
Sambil bertarung, kami masih berbincang-bincang.
Kami berlari ke barat. Sambil berlari, kami terus dan terus melepaskan serangan. Aku menyerang ke bawah, ke kaki Ukin. Di saat itu, Ukin akan melayang sedikit lalu mengirimkan satu pedang yang harus aku telak. Ukin balik menyerang dengan kedua pedang, tepat ke tengah badan. Aku menahan kedua pedangnya dengan bayonet dan melepaskan tendangan ke dada.
Tendanganku membuat Ukin Mundur. Sebagai gantinya, satu pedang meluncur. Aku melepaskan tembakan, menghalau pedang itu. Setelah melepaskan tembakan, kuda-kudaku terganggu. Kini, ganti Ukin yang melepas tendangan.
Kami berdua sama-sama diajari Lacuna untuk memanfaatkan semua benda yang bisa digunakan sebagai senjata. Oleh karena itu, meski sudah memiliki senjata, kami tidak segan untuk melancarkan tendangan atau langsung menyeruduk.
Aku memanfaatkan momentum tendangan Ukin dan melompat ke atas dinding. Dia mengikutiku ke atas dinding. Kini, tempat pertarungan kami tidak terbatas di jalanan, tapi juga ke atas dinding dan genteng rumah.
"Hey, Gin, bisa tolong ceritakan bagaimana rasanya? Aku penasaran?"
"Kamu bukan perjaka, kan? Jadi, kurasa, aku tidak perlu menceritakannya."
Aku tidak yakin sudah berapa banyak rumah yang gentengnya rusak atau kacanya pecah karena pertarungan kami. Namun, entah karena kebiasaan dari pasar gelap atau bagaimana, kami hanya mendatangi rumah yang lantainya dua kosong. Tanpa disadari, kami tidak menyeret warga sipil yang tidak tahu apa-apa soal pasar gelap secara langsung.
"Kalau dibandingkan dengan dua calon istrimu, mana yang lebih memberi kepuasan?"
Kamu mau Emir dan Inanna membunuhku?
"Mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Jadi, aku tidak bisa membandingkannya."
Aku menerima tendangan sambil melepas tembakan. Ukin menghindar tapi aku tidak membiarkannya begitu saja. Dengan berpijak pada dinding, aku melompat dan melepaskan tendangan melayang. Begitu menerima tendanganku, pelak, Ukin terpental, memecahkan kaca dan jatuh dari lantai dua.
Aku keluar dan melompat, kembali ke jalan. Kini, aku kembali ke titik awal, di dekat peti arsenal.
Mengikutiku, Ukin muncul dari langit dengan dua pedang di tangan dan satu terbang di belakangnya. Aku melepaskan tembakan bertubi-tubi ke satu pedang yang melayang. Pedang itu sudah berkali-kali berhadapan dengan peluru, jadi tembakan bertubi kali ini sukses membuatnya patah. Di saat yang bersamaan, peluruku habis.
Pertarungan ini sudah selesai. Namun, dia di tengah serangan. Meski bisa berhenti, aku yakin dia tidak akan melakukannya. Jadi, dengan kedua bayonet, aku menerima serangan terakhirnya untuk malam ini. Setelah pedang Ukin dan bayonetku berseteru, Ukin menggunakan tubuhku sebagai tumpuan dan melompat ke belakang.
"Peluru habis."
"Iya, aku tahu. Kita sudahi untuk malam ini."
Aku melihat ke sekitar. Tidak terhitung berapa banyak rumah yang lantai duanya rusak oleh pertarungan kami. Bahkan, tampaknya, pertarungan kami menghasilkan kerusakan yang lebih besar dibanding serangan keluarga Alhold.
Orang mungkin tidak akan percaya, tapi pertarungan yang barusan hanyalah main-main. Tidak ada satu pun dari kami yang serius. Bahkan, kami sama sekali tidak memancarkan niat membunuh atau aura haus darah.
Dulu, Lacuna sering melatih kami untuk bertarung tanpa bergantung pada niat membunuh atau aura haus darah, memaksa insting aktif. Oleh karena itu, baik Ukin maupun aku, memiliki insting yang tidak normal kalau bertarung jarak dekat. Kalau jarak jauh? Percuma. Kami tidak bisa berlaku apa-apa kalau jarak jauh.
Aku sudah bersyukur berulang kali, tapi aku beruntung tidak ada seorang pun dari keluarga Alhold, atau siapa pun di luar akademi Lacuna, yang mampu menyerang tanpa memancarkan aura haus darah atau niat membunuh. Kecuali Emir.
[Gin! Ada sebuah truk melaju dengan cepat ke arahmu!]
__ADS_1
Keluarga Alhold masih belum menyerah?
"Biar aku yang tangani."
Yang merespon bukanlah aku, tapi Ukin.
"Anggap ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah mau melayani amarahku."
"Tolong ya."
Aku jalan ke sekitar dan mulai merapikan senjataku yang berserakan di luar peti arsenal. Sementara aku merapikan senjata, Ukin masih berdiri di tengah jalan, siap menerima truk yang akan datang.
[Gin, cepat pergi!]
"Tenang saja. Ada Ukin. Sekalian kalian lihat seberapa mengerikannya dia kalau serius... atau setengah serius?"
Ukin melempar dua pedang yang sebelumnya dia gunakan. Kedua pedang itu terpisah-pisah, menjadi beberapa bagian kecil. Pedang yang sebelumnya kupatahkan juga dia gunakan. Bukan hanya itu, semua senjata yang dibawa keluarga Alhold juga dia kendalikan. Dia menghancurkan semua senjata menjadi keping-keping. Kini, di langit, terlihat ratusan puing logam beterbangan.
Untuk menghentikan truk besar, cara yang umum digunakan adalah orang akan menyatukan banyak benda lalu membuat penghalang. Namun, Ukin tidak menggunakan cara itu. Dia menggunakan cara lain.
"Apa kamu akan meneriakkan nama serangan seperti dulu?"
"Ahaha, tidak. Aku sudah bukan anak-anak lagi."
"Baiklah. Tidak ada ruginya juga, "Ukin tersenyum simpul. "Hujan Meteor!"
Sesuai namanya, semua puing-puing besi itu menghujani truk yang akan datang, seperti hujan meteor. Normalnya, mengendalikan puing-puing besi sebanyak itu hanya memiliki efek seperti lemparan, tidak akan memiliki dampak besar, seperti air hujan. Namun, kekuatan pengendalian Ukin memberi hasil yang berbeda.
Ratusan puing-puing itu menembus lapisan baja truk seperti kertas. Dalam waktu sekejap, truk itu sudah terhenti di jalurnya. Bukan hanya berhenti, tapi juga ringsek, tidak berwujud lagi. Bahkan, truk itu juga menjadi puing-puing logam, berserakan di atas jalan.
"Oke, sudah cukup untuk malam ini. Aku pergi dulu ya. Dan ingat, aku tidak terlibat dalam penyerangan ini, semuanya murni perbuatan Enlil. Jadi, jangan serang aku dulu."
Meskipun aku mau menyerangmu, aku belum bisa melakukannya.
"Kamu sudah berubah, Ukin. Sekarang kamu lebih tenang."
"Semua orang berubah, Gin."
Jujur, perubahan Ukin menjadi lebih tenang adalah hal yang tidak kuinginkan. Apalagi setelah aku tahu dia tidak meneriakkan serangannya lagi. Dulu, sangat mudah menghindar karena dia selalu meneriakkan nama serangan. Dia menganggap kekuatannya tidak perlu disembunyikan, semua orang harus tahu.
Bahkan, saat masih di bawah Lacuna, dia tidak memiliki serangan efektif. Semua serangannya adalah serangan mencolok, seperti yang barusan. Namun, kalau sekarang dia tidak meneriakkan nama serangan, aku juga harus memasukkan kemungkinan dia membuat serangan efektif.
Sial! Akan semakin sulit mengalahkannya.
__ADS_1
"Ukin, kalau orang yang membantumu adalah orang yang kukenal, aku titip salam untuknya."
Ukin tersenyum, tidak menunjukkan perubahan reaksi.
"Sudah kuduga. Apa tidak ada satu pun hal yang luput darimu, gin?"
"Sebenarnya, itu hanya dugaan, tapi, terima kasih sudah membenarkannya," aku merespon enteng. "Apa dia yang mengubahmu."
"Mungkin ya, mungkin tidak," Ukin menjawab. "Akan kusampaikan salammu padanya. Dah."
Sebenarnya, aku sudah menduganya sejak mendengar cerita Nerva. Yang mendikte Illuvia memang adalah Ukin yang mengenakan jubah dan topeng, tapi siapakah sosok yang mengirimkan paket pada Illuvia? Apalagi, paket itu tiba tepat ketika Illuvia depresi.
Seharusnya, Illuvia bukanlah tipe yang bisa menerima kata orang begitu saja. Ketika aku mencaci makinya di kantor Agade, dia masih memberi perlawanan. Denganku saja dia masih melawan, apalagi kalau paket itu datang dari orang tidak dikenal? Dia pasti sudah curiga duluan.
Kalau dia tidak curiga, kemungkinannya adalah, pengirim paket tersebut adalah orang yang dekat dengan Illuvia. Dan, dugaanku, Illuvia mempercayai Ukin karena bujukan orang ini.
Aku beberapa kali mencoba menghubunginya, mencoba memastikan. Namun, dia tidak pernah mengangkat telepon. Dan, akhirnya, Ukin mengonfirmasi dugaanku.
"Hah," aku menggumam pelan. "Arde, tampaknya, kamu adalah yang paling normal di antara kita berempat."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1