
"BRENGSEK!"
"Aku, Lugalgin, menerima sumpahmu." Aku tersenyum. "Emir, Shu En, bawa Nammu ke rumah sakit."
"Baik!"
Emir dan Shu En bergerak dengan cepat. Tanpa perlu bertanya, mereka tahu apa yang perlu dilakukan.
Emir menggunakan Krat untuk membawa Nammu pergi dari tempat ini. Kalau melayang, mereka bisa tiba di rumah sakit dalam waktu beberapa menit. Shu En dibutuhkan untuk mengurus semua administrasi dan mengkoordinasi agen schneider yang berjaga.
Aku mengeluarkan handphone dan membuat panggilan.
"Kau mendengar janjiku, kan?"
[Ya, aku mendengarnya.]
"Apa kau mau melakukannya?"
[Sudah dalam proses.]
"Hee, kalian bergerak cepat ya. Aku tunggu kabar baiknya." Aku menutup telepon. "Aku baru saja menelepon perwakilan Akadia. Kalau kalian mau mencegahku mengambil Corba, kalian harus melawan satu dari enam pilar.
"KAU!"
Meski samar-samar, karena gelap, aku bisa melihat urat nadi muncul di kepalanya. Dia terus menggertakkan gigi. Berkali-kali dia mengayunkan tangan, mencoba meluncurkan semua peluru di sekitarku. Namun, Inanna terus menahannya.
Inanna maju ke sampingku. Dia masih menahan semua peluru yang melayang. Tanpa Inanna menggerakkan tangan atau satu anggota tubuh, semua peluru di udara perlahan turun, bersiap di sekitar anggota keluarga Alhold. Saat ini, Inanna menyandera anggota keluarga Alhold di sini.
Aku melihat sebuah senyum di wajah Inanna. Aku tidak yakin dia tersenyum karena telah berhasil menguasai keadaan atau karena merasa superior terhadap pengendalian timah Chez. Ya, untukku, itu tidak penting.
Belum sempat aku memasukkan handphone ke saku, aku melihat sebuah pesan masuk. Dengan santai, aku membaca pesan itu.
Ah, begitu ya.
Setelah membaca pesan pun aku memasukkannya ke saku.
"Bagaimana kalau kita akhiri saja pertikaian malam hari ini? Daripada lebih banyak korban jiwa berjatuhan?"
Tampaknya, ayah tidak ingin bertikai denganku lebih lanjut. Dia pun menyetujui saranku.
"Sudahlah, Chez, bagaimana kalau kita pulang saja?"
"APA? Ini semua gara-gara anakmu! Kalau kau tidak menikahi perempuan jalang itu dan melahirkan inkompeten itu, ini semua tidak akan terjadi."
__ADS_1
Aku langsung maju, menerjang. Sekuat tenaga, aku mengayunkan pedang.
Clang
Sayang sekali, pedangku tidak sanggup mencapai kepala Chez. Ayah menahan pedangku dengan sebuah lampu jalan yang dia kendalikan. Tanpa aba-aba, ayah sudah meluncurkan satu tiang lampu lain ke arahku.
Aku menarik pedang dan menggunakan gagang shotgun untuk melindungi tubuh sambil menghindar. Aku melancarkan serangan lain. Kali ini, serangan tidak mengarah ke Chez, tapi ke ayah.
"Gin, mundur!"
"Di barat ada sebuah ungkapan seperti ini. Orang pertama yang harus kau hormati adalah ibumu. Orang kedua yang harus kau hormati adalah ibumu. Orang ketiga yang harus kau hormati adalah ibumu. Kemudian ayahmu. Jadi, jangan harap aku akan tinggal diam kalau ibu dihina."
Dan lagi, aku juga ingin menyerang Chez. Tidak ada alasan spesifik seperti aku dendam atau membenci Chez. Hanya tiba-tiba ingin menyerangnya saja. Biasa lah, angin lalu.
Aku dan ayah pun mulai bertikai. Ayah sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Dia hanya mengirim beberapa tiang listrik sementara aku bergerak, menebaskan pedang dan shotgun untuk menghalau tiang listrik yang datang ke arahku.
Saat ini, posisinya seperti ayah mengayunkan tongkat raksasa sedangkan aku harus menebas dan menghindarinya. Beberapa kali aku berhasil mendekati ayah. Namun, ketika aku mendekat, dia akan menambah tiang listrik yang dikendalikan, membuat seranganku gagal.
Akhirnya, aku memilih mundur.
"Gin, aku tidak mau memperpanjang masalah. Lebih baik kamu mundur untuk malam ini."
"Tampaknya, malam ini, aku mendapat kesempatan untuk serius."
Aku melepas sarung tangan berwarna kulit di kedua tangan dan memasukkannya ke saku.
Kini, aku dan ayah saling bertukar pandangan tajam. Tidak satu pun mau mengalah. Sementara ayah menggertakkan gigi, aku bisa merasa ujung bibirku melengkung ke atas.
Tiba-tiba saja, sebuah suara musik terdengar kencang. Memecahkan perselisihanku dengan ayah.
"Sebentar! Time out! Aku mau mengangkat telepon dulu."
Setelah melihat siapa yang menelepon, aku pun mengangkatnya.
[Halo, gin, bisa tolong kamu loudspeaker dan arahkan handphonenya ke ayahmu?"
"Ah, oke..."
Aku tidak tahu ibu mau bilang apa, tapi aku menurutinya.
[Jadi, ini ya alasanmu keluar malam-malam tidak izin? Lalu, tampaknya kamu tidak menyangga ucapan adikmu yang menyatakan aku perempuan jalang. Bukan hanya itu! Barun, berani-beraninya kamu menyerang Lugalgin ketika yang salah adalah adikmu! Mulai malam ini, kamu tidak usah pulang ke rumah perempuan jalang ini! Kembali saja ke rumah ayahmu itu. Lugalgin, sudah, kamu pulang saja. Tidak usah urusi mereka.]
__ADS_1
Belum sempat ayah atau aku memberi respon, telepon sudah putus. Kami berdua terdiam.
Aku hanya bisa menghela nafas berat sambil memasukkan handphone ke saku.
"Jadi, bagaimana Gin?"
"Aku akan menuruti ibu," aku menjawab Inanna. "Sudahlah, ayo pulang. Kamu yang mengemudi ya."
"OK!"
Kami berbalik, menuju ke mobil. Sebelum kembali, aku membawa pintu yang tadi kulepas. Meski tidak bisa dipasang, setidaknya aku bisa memeganginya dari dalam, menghalau dingin malam.
Sambil berjalan, Inanna mengumpulkan semua timah di tangan kanan, menjadikannya sebuah bola timah besar.
"Brengsek!"
Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar. Aku berbalik dan mengangkat pintu, mencoba melindungi diri dan Inanna dari serangan tiba-tiba itu.
Namun, tidak peduli selama apapun aku menunggu, serangan tiba-tiba itu tidak kunjung datang. Sebagai gantinya, terdengar sebuah suara logam bertabrakan di balik pintu. Bukan hanya suara logam bertabrakan, aku juga merasakan sebuah kehadiran yang amat sangat aku kenal.
Perlahan, aku menyingkirkan pintu mobil. Di antara kami dan para keluarga Alhold, sebuah sosok pendek berdiri dengan sepasang pedang di kedua tangan. Di jalan, terlihat beberapa logam tajam tergeletak.
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1