I Am No King

I Am No King
Epilog 9 – Penerus


__ADS_3

Hai Tasha, hai semua. Lama tidak berjumpa. Maaf ya, aku relatif jarang ke sini. Padahal, dulu, aku datang setiap hari, lalu turun ke seminggu sekali, lalu sebulan sekali. Sekarang, mungkin aku hanya datang dua atau tiga bulan sekali.


Tidak. Aku tidak sibuk bekerja. Posisi sebagai kepala intelijen sudah memberiku gaji dan tunjangan yang lebih dari cukup. Ditambah Ease yang bekerja sama dengan AmiAmi Corporation, menjadi waralaba multi nasional. Belum lagi uang yang dikirim oleh Agade walau aku sudah bilang tidak butuh. Aku sudah tidak perlu bekerja untuk mencari uang. Karena bosan, aku pun mulai menggeluti perakitan penjualan barang antik lagi.


Kesibukanku yang utama, saat ini, ini adalah mengurus anak-anak. Emir bekerja sebagai instruktur di sekolah intelijen. Inanna melakukan pekerjaan sebagai peneliti di universitas. Rina ... dia Ratu, selalu ada pekerjaan untuknya. Padahal, dulu, ketiga istriku ini pengangguran. Kondisi benar-benar sudah berubah.


Ah, lalu, untuk anak-anak panti asuhan Sargon ... jujur, aku bingung bagaimana ceritanya. Menurut Lacuna, mayoritas anak-anak panti asuhan Sargon memiliki potensi untuk menjadi mercenary kelas atas, seperti Mulisu atau aku. Iya, Mulisu yang nama aslinya Melinda. Mengingat Mulisu juga keluaran dari panti asuhan Sargon, aku berpikir ini berhubungan dengan pendidikan panti asuhan Sargon. Kalian yang tidak mengutamakan pengendalian kelihatannya menjadi faktor penting.


Jadi, sekarang, sebagian dari mereka menjadi mercenary, sebagian lagi menjalani hidup normal. Jujur aku bingung. Mereka bukan anak-anak lagi, sudah bisa menentukan masa depan. Namun, di lain pihak, aku juga khawatir. Tidak terhitung berapa kali aku mewanti-wanti mereka untuk berhati-hati, apalagi sejak kejadian Maul dan Hanna. Yah, pada titik ini, aku hanya bisa pasrah dan berdoa.


"Ayah, Mari ngantuk."


"Sebentar ya, sayang."


Suara pelan muncul dari sosok yang sedari tadi memegangi celanaku. Aku merendahkan badan dan menggendong anak perempuan berambut merah membara ini, Mari.


Ini Mari. Kamu masih ingat kan, Tasha? Terakhir dia ikut bersamaku mungkin setahun yang lalu. Ya, dia anak kedua Emir. Saat ini, aku sudah memiliki 6 anak, Clara, Rian, Mari, Rimu, Mita, dan Lula. Dari mereka berenam, 4 anak inkompeten. Hanya Rian dan Mita yang memiliki pengendalian seperti ibunya, silika.


Dan, ya, tangan kananku masih setengah lumpuh, dari siku ke bawah. Bahkan, akhir-akhir ini, rasanya tanganku semakin susah digerakkan. Kalau sudah begini, hanya tinggal menunggu waktu sebelum siku kanan ke bawah lumpuh total. Jangan tanya soal jari. Aku sudah tidak bisa menggerakkannya sejak beberapa minggu lalu. Hahaha.


Yah, menurutku, ini adalah harga kecil yang harus kubayar demi Rina. Rina sering murung dan membuang pandangan ketika melihat tangan kananku. Jujur, aku sedih ketika melihatnya merasa bersalah.


Ah, sudah dulu ya, Tasha, lainnya. Mari sudah mulai tidur. Aku akan kembali lagi kalau ada waktu luang.


 


 


***


 


 


"Terima kasih, Ibla."


"Sama-sama, Gin."


Meski tangan kananku setengah lumpuh, aku masih bisa mengemudi mobil. Namun, Ibla dan anggota Agade lain bersikeras untuk mengantar dan menjemputku kalau ingin pergi. Normalnya, ada agen yang berjaga di sekitar rumah. Tadi, kebetulan Ibla dan Ninmar baru pulang. Ketika melihat aku akan berziarah, Ibla langsung mengantarku.

__ADS_1


Karena sudah memiliki 6 anak, aku memutuskan untuk memperluas rumah. Kalau dibandingkan, rumahku 3 kali lebih luas dari yang sebelumnya. Daerah pemukiman ini tidak lagi kosong seperti saat perang, tapi sudah penuh. Namun, yang tinggal di pemukiman ini bukanlah orang normal. Orang-orang yang tinggal di kompleks ini adalah militer, intelijen, atau anggota organisasi Empat Pilar. Karena hal ini, frekuensi bertemu dengan orang-orang dari lingkungan kerja relatif tinggi.


"Lho, Gin, kamu baru pulang? Dari mana?"


Ketika sampai di depan pintu, aku berhenti dan memutar badan. Di balik pagar terlihat Inanna dan Rina yang turun dari mobil bersama Clara, Rimu, dan Lula. Tentu saja mereka tidak datang dengan taksi. Sudah ada mobil khusus yang dioperasikan oleh Kerajaan Bana'an untuk mengantar jemput Rina setiap minggu.


"Hai Inanna. Aku memutuskan untuk ke makam Tasha. Sudah agak lama tidak berkunjung."


"Ah, begitu ya." Inanna merespons enteng.


"Clara sayang, tolong ayah dibukakan pintu."


"Baik bu!"


Clara menjawab dengan penuh semangat dan lari ke pintu. Namun, sebelum Clara sempat menyentuh gagang, pintu sudah terbuka dari dalam.


"Ah, ternyata benar ayah sudah pulang."


"Rian! Kenapa kamu membuka pintu! Tadi aku mau membukakan pintu untuk ayah, tahu!"


"Eh?"


Clara kesal ketika melihat anak laki-laki berambut merah membara di hadapannya, Rian. Meski rambutnya memberi kesan garang, Rian relatif lunak di depan orang, sepertiku. Jadi, kecil kemungkinan dia akan melawan ketika kakak atau adiknya marah.


"Sudah, sudah, jangan bertengkar."


Aku berusaha melerai Clara dan Rian. Ya, berusaha. Aku hanya bisa menenangkan mereka lewat kata-kata. Kedua tanganku sudah penuh untuk menggendong Mari.


"Sudah, ayo masuk."


"Hmph!" Clara mengabaikan Rian dan berjalan di depanku.


Selain Mari, Clara juga relatif lengket denganku. Namun, dia masih lebih memilih ibunya.


"Emir, kami pulang!"


"Selamat datang!"


Ketika masuk, bau harum bumbu dan masakan yang sempat tercium dari luar menjadi sangat kuat. Berbeda dengan dulu, sekarang, Emir sudah bisa memasak dengan lihai. Di rumah ini, hanya aku yang tidak bisa memasak lagi karena tangan yang setengah lumpuh.

__ADS_1


"Ung, sudah sampai rumah?" Mari bangun dan mengusap mata.


"Iya, Mari, kita sudah sampai rumah."


"Ung..."


Mari kembali tertidur. Hahaha, aku tidak tahu apakah Mari sudah terlalu nyaman di gendonganku atau memang dia mengantuk. Di saat itu, perempuan kecil berambut coklat, Mita, datang.


"Kak Clara, Kak Rian, ibu minta tolong kakak membukakan jendela supaya aroma bumbunya tidak mengumpul di rumah."


"Baik!"


"Kamu jangan menyerobot lagi, Rian!"


Aku hanya bisa tersenyum masam melihat Clara yang agak sengit dengan Rian. Hahaha. Aku penasaran Clara menuruni sifat yang suka mendominasi dari siapa mengingat aku dan Rina sama-sama pasif. Iya kan?


Di lain pihak, aku melihat sosok Mita kecil yang menyeringai. Sekali lagi, aku hanya bisa tersenyum masam melihat kelakuan anakku.


"Mita! Apa jendela sudah dibuka?"


"Sudah bu!"


Mita berlari ke dapur dengan wajah bingar, tidak menunjukkan rasa bersalah.


Rina berkomentar, "dan, Lugalgin cilik pun berlari ke dapur seolah tidak ada yang salah dengan yang dilakukannya."


Mita, dibanding yang lain, adalah yang paling mirip denganku dalam hal sifat. Dia suka memberdayakan orang lain. Hal ini dibuktikan dari teriakan Emir yang baru saja. Aku berani bertaruh Emir hanya meminta tolong ke Mita. Lalu, Mita meminta tolong ke Clara dan Rian. Padahal dia masih 5 tahun, tapi kelakuannya beda drastis dibandingkan Rimu yang berusia sama.


"Ah, iya, Rina. Nanti malam tolong tidurkan anak-anak lebih cepat ya. Ada tamu untukmu."


"Tamu?"


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2