I Am No King

I Am No King
Chapter 290 – Komitmen


__ADS_3

"Ada apa?"


"Wajahmu... keloid?"


"Ah, ternyata. Aku kira apa. Kamu membuatku kaget saja."


Aku melepaskan kepala dari tangan Rina dan meraba wajah, merasakan kulit yang tidak halus penuh dengan gumpalan.


"Peluru dari tank kemarin, meski meleset, masih melempar kerikil kecil ke arah kita, kan? Titik-titik wajah yang ditumbuhi keloid ini pasti tempat batu-batu kecil itu mendarat. Aku juga tidak akan heran kalau di belakang leher dan di dalam rambutku juga ada keloid."


Kemarin, aku melompat dan melindungi Rina. Oleh karena itu, hanya aku yang terluka. Normalnya, luka ini tidaklah berarti, hanya lecet. Namun, dengan tingkat penyembuhanku yang terlalu tinggi, luka kecil ini justru menjadi mematikan.


Sambil mengatakan itu, aku memindahkan tangan ke belakang leher dan rambut. Terdapat banyak keloid kecil di belakang leher, tapi aku tidak merasakan apapun di rambut. Jadi, kurasa, bagian dalam rambut masih aman.


"Maaf, Gin. Bukan hanya sudah merepotkanmu dengan kematian Tera, aku juga sudah membuatmu terluka." Rina menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca


Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Aku tidak tahu kenapa, maaf yang baru saja diberi Rina membuatku merinding. Dan, tampaknya, Rina menyadari ada yang salah denganku.


"Kenapa?"


"Jujur, aku merinding ketika kamu meminta maaf barusan. Entahlah. Mungkin aku terkejut kamu bisa meminta maaf dengan tulus seperti itu, tanpa maksud tersembunyi."


Rina mengernyitkan dahi. "Kamu kira aku perempuan macam apa? Aku juga tahu kapan harus meminta maaf!"


"I, iya, maaf. Maafkan aku." Aku bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. "Jadi, Rina apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"


"Membalas dendam ke ibu, tentu saja."


"Kalau itu aku tidak tanya." Aku berteriak dari dalam kamar mandi. "Yang aku maksud metode yang kamu pilih. Apa kamu akan membunuh ibumu diam-diam melalui misi pembunuhan dan jalur pasar gelap? Atau kamu akan mendeklarasikan diri masih hidup dan mencari dukungan dari bangsawan kerajaan Nina?"


"Itu...."


Sebenarnya, aku lebih berharap Rina mengambil pilihan kedua. Meskipun tawaran yang diberi Tera, dan juga janjiku, sebenarnya hanya berlaku kalau Rina mengambil pilihan kedua, aku tidak akan terlalu memikirkannya. Kali ini aku akan membuat pengecualian.


"Kamu pikirkan saja baik-baik sementara aku mandi dan membersihkan keloid ini."


Sebelum mandi, aku mengupas keloid yang tumbuh di wajah, leher, dan juga telunjukku dengan pisau cukur. Tadi, aku menahan diri untuk tidak mengatakan kalau keloid juga tumbuh di telunjuk ini. Aku tidak ingin Rina merasa bersalah lebih jauh.


Normalnya, mengupas keloid akan menyakitkan. Rasa sakitnya sama seperti memotong daging. Normalnya, butuh obat bius agar pemotongan keloid tidak menyakitkan. Namun, hal itu tidak berlaku bagiku. Untukku yang sudah terlalu sering terluka, rasa sakit memotong keloid hampir tidak terasa. Aku sudah kebal dari rasa sakit.


Aku beruntung instingku sudah terasah sebelum kebal dari rasa sakit. Jadi, kalau ada orang berusaha menyerang, aku bisa menyadarinya. Kalau sudah kebal terhadap rasa sakit sebelum insting terasah, aku tidak akan pernah menyadari kalau tubuhku mendapatkan luka kecil yang mungkin mengandung racun.


Dan, terima kasih kepada kecepatan penyembuhanku, setiap keloid sudah hilang tanpa meninggalkan bekas. Begitu selesai membersihkan keloid, aku langsung masuk ke bathtub.


Ahh, bathtub ini benar-benar besar dan nyaman. Dengan uang yang aku miliki, membeli bathtub besar seperti ini bukanlah masalah. Namun, akan mubazir juga kalau aku melakukannya.


"Gin, aku masuk."


"Hah?"


Tanpa menunggu izin atau konfirmasi, tiba-tiba Rina masuk.

__ADS_1


"Oi! Aku masih mandi!"


Seolah mengabaikan ucapanku, Rina membersihkan tubuhnya sejenak dan masuk ke dalam bathtub. Karena ukuran bathtub ini besar, tidak ada masalah walaupun Rina tiba-tiba masuk.


Ketika aku melihat tubuh Rina, aku hanya bisa mengangguk. Yap. Dadanya hampir datar. Aku bilang hampir datar. Dia masih memiliki buah dada. Mungkin ukuran A, atau mungkin lebih kecil. Jika dibandingkan dengan Inanna dan Emir, perempuan ini tidak ada apa-apanya.


Namun, meski bagian atas hampir datar, pinggang dan bokongnya berisi dan montok. Tidak kalah dari Emir dan Inanna. Bagi mereka yang prefer bagian bawah, perempuan ini berada di strike zone. Kalau aku pikir-pikir, mungkin Ufia dan Ninlil memiliki tubuh seperti Rina, tidak berkembang di atas tapi di bagian bawah. Mungkin. Aku tidak pernah memperhatikan tubuh mereka dengan baik.


"Kamu sudah tampak lebih tenang."


"Ya, terima kasih karena kamu sudah meminjamkan badan untuk tempatku menangis."


"Tidak usah disebutkan."


Well, aku bilang dia LEBIH tenang, tapi belum sepenuhnya tenang. Aku bisa melihat matanya yang setengah kosong dan sedikit berkaca-kaca.


Rina memijat bahu dan lehernya. Dia tidak mengikat rambut putihnya, membiarkannya mengambang dan terburai di atas permukaan air hangat begitu saja.


"Jadi, sudah membuat keputusan?"


"Sudah," Rina mengonfirmasi. "Aku akan melakukan pemberontakan secara terang-terangan, menggaet bangsawan-bangsawan yang mendukungku."


Untunglah. Aku sudah memutuskan tidak akan mempermasalahkan keputusan Rina, tapi kalau dia mengambil keputusan seperti yang kumau, tentu saja aku akan senang.


"Dan, Gin, untuk melakukan hal itu, aku membutuhkan bantuanmu. Aku membutuhkanmu untuk memberi perlindungan padaku."


"Tentu saja aku akan melakukannya."


"Tidak. Perlindungan yang aku maksud tidak hanya sekedar fisik, tapi juga perlindungan diplomatis, suaka. Jadi, aku ingin kamu menikahiku."


"....hah?"


Aku tidak terkejut karena dia ingin menikahiku untuk mendapatkan perlindungan. Aku terkejut karena dugaan Emir dan Inanna benar-benar terjadi. Aku terpaksa menambah istri.


Sial!


Kenapa Rina memilihku? Mudah saja! Karena posisiku yang sangat strategis.


Siapa aku? Semua orang sudah tahu aku regal knight terkuat, penyelamat Selir Filial, kepala intelijen Bana'an, dan calon suami dari dua tuan putri. Jangan lupa aku beberapa kali muncul di depan umum sebagai petarung dan pelindung keluarga kerajaan. Bahkan, untuk orang-orang pasar gelap Bana'an, mereka juga tahu aku adalah sosok yang berhasil menghancurkan sistem perdagangan anak dan mengakhiri 2 dari 6 pilar. Belum lagi orang-orang yang tahu kalau aku adalah Sarru.


Kalau seorang tuan putri ingin mencari perlindungan, normalnya, mereka akan mencari pangeran atau putra bangsawan atas lainnya. Namun, pangeran kerajaan Bana'an yang masih hidup, yang tercatat, hanyalah Bemmel. Bemmel baru berusia 12 tahun. Dia terlalu muda untuk pernikahan.


Putra bangsawan lain? Ada kemungkinan status bangsawan mereka dicabut karena suatu masalah di masa depan. Bahkan, bisa jadi ada intelijen yang dengan sengaja menjebak bangsawan tersebut hanya untuk membuat gelarnya dicabut. Di lain pihak, aku bukan bangsawan tapi memiliki posisi yang sangat tinggi. Di Bana'an, posisiku hanya lebih rendah dari Raja, atau dalam kasus kali ini, permaisuri.


Jadi, bukan maksud ingin sombong, tapi aku sadar kalau posisiku memang sangatlah strategis. Namun, untuk memastikan, aku harus bertanya.


"Kamu tidak jatuh hati padaku, kan? Kamu ingin menikahiku hanya karena posisiku, kan?"


"Ya, begitulah. Maaf ya kalau aku tidak menikahimu atas dasar cinta."


Setelah mendengar Rina yang menjawab enteng, aku bisa bernapas lega. Normalnya, orang akan sedih kalau tahu dia akan dinikahi hanya karena posisinya. Namun, hal ini tidak berlaku padaku. Di dalam hatiku sudah ada Tasha, Emir, dan Inanna. Aku tidak yakin bisa memberi orang lain tempat spesial di hati ini.

__ADS_1


"Namun, aku memiliki beberapa syarat," Rina menambahkan. "Pertama, kita hanya menikah secara resmi. Kita tidak akan mencampuri urusan satu sama lain. Jadi, kalau aku memiliki kekasih rahasia, kamu tidak berhak ikut campur. Kedua, aku masih membutuhkan keturunan resmi dari kamu. Jadi, kamu masih harus memenuhi kewajiban di ranjang. Ketiga–"


"Untuk detail pernikahan," aku menyela Rina. "Biar kamu bicarakan dengan Emir dan Inanna ketika kita kembali. Mereka yang lebih paham soal perjanjian nikah diplomatis. Oke?"


"...." Rina terdiam.


"Kenapa?"


"Aku kira laki-laki di kerajaan ini memiliki kekuatan yang lebih banyak daripada laki-laki di kerajaanku. Apa dugaanku salah?"


"Dugaanmu tidak salah. Anggap saja aku berbeda."


"Begitu ya... jadi aku masih harus meminta persetujuan Emir dan Inanna." Rina menyandarkan tangan di ujung bathtub, tampak kecewa. "Berarti, percuma dong sekarang aku masuk ke kamar mandi bersamamu."


"Percuma?"


"Di kerajaan Nina, ada sebuah tradisi untuk menunjukkan komitmen kami dalam pernikahan. Kamu tahu kan kalau di kerajaan kami perempuan memiliki derajat yang lebih tinggi?"


Aku mengangguk.


"Untuk menunjukkan keseriusan, perempuan diwajibkan masuk ke kamar mandi ketika si laki-laki berada di dalam dan mencumbunya. Keperawanan si perempuan akan menjadi jaminan kalau dia memang serius."


Tradisi yang benar-benar....absurd? Entahlah. Aku tidak bisa benar-benar mengatakan tradisi tempat lain absurd, kan? Pasti ada sejarah dan maksud tertentu dari tradisi tersebut. Dan lagi, kalau boleh jujur, tradisi Nina sangatlah cocok untuk laki-laki pasif sepertiku. Yap, sangat cocok. Di lain pihak, apa itu berarti mayoritas perempuan di Kerajaan Nina adalah tipe agresif? Bisa jadi.


"Kalau mau melakukan tradisi itu, tahan sampai Emir dan Inanna memberi izin, ya?"


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


__ADS_1


__ADS_2