I Am No King

I Am No King
Chapter 36 – Pilihan Emir


__ADS_3

Emir POV


 


"I–ibu, kakak, sebenarnya..."


 


Aku menceritakan kembali penjelasan yang aku dengar dari Lugalgin. Meski aku ragu apakah ibu dan Kak Yurika boleh mengetahuinya, tapi aku ingin mereka tahu. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan aku butuh masukan mereka. Ini juga pertama kalinya ibu dan kak Yurika mengetahui kalau aku adalah agen schneider.


 


Aku menjelaskan kalau keluarga Alhold adalah keluarga inkompeten, tapi aku tidak bercerita kalau inkompeten memiliki kemampuan menghilangkan pengendalian.


 


Beberapa kali, Inanna masuk, mencoba menutupi penjelasanku yang lemah karena berusaha menghindari topik inkompeten. Tidak lama kemudian, ceritaku pun selesai. Aku hanya bisa berharap mereka bisa menerima cerita yang tampak dipaksakan ini.


 


"Apa Lugalgin serius? Apa ayah benar-benar melakukan semua itu?"


 


Aku mengangguk, memberi konfirmasi pada ucapan Kak Yurika.


 


Kak Yurika membuka mulutnya, tapi aku tidak mendengar sepatah kata pun. Bibirnya hanya bergerak tak karuan.


 


Di lain pihak, ibu tidak memberi respon. Dia tampak begitu tenang. Apa ini berarti ibu sudah mengetahuinya? Namun, kata Lugalgin, baru aku, Jeanne, dan beberapa agen schneider yang mengetahui kalau dia adalah kandidat raja.


 


"Jujur, meski aku marah pada ayah, tapi aku tidak punya hak." Kak Yurika memegang pelipis. "Kita adalah tuan putri kerajaan Bana'an. Sejak lahir, kita diberi hak atas kemewahan dan keistimewaan, tapi sebagai gantinya kita tidak memiliki hak untuk memilih pasangan hidup."


 


"Yurika," ibu masuk. "Saat ini, yang Emir butuhkan adalah saran apa yang sebaiknya dia lakukan. Dia tidak perlu mendengar semua itu."


 


"Tapi bu–"


 


"Dan lagi," ibu menyela. "Apa kamu lupa kalau status Emir bukan lagi keluarga kerajaan, melainkan rakyat jelata?"


 


"I–itu...." Kak Yurika terdiam sejenak. Dia melihat ke arahku lalu melanjutkan ucapannya. "Apa menurut ibu, ayah akan menerima alasan itu? Maksudku, ayah adalah seorang Raja. Ayah bisa saja langsung menarik Emir kembali.


 


"Atau, kalau ayah mau menggunakan cara yang lebih halus, ayah akan bersekongkol dengan salah satu putra putri selir lain agar mereka menang battle royale. Dengan demikian, ayah bisa menarik Emir kembali menjadi tuan putri dengan mulus. Ditambah lagi, Emir adalah agen schneider. Dia tidak bisa menolak perintah ayah begitu saja."


 


Setelah mendengar semua ucapan Kak Yurika, aku merasa gravitasi menjadi semakin berat. Tarikan di sekujur tubuhku terasa meningkat berpuluh-puluh kali lipat.


 


Kak Yurika benar, ayah tidak akan tinggal diam begitu saja. Bisa saja ada putra putri selir lain yang memenangkan dua battle royale selanjutnya dan membuatku kembali menjadi tuan putri. Ketika hal itu terjadi, kalau Lugalgin menepati ucapannya, tidak mau menikah dengan bangsawan, dia akan langsung menceraikanku.


 


Tidak! Aku tidak mau hal itu terjadi! Aku tidak mau!


 


"Yurika, apa menurutmu Lugalgin akan membiarkan ayahmu melakukan hal itu?"


 


"Eh?"


 


Aku berharap Lugalgin tidak akan membiarkannya begitu saja. Tapi, tapi....


 


"Apa ibu tidak salah? Kalau Lugalgin melakukan hal itu, sama saja dia menentang Raja kan? Apa dia bersedia menjadi musuh kerajaan ini hanya untuk Emir? Sejauh yang aku kenal, Lugalgin orangnya tenang dan logis. Terlalu tenang dan logis. Jadi, aku ragu dia akan melakukannya."


 


"Huhuhu," ibu tertawa pelan. "Ibu tidak yakin," ibu melempar pandangan padaku dan Inanna. "Emir, Inanna, kalian adalah agen schneider dan gugalanna. Informasi apa yang kalian miliki mengenai rekam jejak Lugalgin di pasar gelap?"


 


"Eh?"


 


Aku dan Inanna menjawab hampir bersamaan. Kami saling memandang, memastikan kalau kami tidak salah dengar. Aku juga melihat keraguan di mata Inanna. Berarti, kami tidak salah dengar.


 


"Informasi yang kumiliki," aku mulai duluan. "Lugalgin adalah penjual barang antik."


 


"Aku juga mendapatkan informasi yang sama."


 


Ibu masih menyeringai. "Lalu?"


 


"Lalu?" aku memiringkan kepalaku. "Apanya yang lalu?"


 


"Sayangnya, hanya itu." Inanna menjawab dengan tegas.


 


Ibu melihat ke Inanna. "Inanna, tampaknya kamu sudah paham."


 


Inanna mengangguk.


 


Eh? Apa? Apa? Apa yang sudah kamu pahami tapi aku belum?


 


Aku melihat ke arah Kak Yurika. Mata kak Yurika melotot dengan mulut setengah terbuka. Tampaknya dia sudah mengetahui maksud ucapan ibu dan Inanna.


 


"Ung, maaf, bisa tolong jelaskan padaku apa maksud ucapan kalian? Aku tidak paham."


 


"Hah, Emir," ibu memegangi pelipis. "Kamu berbakat ketika berhubungan dengan pengendalian atau pertarungan. Sayangnya, kamu bodoh kalau disuruh berpikir dalam hal seperti ini."


 


Ah... apa itu pujian? Atau hinaan?


 


"Dengar," ibu mulai memberi penjelasan. "Apa menurutmu tidak aneh seorang yang berkecimpung di dunia pasar gelap hanya dikenal sebagai penjual barang antik? Maksud ibu, usaha yang dilakukan Lugalgin, menjual barang antik, bukan kegiatan yang benar-benar ilegal.


 


“Dia menjualnya secara personal, jadi dia tidak perlu mengurus cukai atau izin usaha. Barang yang dia jual bukanlah barang ilegal. Jadi, sebenarnya, dia tidak perlu terjun ke pasar gelap hanya untuk menjual barang antik. Untuk orang sepintar Lugalgin, aneh kalau dia tidak tahu hal ini."


 


Ung, setelah kupikir-pikir, benar juga ucapan ibu. Namun, masih ada yang menjanggal.


 


“Apa ada yang akan membeli barang yang dijual Lugalgin? Mungkin, dia membutuhkan koneksi dari pasar gelap?”


 


“Tidak,” Ibu menolak. “Dari informasi yang ibu dapatkan, dan juga dari kalian, barang Lugalgin memiliki kualitas yang tinggi. Tanpa dia mencari koneksi dari pasar gelap, cukup di pasar normal, cepat atau lambat akan ada bangsawan yang tertarik. Jadi, kembali lagi ibu tekankan, sebenarnya Lugalgin tidak perlu turun ke pasar gelap kalau tujuannya hanya menjual barang antik.”


 


"Ditambah lagi," Inanna menambahkan. "Informasi yang beredar tentang Lugalgin hanyalah informasi yang umum diketahui seperti dia inkompeten dan menjual barang antik. Mungkin, akan lebih jelas kalau aku bilang, informasi yang beredar, tidak peduli dari sumber mana pun, adalah sama."


 


Sama?


 


Tidak. Tidak mungkin.

__ADS_1


 


Kak Yurika berdiri. "Apa ibu dan Inanna mau bilang kalau Lugalgin menghilangkan rekam jejaknya di dunia pasar gelap?"


 


"Bisa jadi. Selain itu masih ada kemungkinan lain," Inanna kembali menambahkan. "Bisa juga dia memiliki backing yang kuat, membuat pasar gelap tidak berani memegangnya. Atau, sebenarnya, Lugalgin memiliki identitas lain di pasar gelap. Kemungkinan-kemungkinan itu adalah yang paling mungkin.”


 


Eh? Kalau begitu, maka Lugalgin–


 


"Baiklah, cukup sampai di situ saja." Ibu menyela. "Tidak perlu terlalu jauh membahas Lugalgin. Kita di sini untuk membicarakan apa yang sebaiknya dilakukan oleh Emir, bukan sosok Lugalgin Alhold. Sederhananya, kita tidak perlu memikirkan apakah Lugalgin akan diam saja atau akan menentang ayah kalian kalau dia mencoba menarik Emir menjadi keluarga kerajaan lagi."


 


Kak Yurika, Inanna, dan aku, saling melempar pandang. Meskipun kami sedikit tidak puas dengan pembicaraan yang dihentikan di tengah, tapi ibu benar. Kami pun kembali ke topik utama.


 


"Lalu, menurut ibu, apa yang harus aku lakukan?" Aku langsung bertanya pada ibu.


 


"Sebelum ibu menjawab, ibu ingin bertanya satu hal padamu. Kenapa kamu ragu?"


 


Eh?


 


"Sayang, ibu sudah membesarkanmu sejak kamu lahir. Ibu tahu benar kalau kamu sebenarnya sudah membuat keputusan, tapi kamu ragu. Dengan kata lain, sebenarnya, kamu datang ke sini bukan mencari saran, tapi mencari pembenaran atas keputusanmu."


 


"I – itu..."


 


"Emir,"


 


Tanpa aku sadari, Ibu sudah merendahkan badan di depanku. Ibu meletakkan kedua tangan di pipiku. Aku bisa merasakan kehangatan tangan ibu meresap di pipi, memberiku rasa tenang. Hanya dengan belaian tangan ibu, entah kenapa, mulutku bergerak sendiri.


 


"Aku ingin bersama Lugalgin! Tapi, aku tidak yakin dengan perasaanku. Setelah mendengar cerita Lugalgin, aku menyadari kalau pertemuanku dan Lugalgin sebenarnya sudah diatur oleh ayah. Aku takut. Jangan-jangan, aku jatuh hati pada Lugalgin hanyalah bagian dari rencana ayah. Jangan-jangan, aku tidak benar-benar jatuh hati pada Lugalgin. Aku takut..."


 


Entah kenapa, bibirku terasa semakin sulit untuk berbicara. Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi bibirku terasa berat, membuat ucapanku terpatah-patah. Meski demikian, aku terus memaksa.


 


"Dan, dan, kalau aku bersama Lugalgin, aku takut aku harus menentang ayah. Kalau aku menentang ayah, secara tidak langsung sama saja dengan aku melawan ibu, kak Yurika, Kak Maxwell, Lexicon, dan juga Bemmel. Aku takut kalau ada saat dimana aku harus menyakiti kalian. Aku tidak mau. Aku tidak mau."


 


Ah, akhirnya aku tahu kenapa bibirku terasa begitu sulit untuk bergerak. Tanpa aku sadari, aku sudah menangis, membuat suaraku tersedak-sedak.


 


"Ibu, aku, aku...."


 


"Sayang,"


 


Tiba-tiba saja, ibu berdiri dan merengkuhku, membenamkanku dalam pelukan. Ibu pun mengelus punggungku dengan lembut, mencoba menenangkanku.


 


Di saat ini, entah mengapa, aku bisa merasakan kekhawatiranku perlahan menghilang. Setiap belaian di punggungku mengurangi kekhawatiran di hati ini.


 


Akhirnya, setelah beberapa saat, aku merasa semua ketakutan ini sudah menghilang, meleleh oleh kehangatan ibu. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang sudah berlalu. Sebenarnya, aku tidak ingin melepaskan diri dari kehangatan ini. Namun, sayangnya, aku harus.


 


Aku melepaskan diri dari ibu, melihat dalam-dalam ke mata ibu.


 


"Sudah tenang?"


 


 


"Bagus."


 


Aku dan ibu pun kembali duduk. Aku di sebelah Inanna dan ibu di sebelah kak Yurika.


 


"Sekarang, biar ibu memberi sedikit jawaban atas keraguanmu. "Ibu menatapku dalam – dalam. "Pertama, menurut ceritamu, dan dari gosip yang aku dengar, memang benar pertemuanmu telah diatur oleh ayahmu. Dan, memang benar, kamu jatuh hati pada Lugalgin adalah bagian dari rencana ayahmu."


 


Kalau begitu–


 


"Tapi, kamu bukan satu-satunya," ibu menyela dugaanku. " Ayahmu mengirim hampir semua putri selir dan permaisuri, permaisuri sebelum aku, untuk mendekati Lugalgin. Entah lewat sekolah, menjai pelanggan di kafe milik Lugalgin, menjadi klien barang antik, atau apapun itu.


 


“Ayahmu mengerahkan hampir semua putri dari keluarga kerajaan untuk dipasangkan dengan Lugalgin. Dan, ya, rencana ayahmu setengah berhasil. Banyak dari putri kerajaan, bahkan kakakmu ini, jatuh hati pada Lugalgin."


 


"Eh?"


 


"Ah?"


 


"Hah!?"


 


Aku, kak Yurika, dan Inanna mengeluarkan respon yang hampir bersamaan. Aku dan Inanna melihat baik-baik ke arah kak Yurika. Dari kami bertiga, teriakan kak Yurika adalah yang paling keras. Dengan kata lain, dia yang paling tidak menduga dengan ucapan ibu.


 


Kak Yurika berusaha kabur dari pandanganku dan Inanna. "Sejak kapan ibu tahu?"


 


"Kamu kira ibu tidak tahu? Nadamu yang biasanya tegas langsung melembut setiap kali membicarakan Lugalgin. Bahkan, kamu beberapa kali mencoba mengoreksi adik-adikmu yang menghina Lugalgin."


 


"I, ibu. Sudah, ibu." Kak Yurika memohon.


 


Ibu melihat ke arahku. "Menurutmu, apa alasan kakakmu ini berkali-kali menawari Lugalgin status bangsawan? Supaya dia bisa menikahi Lugalgin. Bukan hanya kakakmu, banyak putri selir dan bangsawan lain yang melakukan hal yang sama.


 


“Tapi, akhirnya apa? Lugalgin tidak goyah. Dia tetap teguh dengan pendiriannya, tidak mau menjadi bangsawan. Karena itu, mereka pun menyerah, termasuk kakakmu. Hanya kamu yang bersedia mengejar Lugalgin meskipun harus membuang gelar keluarga kerajaan."


 


Aku terdiam sejenak mendengarkan cerita ibu. Aku sama sekali tidak menduga dengan perkembangan ini. Atau hanya aku yang tidak sensitif?


 


"Dan, aku berani bertaruh, ayahmu pasto bilang 'nanti, setelah kalian menikah, aku akan menarikmu kembali menjadi putriku supaya Lugalgin bisa menjadi Raja yang sah'. Iya, kan? Di lain pihak, di saat kita mendatangi rumahnya, Lugalgin justru menyatakan akan menceraikanmu kalau kamu menjadi keluarga kerajaan lagi. Itu kan alasan kamu melihat ke ayahmu ketika Lugalgin mengajukan syaratnya?"


 


Ibu, bagaimana ibu bisa tahu apa yang ayah katakan padaku? Aku amat sangat yakin tidak ada seorang pun yang mendengar percakapan kami.


 


"Jadi, jangan khawatir. Meski kamu jatuh hati adalah sebagian dari rencana Fahren, aku bisa meyakinkan kalau perasaanmu adalah nyata. Ayahmu hanya mempertemukanmu dengan Lugalgin. Namun, kamu jatuh hati pada Lugalgin adalah pilihanmu sendiri.


 


“Ketika yang lain memilih untuk menyerah, mundur, kamu memilih untuk terus maju, berjuang. Bukti apa lagi yang kamu butuhkan untuk meyakinkan kalau perasaanmu adalah nyata? Ditambah, syarat yang diajukan Lugalgin di saat lamaran itu telah merusak rencana ayahmu secara langsung, kan?"


 


Aku jadi teringat dengan wajah ayah ketika Lugalgin mengajukan syaratnya. Saat itu, ayah hanya mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi lain. Apa berarti ayah sudah pasrah saat itu? Bisa saja.

__ADS_1


 


"Lalu, untuk yang kedua, ibu yakinkan kamu kalau kamu tidak akan melawan kami. Ya, mungkin kamu akan berhadapan dengan ayahmu, tapi tidak dengan kami berlima."


 


"Tapi, dari mana ibu mendapatkan keyakinan itu? Kalau kami–"


 


"Kamu tidak usah pusing memikirkannya." Ibu kembali menyela. "Percayalah pada ibu."


 


Normalnya, aku tidak akan puas dengan jawaban seperti itu. Namun, entah kenapa, aku bisa percaya dan yakin dengan ucapan ibu.


 


Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Aku menutup mataku sejenak, memastikan agar aku bisa mengatakan ini dengan tegas, tanpa keraguan, tanpa terputus-putus.


 


"Ibu, terima kasih. Dengan ini, aku bisa menyatakan kalau aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mendampingi Lugalgin dalam hidupnya. Meski ke depannya aku akan menentang ayah dan tidak lagi menjadi agen schneider, aku sudah yakin."


 


Ibu menyambut ucapanku dengan senyuman. Ketika aku melihatnya, aku merasa seolah-olah senyuman itu mampu membuatku semakin yakin dengan keputusan ini.


 


Sregg....


 


"Dari mana kamu mengetahui semua itu?"


 


Tiba-tiba terdengar suara kencang dari teras mansion. Meskipun bukan teriakan, tapi suaranya cukup keras hingga terdengar kesini.


 


Kami pun melihat ke arah teras. Di balik Jendela, ayah terlihat berdiri sedangkan Lugalgin masih duduk.


 


Tampaknya, konfrontasi ini adalah konfrontasi awalku mendampingi Lugalgin dan menentang ayah.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Chapter ini diupload selasa siang.


 


Halo Semua, sebelum memberi post-notes dan komentar, Author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author.


 


Sebelum membahas cerita, seperti biasa, author akan mengadakan sesi respon komentar dulu~


 


-------------------------------------------------------------------------------------------------


 


Topik pertama adalah mengenai komentar yang mengatakan MC, Lugalgin,~~~~ seperti komentator bola. Di lain pihak, author jadi teringat dengan beberapa komentar yang menyatakan pembawaan MC terlalu normal dan santai, jadi tidak dapat gregetnya.


 


Well, sebenarnya, dari beberapa draft novel yang author miliki, I am No King memang yang pembawaannya paling ringan. Author bilang pembawaan, bukan cerita. Pembawaan yang ringan ini memang rencana author dari awal. Jadi, untuk orang-orang yang memang sedang mencari thrill dalam membaca, mungkin I am No King dirasa kurang cocok.


 


Namun, untuk mereka yang sudah “lelah” dengan real life, I am No King menjadi alternatif baru. Jadi, para pembaca bisa mendapat alur cerita yang rumit tapi dengan pembawaan tenang dan santai. Dengan demikian pikiran pembaca tidak akan terlalu terbebani, seperti mendengar cerita dari lansia.


 


Jadi, ketika membaca komen bilang ceritanya tidak memberi feel greget, thrill, atau bilang semacam komentator bola, Author merasa tujuan author terpenuhi.


 


Dan, btw, tolong jangan tanya draf yang lain kemana. Masih diendapkan. Kalau I am No King sudah tamat mungkin baru pegang draf yang lain. Yang entah kapan. Ehehe.


 


Topik selanjutnya adalah Emir. Bagaimana nasib Emir sebagai calon istri Lugalgin jika dibandingkan Inanna? Tenang.... Emir akan memiliki waktunya untuk bersinar. Semua ada waktunya. Bahkan, di chapter ini Emir sudah mulai tampak berbeda, kan?


 


Topik komentar terakhir adalah mengenai penjualan buku. Untuk lokasi, seharusnya bisa mencapai seluruh daerah Indonesia (tergantung jasa logistik juga sih). Yah, nanti kalau sudah siap cetak, mungkin author akan bertanya jasa ekspedisi apa yang diinginkan. Apakah jne, jnt, wahana, pos, atau yang lainnya. Yah, itu urusan nanti. Karena sekarang masih proses penyempurnaan buku.


 


Lalu, soal keuntungan dari penjualan buku. Mungkin ini akan terdengar aneh, tapi nanti, semua keuntungan dari penjualan buku akan disumbangkan ke yatim piatu. Yah, saat ini, author paling sering melalui rumah yatim sih.


 


Dan, tidak, author tidak ada niat membohongi kalian, atau pun munafik. Kalau kalian melihat IG atau facebook author, kalian akan melihat caption “just an author for fun”. Jadi, author menulis hanya untuk have fun, pure hobby. Dan, author adalah tipe yang memisahkan hobi dan pekerjaan. Hobi ya hobi. Kerja ya kerja.


 


Author bukanlah tipe yang “menjadikan hobi menjadi kerja”. Author khawatir, kalau menggunakan mindset itu, nanti author tidak bisa lagi menikmati hobi, malah kepikiran untung rugi. Yah, tidak author pungkiri kalau mindset author aneh.


 


Yah, sudahlah. Intinya, karena mindset ini, author mengurungkan niat untuk mengambil keuntungan dari penjualan buku. Semua keuntungan dari penjualan buku akan disalurkan ke rumah yatim.


 


-------------------------------------------------------------------------------------------------


 


Oke, segitu dulu sesi respon komentar. Sekarang, sedikit pembahasan ke cerita. Di chapter ini, kembali ditegaskan kalau Lugalgin adalah penjual barang antik. Pembahasan tentang barang antik ini tampak sudah tidak menonjol lagi belakangan.


 


Hal ini karena Lugalgin sudah tinggal di rumah sendiri. Lalu, Emir dan Inanna pun juga dipaksa terbiasa dengan hidup Lugalgin. Karena ini sudut pandang pertama, kalau kita sudah terbiasa dengan suatu hal, kita tidak akan terlalu memperhatikannya lagi, kan? Jadi, pembahasan yang berkurang juga karena itu.


 


Namun, meski ditegaskan penjual barang antik, muncul misteri baru juga. Dari chapter lalu, misteri ini sudah mulai dipertanyakan. Apakah Lugalgin benar-benar hanya penjual barang antik? Yah, cari jawabannya di chapter yang akan datang. Ahahaha


 


Setelah itu, mungkin kalian memperhatikan ada beberapa paragraf yang diberi tanda buka petik, tapi di akhir paragraf tidak ada tutup petik. Malah memulai paragraf baru dengan buka petik. contoh misal


 


Ibu mengatakan,"bla bla bla bla bla


 


"Namun, bla bla bla bla."


 


Teknik itu digunakan untuk memotong dialong yang dirasa terlalu panjang. Namun, teknik ini bisa dibilang jarang sekali digunakan. Author pun jarang melihat penggunaan teknik ini. Yah, intinya, kalau kalian membaca ada dialog tidak ditutup di akhir paragraf, kemungkinan besar dialog karakter masih berlanjut. Kemungkinan kecil, lupa :P.


 


Lalu, kalau ada ilustrator yang mau kolaborasi komik atau bikin ilustrasi untuk I am No King, bisa hubungi author di instagram @renigad.sp.author atau facebook ren.igad.33. Atau kalau mau open commis, bisa juga kontak lewat dua akun itu.


 


Dan, hanya karena author menulis for fun, bukan berarti author tidak akan menghargai karya kalian. Author tentu saja akan membayar kalau meminta komis. Mindset aneh author yang lain adalah, “kalau ga menghabiskan uang, bukan hobi namanya, tapi coba-coba,”. Hahaha. Mindset yang menghamburkan uang banget ya. Ya, sudahlah.


 


Karena pada akhirnya, “I’m just an author for fun,”. Author hanya having fun menulis. Tidak ada alasan popularitas atau mencari sokongan dana. Hahaha. Mau dibilang munafik? Silakan, author ga akan melawan. Namun, kalau ada komentar positif, tentu saja membuat Author semakin senang dengan hobi ini.


 


Sebagai catatan, saat ini, artist yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah pixiv artis, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author tidak pelu mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi hobi author ini.


 

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


:D


__ADS_2