
"Ah, maaf. Aku sudah tidak bisa menahan Lugalgin lagi. Dia tidak melawanku sendirian. Dia, seperti biasa, membawa bala bantuan."
Sambil mengikat dua peti arsenal di kanan di kiri pinggang, aku mendengarkan Rina berbicara ke smartphone. Meski mengucap maaf, aku tidak merasakan sedikit pun rasa bersalah dari suara Rina.
"Kamu menelepon siapa?"
"Tentu saja pemimpin Orion. Siapa lagi? Aku hanya memberi janji untuk mengulur waktu, tidak mengalahkanmu."
Kamu mengulur waktu? Mana ada! Yang ada kamu hanya menghabiskan waktu mengobrol denganku dan main kartu. Perempuan ini benar-benar Alhold sejati.
Bukan hanya aku yang bersiap pergi. Semua orang di ruangan ini pun sudah berdiri. Seolah kawan baik, kami berjalan menyusuri lorong dan keluar rumah secara bersama-sama. Dalam perjalanan ini, kami pun mengobrol ringan.
Setelah sampai di depan bangunan, aku pun naik ke sepeda motor model ***** bike tanpa kopling. Karena sudah mengikat dua peti arsenal di pinggang, aku memilih sepeda motor tanpa kompartemen penyimpan senjata.
"Ami, hati-hati ya pulangnya. Jangan sampai terseret ke pertarungan ini."
"Jangan khawatir. Seperti yang kakak bilang, begini-begini, Ami adalah anggota keluarga Alhold. Ami tidak mungkin kekurangan akal."
Aku hanya bisa tersenyum masam mendengar respons Ami.
"Dan lagi, Ami tidak keluar sendirian. Om Etana sudah Ami kontrak untuk membawa Ami keluar dari kota ini."
Yap. Seperti ucapan Ami, Etana sudah terikat kontrak. Tadi, saat bermain kartu, Ami menawarkan kontrak ke Etana untuk membawanya keluar dari kota ini. Awalnya, tawaran tersebut ditolak. Namun, setelah Ami mengirim sejumlah uang ke rekening Etana sebagai uang muka, tawarannya pun diterima.
Aku penasaran berapa banyak uang yang dikirim oleh Ami.
Seharusnya, Ami dan Gena bisa keluar dari kota ini dengan mudah tanpa bantuan Etana. Hal ini membuatku berpikir tujuan utama Ami menyewa Etana bukanlah demi keamanan, tapi untuk menjalin hubungan. Setelah revolusi Mariander berhasil, dengan link salah satu tokoh revolusioner yang berperang penting, dia bisa masuk ke pasar Republik Mariander dengan lebih mudah.
Dan, sesuai dugaanku, Ami dan Etana pun membicarakan hal itu di depanku. Di lain pihak, Rina diam, hanya melempar senyum ke arahku.
"Kenapa?"
"Tidak apa." Rina menggeleng. "Dan, jangan lupa! Kamu sudah di ambang kematian. Terluka parah sekali lagi dan kamu bisa ucapkan selamat tinggal pada dunia ini."
Rina kembali menekankan kondisiku. Menurut Rina, kecepatan penyembuhan tubuhku sudah terlalu tinggi. Kalau aku mendapatkan luka parah lagi, massa ototku akan terlalu padat, membuat aktivitas organ tubuhku terhambat.
Selain itu, ada kemungkinan tumor akan muncul dan tubuhku akan mengidap kanker. Kanker apa? Tergantung luka yang akan aku alami. Kalau luka di dada, kanker paru-paru. Kalau tulang patah, kanker tulang. Kalau memar di seluruh tubuh, kanker otot. Intinya, menurut Rina, aku sudah tidak boleh terluka lagi. Bahkan, dia pun menyarankan agar aku mundur dari lini depan dan hanya menjadi ahli strategi.
__ADS_1
Jujur, aku agak terkejut ketika mendengar Rina mengatakan hal yang sama dengan Emir dan Inanna. Namun, meski ucapan mereka sama, aku bisa tahu kalau niatnya berbeda. Emir dan Inanna benar-benar khawatir dengan keselamatanku. Di lain pihak, menurutku, Rina lebih khawatir kalau aku tewas dia lah yang akan dipaksa menjadi Ratu dari Bana'an dan Nina.
"Dan, Gin, untuk rencanamu," Rina menambahkan. "Aku bisa bilang kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Bahkan terlalu kecil."
Aku masih tersenyum masam. Seperti ucapan Rina, rencanaku, atau lebih tepatnya rencana Emir, memiliki kemungkinan berhasil yang sangat kecil. Yang dimaksud Rina bukanlah seluruh rencana gagal, tapi hanya sebagian. Lebih tepatnya, pada bagian dimana aku berusaha tidak menjadi Raja. Kalau pada bagian perombakan Bana'an, bisa dibilang rencana Emir akan berhasil.
"Tapi tidak nol. Aku tidak bisa diam saja dan menerima keadaan, kan? Aku seorang Alhold. Sudah pasti aku akan mengerahkan seluruh usaha untuk mendorong tanggung jawab itu ke orang lain. Dan, jangan khawatir. Aku juga tidak ada niat untuk tewas."
Senyum Rina semakin lebar, seolah dia baru mendengar berita baik. Apa dia bahagia ketika aku mengakui kalau aku seorang Alhold? Atau dia bahagia ketika aku menyatakan akan memberi perlawanan? Entahlah.
Aku menempelkan smartphone ke atas tangki motor dan memunculkan proyeksi peta ke udara, ke depanku. Dengan headset masih menempel di telinga kiri, aku sudah siap.
"Baiklah, sudah cukup segitu. Aku harus segera mengakhiri pertarungan ini."
"Da da Kak Lugalgin."
"Sampai jumpa ya, Gin."
Sementara Ami dan Etana melambaikan tangan dan memberi perpisahan, Rina hanya mengantar dengan senyuman.
Aku menyalakan sepeda motor dan langsung pergi, meninggalkan kantor pemerintahan.
[Baik. Total ada 284 titik pertarungan di kota abu. Sebanyak 189 pertarungan sudah selesai, 95 masih berlangsung. Agade memenangkan 110 pertarungan dan sisanya dimenangkan oleh Orion. Namun, meski ada 79 pertarungan dimana Agade kalah, tidak satu pun anggota Agade tewas. Aku sudah memberi instruksi agar mereka mundur sebelum jatuh korban jiwa. Setelah mundur, aku mengarahkan mereka untuk bergabung dengan anggota lain yang telah menang, membuat kemenangan Agade semakin pasti.]
"Mulisu?"
[Mulisu sudah dievakuasi. Kita beruntung karena sebagian besar senjata masih menancap, jadi dia tidak kehilangan banyak darah.]
Aku menghembus nafas lega. Kalau tidak kehilangan banyak darah, maka pengendalian Mulisu tidak akan terancam lagi.
Menurutku, kemenangan Mulisu adalah salah satu bentuk karma. Sebelumnya, Ukin hampir membunuh Mulisu di rumah sakit. Mulisu kehilangan banyak darah, kakinya lumpuh, dan pengendaliannya sempat hilang. Namun, setelah itu, kekuatan pengendaliannya justru meningkat, membuatnya mampu bersanding dengan Ukin. Dan, dengan pengendalian yang meningkat drastis, dia membunuh Ukin.
Kalau pertarungan head to head seperti ini, seharusnya, Mulisu sama sekali tidak memiliki kemungkinan menang. Kalau mau menang, Mulisu harus menggunakan strategi dan meminta bantuan pihak lain, seperti sniper.
Kalau seandainya Ukin tidak mencoba membunuh Illuvia saat itu, dan Mulisu tidak di ambang kematian, dia pasti yang akan menang pada pertarungan tadi. Yang akan tewas adalah Mulisu, bukan Ukin. Mulisu yang lama tidak mampu mengendalikan ribuan senjata dan membuat satu lipan raksasa seperti yang terlihat di cctv.
Yah, seperti yang orang bilang, karma is a *****.
__ADS_1
"Bagaimana dengan tante Hervia?"
[Sulit. Dia bisa mengendalikan tentakel logam dengan sempurna seolah ada lapisan pelindung tidak terlihat di sekitar. Bahkan, baru saja aku memerintahkan anggota Agade untuk menggunakan tank dan artileri. Sayangnya, tante Hervia juga bisa mengelaknya, membuat peluru tersebut menghancurkan bangunan di sekitar.]
Mengelak peluru tank dan artileri? What the ****? Pengendalian macam apa itu? Bukan hanya pengendaliannya! Insting tante Hervia pun sudah tidak manusiawi!
"Coba ditimpa dengan gedung?"
[Akan aku coba.]
"Tetap ulur waktu. Jangan biarkan tante Hervia bergabung dengan anggota Orion yang lain. Dan tolong kirimkan rute terpendek dan tanpa titik pertarungan dari tempatku ke tempat Emir dan Inanna."
[Baik!]
Proyeksi peta di depan sepeda motor bergerak mundur, zoom out, menunjukkan rute yang harus kuambil untuk mencapai resor yang menjadi tempat pertarungan Inanna dan Emir. Aku melihat ke peta sekilas. Begitu rutenya sudah hafal, aku mematikan proyeksi, kembali fokus ke jalan.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1