
Cting cting
"Um.....Mari?"
"Ya Kak?"
"Apa ini tidak terlalu berat?"
"Menurutku tidak kak. Aku sudah meletakkan banyak orang di kejauhan untuk mengamankan perimeter. Jadi, setidaknya, dia tidak akan diserang dari arah yang tidak terduga. Dan lagi kalau dibandingkan dengan latihan Kak Lugalgin, ini tidak ada apa-apanya, kan?"
Oke, aku tidak bisa membantah.
Saat ini, Mari mengundangku untuk menyaksikan pertarungan Maul. Kami menjebak lima orang anggota Apollo dan membiarkan Maul menyerang mereka. Untuk serangan ini, kami menggunakan topeng badut.
Entah karena diajari oleh Mari atau memang teknik Maul seperti itu, yang jelas, sekarang Maul juga bertarung menggunakan senjata berukuran besar. Namun, senjata Maul tidak sebesar Mari yang bisa mencapai 6 atau bahkan 10 meter. Panjang senjata Maul hanya di angka 2 atau 3 meter. Yah, kalau angka 2 atau 3 meter itu adalah tombak, tidak akan terlihat aneh. Namun, karena yang digunakan adalah pedang, terlihat besar.
Untuk pertahanan, Maul tidak menggunakan senjata seperti Mari. Dia mengenakan baju zirah di seluruh tubuhnya, full body armor. Bahkan, kalau tidak mengetahui identitas Maul sebelumnya, aku mungkin tidak akan tahu kalau yang menyerang adalah Maul.
"Mari, apa kamu yang mengajari cara bertarung Hurrian?"
Hurrian adalah alias untuk Maul. Karena berbagai hal, Mulisu dan Ibla memberi alias untuk semua orang yang menjadi anggota Agade, baik anggota normal maupun elite. Hanya Inanna dan Emir yang tidak memiliki alias. Semua orang tahu kalau mereka adalah calon istriku. Jadi, percuma saja.
Untuk anggota elite, sejak awal, nama mereka adalah alias, jadi mereka tidak terlalu bingung.
"Tidak juga. Sebelum aku latih, dia hanya mengenakan armor di seluruh tubuhnya. Jadi, kalau aku lihat, dia lebih fokus pada pertahanan daripada serangan, dan itu tidak baik."
"Memangnya, cara berlatih apa yang kamu gunakan?"
"Latih tanding. Hurrian melawan aku."
Oke, Maul, maafkan aku. Aku tidak mengira Mari akan menggunakan menu latihanku sebagai dasar untuk melatihmu. Kalau aku yang melatih mereka, menurutku, tidak akan terlalu berbahaya karena aku adalah seorang inkompeten. Aku hanya bisa mengalahkan mereka dengan bela diri dan senjata berukuran normal.
Namun, kalau yang melatih adalah Mari, itu sangat berbahaya. Maksudku, coba bayangkan diserang oleh pedang sepanjang 6 meter, atau bahkan 10 meter. Metode itu amat sangat membahayakan.
"Dan, sebelum disadari, dia sudah meniruku dengan membuat pedang raksasa."
Aku kembali melihat ke Maul. Saat ini, hanya tersisa 3 orang di hadapan Maul. Mereka menyerang bersamaan dengan pedang, tapi Maul tidak mengindahkannya. Dia membiarkan semua serangan datang, menghantam armornya. Tidak menyerah, mereka terus menghujani Maul dengan tebasan, berharap satu serangan dapat menembus pertahanan Maul.
Maul mengayunkan pedang 3 meternya. Entah kenapa, dia menyerang dengan bagian tumpul pedang, hanya menghempaskan para penyerang, tidak memotong tubuh mereka.
"Mari, kamu melihat apa yang aku lihat?"
"Maaf, Kak. Aku masih belum bisa mengubah sifatnya yang itu."
Kalau belum melihatnya bertarung, aku akan menganggap dia tidak terbiasa membunuh orang. Namun, dia bisa membunuh 2 orang sebelumnya dengan tenang. Jadi, aku beranggapan dia hanya bermain-main. Dan, hal ini sangatlah buruk. Kalau dia tidak membunuh lawannya dengan segera, tingkat bahaya akan meningkat drastis.
Baik, aku tarik ucapanku yang sebelumnya menyatakan metode ini terlalu berat.
"Dia mengenakan headset?"
"Ya," Mari mengangguk.
Aku menekan headset di telinga, "Hurrian, bunuh mereka sekarang juga. Jangan bermain-main."
[Eh, ah. Ba, baik.]
Maul sempat terhenti dan menjawabku dengan terpatah-patah. Tampaknya, dia tidak mengira aku akan berlaku tegas padanya. Namun, ini juga salahku. Dulu, saat di panti asuhan, aku lebih kepada tipe yang santai dan tenang, yang disiplin dan tegas adalah Tasha.
Setelah mendengarku, Maul langsung maju menerjang. Dia tidak lagi membiarkan lawan maju. Meskipun lawan mundur dan melepaskan tembakan dari pistol, Maul mengabaikannya, mempercayakan pertahanan pada armor di tubuhnya.
__ADS_1
Maul melempar satu pedang, menembus tubuh satu lawan. Di saat aku berpikir metode ini adalah hal yang buruk, yaitu melempar senjata, Maul langsung mematahkannya. Begitu dia hanya menggunakan satu pedang, kecepatan tebasannya meningkat. Bahkan, dia mampu menebas senjata lawannya, menghasilkan potongan yang cukup bersih.
Dengan ini, pertarungan selesai. Sekarang, kami harus bersiap untuk serangan balik dari Apollo.
"Baiklah. Hurrian, kembali kesini."
[Baik Kak.]
Maul mengubah dua pedang yang dia gunakan sebagai senjata menjadi armor tambahan di bahu, dada, punggung, dan kaki. Setelah itu, dia terbang dan mendatangi kami.
"Operasi sudah selesai. Kalian bisa mulai bersih-bersih."
Mari memberi instruksi pada anggota Agade yang berjaga sambil menunggu Maul.
Maul pun datang dan membuka armornya. Begitu dia membuka armor di wajah, lebih tepatnya helm, aku langsung menghentikannya.
"Berhenti!"
"Eh?"
"Apa kamu sudah mengenakan topeng di bawah pelindung kepala itu?"
"Ah, um, belum Kak."
Mari melempar jubah ke arah Maul. "Sudah kubilang selalu kenakan jubah ini dan topeng itu ketika beraksi sebagai Agade. Kita tidak mau ada orang lain mengetahui identitas kita."
"Kenapa? Memang apa bedanya kalau kita dicap kriminal dan diincar oleh organisasi pasar gelap? Apa kamu takut?"
"Ya, kami takut!" Mari menjawab tegas. "Kami takut akan digunakan sebagai sandera untuk melemahkan Sarru, pemimpin Agade. Kami tidak mau menjadi kelemahan bagi Sarru."
Maul tidak membalas, hanya menundukkan kepala. Menurut, dia pun meletakkan jubah itu di kepalanya sambil mengganti helm ke topeng. Sekarang, dia tampak seperti anggota Agade lain saat beroperasi.
"Aku tidak akan memberi komentar lebih jauh soal wajah dan identitas. Aku akan memberi evaluasi pada performamu malam ini. Hurrian, sederhananya, kamu terlalu meremehkan lawan, bahkan sempat bermain-main. Kalau–"
"Tapi Kak–"
"Jangan menyela!" Mari menyela. "Saat ini, yang berbicara padamu adalah Sarru, pemimpin sekaligus pendiri Agade! Tunjukkan rasa hormatmu!"
Maul terentak. Bahkan, aku bisa melihat dia sedikit melompat dan melangkah mundur.
Karena Mari tidak salah, aku akan membiarkannya dan melanjutkan ucapanku.
"Biar aku lanjutkan. Kalau kamu bermain-main, waktu eliminasi akan semakin lama. Hal ini memberi kesempatan untuk bantuan datang. Untuk mempertahankan wilayah perimeter, kita membutuhkan banyak anggota Agade. Jika bantuan datang, bantuan musuh dan anggota Agade akan berhadapan, menambah korban jiwa. Kalau bantuan yang datang adalah anggota elite, bisa jadi kamu juga menjadi korban. Apa kamu menginginkannya?"
"Ti, tidak."
"Kalau tidak, jangan pernah main-main lagi. Semakin singkat waktu yang dibutuhkan untuk satu operasi, semakin baik. Ingat itu."
"Ba, baik..."
"Jawab dengan Siap! Dan tegas!" Mari berteriak.
"Siap!"
Mari benar-benar mengambil peran sebagai instruktur langsung Maul.
Sebenarnya, aku tidak ingin melihat adegan Maul dimarahi atau diteriaki oleh Mari. Namun, ini demi kebaikannya sendiri. Meskipun aku ingin tegas, hal terbaik yang bisa kulakukan adalah memberi evaluasi secara objektif dan nada datar. Aku tidak tega memarahi Maul.
Mari tampaknya menyadari sifat dan kelakuanku yang ini, oleh karenanya dia bersikap keras. Dia pun mendekat ke arah Maul dan mencengkeram bahunya. Tampaknya, Mari akan kembali membawa Maul dan melatihnya lebih keras.
__ADS_1
"Ah, Mari, sebelum kamu membawa Hurrian pergi, aku ingin bertanya satu hal pada Hurrian."
Mari berhenti dan melihat ke arahku lalu melempar pandangan ke Maul.
"Ya? Pertanyaan apa?"
Aku mendekatkan wajah dan berbicara pelan, hampir berbisik, "apa kamu memiliki informasi soal Fira?"
"Ah, Fira?" Maul berhenti sejenak. "Maaf, dia tewas sesaat setelah kami dijual ke Mariander."
Aku terdiam. Tidak ada apa pun yang terlintas di benak, seolah-olah waktu terhenti untukku.
"Di awal, Fi–"
"Diam! Kamu berikan saja detailnya pada laporan tertulis. Sekarang, kita pergi!"
"Eh? Kenapa? Kenapa harus–"
"Kamu adalah anggota baru, jangan melawan. Menurut saja! Sekarang, ikut aku."
Mari mencengkeram lengan atas Maul dan membawanya pergi, meninggalkanku seorang diri. Aku beruntung Mari pengertian, langsung membawa Maul pergi dan meminta laporan secara tertulis, tidak membiarkannya melihatku dalam keadaan seperti ini.
Setelah Mari pergi, seketika itu juga, tenaga seolah meninggalkan kedua kaki. Tanpa bisa aku lawan, kedua kaki ini tertekuk, berlutut. Bahkan, aku harus menahan tubuh dengan tangan di atas beton. Tanpa kedua tangan menahan tubuh ini, aku pasti sudah ambruk. Dadaku terasa begitu sesak. Pandanganku pun mulai kabur. Tanpa kusadari, air mata sudah mulai menetes, membasahi beton.
Meskipun Fira bukanlah orang pertama dari panti asuhan Sargon yang tidak bisa kuselamatkan, aku tidak pernah terbiasa dengan perasaan ini. Setiap kali mendengar penghuni panti asuhan telah tewas atau dalam kondisi cacat permanen tanpa pertolongan, hal ini pasti terjadi. Ya, aku tidak pernah bisa terbiasa dengan perasaan ini.
"Fira, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkanmu. Tasha, maafkan aku. Satu lagi anak tidak bisa kuselamatkan."
Kata-kata itu muncul dengan sendirinya dari mulutku, hampir bergumam. Bahkan, aku tidak yakin ada orang yang bisa mendengarkannya. Aku hanya menangis di tengah malam, sendirian.
Saat ini, masih ada dua nama yang belum aku ketahui nasibnya. Aku ingin mencari mereka. Tidak! Lebih tepatnya, aku ingin mendengar kabar gembira mengenai mereka. Aku tidak tahu apakah aku bisa menerima kabar buruk soal mereka. Aku tidak tahu.
Apakah aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun? Apakah pada akhirnya, inkompeten sepertiku tidak bisa melakukan apa-apa? Apa aku terlalu takut rahasia itu diketahui orang lain?
Kalau seandainya aku menggunakan benda itu sejak dulu, apakah aku bisa menyelamatkan Fira, Morgiana, Aaron, Jica, Luci, Roko, dan Oni?
Kalau seandainya aku menggunakan benda itu sejak dulu, apakah aku bisa mencegah Raksha kehilangan pandangannya? Apakah aku bisa mencegah Lili kehilangan rahimnya? Apakah aku bisa mencegah Nia koma?
Apakah aku bisa mengubah semua itu?
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1