
"Kak Rina," Ami menurut. "Karena tujuan Kak Rina yang adalah membuat Bana'an dan Nina berperang sudah selesai, kenapa Kak Rina tidak kembali? Sekarang, Bana'an dan Nina sudah berperang, kan?"
"Sayangnya, tugasku belum selesai. Aku masih harus memastikan Lugalgin memenangkan perang pasar gelap ini dulu. Meski kemenangan Lugalgin adalah hal yang pasti, tetap saja aku tidak berani pulang sebelum benar-benar terjadi. Aku tidak mau ibu menganggapku tidak becus dan menyakiti Terra."
"Kemenangan Lugalgin sudah pasti? Apa maksudmu?" Etana tidak mempercayai ucapan Rina.
"Begini...."
Rina menjelaskan kenapa kemenanganku di pasar gelap sudah pasti. Kuncinya adalah intelijen dan militer. Secara sekilas, memang peperangan pasar gelap Bana'an hanya terjadi antar organisasi pasar gelap. Intelijen dan militer hanya sebagai penonton dan saksi. Namun, ada faktor tambahan yang mengubah semua ini, posisiku sebagai kepala intelijen.
Pihak yang bertanggung jawab atas keamanan Bana'an adalah kepolisian, militer, dan intelijen. Kepala kepolisian, kepala militer, dan kepala intelijen memiliki koneksi dan hubungan perintah langsung dari Raja, atau pada saat ini permaisuri Rahayu. Namun, tidak berhenti di situ, calon istriku, Emir, selain putri dari permaisuri Rahayu, juga sebelumnya bagian dari militer Bana'an. Dan, seperti militer pada umumnya, militer Bana'an memiliki tingkat solidaritas yang amat sangat solid, apalagi Emir adalah tentara yang berbakat.
Dengan menjadi calon suami Emir, permintaanku akan mendapat prioritas khusus dari militer. Karena hal itu, sama saja aku memiliki hak dalam pergerakan militer. Lalu, pertarungan malam ini, diawasi dan diadakan oleh intelijen dan militer. Aku sudah menyatakan intelijen dan militer tidak akan ikut berpartisipasi dalam pertarungan. Mereka hanya menjadi pengawas dan penonton.
Namun, menjadi pengawas dan penonton sudah lebih dari cukup. Kenapa? Karena intelijen adalah bawahanku, mereka akan melaporkan kejadian-kejadian yang penting padaku. Selain itu, aku juga sudah meminta agar Yuan menampilkan semua yang dilihat oleh intelijen dan militer padaku, di ruangan ini. Dengan kata lain, aku bisa mengirim perintah sebagai ketua Agade untuk melakukan serangan diam-diam atau menyergap anggota Orion, seperti sekarang.
Kalian pikir aku hanya duduk main kartu dan mendengarkan cerita Mulisu? Tentu saja tidak! Sambil main kartu, aku masih melihat ke semua layar, mendengarkan laporan dari anggota Agade dan Yuan, lalu mengirim arahan dan perintah pada anggota Agade melalui smartphone. Bisa dibilang, peranku kali ini adalah ahli strategi.
"Wow," Etana merespons datar. "Lugalgin, kamu memang benar-benar licik."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Well, kalau dengan licik aku bisa mengurangi korban jiwa, kenapa tidak? Dan lagi, aku yakin bangsawan di Orion juga sebenarnya sudah menyadari hal ini."
"Sudah?"
"Ya. Sudah." Aku mengonfirmasi Etana.
"Lalu, kenapa?"
"Pada dasarnya, setelah Orion kalah, rencana Emir akan berjalan, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Anggota Orion menganggap mereka memiliki kewajiban melindungi warga di wilayahnya. Mereka sudah memperdagangkan anak untuk melindungi warganya. Hanya karena tahu pasti kalah, mereka tidak mungkin pergi begitu saja, kan? Mereka beranggapan kalau mundur, maka usaha selama ini, mengotori tangan dengan perdagangan anak, akan menjadi sia-sia."
Orang-orang ini menyatakan yang mereka lakukan adalah Noblesse Oblige, melindungi rakyat. Sayangnya, aku tidak sependapat. Menurutku, yang saat ini mereka tampilkan bukanlah Noblesse Oblige, hanya ego dan harga diri bangsawan. Tidak lebih!
Orang naif akan selalu mengatakan kebenaran pasti menang. Namun, yang benar adalah kemenangan akan menentukan mana yang benar mana yang salah. Seperti pepatah, "yang menulis sejarah adalah sang pemenang,"/ Kalau para bangsawan anggota Orion sudah mengakui akan kalah sebelum bertarung, secara tidak langsung, sama saja mereka mengakui aku adalah kebenaran. Harga diri mereka tidak bisa menerima hal itu.
Di lain pihak, kalau aku boleh berasumsi, bangsawan yang tergabung di Quetzal juga menyadari hal ini. Mereka tidak termakan oleh harga diri, tapi tidak bisa langsung mundur. Mereka butuh alasan. Dan, kekalahan Orion akan menjadi alasan yang tepat untuk menyerah. Mereka bisa bilang, "Orion sudah kalah. Kalau Agade dan Akadia bergabung, Quetzal bisa apa?".
"Dan lagi, menurutku," Rina menyela. "Lugalgin memiliki alasan lain kenapa dia mengadakan pertarungan ini. Iya kan, Lugalgin?"
__ADS_1
Ya. Benar. aku memiliki alasan lain. Pertama, untuk Mulisu dan Ukin. Aku sudah tahu kalau Mulisu memiliki hubungan atau masalah pribadi dengan Ukin. Dengan pertarungan ini, aku ingin Mulisu menyelesaikannya.
Lalu, untuk Inanna dan Emir. Aku bisa melihat keraguan mereka ketika berhubungan sex. Aku menduga mereka khawatir akan ada sosok lain seperti Tasha yang bisa merebutku, apalagi jika masih hidup. Karena ragu, aku memberi mereka kesempatan untuk menghilangkan kemungkinan itu? Bagaimana caranya? Dengan mengakhiri hidup Maila dan Illuvia.
Untuk Ninmar dan Umma, aku perlu mengingatkan mereka kalau ada orang kuat di luar Agade, tidak lebih. Meski hanya mendapat perintah mengulur waktu, aku yakin mereka berusaha membunuh Tante Hervia, menganggap aku terlalu meremehkan mereka atau terlalu memandang tinggi Tante Hervia. Namun, begitu gagal, seperti yang sudah terjadi, mereka akan dihadapkan pada fakta kalau Tante Hervia memang kuat.
Tiba-tiba saja sebuah getaran kuat terasa. Bahkan, getaran ini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya. Aku melihat ke seluruh layar, mencari keberadaan Mulisu dan Ukin. Namun, aku tidak kunjung menemukannya. Di lain pihak, beberapa kotak tampak gelap, mati.
Aku menekan headset di telinga kiri. "Halo, Mulisu, apa kamu masih hidup?"
Sebenarnya aku ingin bertanya apa dia baik-baik saja. Namun, lawannya Ukin. Tidak mungkin kan dia baik-baik saja?
[Lugalgin, mungkin aku–]
Mulisu tidak menyelesaikan ucapannya. Namun, aku masih mendengar suara. Tidak lama kemudian terdengar suara Ukin.
Aku mengambil handphone dan mengirim pesan ke beberapa anggota Agade untuk segera menuju ke lokasi Mulisu dengan membawa pertolongan pertama. Tidak hanya itu, aku juga meminta anggota lain membunuh semua anggota Orion di jalur. Dengan akses pada seluruh kamera cctv di kota, aku bisa mengirim lokasi detail lawan ke anggota Agade.
"Ah, kartu Ami sudah habis. Ami menang!"
Akhirnya semua kartu di tangan Ami habis. Sebagai orang pertama yang menghabiskan kartu di tangan, dia pun keluar sebagai pemenang.
Karena saat ini kami murni bermain, tanpa ada trik atau apapun, semuanya benar-benar tergantung dari keberuntungan. Tidak lebih. Selama permainan, tidak ada tanda-tanda satu pun dari mereka menggunakan trik atau perhitungan psikologi.
"Iya, mau langsung pulang. Atau Kak Lugalgin butuh bantuan Ami?"
"Tidak usah, Ami. Kamu bukan tokoh utama di konflik ini. Jadi, kamu pulang saja."
Setelah Ami, kartu di tanganku juga habis.
Ami tersenyum simpul. "Sebenarnya Ami ingin bersama kak Lugalgin lebih lama. Tapi, di tengah perang antar negara, rasanya akan lebih baik kalau Ami pulang dulu. Ami tidak mau egois. Setelah perang selesai, Ami akan berkunjung lagi. Kak Lugalgin jangan mati dulu ya."
"Mulutmu kok kasar sekali Ami...." aku mencubit pipi Ami sebentar. "Jangan khawatir, Kak Lugalgin pasti akan bertahan hidup."
"Lalu, Etana, bagaimana denganmu?"
"Ah, peranku sama dengan Rina. Aku hanya diminta memastikan kemenanganmu di pasar gelap. Setelah memenangkan perang pasar gelap, kamu akan terlibat dengan perang antar kerajaan. Ketika hal ini terjadi, Arid terpaksa akan mengalihkan lebih banyak pasukan ke perang antar kerajaan, memberi kesempatan lebih untuk True One."
Untuk bagian aku akan terlibat dengan perang antar kerajaan, masuk akal. Untuk dia diminta memastikan kemenanganku? Kurang masuk akal. Antara dia membuat alasan itu sendiri atau Etana dibodohi. Namun, menurutku, kemungkinan pertama lebih masuk akal. Apa aku peduli dengan alasan Etana yang sebenarnya? Tidak! Selama aku tidak merasakan ancaman darinya, aku tidak akan peduli.
"Lalu, setelah ini, kamu juga akan kembali, Rina?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Peranku sudah selesai. Namun, setelah itu, aku tidak tahu harus melakukan apa. Apa kamu punya tawaran untukku?"
"Aku tidak tahu kondisimu dan kerajaanmu. Jadi, aku tidak bisa benar-benar memberi tawaran. Namun, aku akan mencoba menceritakan rencanaku. Kalau kamu memiliki tawaran setelah mendengar rencanaku, bisa aku pertimbangkan."
"Bisa diatur." Rina memberi konfirmasi. "Sebelum itu, ngomong-ngomong, Gin, aku mau kamu melakukan sesuatu."
"Melakukan apa?"
"Sayat jarimu. Aku ingin melihat seberapa cepat lukamu sembuh."
Aku tidak menduga Rina mengatakan itu. Namun, aku tidak ada alasan menolak. Aku pun menarik pisau yang terikat di sepatu dan menyayat jariku. Hanya sayatan kecil tidak dalam. Kemudian, aku membalikkan tangan ke bawah, membiarkan darah menetes.
Namun, beberapa detik berlalu, tidak ada darah yang menetes. Darah itu hanya menempel di tangan, tidak menetes, menunjukkan tidak ada aliran. Dengan kata lain, luka sayatan di jariku sudah menutup.
"Wow, Gin, tingkat penyembuhanmu sudah terlalu cepat. Kalau jadi kamu, aku tidak akan mau bertarung lagi."
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1