
"Ah, ya, silakan masuk."
Mario masuk dan memberiku sebuah map. Di dalam map itu, terdapat dua lembar surat yang membutuhkan tanda tanganku.
Surat ini adalah surat peringatan untuk semua orang yang tidak menandatangani surat pernyataan kesetiaan. Surat ini mengatakan kalau mereka tidak menyatakan kesetiaan padaku, dalam waktu satu bulan mereka akan dirumahkan dan dilarang melakukan semua hal yang berhubungan dengan intelijen Bana'an. Dan, tentu saja, semua gaji dan tunjangan yang mereka dan keluarganya terima akan dihentikan.
Dua bulan setelah dirumahkan, jika mereka masih tidak mau menyatakan kesetiaan, mereka akan dihentikan sebagai intelijen.
Pemberhentian sebagai intelijen bukanlah hal yang bisa disepelekan begitu saja. Rentang waktu yang mereka lalui ketika mengabdi sebagai agen akan dianggap sebagai kosong, atau pengangguran. Jadi, jika ada orang yang telah menjadi agen selama 10 tahun, dia akan dianggap menganggur selama 10 tahun.
Kerajaan tidak akan mengakui pengabdian orang itu karena dia dihentikan secara tidak hormat. Dan, karena intelijen Bana'an tersebar di seluruh elemen masyarakat, dan juga perusahaan-perusahaan, pemberhentian secara tidak hormat ini akan mencegah mereka mendapatkan pekerjaan. Lebih tepatnya, intelijen kerajaan lah yang mencegah mereka mendapat pekerjaan.
Ketika hal ini terjadi, satu-satunya jalan yang bisa diambil oleh agen-agen ini adalah berpaling ke pasar gelap. Dan, ketika hal itu terjadi, dia akan resmi menjadi musuh kerajaan. Di saat itu, aku bisa membunuhnya tanpa melanggar perjanjianku karena dia bukan lagi agen.
Konsep pemberhentian dan memojokkan agen ini tidak hanya diterapkan di Bana'an. Kerajaan dan negara lain juga menerapkan konsep ini jika ada agen yang terbukti berkhianat.
Oleh karena itu, menerima pekerjaan sebagai intelijen bagaikan pedang bermata dua. Di satu pihak, semua kehidupan dan kebutuhanmu, bahkan hingga yang tersier, pasti akan dipenuhi oleh Kerajaan dan Negara. Namun, kalau kau berkhianat atau tampak korupsi, hanya penderitaan yang menanti.
Ya, meski para bangsawan itu akan terpojok karena hal yang lain sih.
Aku menandatangani dua lembar surat dan mengembalikan satu lembar pada Mario. Satu lembar yang lain kupegang sebagai arsip.
"Aku ingin surat ini mencapai mereka semua minggu ini.... yang berarti tinggal empat hari termasuk hari minggu. Apa kalian sanggup?"
Karena dokumen ini tidak boleh diemail, untuk menghindari peretasan, hasil scan hanya dikirim melalui flash drive yang diantar oleh agen lain. Jadi, akan sulit untuk menyebarkan surat ini dalam waktu singkat. Namun, aku tidak melihat keraguan itu di wajah Mario.
"Untuk yang dalam negeri, besok lusa bisa dipastikan mencapai mereka. Untuk yang luar negeri, sebagian Sabtu, sebagian lagi Minggu."
Aku tersenyum. "Bagus."
Mario pun pergi meninggalkan ruangan.
"Surat apa itu gin?" Shu En bertanya.
"Mau lihat?"
Aku memberi surat yang kutandatangani ke Ufia, yang disalurkan ke Jeanne dan lalu ke Shu En.
Kalian memberi surat itu ke Shu En begitu saja tanpa membacanya? Apa kalian tidak penasaran dengan isinya.
"Hoo, kamu memberi mereka tenggat waktu ya."
"Ya, benar sekali." Aku merespon Shu En. "Aku tidak mau memperpanjang urusan ini. Tiga bulan adalah batas waktu untuk masalah ketidaktaatan mereka. Meski menurutku tiga bulan terlalu lama."
"Biar kutebak," Mulisu masuk. "Pasti surat itu menyatakan kalau orang-orang yang tidak menyatakan kesetiaan dan ketaatan pada Lugalgin hingga tenggat waktu habis, mereka akan diberhentikan, kan?"
"Ya, benar sekali." Shu En merespon Mulisu enteng.
"Tapi, apa itu tidak percuma?" Mari merespon.
"Eh?" Mulisu dan Shu En merespon bersamaan.
__ADS_1
"Mereka yang tidak menurut kan rata-rata bangsawan. Apa itu akan memiliki efek? Maksudku, meski tidak memiliki pekerjaan, harta dari keluarga mereka masih melimpah, kan? Apalagi ka- Lugalgin memang dibenci bangsawan. Jadi, menurutku, itu tidak akan membuat mereka jera."
"Kamu benar," Simurrum merespon.
"Tapi salah," Uru'a menambahkan.
Simurrum, Uru'a, kenapa kalian berkata seperti itu? Kalian kira kalian anak kembar?
"Eh? Maksudnya?"
"Begini, biar aku jelaskan," Shu En mengambil alih. "Untuk orang-orang seperti mereka, finansial memang bukanlah masalah utama. Mereka memiliki hal lain yang akan diinjak-injak Lugalgin jika diberhentikan secara tidak hormat, yaitu harga diri mereka sebagai bangsawan.”
Shu melanjutkan, "mereka mungkin akan tenang jika yang memberhentikan adalah Yang Mulia Paduka Raja. Namun, jika yang memberhentikan adalah Lugalgin, rakyat jelata yang seharusnya di bawah, mereka akan merasa harga diri sebagai bangsawannya telah dilangkahi, diinjak-injak, bahkan diludahi. Dan, tidak mungkin mereka diam saja."
"Ohh.... begitu ya."
Secara konsep, penjelasan Shu En tidaklah salah. Namun, pemilihan katanya, terutama pada bagian diinjak-injak, dilangkahi, dan diludahi, apa tidak terlalu berlebihan? Kamu mengatakannya seolah-olah aku lah pihak yang jahat di sini.
"Namun, dengan surat itu," Ufia melempar pandangan ke arahku. "Lugalgin, kamu seperti mendeklarasikan perang pada orang-orang yang tidak taat."
***
Malam tiba dan kami pun pulang. Namun, ketika tiba di rumah, ada hal yang benar-benar merepotkan terjadi.
Tepat di depan pintu rumah, di dalam halaman, terlihat beberapa orang terikat dalam kondisi pingsan. Ikatan mereka sederhana, menggunakan ikatan kabel di jempol.
Gaya mengikat ini sangat aku kenal.
Sementara aku membuat panggilan melalui smartphone, Emir mencolek-colek orang-orang itu. Di lain pihak, Inanna tidak peduli dan langsung masuk rumah.
"Gin, aku akan menyiapkan makan malam. Emir, bantu aku."
"Oke."
"Ya, terima kasih, Inanna, Emir."
Akhirnya, setelah beberapa kali berbunyi, teleponku menyambung.
[Ya, Lugalgin, ada apa?]
"Ibla, bisa tolong jangan membuang sampah di depan rumah orang?"
[Ah, maaf. Aku belum sempat membawa sampah-sampah itu setelah membersihkan halaman rumahmu. Sampahnya terlalu banyak sih tadi. Nanti aku akan mengambilnya. Tinggalkan saja di depan rumah.]
Ah, jadi mereka ada di halaman rumah ya? Aku terkejut tidak ada seorang pun yang berusaha masuk. Kalau mereka masuk dan tewas oleh perangkap, pekerjaanku akan jauh lebih mudah. Maksudku, bukan salahku kan kalau mereka tewas oleh perangkap yang kupasang untuk menghalau penjahat.
Aku melangkahi orang-orang yang pingsan ini dan masuk ke rumah. Seperti ucapan Ibla, dia akan mengambilnya nanti.
[Ngomong-ngomong, Gin, sebelum kamu tutup, aku ingin melaporkan sesuatu.]
"Sesuatu?"
__ADS_1
Aku melepas jaket dan meletakkannya di sofa. Sementara itu, di dapur, Inanna dan Emir sedang menyiapkan makan malam.
[Jadi, kami sudah menemukan organisasi yang menggunakan nama Agade.]
"Lalu, apa yang kamu mau?"
[Lugalgin, aku tahu kalau kamu tidak peduli dengan nama Agade yang digunakan organisasi lain. Bagimu, Agade hanyalah nama. Dan kami pun berusaha sebaik mungkin untuk tidak memedulikannya. Namun, sayangnya, kami tidak bisa.]
"Oke, jelaskan."
Sambil menunggu makan malam siap, aku mendengarkan cerita Ibla. Pada dasarnya, mereka menganggap nama Agade adalah sebuah hadiah dariku untuk mereka. Ketika ada orang lain yang menggunakan nama Agade begitu saja, sebenarnya mereka marah dan ingin segera meringkus orang-orang itu. Namun, mereka menahan diri.
Mereka berpikir nama Agade tidak memiliki arti selama mereka bisa berguna untukku. Namun, meskipun logika sudah menerimanya, perasaan mereka tidak bisa. Mereka benar-benar tidak terima ada orang lain menggunakan nama Agade tanpa izin. Apalagi orang-orang yang tidak mereka kenal.
"Jadi, kalian ingin meringkus Agade palsu ini dan mengklaim kembali nama Agade?"
[Kami tidak benar-benar ingin mengklaim nama Agade atau menggunakannya kembali. Kami hanya tidak mau nama Agade digunakan oleh orang lain. Hanya itu. Maksudku, itu adalah pemberianmu. Kami tidak mau orang lain merebutnya begitu saja.]
Pemberianku dan tidak mau orang lain merebutnya begitu saja, ya.
Ketika mendengar kalimat ini, aku jadi sedikit terdiam, teringat ketika orang lain mengatakan hal yang sama padaku.
Semenjak berurusan dengan Fahren, aku jadi sering teringat pada masa-masa itu. Banyak sekali hal yang mengingatkanku pada kenangan-kenangan itu. Apa aku semakin sentimen? Bisa jadi.
"Baiklah, aku izinkan."
[Benarkah? Terima kasih, Lugalgin.]
"Tapi, aku ingin ikut juga, dengan membawa serta Inanna dan Emir. Aku ingin menunjukkan pada mereka bagaimana kalian, atau mungkin kita, bertarung ketika sedang serius."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1