I Am No King

I Am No King
Chapter 211 – Kebingungan


__ADS_3

Cahaya matahari memaksa masuk ke mataku yang masih ingin tertutup. Dengan berat hati, aku pun membuka mata dan membiarkannya masuk.


Ah, sudah pagi lagi ya.


Aku tidak langsung duduk atau bahkan bangkit. Entah kenapa, aku masih ingin merebahkan badan di tempat ini, di samping Tasha. Dan, tempat ini adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa perlu mengkhawatirkan serangan.


Agak lama, setelah seluruh kesadaran terkumpul, aku baru menyadari ada dua orang di dekatku. Lebih tepatnya di samping kiri, di seberang makam Tasha. Tanpa duduk atau bangkit dari atas kasur tanah, aku membuka mulut.


"Emir, Inanna, sejak kapan kalian di sini?"


"...mungkin hampir satu jam."


Emir tidak langsung menjawab. Ada sedikit jeda di awal.


"Mari?"


"Ya, Mari."


"Berapa banyak yang dia ceritakan?"


"Semua yang kamu alami."


"Begitu ya...."


Di lain pihak, Inanna tidak memberi jawaban.


"Sebenarnya," Emir melanjutkan. "Yang memaksa ingin ke sini adalah Inanna."


"Inanna?"


Emir tidak memberikan respon lanjutan. Aku juga sama. Mengetahui kami menanti responsnya, Inanna pun memberi jawaban.


"Maaf, Gin. Aku, aku hanya ingin berada di sisimu ketika kamu sedang bersedih. Namun, tampaknya..."


Inanna tidak menyelesaikan ucapannya. Emir pun tidak melanjutkan ucapan Emir seperti biasa.


Aku paham apa yang ada di pikiran mereka. Seperti ucapan Inanna, mereka berdua pasti berharap aku datang, mencari pelukan dan kenyamanan mereka ketika sedang bersedih.


Namun, sayangnya tidak. Aku tidak datang mencari ketenangan dari mereka. Yang kulakukan justru pergi dan menghabiskan malam di makam seseorang. Dengan kata lain, yang ada di pikiran dan hatiku masih Tasha, bukan Emir atau Inanna.


Saat ini, bukan melebih-lebihkan kalau aku tampak seperti sedang selingkuh. Satu-satunya hal yang membuat Emir dan Inanna tidak langsung marah atau menangis adalah karena Tasha sudah tiada. Ya, benar. Karena dia sudah tiada. Mereka tidak bisa benar-benar marah karena masih memikirkan perasaanku.


"Gin, mungkin kami sudah pernah menyatakan kalau kami sudah siap untuk tidak menjadi yang nomor satu di hatimu. Tapi, maaf, tampaknya, aku tidak bisa memenuhinya. Dadaku terasa begitu sesak ketika melihatmu tertidur di sini dengan damai." Emir berhenti sejenak. "Inanna, ada yang ingin kamu sampaikan?"


"Maafkan aku Lugalgin. Tapi, kelihatannya aku juga sama dengan Emir. Aku tidak bisa menerima semua ini begitu saja."

__ADS_1


Tapi kalian tidak masalah kalau satu sama lain? Sebenarnya, aku ingin menanyakan hal itu. Namun, aku bukanlah orang tanpa perasaan dan tidak sensitif. Aku tidak akan menanyakannya.


Emir dan Inanna bisa saling menerima karena mereka memiliki latar belakang sama, orang yang tidak cocok di keluarga kerajaan. Waktu mereka menjadi calon istriku juga tidak berselang terlalu jauh, mungkin 1 atau 2 bulan. Jadi, mereka memiliki kesempatan untuk bisa mengenal satu sama lain sambil mencoba menjadi istriku.


Di lain pihak, Tasha sudah berada di hidupku sejak lama. Selisihnya dengan mereka mungkin sudah satu dekade. Entahlah, aku tidak yakin juga. Dan, yang terpenting, mereka tidak mengenal Tasha. Karena tidak mengenalnya, sulit bagi mereka untuk bisa memaklumi Tasha. Menurutku, hal ini juga lah yang membuat mereka marah saat tahu aku sudah tidur dengan Lacuna. Karena mereka tidak mengenal Lacuna.


Di saat ini, hanya satu hal yang bisa aku lakukan.


"Maafkan aku, Emir. Maafkan aku, Inanna. Aku benar-benar minta maaf."


 


 


***


~Inanna POV~


 


 


"Halo, ibu?"


[Ya, ada apa Inanna? Tidak biasanya kamu menelepon pagi-bagi begini. Oh, ada Emir juga. Ada apa ini?]


Sebenarnya, aku sangat ingin membantu dan meringankan beban pikiran Lugalgin. Namun, jujur, aku sama sekali tidak memiliki pengalaman dengan laki-laki. Aku bahkan tidak yakin dengan perasaanku. Oleh karena itu, aku berpikir untuk menelepon ibu. Di sampingku juga ada Emir. Kami berdua melakukan panggilan video.


Aku meletakkan smartphone di meja samping kamar dan membiarkan proyeksi ibu muncul di dinding.


[Aku tidak melihat Lugalgin dimana pun. Ada apa? Kalian bertengkar?]


"Aku tidak yakin bisa mengatakan ini sebuah pertengkaran. Sebenarnya...."


Aku sedikit bercerita mengenai masa lalu Lugalgin, terutama Tasha dan anak-anak panti asuhan. Sebenarnya, aku tidak yakin apakah Lugalgin memperbolehkanku untuk menceritakan hal ini pada orang lain. Namun, sejauh yang aku ingat, Lugalgin tidak pernah melarangnya. Dan lagi, aku melakukan ini demi hubungan kita semua, demi kebaikan kita. Jadi, menurutku, ini adalah cara terbaik.


[Dia benar-benar tidur di makam?]


"Iya, benar tante. Lugalgin benar-benar tidur di makam."


[Lalu, dimana dia sekarang?]


"Lugalgin sedang pergi ke gudang senjata, bu. Dia bilang ingin mengecek persenjataan. Meski aku yakin itu hanya alasan."


[Ya, tentu saja itu hanya alasan. Kalau aku mendengar tindak tanduknya, dari cerita kalian, Lugalgin tampak merasa bersalah. Namun, dia sendiri belum bisa merelakan kematian perempuan bernama Tasha ini. Yah, aku bisa paham sih kalau mendengar masa lalunya.]

__ADS_1


Sudah kuduga. Ibu pun juga berpendapat seperti itu. Mau tidak mau, kami hanya bisa maklum.


[Jadi, bagaimana perasaan kalian? Apa kalian sedih? Marah? Atau apa?]


Kami, aku dan Emir, terdiam. Kami saling melempar pandangan. Tanpa mengatakan apa pun, entah bagaimana, aku sudah bisa memahami apa yang ada di pikiran Emir.


"Jujur, tante, aku bingung."


[Oke, Emir bingung. Bagaimana denganmu, Inanna?]


"Sama, aku juga bingung." Aku merespons. "Saat melihat Lugalgin tertidur di makam dengan mata bengkak, dadaku terasa begitu sesak. Entah kenapa, aku sangat ingin berteriak dan menangis. Awalnya, aku berpikir marah dan kecewa karena Lugalgin memiliki orang lain di hatinya. Namun, setelah sarapan dan berpikir sejenak, aku tidak yakin lagi."


[Tidak yakin? Kenapa?]


"Aku tidak tahu, bu. Aku tidak tahu."


[Kalau begitu, biar ibu beri tahu. Karena saat ini target kemarahan dan kekecewaanmu, kalian, bukanlah Lugalgin, melainkan diri kalian sendiri.]


"...."


Aku dan Emir terdiam sejenak, saling melempar pandang.


"Diri kami sendiri? Apa maksud tante?"


[Biar aku jelaskan. Kalian mungkin mengira hal yang membuat dada kalian sesak adalah kemarahan dan kekecewaan pada Lugalgin yang lebih memilih untuk melampiaskan kesedihannya pada makam Tasha ini. Namun, yang sebenarnya adalah, kalian marah pada diri kalian sendiri yang tidak mampu menjadi sosok yang bisa menenangkan Lugalgin ketika dia bersedih.]


Ibu melanjutkan, [maksudku, saingan kalian adalah perempuan yang sudah tewas mungkin sekitar lima atau enam tahun yang lalu, kan? Dia sudah tidak ada lagi. Satu-satunya yang bisa membuat Lugalgin tenang di makam itu hanyalah memorinya dengan perempuan itu. Tidak ada yang lain. Di lain pihak, kalian masih hidup, masih bisa memberi kehangatan dan pelukan pada Lugalgin, tapi masih kalah? Kalau kalian tidak marah dan kecewa pada diri kalian sendiri, aku lah yang akan marah dan kecewa pada kalian.]


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2