I Am No King

I Am No King
Chapter 51 – Malam Perpisahan PT 1


__ADS_3

Lacuna POV


 


"Jadi, kamu benar-benar akan pergi?"


 


"Ya, benar. Aku akan pergi. Aku sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menetap."


 


Ya, benar. Bahkan, ini adalah pertama kalinya aku menetap di suatu negara atau kerajaan lebih dari beberapa bulan. Biasanya, dalam waktu beberapa bulan aku pasti sudah pindah negara, menjalankan pekerjaan sebagai mercenary di negara itu. Menetap di suatu negara terlalu lama tidaklah baik. Bisa membuatku merasa sayang kalau harus pergi.


 


Aku berdiri menyandar di balkon. Dari apartemenku yang berada di lantai 74, aku melihat gemerlap malam kota di tengah malam, bagaikan bintang bertabur di daratan. Dengan sebuah rokok filter, aku menikmati malam ini.


 


Ya, pemandangan ini, meski aku bisa mendapatkannya dimana saja, tetap saja aku akan merasa sayang untuk pergi meninggalkannya. Apalagi dengan laki-laki ini di belakangku.


 


"Setidaknya pakai kaos atau piama. Kalau kamu berada di balkon hanya dengan celana dalam, kamu bisa masuk angin."


 


Sebuah piama diletakkan, menutupi tubuhku.


 


"Hahaha, kamu kira aku selemah itu?"


 


"Ung, tidak sih, tapi tetap saja. Dan lagi, tidak pantas untuk perempuan menunjukkan tubuhnya begitu saja di depan umum. Bisa saja kan ada laki-laki hidung belang dengan teropong sedang melihat kemari."


 


"hahaha," aku terkekeh.


 


Laki-laki muda ini, yang baru saja menginjak usia dewasa, dengan mudah mengatakan sesuatu yang memberi impresi kalau aku adalah miliknya.


 


Kalau kamu melihat laki-laki ini secara langsung, tidak salah kalau kamu mengira dia sudah di atas 25 tahun. Dengan tubuh atletik dan penuh otot, kulit yang kasar, dan pandangan mata yang tajam, benar-benar memberi impresi kalau dia sudah tua.


 


Di lain pihak, meskipun orang mengetahui yang sebenarnya, mungkin mereka juga tidak akan terlalu terkejut. Melihat fitur rambut dan mata coklatnya, dia hanyalah rakyat jelata di kerajaan ini, bukan seorang bangsawan. Ditambah lagi fakta kalau dia adalah seorang inkompeten. Orang-orang akan memaklumi dengan anggapan "hidup laki-laki ini pasti berat".


 


Nama laki-laki ini adalah Lugalgin Alhold, seorang inkompeten yang sudah bernaung di bawahku sekitar dua tahun.


 


"Lalu, setelah ini, kemana kamu akan pergi?"


 


"Besok, aku akan pergi ke Republik Eufra. Kenalanku membutuhkan bantuan."


 


"Pekerjaan pembersihan lain?"

__ADS_1


 


Aku tidak menjawab. Kurasa, diamku sudah lebih dari cukup untuk menjawab laki-laki ini. Selain diam, aku hanya memberinya pandangan dan senyum.


 


"Sesekali beri kabar ya. Aku tidak mau tiba-tiba mendapat kabar dari orang lain kalau guruku sudah tidak bernyawa."


 


"Hahaha, kenapa? Kamu akan sedih kalau tiba-tiba mendapat kabar kematianku?"


 


"Tentu saja..."


 


Lugalgin terdiam dan murung. Dia menurunkan wajah.


 


Ups, tampaknya aku sudah menginjak ranjau.


 


Aku tersenyum dan merengkuh laki-laki ini, membenamkannya dalam dadaku, berharap bisa memberi ketenangan.


 


"Jangan khawatir, aku pasti akan memberi kabar setiap kali berpindah negara atau kota." Aku melepaskan rengkuhan. "Daripada itu, bagaimana denganmu?"


 


"Memangnya aku kenapa?"


 


 


Lugalgin pun menyusul masuk dan menutup jendela.


 


"Apa yang akan kamu lakukan dengan Agade?"


 


Lugalgin tersenyum ketika mendengar pertanyaanku.


 


Gin, aku mengenalmu dengan baik. Kamu tidak akan pernah melakukan sesuatu jika hal itu tidak memberi keuntungan lebih untukmu. Atau setidaknya, tidak merugikanmu.


 


"Dan jangan berkata kamu hanya memerlukan tempat bernaung setelah lepas dariku atau sekedar mendapatkan pemasukan tambahan."


 


Aku menyela Lugalgin yang setengah membuka mulut. Dia hanya tersenyum dan duduk di sampingku.


 


"Jujur, untuk Agade, aku tidak memiliki rencana yang benar-benar konkret. Aku hanya membutuhkan pengalih perhatian ketika aku bergerak. Nanti, saat sudah dekat hari-H, mungkin aku akan memiliki gambaran yang lebih konkret."


 


Aku terdiam sejenak, kemudian kembali berkata, "Lalu, Hari-H ini kapan?"

__ADS_1


 


Lugalgin tersenyum. "Nantikan saja beritanya."


 


Aku mengenal senyum ini. Senyum ini bukanlah pertanda yang baik. Senyum yang hanya terkembang setengah itu adalah sebuah senyum yang penuh dengan teror dan ancaman. Tapi, senyum itu bukan ditujukan untukku, jadi aku tidak terlalu peduli. Aku sedikit kasihan pada keluarga Cleinhad. Sedikit.


 


"Kembali ke kamu," Lugalgin mengalihkan pembicaraan. "Sedari dulu, aku belum mendengar kenapa kamu terus berkelana, berpindah dari negara ke negara. Sebenarnya, apa tujuanmu?"


 


Ah, iya juga ya, aku belum pernah menceritakannya pada Lugalgin. Aku termenung sejenak, mencoba mencari jawaban yang bisa kuberi pada Lugalgin.


 


Aku tahu Lugalgin bukanlah tipe yang suka memilah-milah jawaban. Dia akan menerima semua jawaban apa adanya, baik dan buruk, tanpa menguranginya sama sekali. Namun, di lain pihak, justru aku yang tidak ingin memberi jawaban yang mungkin bisa mengecewakannya.


 


"In the midst of this drifting universe, somewhere, yonder. If there's a planet that can pass the prayer, would we head towards there? And then, what would we pray for?"


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Chapter ini diupload senin malam


 


Seperti biasa, terima kasih atas semua dukungan, like, dan komentar pendukungnya.


 


Tidak ada post note untuk chapter ini. Langsung saja ke chapter 52 :D


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author


 


Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita. Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya, yang adalah sekarang :D


 

__ADS_1



__ADS_2