I Am No King

I Am No King
Chapter 195 – Tawanan


__ADS_3

~Jeanne POV~


"Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin."


"Yurika, bisakah kamu diam? Ini kenyataan."


"Kamu sudah bisa menerimanya karena kamu lah pengkhianatnya! Kamu yang membuat ibu seperti ini."


"Apa kamu bilang?"


Kami berdebat karena siaran televisi. Namun, karena Yurika tidak mampu menonton lebih lama, dia mematikan televisi.


"Dasar pengkhianat!"


"Mati kau!"


"Pengkhianat!"


Teriakan demi teriakan menggema di lorong. Mencegahku yang ingin melampiaskan kekesalan ke Yurika. Akhirnya, di depan kaca anti peluru, muncul sebuah sosok perempuan berambut panjang merah membara. Dia lah yang menyebabkan semua orang di tempat ini berisik, Emir. Dia mengenakan pakaian kasual sambil menggeser nampan kecil lewat lubang di bagian bawah.


"Emir, dimana ini? Apa maksud semua ini? Dan kenapa ibu terluka parah seperti itu. Bahkan, aku bisa melihat ibu tegang ketika Lugalgin memegangnya."


"Itu..."


"Emir, aku rasa dia tidak perlu mengetahuinya." Aku merespons dengan ketus.


"Tidak. Menurutku. Kakak perlu mengetahuinya. Kak, tempat ini adalah lantai basemen di Mal Haria, kantor intelijen Kerajaan. Ruangan ini adalah satu dari sekian banyak ruang tahanan untuk orang-orang yang telah melakukan pengkhianatan dan menunggu giliran interogasi, atau hukuman mati."


"Interogasi? Apa berarti Lugalgin sudah menginterogasi dan menyiksa ibu?"


Sementara Emir meladeni Yurika, aku mengambil satu nampan yang baru diantar Emir dan mulai makan. Meskipun Emir bilang ini adalah ruang tahanan, tempat ini sama sekali tidak kotor. Tempat ini sangat bersih. Bahkan, aku bisa bilang ruang tahanan ini lebih mewah dari sebagian penduduk kerajaan.


Di dalam ruangan ini ada dua kasur, kamar mandi di belakang, rak buku di samping, televisi, dan jam dinding. Yang membedakan adalah tempat ini tidak memiliki dinding. Dinding di bagian depan adalah kaca anti peluru. Tentu saja, tidak ada logam di tempat ini. Semuanya adalah barang organik seperti kayu dan benang. Kaca pun dibuat dari fiber khusus, mencegah pengendalian digunakan. Bukan hanya itu, pakaian ganti kami disediakan setiap pagi oleh pegawai.


Tentu saja tidak semua ruang tahanan seperti ini. Ruang tahanan ini dikhususkan untuk orang-orang seperti kami. Yang aku maksud bukan keluarga kerajaan, tapi tawanan. Sederhananya, aku dan Yurika adalah tawanan, memastikan orang tua kami bekerja sama hingga akhir.


"Emir," aku menyela sambil makan. "Kalau aku dan Yurika berada di tempat ini, berarti, ini tidak berhenti pada pengkhianatan agen schneider, kan? Apa permaisuri dan ibu merencanakan kudeta?"


"Eh? Kudeta? Ibu?"


Yurika, kalau berurusan dengan hal umum, lidahnya memang tajam. Namun, untuk urusan intelijen dan pasar gelap, dia tidak tahu apa-apa. Kalau di depan orang lain, dia pasti akan pura-pura tenang, seolah mengetahui segalanya. Namun, karena dia di depanku dan Emir, tampaknya dia bisa lebih jujur.


"Apa Lugalgin yang menyarankan Kudeta ini?"


"Tidak. Rencana awal Lugalgin adalah membunuh kalian semua beserta bangsawan, lalu menjadikan kerajaan ini menjadi Republik, seperti yang sekarang sedang terjadi di Mariander."

__ADS_1


"Lalu–"


"Kudeta ini adalah saranku." Emir menyela. "Kalau aku tidak mengajukan ide ini, ibu, tante Isabel, kalian, dan kakak adik kandung kita sudah akan tewas, dibunuh oleh Lugalgin. Berkat ide ini, setidaknya, keluarga kita masih hidup."


Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih. Di satu pihak, berkat ibu berpihak pada Lugalgin, aku masih bisa bertahan hidup. Di lain pihak, aku juga agak sedih karena ibu menerima saran Emir untuk mengkudeta Raja. Namun, aku juga tidak terkejut.


"Jadi, yang menyarankan untuk menyiksa dan menginterogasi ibu juga kamu?"


"Itu..."


"Kenapa kamu tega? Dia ibumu sendiri. Cepat keluarkan kami dari sini! Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan hal buruk pada ibu lebih lanjut!"


"Itu..."


Yurika membombardir Emir dengan pertanyaan. Di lain pihak, Emir tidak kunjung memberi jawaban. Baiklah, biar aku bantu Emir.


"Emir," aku masuk. "Tugasmu hanya mengantarkan makan, kan? Lebih baik kamu kembali ke sisi Lugalgin. Urusan kalian masih banyak, kan? Biar aku yang memberi sedikit penjelasan pada kakakmu dan orang-orang di tempat ini."


"Tapi–"


"Emir!" Aku menyela lagi. "Aku tidak mengkhianati Lugalgin, dan aku juga tidak akan mengkhianatimu. Percayalah padaku.”


Emir terdiam sejenak, mundur.


"Terima kasih, Jeanne."


Lugalgin, Inanna, tolong bantu perempuan itu, Emir. Dia sangat membutuhkan kalian.


Emir pun berjalan, meninggalkan kami.


"Hei! Pengkhianat! Lepaskan aku!"


"Hei! Lepaskan aku!"


Aku berdiri dan mendekatkan mulut ke beberapa lupa kecil di kaca.


"BERISIK! DIAM KALIAN SEMUA! KALIAN TIDAK TAHU BERKAT EMIR LAH KITA MASIH HIDUP! JADI, DIAM!"


Akhirnya, dengan teriakanku, suasana menjadi tenang.


"Emir, pergi! Tidak usah hiraukan mereka!"


Tidak terdengar balasan, hanya suara langkah kaki. Setelah suara langkah kaki Emir menghilang, aku pun kembali duduk, melanjutkan makan siang.


"Jeanne, kamu...."

__ADS_1


"Kamu kakaknya, kan? Apa kamu tidak melihat wajah Emir? Dia jauh lebih tersiksa daripada kita."


Aku mulai memberi penjelasan pada Yurika, mencoba menenangkannya.


Saat ini, pasti ada banyak hal melintas di kepala Emir. Belum lagi, dia terpaksa mengurung keluarganya sendiri. Lalu, kalau ayah masih hidup, Emir juga terpaksa memburu ayahnya sendiri. Dia pasti sangat menderita. Tidak secara fisik, tapi secara mental.


Selain itu, tampaknya, Emir baru mengetahui kenyataan dibalik permaisuri Rahayu dan ibuku. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kenyataan ini selain permaisuri Rahayu, ibu, dan aku. Kenyataan yang aku maksud adalah bagaimana permaisuri Rahayu dan ibu bersekongkol untuk menaikkan Permaisuri Rahayu ke posisi permaisuri.


Sebagai gantinya, permaisuri Rahayu akan membujuk dan memanipulasi Raja untuk meningkatkan anggaran wilayah yang menjadi tanggung jawab ibu. Dengan kenaikan anggaran, ibu bisa meningkatkan ekonomi dan penghasilan wilayah yang dia kelola. Dengan demikian, pajak yang masuk akan semakin banyak. Secara tidak langsung, hal ini akan menambah harta simpanan ibu.


Ibu dan permaisuri Rahayu adalah contoh nyata kolusi di kalangan keluarga. Namun, aku beruntung karena kolusi mereka didukung oleh kerja ibu yang memang bagus. Kapan aku mengetahui ini semua? Ketika Ufia memenangkan Battle Royale beberapa tahun lalu. Saat itu, ibu mengajakku bertemu dan mengobrol dengan permaisuri Rahayu. Ada alasan aku tidak meminta ibu menjadi permaisuri.


Ketika aku mengatakan itu semua, Yurika terdiam dengan mulut terbuka. Dia tidak tahu harus merespon apa. Bahkan, aku tidak akan terkejut kalau sebenarnya permaisuri Rahayu yang memberi ide untuk melukai tubuhnya sendiri, membuat massa semakin percaya dengan cerita yang dia berikan.


Lalu, respon saat dia tegang ketika Lugalgin memegangnya, mungkin itu adalah akting. Pada titik ini, aku tidak tahu apa yang tidak bisa dilakukan oleh permaisuri Rahayu. Tampaknya, permaisuri Rahayu mencoba mengelabui seseorang.


Dan, saat ini, Emir harus memikirkan itu semua. Jika dibandingkan dengan Yurika dan aku, sekarang, kami hanya perlu makan, baca buku, dan menonton televisi. Tidak repot-repot lagi memikirkan soal politik kerajaan, perselisihan dengan keluarga kerajaan lain, urusan intelijen, atau apapun yang berhubungan dengan kekacauan ini.


Meski dikurung, kalau boleh jujur, ini seperti liburan bagiku. Bahkan, pakaian tahanan ini sangat nyaman, seperti piama. Kapan lagi kamu bisa malas-malasan menggunakan piama seharian?


"Masih berpikir posisi kita buruk?"


"I, itu...."


Yurika tidak mampu menjawab pertanyaanku. Dia terduduk di atas kasur dan mulai makan.


Setelah makan, aku mengembalikan nampan ke luar ruangan lewat lubang. Setelah itu, aku mengambil satu buku dan mulai membaca, memulai liburan.


Di saat ini, aku bersyukur dilahirkan sebagai putri dari Selir Isabel, bukan yang lain.


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2