Aku harap kondisi kami tidak semakin buruk.
Bersambung
__ADS_1
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1