I Am No King

I Am No King
Chapter 89 – Serangan Agade Dimulai


__ADS_3

Aku berada di bak mobil yang dikendarai oleh Ibla bersama Emir dan Inanna. Karena mobil ini bukanlah mobil antik, aku harus mengenakan sarung tangan. Pada saat jalanan rusak, ada kemungkinan aku terpaksa memegang mobil agar tidak terlempar dari bak. Kalau aku tidak mengenakan sarung tangan, mobil ini bisa langsung mati.


 


Saat Ibla meneleponku, sebenarnya, dia sudah merencanakan serangan ini. Serangan malam ini dilakukan ketika Agade palsu bertransaksi dengan salah satu dari enam pilar, Apollo.


 


Sebenarnya aku mempertanyakan sense penamaan mafia tersebut. Namun, kurasa, aku tidak berhak melakukannya. Maksudku, aku lah yang memberi nama Agade. Hanya orang maniak sejarah yang tahu arti Agade dan hubungannya dengan namaku. Selain itu? Tidak ada.


 


Ya, sudahlah. Aku tidak terlalu peduli juga.


 


Berdasar info yang didapatkan Ibla, Agade palsu ini telah menjadi organisasi yang cukup besar. Anak buahnya pun sangat banyak dan memang layak menjadi enam pilar.


 


Dalam penyerangan kali ini, aku hanya akan mengamati dari kejauhan dengan teropong. Begitu juga dengan Emir dan Inanna. Ibla, selain mengamati dengan teropong, juga akan memberi instruksi pada setiap anggota.


 


Mobil kami tiba di sebuah gedung yang belum selesai bangun. Daripada belum selesai, lebih tepatnya tidak akan selesai. Hanya struktur seperti tiang dan lantai yang terpasang, tapi dinding belum.


 


Gedung seperti ini banyak terdapat di daerah perbatasan. Ada orang berpikir bisa mendirikan hotel atau taman rekreasi. Namun, ternyata, perusahaannya salah hitung dan terpaksa menghentikan proyek di tengah jalan sebelum rugi lebih lanjut.


 


"Emir, tolong ya." Ibla berbicara dari dalam mobil.


 


"Baik!"


 


Sebuah benda muncul dari balik jubah Emir dan berubah menjadi lempengan besar di depan mobil. Ibla memajukan mobil ke atas lempengan. Setelah di atas lempengan, mobil kami terangkat, seperti lift, menuju lantai 15. Setelah tiba di lantai 15, Ibla memundurkan mobil.


 


Heh, jadi Ibla sudah mempertimbangkan kemampuan Emir ya. Aku jadi teringat ketika bertemu Emir di jalan tol. Saat itu, dia menurunkanku dan sepeda motor dengan cara yang sama.


 


Hanya mobil kami yang ada di sini, mobil yang lain tentu saja menyebar, bersiap di posisi masing-masing.


 


Emir dan Inanna turun dari mobil, pergi ke samping bangunan sementara aku dan Ibla masih di mobil. Kami semua menggunakan teropong, melihat ke sebuah reruntuhan taman rekreasi dimana puluhan orang, dengan senjata lengkap baik senjata api maupun senjata tajam, bersiap. Di tengah-tengah, terlihat beberapa orang membawa koper dan rak senjata api.


 


Biasanya, koper itu berisi emas. Transaksi menggunakan emas lebih disukai oleh organisasi pasar gelap yang besar karena bisa dikonversi menjadi mata uang apapun atau pun hanya sekedar penyimpan kekayaan. Di lain pihak, rak senjata api itu hanyalah simbolis. Sisanya berada di dalam lima truk yang diparkir tidak jauh dari tempat transaksi.


 


Di situ, aku melihat sebuah sosok dengan topeng badut dan rambut putih. Tubuhnya dililit oleh lipan yang terbuat dari pisau. Tentu saja, bagian hendel pisaunya yang menempel di tubuh. Orang ini benar-benar berusaha keras menyerupai Kinum, yang adalah Mulisu. Bahkan, menurutku, terlalu keras jadinya gagal. Maksudku, bahkan Mulisu tidak akan membuat lipan itu melilit tubuhnya ketika bertransaksi.


 


Di lain pihak, aku tidak melihat sosok yang mengaku sebagai Sarru. Atau mungkin sosok itu tidak pernah ada? Ya, lihat saja lah. Aku sengaja tidak mencari informasi karena ingin melihat perkembangan Ibla dan yang lain.


 


"Jadi," aku membuka pembicaraan. "Siapa yang akan memulai serangan?"


 


"Menurutmu, siapa?"


 


Hmm, sebelum aku menarik diri dari pasar gelap, Agade hanya mengenal Sarru yang selalu membawa peti mati dan Kinum yang menggunakan lipan logam. Kalau ingin menunjukkan siapa Agade yang sebenarnya, harus Sarru atau Kinum langsung yang muncul.


 


Karena aku berada di sini, dan memutuskan tidak akan terlibat, hanya ada satu pilihan.


 


"Mulisu akan muncul sebagai Kinum?"


 

__ADS_1


"Setengah tepat."


 


Setengah tepat ya....


 


Mataku kembali ke teropong, melihat ke keadaan.


 


Dor dor dor dor dor


 


Suara tembakan terdengar dari beberapa tempat. Tidak ada teriakan atau apapun yang menyertai suara tembakan itu. Dengan kata lain, tembakan itu diarahkan ke langit, semacam tembakan peringatan.


 


Agade palsu dan Apollo langsung siaga ketika mendengar suara tembakan. Mereka saling mengarahkan senjata, mencurigai organisasi di depan mereka lah yang membuat masalah.


 


Begitu, ya. Karena Ibla dan yang lain ingin mengumumkan kalau Agade yang asli sudah datang, mereka akan menyerang dengan terang-terangan, dengan peringatan. Mereka tidak akan menyerang diam-diam.


 


Cting cting cting cting


 


Sebuah suara logam bergesek terdengar. Suaranya sangat kencang, bahkan kami yang berada beberapa ratus meter jauhnya bisa mendengarnya.


 


Ah, tunggu dulu, bagaimana kami bisa mendengarnya? Tidak peduli sekeras apapun, logam bergesek seharusnya tidak bisa terdengar sampai sejauh ini. Aku menoleh dan melihat di atas mobil ada sebuah sepiker kecil.


 


"Ah, aku berpikir kamu ingin mendengar suara di sana. Jadi, aku menyebar beberapa transmiter di anggota kita dan di medan tempur." Ibla berbicara sebelum aku bertanya.


 


"Ibla, kamu memang pintar," aku memuji Ibla.


 


 


Ah, suara ini. Sudah lama sekali aku tidak mendengarnya. Tanpa bisa kukendalikan, bibirku terangkat, tersenyum. Suara ini adalah salah satu alasan kenapa aku begitu menginginkan kekuatan pengendalian.


 


"Emir, Inanna," aku mulai berbicara.


 


"Ya?" Emir dan Inanna merespon bersamaan.


 


"Kalian beruntung karena malam ini kalian akan melihat teknik dan pengendalian Mulisu yang paling gila. Teknik ini akan memberi teror bagi siapa pun yang melihatnya. Bagi yang bertahan hidup, mereka akan mengalami ptsd yang parah, yang akan dipicu oleh sesuatu yang tajam atau panjang, seperti pisau, pedang, ular, tali, lipan, dan sebagainya."


 


"Ah, deskripsimu kok detail sekali?" Emir setengah mempertanyakan ucapanku.


 


"Apa kamu pernah melihat efeknya langsung?" Inanna bertanya.


 


"Ya, aku melihatnya langsung di rumah sakit jiwa ketika mencari tahu nasib orang-orang yang bertahan. Sebentar lagi, kalian akan paham."


 


Beberapa teriakan pun terdengar, seolah-olah mendukung deskripsiku.


 


"AAAAHHHHH!!!!"


 


"KYAAA!!!!"

__ADS_1


 


"AARRGHHHH!!!!"


 


Teriakan itu tidak berasal dari satu tempat, tapi dari beberapa tempat, baik dari pihak Agade palsu maupun Apollo. Kedua belah pihak sadar kalau ada pihak lain yang menyerang dan mengarahkan senjata ke luar. Mereka pun melepas tembakan secara membabi buta. Namun, hanya suara logam berdenting yang terdengar.


 


Mereka mengarahkan senter dan lampu sorot kendaraan ke sumber suara.


 


Hahaha, kalian melakukan hal yang salah. Padahal, kalau kalian tidak mengarahkan lampu sorot, teror yang akan kalian rasakan hanyalah sejenak. Namun, sekarang, bersiaplah menghadapi teror yang sesungguhnya.


 


Melalui teropong, aku melihat semua orang hanya terdiam dengan mulut menganga. Tidak seorang pun melepaskan tembakan atau mengatakan sepatah kata. Semuanya terdiam dengan mata membelalak. Meski melalui teleskop, aku bisa melihat teror di wajah mereka yang pucat pasi.


 


Di depan mereka, terlihat beberapa lipan raksasa sepanjang belasan meter. Kaki lipan raksasa itu terbuat dari puluhan pedang sementara badannya terbuat dari tombak, logam, dan senjata api. Di kepala dan ekor, terlihat sepasang gatling gun sebagai ganti antena. Pada beberapa kaki, terlihat lumuran darah. Bahkan, ada sisa tubuh manusia yang masih menancap.


 


Di atas salah satu kepala lipan terlihat sebuah sosok dengan jubah dan topeng serigala, berdiri.


 


Inilah Kinum yang sebenarnya.


 


Inilah Agade yang sebenarnya.


 


Bersambung


 


 


\============================================================


 


 


Halo semuanya.


 


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


 


Lalu, lanjut ke post note chapter ini. Mungkin sebagian ada yang berpikir "kok senjata Mulisu aneh banget? Jadi kayak summoned beast aja, kayak hewan fantasi". Ya, pada dasarnya, cerita ini bergenre fantasi, jadi bisa dibilang lipan itu memang semacam summoned beast nya Mulisu, tapi masih dikendalikan oleh Mulisu. Namun, karena terbuat dari logam, agak mirip transformers.


 


Sebenarnya, sejak awal, author sudah merencanakan ini. Chapter 20 adalah pertama kali Author memberi sedikit foreshadowing mengenai senjata Mulisu. Dan kini, akhirnya, author bisa mengeluarkannya. Bukan hanya senjata Mulisu yang author beri foreshadowing. Sejak awal, sebenarnya, banyak foreshadow yang dimunculkan, tapi author samarkan. Hehe


 


Oke, untuk post note cukup sekian. Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


 


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


 


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


 


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


 


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


 


 

__ADS_1



__ADS_2