I Am No King

I Am No King
Chapter 255 – Top of Orion


__ADS_3

Sudah beberapa menit sejak sirene menandakan tengah malam berbunyi, tapi aku belum menemui siapa pun, baik anak buahku maupun Agade. Aneh. Maksudku, ada ratusan atau bahkan ribuan orang bertarung di kota ini. Seberapa besar kemungkinan aku tidak menemui satu pun dari mereka?


Tidak perlu terburu-buru. Aku tetap berjalan normal menuju ke sumber suara terdekat. Namun, aku tidak akan mendatangi sumber suara paling berisik, stadium, tempat Ukin berada. Suara paling berisik, bahkan membuat getaran hingga tempat ini padahal jaraknya jauh. Dengan menggunakan teropong, aku sempat melihat sebuah makhluk panjang yang bergerak menggeliat.


Namun, aku harus bersyukur karena Lugalgin mengatur agar pertarungan terakhir ini dilakukan di kota kosong. Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak korban jiwa yang jatuh kalau pertarungan ini dilakukan di tempat normal.


Aku tidak mengenakan setelan. Hanya orang bodoh yang turun ke medan perang dengan setelan. Pakaian tempur yang kugunakan mirip dengan Agade, pakaian igni ditambah celana kargo, jaket, dan jubah. Dari enam pilar, hanya tiga organisasi yang memiliki pakaian tempur khusus, yaitu Agade, Orion, dan Akadia. Sisanya? Tidak.


Waktu dulu Agade memulai debutnya, aku ingin berteriak "tukang tiru!". Namun, aku sendiri sadar kalau tipe pakaian kami adalah yang paling efektif dan efisien untuk bertarung. Yang membedakan adalah Orion mengenakan helm anti peluru, Agade mengenakan topeng. Orion belum pernah melawan Agade, jadi aku tidak tahu apakah topeng Agade anti peluru atau biasa.


Namun, untuk Orion, meski sudah menjadi standar, anggota yang bertarung jarang mengenakan helm. Gara-gara ini, beberapa kali anggota penyerang ketahuan, membuat mereka diserang ketika di luar organisasi. Bukan hanya itu. Ada juga kejadian wajah mereka rusak karena ledakan. Aku penasaran bagaimana Agade mendoktrin anggotanya agar selalu mengenakan topeng.


Cting cting


Suara logam bertabrakan terdengar. Sebelum sadar, tali baja yang tersembunyi di balik jubah sudah bergerak, menangkis peluru yang datang. Baru saja aku menyeberang jalan kosong, tepat di perempatan, sebuah peluru sudah menyambut. Aku hanya tahu peluru itu datang dari belakang agak kanan, tidak detail.


Baru saja menoleh ke belakang, peluru lain sudah datang dari depan. Namun, tentu saja refleksku masih lebih baik dari itu.


Seperti rumor yang beredar, anggota Agade benar-benar dididik sebagai pembunuh bayaran, assassin. Mereka tidak akan repot-repot keluar untuk menghadapi orang sepertiku. Kalaupun mereka keluar, seperti sekarang.


"Wah....tidak salah kau menjadi pimpinan Orion. Kau benar-benar hebat. Padahal, dua penembak jitu yang aku pasang sama sekali tidak memancarkan aura haus darah atau niat membunuh."


Sebuah sosok berdiri di pinggir jalan, menyandar ke tiang lampu lalu lintas. Sejak kapan dia ada di situ? Sebelumnya, tempat ini kosong. Aku sama sekali tidak merasakan kehadiran atau kedatangannya.


Sosok ini mengenakan topeng rubah. Topeng sosok ini memiliki fungsi pengubah suara, jadi aku tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Jubah pun menutupi fitur tubuhnya, jadi aku tidak bisa memeriksa dada atau pinggulnya. Namun, rambut putih keunguan yang panjang itu memberi impresi kalau sosok ini adalah perempuan, selama dia tidak mengenakan wig.


"Apa kau anggota elite Agade?"


"Ya, benar. Aku salah satu anggota elite Agade. Kau bisa memanggilku Ninmar. Meski mengetahui namaku tidak akan bedanya sih."


Ya, benar, nama itu tidak akan berfungsi. Dia pasti menggunakan nama lain dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, bukan tidak mungkin sosok ini asal sebut nama.


Sebelum mengonfrontasinya, aku ingin mencoba sesuatu.

__ADS_1


"Apa kau sadar kalau apa yang dilakukan oleh Lugalgin? Dia sedang menghancurkan kerajaan ini. Ini salah. Jutaan masyarakat yang tidak bersalah akan menjadi korban."


"Hmm.... begitu ya. Jadi Lugalgin salah karena sedang menghancurkan kerajaan ini, ya."


Apakah ini akan berhasil?


"Lalu menurutmu, hal apakah yang benar? Apakah membunuh keluarga, membuat anak menjadi yatim piatu, menjualnya, dan lalu menjadikannya budak **** adalah hal yang benar? Kalau itu adalah hal yang benar, kenapa hal ini tidak terjadi pada semua orang di kerajaan ini? Kenapa kamu tidak menjalaninya? Atau setidaknya membuat putrimu mengalaminya?"


Ah, ternyata ditolak mentah-mentah ya.


Rumor yang beredar mengatakan kalau Agade tersusun oleh orang-orang yang menjadi korban perdagangan anak. Mengingat detail yang disebutkan oleh sosok Ninmar ini, aku bisa memastikan kalau rumor itu adalah benar. Kalau Lugalgin dikelilingi oleh orang-orang yang diperdagangkan, normal kalau dia menjadi seperti itu. Bergaul dengan tukang parfum, kau akan tertular wanginya.


Tanpa pikir panjang, aku mengirimkan satu tali baja ke arah sosok ini.


Eh?


Ninmar bergerak, menangkis tali baja yang aku julurkan. Dari balik jubah, dia tampak memegang dua buah pedang satu sisi secara terbalik, mata pedang di bawah tangan. Pedang di kanan jauh lebih besar dari pedang di kiri dengan pelindung tangan sirkuler. Meski menggunakan pedang, Ninmar tidak menebas tali baja yang kugunakan. Dia menggunakan sisi lebar pedang untuk menangkis.


Jadi, itu adalah senjata penghilang pengendalian yang dirumorkan. Aku dengar perempuan bernama Rina itu juga memilikinya. Aku sempat berharap dia akan memberikan sedikit senjata penghilang pengendalian padaku untuk diperiksa. Namun, sayangnya, dia bilang, "kita hanya memiliki musuh yang sama. Aku tidak memiliki kewajiban untuk memberi senjata itu padamu,". Entah antara perempuan itu memang tidak mau, atau tidak punya senjata lain.


Belum sempat pemikiranku selesai, Ninmar sudah berada di depanku. Dengan cepat, Ninmar memutar pegangan pedangnya menjadi normal dan menebaskannya.


Aku menghunus pedang dua sisi yang tergantung di pinggang. Pedang dua sisi ini berhasil menahan tebasan pedang besar Ninmar. Namun dia tidak berhenti begitu saja. Pedang kecilnya berusaha menusuk dari kananku.


Aku menunduk dan melancarkan satu serangan dengan kabel baja, berusaha menembus tubuh lawan. Namun, belum sempat kabel baja yang kukendalikan menembusnya, dia menghilang dari depanku, sudah berdiri beberapa langkah dariku.


Orang ini cepat sekali! Aku tidak bisa melihat gerakannya! Hanya insting dan refleks yang membuatku masih hidup. Dan, seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, peluru melayang ke arahku dari beberapa arah. Semua peluru berhasil ditangkis. Aku bersyukur peluru yang mereka gunakan bukanlah penghilang pengendalian juga.


Nafasku terasa berat. Bersamaan dengan hembusan nafas, kaca helm menjadi berembun.


Hah?


Memanfaatkan momen aku yang sempat terkejut, Ninmar menyerang kembali. Aku bergerak cepat dan menangkis tebasan pedangnya. Aku hanya membawa satu pedang. Kalau memilih untuk menahan tebasan Ninmar, dia akan mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan saat pertahananku tidak bisa bergerak.

__ADS_1


Kami bertukar tebasan pedang tanpa henti. Aku harus bergerak secepat kilat untuk mampu menandingi serangan dari dua pedang. Namun, kalau dibiarkan, aku akan terdesak.


Aku memisahkan satu kabel baja dan membuatnya menjadi padat, mengubahnya menjadi tongkat setengah meter. Dalam waktu singkat, aku berhasil menyamakan posisi. Dengan tambahan serangan dari kabel baja, aku akan membalikkan keadaan. Namun, sayangnya, hal itu tidak terjadi. Peluru demi peluru datang dari beberapa arah, menghalangiku yang berusaha menyerang.


Embun di helm ini masih menghalangi. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku beberapa kali melompat ke belakang, berusaha memberi jarak. Namun, Ninmar tidak memberi kesempatan. Dia terus menempel.


Aku tahu kota Abu berada di pegunungan, tapi suhu ini masih terlalu dingin. Dingin? Tunggu dulu! Aku teringat satu julukan yang paling terkenal dan mencolok di pasar gelap, yang berhubungan dengan dingin.


"Ratu Es?"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_1


__ADS_2