I Am No King

I Am No King
Chapter 64 – Ragu-ragu


__ADS_3

~Lacuna POV~


 


"Aku beri saran lain, gratis juga," aku melanjutkan. "Normalnya, penilaian makelar pekerjaan di pasar gelap cukup akurat. Kalau dia menilaimu tidak mampu berkembang lebih lanjut, maka kemungkinan besar itu adalah benar. Jadi, menurutku, lebih baik kamu berhenti bekerja sebagai mercenary."


 


Pirang tidak menjawab.


 


Aku tidak mengharapkan jawaban, jadi aku tidak menanti respon darinya. Aku melihat ke berita yang masih memberitakan tewasnya puluhan orang di satu gedung tiga hari yang lalu. Ya, benar, itu adalah gedung dimana aku mengamati petinggi keluarga Ibrahim.


 


"Putih,"


 


"Ya?"


 


"Kapan kamu akan menyerang mereka?"


 


"Entahlah. Aku belum ada mood."


 


"....belum ada mood?"


 


"Iya, benar, belum ada mood. Menurutku, informasi yang kudapat sudah cukup. Aku juga sudah Melihat secara langsung efek senjata penghilang pengendalian itu jika menyentuh kulit. Namun, entahlah, aku belum ada mood untuk menyerang."


 


"Apa kamu tidak menginginkan uang hadiah itu?"


 


"Tidak juga. Uangku sudah berlimpah. Bahkan, kalau aku mau, aku sudah bisa mendirikan organisasi baru dengan uangku yang sekarang."


 


"Lalu?"


 


"Sudah kubilang belum mood. Sudahlah. Tidak usah dibahas lebih jauh."


 


Mendengarku yang mencoba menghentikan diskusi, Pirang pun diam.


 


Awalnya, aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaan ini untuk bisa bertemu dan mengobrol dengan ibu. Namun, setelah aku berbicara sebentar dengannya kemarin sore, aku jadi malas. Bagaimana ya. Aku berharap dia meninggalkanku dan ayah hanya karena kami akan mengganggu kerjanya di pasar gelap. Kalau demikian, setidaknya, aku bisa sedikit melampiaskan kemarahan karena masa kecil yang sulit.


 


Namun, setelah tadi berbicara, ada kemungkinan dia pergi karena tidak mau aku terbunuh oleh pengendaliannya. Bisa saja dia berkelana mencari benda yang bisa menekan pengendaliannya sendiri.


 


Sayangnya, setelah mendapatkan cincin itu, dia mendapati keluarganya tidak dapat ditemukan. Ayah tewas karena berselisih dengan mafia dan aku kabur keluar kota, mulai belajar menjadi seorang mercenary. Dia pasti mengira aku sudah tewas juga.


 

__ADS_1


Dibanding ketika kecil, penampilanku sekarang berubah drastis. Aku sudah beberapa kali mengubah wajah dan rambutku pun sudah kehilangan warna. Wajar kalau dia tidak mengenaliku.


 


Kalau skenario ini adalah benar, aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Mila. Aku benar-benar tidak tahu. Bahkan, aku tidak bisa membayangkan ekspresinya kalau aku mengatakan bahwa aku adalah putrinya yang menghilang.


 


Belum tentu juga dia percaya. Yang ada malah, bisa-bisa, dia menganggapku sebagai musuh yang mencoba membunuhnya dengan mengambil identitas putrinya.


 


Ah, aku tidak tahu harus melakukan apa. Ya, aku tidak perlu terburu-buru juga. Pekerjaan ini tidak ada deadlinenya.


 


Blarr


 


Sebuah ledakan terdengar.


 


"Eh?"


 


Ledakan itu cukup dekat. Bukan cukup dekat, tapi sangat dekat. Ledakan itu berasal dari apartemen sebelah, apartemen Pirang.


 


Aku menenggak bir kaleng di tangan dan berbicara, "Pirang, tampaknya, keluarga Ibrahim menelusuri tempat tinggalmu. Saat kembali, aku ke apartemenmu dan memasang jebakan di pintu. Kalau ada orang membuka pintumu secara paksa, tanpa kunci, sebuah ledakan akan muncul."


 


"Hah? Jebakan? Pintuku? Tunggu dulu! Bagaimana kamu bisa masuk ke apartemenku?"


 


 


"Kalau kamu perhatikan baik-baik, aku memotong dinding dan membuat lubang antara apartemen kita. Jadi, mudah untukku keluar masuk apartemenmu."


 


"....pengalamanku memang benar-benar minim jika dibandingkan denganmu."


 


Ide membuat lubang di dinding dengan perak bukanlah ideku. Itu adalah ide salah satu muridku di masa lalu, yang aku anggap cukup brilian, Lugalgin. Normalnya, orang hanya akan waspada pada jendela dan pintu.


 


Bahkan, orang sepertiku, juga hanya akan memasang jebakan pada jendela dan pintu. Dinding, sebagai pertahanan yang seharusnya paling kokoh, menjadi titik paling rentan karena tidak dipasang jebakan.


 


Memotong dinding adalah hal yang mudah, tapi butuh waktu lama. Aku harus melakukannya dengan perlahan atau potongannya akan meninggalkan bekas yang tampak. Aku sudah memasang jebakan jauh sebelum Pirang menempati apartemen itu.


 


Selain apartemen pirang, aku juga memasang jebakan di apartemen sisi satunya. Kalau ada musuh mencoba menyelinap lewat balkon, mereka pasti lewat apartemen sebelah dulu. Oleh karena itu aku memasang jebakan bukan hanya di apartemenku, tapi juga apartemen sebelah.


 


Dan, tentu saja, kini, aku juga memasang jebakan di dinding. Bahkan, hampir tidak ada sisi yang tidak memiliki jebakan di apartemenku. Tentu saja, jebakan itu tidak akan aktif kalau aku yang menginjak atau memicunya.


 


Ah, iya jadi ingat.

__ADS_1


 


"Aku lupa bilang. Apartemenku penuh dengan jebakan yang mungkin aktif kalau bukan aku yang memicunya. Jadi, lebih baik, kamu hati-hati selama berada di tempat ini."


 


"Ah, um, sofa ini?"


 


"Sofa ini aman, tentang saja."


 


"Ah... lalu... tadi, saat kamu menuntunku masuk?"


 


"Aku menuntunmu agar kamu tidak memicu satu pun jebakan." Aku menyulut sebuah rokok. "Sebaiknya, selama di sini, kamu tidak bergerak kemana pun tanpa tuntunanku. Salah-salah anggota tubuhmu bisa melayang. Aku sudah cukup malas membersihkan tempat ini, aku tidak mau ada anggota tubuh berserakan dan membuat semuanya kotor."


 


"Ba-baiklah kalau begitu."


 


Aku pun berdiri. Karena ada kemungkinan mereka akan kesini juga, aku harus bersiap.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Untuk post note belum ditulis karena masih di tengah aksi. Tidak banyak yang bisa dijelaskan dari chapter ini.


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 

__ADS_1



__ADS_2