
"eh?"
Tepat setelah aku menahan kedua tinju mereka dengan dahi, aku menarik kedua tangan ke bawah, menjatuhkan Emir dan Inanna yang kehilangan keseimbangan setelah menyerang. Ketika jatuh, genggaman tangan mereka pun melemah, memberiku kesempatan untuk mundur.
Setelah mundur sejenak, aku kembali menerjang Inanna dan Emir. Namun, mereka juga mampu pulih dengan cepat. Selama beberapa menit ke depan, aku terus menyerang tapi tidak jarang juga mereka mampu melakukan serangan balasan.
Meski hanya latihan, aura haus darah akan muncul ke permukaan walau hanya sedikit, seperti kebocoran. Namun Emir, dengan keunikannya, tidak mengeluarkan aura haus darah sama sekali. Inanna memanfaatkan ini dengan membiarkan aura haus darah yang bocor semakin besar. Ketika perhatian dan pertahananku fokus pada dirinya, Emir akan menyerang.
Aku bisa merasakan kehadiran Emir. Namun, dalam pertarungan seperti ini, instingku akan lebih awas pada Inanna, membuatku melupakan keberadaan Emir untuk sejenak. Di lain pihak, Inanna mampu mengatur kebocoran aura haus darah yang dikeluarkan, memastikan aku tidak terbiasa dengan aura haus darahnya agar, mencegahku meningkatkan kewaspadaan pada Emir.
Kalau aku melakukan pertarungan dengan Emir dan Inanna satu lawan satu, aku tidak akan pernah mengalami kesulitan seperti ini. Dalam waktu singkat, mereka mampu mengembangkan teknik bertarung yang bisa membuatku, Lugalgin Alhold alias Sarru Pemimpin Agade, kesulitan.
Padahal, saat ini, aku tidak mengizinkan mereka menggunakan pengendalian, murni bela diri dan bertarung tangan kosong. Aku jadi penasaran sekuat apa mereka kalau aku mengizinkan mereka menggunakan pengendalian dan senjata.
Akhirnya, setelah lima belas menit, aku menghentikan sesi latih tanding ini.
"Ini, Guru, Kak Emir, Kak Inanna."
"Terima kasih."
Shinar memberi kami air mineral dan handuk. Kami beristirahat sejenak.
Setelah ini, sesi bertarung akan dilanjutkan dengan menggunakan senjata latihan. Pada sesi latihan dengan menggunakan senjata, aku mengizinkan Emir dan Inanna menggunakan pengendalian. Namun, tentu saja, bukan senjata jarak jauh.
"Emir, Inanna, sejak kapan kalian berlatih bertarung seperti itu? Aku cukup yakin kalau latihan yang kita lakuan bersama Shinar setiap hari hanya satu lawan satu. Dan, kenapa aku tidak tahu kalau kalian berlatih di luar jam latihan pagi?"
Emir dan Inanna tidak langsung menjawab. Mereka saling memandang, lalu tertawa pelan.
"Sudah sebulan lebih kami berlatih diam-diam. Sejak..."
"Kita kencan." Inanna melanjutkan ucapan Emir. "Kami berlatih di siang hari."
"Ketika kami bilang akan berkeliling mal, kami sebenarnya menggunakan ruang bawah tanah."
"Kami tidak benar-benar berlatih untuk melakukan pertarungan tim. Kami hanya latih tanding biasa. Namun, Ketika latih tanding ini, aku mampu melihat kelebihan dan kekurangan teknik bertarung Emir dibandingkan milikku."
"Di lain pihak, meski aku tidak bisa benar-benar bilang melihat kelebihan dan kekurangan teknik bertarung Inanna, aku merasa aku bisa bekerja sama dengannya. Dan, jadilah seperti tadi."
__ADS_1
Ketika melihat Inanna dan Emir yang saling menyelesaikan kalimat, aku jadi teringat pertama kali berbincang-bincang dengan Inanna, dalam mobil di kerajaan Mariander bersama Jeanne. Melihat pemandangan ini sedikit memberi rasa nostalgia. Padahal, belum ada satu tahun sejak saat itu.
Ngomong-ngomong, aku kembali diingatkan bagaimana Emir memiliki bakat dalam bertarung. Ucapannya yang mengatakan "merasa bisa" menunjukkan kalau instingnya sudah mengambil alih, berbeda dengan Inanna yang mengatakan "kelebihan dan kekurangan".
Namun, aku tidak pernah menduga mereka bisa sekuat ini hanya dengan bertarung bersama. Selama ini, aku lebih sering mengajarkan anggota Agade, dan Shinar, agar mampu bertarung sendirian. Kalau kemampuan mereka sudah mumpuni, mereka akan bisa bekerja sama dengan orang lain lebih mudah.
Ambil aku dan Mulisu. Ada momen ketika kami mampu bertarung sebagai tim dengan lancar. Awalnya aku mengira hal ini disebabkan karena kami sama-sama dilatih oleh Lacuna, jadi kami bisa mengetahui jalan pikir dan teknik bertarung pihak lain.
Mulisu setuju karena kami sama-sama dilatih Lacuna, kami bisa bekerja sama dengan baik. Namun, dia tidak setuju itu adalah satu-satunya alasan. Lacuna, meski memberi prioritas pada teknik bertarung solo, juga menekankan untuk memperhatikan sekitar dengan saksama. Demi memanfaatkan semua kondisi sekitar.
Karena kami sama-sama memiliki kemampuan observasi ini, kami mampu mengimplementasikan informasi yang kami dapat dari pihak lain. Dan, aku pun menerapkan standar itu pada Shinar, Emir, dan Inanna.
Di Agade, baru Simurrum dan Uru'a yang tampak jelas bertarung dalam tim. Untuk anggota lain, aku belum pernah melihatnya.
Di sini, Shinar belum mampu mempraktikkan kemampuan observasi ini. Ninlil? Tentu belum. Namun, tanpa aku ketahui, Emir dan Inanna mampu melakukannya dengan baik. Tidak. Baik adalah sebuah understatement. Aku bisa bilang mereka mengeksekusinya dengan cukup sempurna.
"Mau lanjut ke sesi senjata?"
"Tentu!"
Kami berdiri dan menuju peti arsenal. Kami berbincang santai sambil memilih-milih senjata. Namun, sayangnya, belum selesai kami memilih senjata, sebuah gangguan muncul.
Di jalan, agak jauh dari tempat kami berada, sebuah limosin panjang datang. Limosin itu tidak rendah, tapi cukup tinggi dengan ban lebih besar dari mobil biasa. Dari dua fitur itu, aku tahu kalau limosin itu adalah mobil militer.
Fitur lain yang sedikit mencolok adalah sebuah patung sayap kecil dengan lingkaran halo di bagian depan limosin. Fitur ini menandakan kalau limosin itu adalah milik keluarga kerajaan. Namun, seingatku, tidak ada keluarga kerajaan yang memberi kabar kalau ingin menemuiku.
Sopir keluar dan membuka pintu penumpang, membiarkan dua sosok turun.
Sosok pertama adalah laki-laki dengan sedikit keriput tapi masih terlihat segar dan garang. Rambut yang harusnya hitam tampak menjadi abu-abu karena memutih sebagian. Dia memiliki mata hitam dengan pandangan ganas, tegas, dan lembut, bercampur jadi satu. Laki-laki itu adalah Fahren Falch Exequeror, Raja Bana'an.
Sosok satunya adalah wanita dengan rambut merah muda panjang yang dibiarkan terburai, senada dengan pandangan lemah lembut. Meski seharusnya memiliki usia yang hampir sama dengan Fahren, tidak terlihat kerut di wajah dengan dagu lancip itu, seolah dia masih berusia 30 tahun. Wanita itu adalah permaisuri Rahayu Falch Exequeror.
Fahren dan permaisuri Rahayu datang tanpa mengenakan atribut kerajaan. Fahren mengenakan kemeja putih dengan jaket model militer hijau dan jeans hitam. Permaisuri rahayu mengenakan jaket merah yang menutupi seluruh bagian atas tubuh dan celana jeans putih.
Ketika melihat Raja dan Permaisuri kerajaan datang, semua orang di tempat ini berlutut. Bahkan Ninlil yang sebelumnya tergeletak langsung berlutut. Semuanya, kecuali aku.
Fahren dan permaisuri Rahayu mendatangi kami. Sementara itu, aku duduk di atas peti arsenal menyilangkan kedua tangan. Ketika mereka cukup dekat, aku angkat bicara.
__ADS_1
Normalnya, yang diperbolehkan berbicara terlebih dahulu adalah orang dengan posisi lebih tinggi. Namun, aku tidak peduli. Apalagi lawan bicaraku adalah orang yang sudah merepotkan hidupku.
"Jadi, Fahren, apa yang kau mau?"
"Kamu sadar kan kalau kamu berbicara dengan Raja kerajaan ini."
"Hahh," aku mendecakkan lidah. "Saat ini kau tidak mengenakan jubah kerajaan, jadi kau tidak datang sebagai Raja. Dan, pertemuan terakhir kita saat kau tidak mengenakan jubah kerajaan cukup merepotkanku. Kau tidak lupa kan?"
Aku yakin dia tidak lupa ketika tiba-tiba masuk ke kamar mandi dengan Raja Arid dan mengatakan aku harus menjadi Raja. Dan, aku pun yakin dia tidak akan lupa bagaimana kesalnya aku saat itu.
Wajah Fahren berubah masam ketika mendengar ucapanku.
Di lain pihak, Permaisuri Rahayu sedikit cemberut ketika melihat interaksi kami. Akhirnya, dia pun mengambil alih pembicaraan.
"Gin, bisa tolong kalian masuk ke mobil bersama kami? Kita akan berbicara di dalam mobil. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1