
~Ninmar POV~
Aku memunculkan beberapa tombak es muncul dari lantai. Karla melepaskan tembakan dari ujung kapaknya, menghancurkan es yang muncul.
Tiba-tiba saja, beberapa tombak muncul dari luar, memecahkan jendela dan masuk. Aku mengelak tombak-tombak yang mencoba menusuk dengan kedua pedang di tangan.
Tampaknya, Karla mengendalikan aluminium di lantai lain yang belum terpengaruh oleh nitrogen. Tepat setelah aku menangkis serangan yang dia lancarkan, tombak-tombak itu mendekat ke Karla. Selain tombak, terlihat ada tiga buah perisai.
Aku memunculkan beberapa duri besar dari lantai, mencoba menusuk Karla. Namun, dia bisa menghindarinya dengan mudah.
Karla menggunakan dinding sebagai pijakan dan melontarkan tubuh ke arahku. Akhirnya, sejak pertama bertemu, senjata kami kembali bertemu.
Karla berhasil menghalau tembakan yang dilepaskan oleh Koma dengan perisai. Di lain pihak, dia melepaskan serangan tombak dan aku menghalaunya dengan duri es. Di antara semua itu, kami saling melancarkan serangan dan mengelak serangan lawan, kapak melawan dua pedang.
Selain tiga pertarungan yang kusebut, masih ada satu pertarungan yang terjadi tapi sama sekali tidak tampak. Pertarungan itu adalah antara pengendalian nitrogenku dan aluminium Karla. Hingga saat ini, Karla masih mencoba mengendalikan aluminium di lantai ini. Dan, selama ini pula, aku masih terus mencampur nitrogen ke dalam aluminium dan mencegahnya dikendalikan.
Pertarungan yang keempat ini memang tidak tampak secara kasat mata. Namun, kalau mereka memperhatikannya, semua aluminium di tempat ini bergetar sangat hebat, menerima pengendalian kami berdua.
Saat ini, posisiku dan Karla seperti saling mendorong. Kalau dorongan Karla lebih besar sedikit saja dari doronganku, aluminium di lantai ini akan langsung berubah menjadi senjata baginya. Dan, hal itu akan sangat tidak menguntungkan bagiku.
"Katakan padaku, apakah kau orang terkuat setelah Sarru?"
Sebenarnya, aku tidak perlu melayani omongannya. Namun, entah kenapa, aku tidak terlalu memedulikannya. Mungkin karena aku mulai bosan dengan pertarungan ini.
"Berdasarkan kekuatan pengendalian atau berdasarkan kemampuan bertarung?"
"Tentu saja kemampuan bertarung! Kalau hanya berdasar pengendalian, inkompeten itu tidak mungkin bisa menjadi pemimpin Agade, satu dari enam pilar."
Ketika mendengar ucapan Karla, ujung bibirku sedikit naik. Di tengah pertarungan sengit ini, aku masih bisa bahagia ketika mendengar ada orang yang mampu melihat kehebatan Lugalgin walaupun dia seorang inkompeten. Aku jadi memandang perempuan ini lebih baik.
"Tanpa menghitung Sarru, aku berada di nomor tiga."
"Untuk posisi kedua, aku asumsikan ditempati oleh Mulisu, satu dari tiga murid Lacuna. Apa benar?"
"Kau sudah mengerjakan tugas dengan baik."
"Hehehehe. Berarti, kalau aku membunuhmu, masih ada dua orang yang lebih hebat darimu! Aku tidak sabar!"
Perempuan ini benar-benar pecandu pertarungan. Aku tidak tahu bagaimana Apollo bisa mengendalikannya selama ini.
Perlahan, gerakan kami berdua semakin melambat. Nafas kami pun sudah menunjukkan warna putih. Ruangan ini semakin dingin. Kalau dibiarkan terus, kami berdua bisa terkena hipotermia. Di saat ini, kata-kata Lugalgin setelah dia kembali aktif di Agade terngiang.
(Ninmar, pengendalian Nitrogen di udara tidak dapat dipungkiri adalah senjata yang sangat mematikan. Namun, sayangnya, hal ini juga berlaku untukmu. Tubuhmu masih manusia normal. Jadi, kalau menggunakan teknik ini terlalu lama, bukan hanya lawanmu yang akan tewas, kamu juga. Ingat, ada hipotermia.)
__ADS_1
Awalnya, aku mengira waktu dimana bisa bertemu dengan lawan yang mampu mengimbangiku masih lama. Aku sama sekali tidak menduga kalau waktu itu akan datang secepat ini.
"Hei, Ninmar, aku punya satu saran."
"Ya?"
"Bagaimana kalau kau biarkan aku mengendalikan seluruh gedung ini? Lalu, kita berdua sama-sama mengeluarkan serangan terkuat. Bukankah itu akan jauh lebih seru dan asyik? Daripada kita saling membatasi gerakan lawan seperti ini. Dan lagi, cepat atau lambat, kita berdua akan sama-sama mati kedinginan kalau pertarungan ini tidak segera berakhir."
Baiklah. Itu adalah ide yang bagus.
Sebuah pemikiran yang tidak akan pernah terlintas di pikiranku. Kenapa aku mau menurut? Hanya orang bodoh yang akan melakukannya!
[Ok. Aku siap]
Bagus!
Aku menghindari ayunan kapak Karla dan melompat mundur, memberi jarak sejauh mungkin dengannya.
"Kau mengambil jarak? Apa ini berarti kau setuju?"
"Tidak! Aku tidak setuju! Aku hanya mencoba menghindar dari serangannya."
Karena jarak sudah cukup jauh, kami berdua sama-sama berteriak.
Klang
"Hah? AAAHHHHHH!!!!!!"
Awalnya, Karla memberi respon lemah. Namun, tepat setelahnya, dia berteriak.
Dari kejauhan, aku bisa melihat tubuh Karla yang kejang-kejang. Bukan hanya kejang-kejang, aku melihat kapak yang dipegang Karla pun sedikit bercahaya. Selain itu, muncul percikan api dari kedua tangan Karla yang masih menempel di kapak.
Di ujung ruangan, tampak seorang perempuan dengan rambut hitam dan merah berloreng, berdiri. Berbeda denganku yang mengenakan topeng, dia tidak mengenakan penutup wajah atau wig. Perempuan itu adalah Umma. Samar-samar, di samping Umma terlihat ada kabel panjang membentang yang terhubung ke dinding.
Umma adalah pengendali tembaga, sama seperti Mulisu. Normalnya, Umma akan menggunakan senjata api yang terbuat dari tembaga, lalu meledakkannya dengan membuat tembaga tersebut tidak stabil. Tembaga memiliki sifat penghantar panas dan listrik yang baik. Karena hal itu, ledakan yang dihasilkan oleh senjata tembaga relatif lebih besar dari besi biasa.
Kali ini, Umma tidak menggunakan sifat penghantar panas dari tembaga, dia menggunakan sifat penghantar listrik. Kabel panjang yang menempel di dinding terhubung ke langsung ke aliran listrik gedung ini.
Umma sedikit meniru teknik yang digunakan oleh Mulisu ketika bertarung dengan Ukin. Dia membuat tembaga yang ditembakkan melebur dengan kapak yang dipegang Karla. Jadi, walaupun Karla berusaha mengayun dengan kencang, kapaknya tetap akan terhubung ke arus listrik.
Satu-satunya cara untuk Karla terlepas dari sengatan listrik adalah dengan melepaskan kapaknya. Namun, listrik yang mengalir pasti membuat tubuhnya tidak mampu bergerak sesuai keinginan.
Di lain pihak, aluminium di gedung ini terasa semakin menggila. Dorongan yang diberi oleh Karla pada aluminium semakin kuat. Aku mulai kesulitan menahannya dengan nitrogen. Bukan hanya di gedung ini, tombak dan perisai yang dia gunakan pun bentuknya mulai tidak beraturan, berubah-ubah.
"Ninmar, bisa tolong segera habisi dia? Tarikan kapaknya sangat kuat. Untuk bisa mempertahankan agar kabel ini tidak putus saja sudah menghabiskan stamina dan konsentrasiku."
"Perempuan ini tangguh juga. Kalau orang normal, pasti sudah tewas dari tadi."
__ADS_1
Aku membuat boneka besi Koma melayang dan terbang di atas Karla, melepaskan tembakan berondong. Tidak berhenti di situ. Aku juga memunculkan duri es raksasa dari lantai. Kini, dia diserang dari atas dan bawah.
"AAAHHHHH!!!!!!"
Tiba-tiba Karla berteriak. Saat itu juga, kapak yang dia bawa berhasil memutus kabel yang terhubung. Dengan satu ayunan, dia berhasil menghancurkan duri es yang muncul dan menghalau semua peluru.
Dor
Suara tembakan terdengar. Bersamaan, suara benda berat pun terjatuh, Karla terjatuh. Dari dahinya, terlihat sebuah lubang menganga, mengalirkan cairan merah kental di atas lantai es ini.
Tembakan itu berasal dari Umma. Seperti halnya anggota elite Agade, dia selalu membawa senjata api bersamanya. Begitu dia tidak perlu mengendalikan tembaga, dan Karla lengah karena menghentikan seranganku, Umma mengambil kesempatan. Satu tembakan tepat di dahi.
Perlahan, aku bisa merasakan aluminium yang bercampur nitrogen tidak memberi tekanan lagi. Pengendalian Karla pada aluminium di gedung ini akhirnya terhenti. Senjata yang melayang di dekatnya pun terjatuh. Bentuknya tidak karuan lagi. Meski demikian, aku dan Umma tidak mendekati Karla begitu saja. Untuk memastikan, kami berdua terus menyarangkan peluru ke sekujur tubuh Karla.
Umma fokus menyarangkan peluru ke kepala Karla sedangkan aku melepaskan tembakan ke seluruh tubuh, menggunakan boneka besi Koma. Tidak ada salahnya berjaga-jaga lebih.
Kepala Karla akhirnya pecah karena Umma terus melepas tembakan ke bagian tersebut. Setelah melihat kepala Karla pecah, dan seluruh tubuhnya hancur tidak karuan oleh peluru, kami menghentikan tembakan. Tidak mungkin ada orang yang masih hidup setelah kepalanya pecah dan tubuhnya hancur seperti ini.
"Dengan ini, Karla akhirnya tewas, kan?"
"Bahkan zombi tidak akan bertahan hidup dari serangan ini.....kan?"
Meski memberi jawaban zombi, Umma sendiri tidak yakin.
[NINMAR! UMMA! MARI DAN HURRIAN BUTUH BANTUAN!]
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1