I Am No King

I Am No King
Chapter 163 – Keceplosan


__ADS_3

"Tahan tembakan kalian. Dia bukanlah lawan yang bisa kalian lumpuhkan hanya dengan senjata api."


Aku berbicara pada semua anggota elite Agade melalui headset.


Di selatan, berjarak dua rumah, terlihat sosok laki-laki berambut pirang dan mata biru. Rambutnya tidak panjang lagi seperti di siaran beberapa hari lalu, tapi pendek dan turun, memberi kesan rapi. Senyum lebarnya memberi kesan aro.... atau tidak? Aku hampir bilang arogan, tapi tidak! Senyumnya normal, tidak berlebihan dari ujung ke ujung.


Selain itu, dagunya datar. Padahal, dulu, jika dia menghadap orang lain, dia selalu meninggikan dagu sedikit, memandang orang lain rendah. Hanya Lacuna yang dia tunjukkan dagu datar. Ya, dagu datar, bukan dagu rendah. Bahkan dia menganggap gurunya setara.


Kini, dia mengenakan kaos putih, jaket kulit hitam, dan celana jeans hitam. Kaos putih memberi kesan mencolok, tapi masih serasi dengan jaketnya. Jujur, pakaian Ukin mirip dengan pakaian sehari-hariku. Apa kami cowok memang tidak punya sense fashion?


"Jadi, Ukin, apa yang kamu mau? Apa kamu mau pertarungan kita dilangsungkan sekarang?"


Ya, aku sudah menggunakan kata "kamu" dengan Ukin. Apa kami akrab? Mungkin ya, mungkin tidak.


"Tidak, aku tidak mau bertarung denganmu sekarang. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku, dan dua organisasi lain, tidak ada sangkut pautnya dengan serangan ini. Jadi, aku harap kamu tidak mengarahkah kemarahanmu pada kami. Belum saatnya."


"Benarkah?"


"Ya, benar."


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ada yang aneh dengan Ukin. Kapan terakhir kali aku bertemu dengannya? Tiga tahun? Mungkin.


Dulu, dia tidak akan pernah berbicara atau bernegosiasi denganku seperti ini. Bahkan, kalau dulu, dia akan langsung menyerang entah dari mana. Memaksaku bertarung.


"Apa aku bisa mempercayaimu? Kamu baru saja bertemu dengan Enlil, kan?"


"Yah, awalnya aku mengira Enlil sepertimu, berkepala dingin. Kalau Enlil juga berkepala dingin, dia bisa menjadi senjata ampuh untuk mengalahkanmu. Namun, sayangnya, dia temperamental. Sebentar, mungkin temperamental tidak cocok. Lebih tepatnya, dia terobsesi untuk menyingkirkanmu. Memangnya apa yang sudah kamu lakukan sehingga membuatnya seperti itu?"


"Lahir?"


Keadaan menjadi sunyi.


Sementara Ukin memberi penjelasan panjang lebar sebelum pertanyaan, aku hanya memberi satu jawaban singkat. Kalau dulu, dia pasti sudah marah. Dia akan menganggap sama saja aku sudah merendahkannya. Kali ini, apa yang akan dia lakukan?"


"Kukuku....ahahahaha."


Kesunyian malam pasca pertarungan dipecahkan oleh tawa Ukin. Tawanya bukanlah tawa yang sinis. Aku bisa melihat dia memegangi perutnya yang terus bergerak. Selain itu, dia juga sedikit menitikkan air mata karena tertawa terlalu kencang.

__ADS_1


"Ahahaha. Maaf. Maaf. Aku sama sekali tidak mengira kalau lahir saja bisa membuatmu dibenci seperti itu."


"Oh, percayalah. Di mata keluarga Alhold, itu adalah dosa pertama sekaligus terbesar yang pernah kulakukan."


Kalau dulu, dia sama sekali tidak sudi menatap wajahku. Namun, sekarang, dia bahkan merespon jawabanku dengan tawa. Sejak pertama bertemu dengan Ukin, ini adalah pertama kalinya aku bisa melangsungkan perbincangan seperti ini. Yah, meski aku tidak bisa benar-benar bilang ini perbincangan sih, mengingat jarak kami adalah dua rumah. Kami bahkan berbicara dengan berteriak.


Entah kenapa, setelah itu, kami melanjutkan perbincangan. Mayoritas mengenai Lacuna. Namun, tidak ada yang penting. Hanya perbincangan kecil.


"Jadi, Gin, apa kamu melakukannya dengan Lacuna?"


Aku terdiam sejenak. Meski sudah berubah, aku tidak yakin kali ini dia bisa menerimanya dengan tenang, mengingat Ukin sangat mengagumi Lacuna. Namun, aku juga tidak melihat keuntungan kalau berbohong. Hal ini tidak akan mengubah fakta kalau dia adalah musuh.


"Ya, aku melakukannya dengan Lacuna."


[Kamu melakukannya dengan gurumu?]


Ah, sial! Aku lupa kalau headset masih terpasang!


Yang berteriak di telingaku bukan hanya satu orang. Aku tidak yakin berapa banyak, mereka berteriak hampir bersamaan. Ditambah lagi ada delay suara telepon, jadi, aku tidak tahu siapa saja yang berteriak. Bahkan, rasanya, aku mendengar suara laki-laki.


Aku lengah gara-gara perubahan atmosfer yang begitu drastis. Kalau mereka ada di dekatku, mungkin aku bisa siaga. Namun, aku tidak bisa merasakan kehadiran orang melalui telepon.


Meskipun aku menolak, kamu pasti akan tetap menyerang. Jadi, baiklah.


"Aku tidak keberatan. Sebentar ya," Aku berbicara ke headset. "Pertarungan ini adalah urusan personal. Jangan ikut campur!"


Aku membiarkan headset terpasang di telinga.


"Siap?"


Sambil mengajukan pertanyaan, Ukin memunculkan tiga pedang panjang dari dalam jaket. Semua pedang itu adalah pedang rakitan, jadi wajar kalau dia bisa menyimpannya di dalam jaket.


Aku membuka peti arsenal dan mengambil dua buah pistol kaliber 9 mm dengan bayonet sepanjang 30 cm. Magasinnya pun sudah kumodifikasi sehingga lebih panjang, memuat 30 peluru.


"Masing-masing pistol berisi 30 peluru, total 60 peluru. Aku mau kita berhenti setelah peluruku habis. Bagaimana? Aku masih banyak urusan malam ini."


Aku memberi syarat pada Ukin sambil bersiap. Pada pertarungan kali ini, aku tidak membawa peti arsenal di punggung, tapi menaruhnya di pinggir jalan.

__ADS_1


"Baiklah," Ukin mengiyakan. "Sekali lagi, siap?"


"Siap!"


Begitu aku menjawab, kami berdua sama-sama maju, menerjang. Ukin mengirimkan dua pedang ke arahku. Aku menghindari satu pedang dan menangkis yang satunya. Sebagai balasan, aku melepaskan dua tembakan ke dada Ukin.


Ukin mengambil satu pedang yang melayang dan menangkis kedua peluru. Peluru ini adalah peluru timah normal, tidak terdapat noda darahku. Jadi, jika Ukin sudah mempelajari timah juga, yang kemungkinan besar sudah, maka dia bisa memperkirakan arah dan jalur peluruku.


Kami akhirnya bertukar serangan secara langsung. Mata pedang Ukin bertemu dengan mata pisau bayonetku. Di sela-sela, aku beberapa kali melepaskan tembakan, memaksa Ukin bertahan atau menghindar. Beberapa kali juga, Ukin menyerang dengan pedang melayang. Namun, instingku mampu mendeteksi pedang itu sebelum datang.


Di awal, aku berhasil mendorong mundur Ukin. Namun, keadaan berubah ketika Ukin memutuskan menggunakan dua pedang di tangan. Kini, keadaan kami berimbang. Ketika dia menggunakan satu pedang melayang untuk menyerang, aku melepas tembakan untuk menghalau. Begitu juga sebaliknya.


"Kamu semakin kuat, Gin!"


"Begitu juga denganmu!"


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



 

__ADS_1


 


__ADS_2