I Am No King

I Am No King
Chapter 298 – Keluarga yang Merepotkan


__ADS_3

"Emir, Inanna, Rina, aku punya kabar buruk."


Inanna menepok jidat ketika mendengar ucapanku. Ada apa dengannya? Apa dia sudah menduga kalau akan ada berita buruk lain?


Saat ini, kami berada di ruanganku, di kantor intelijen Mal Haria. Seperti biasa, aku duduk di kursi tinggi dengan meja kayu sedangkan Inanna, Emir, dan Rina duduk di sofa. Satu-satunya pemandangan yang berbeda adalah keberadaan Rina di seberang mereka.


Aku seperti melihat sofa di depanku terbagi menjadi dua kubu. Kubu normal yang terdiri dari Emir dan Inanna. Dan, satunya, kubu datar yang anggotanya adalah Rina seorang diri.


Oke, kembali ke masalah utama.


"Lebih tepatnya, ini berita buruk untuk Emir, sih."


"Untukku? Apa ibu berulah lagi?"


Aku mengangguk. "Tadi kita berpapasan dengan polisi hingga 3 kali. Apa kalian tidak merasa aneh?"


"Jujur, aku juga merasa aneh," Emir merespons. "Biasanya, kita bisa berpapasan 1 kali saja sudah jarang sekali. Namun, tadi, sampai 3 kali."


Ya, benar. Jalur bus yang kami tempuh tidak melewati banyak pos polisi. Namun, tadi, kami berpapasan dengan polisi yang "kebetulan" patroli hingga 3 kali.


Inanna menyanggah, "Apa ini karena Rina? Mengingat dia adalah orang asing yang akan menjadi tokoh penting, mungkin polisi mendapat tugas untuk menjaganya?"


"Normalnya, aku juga akan berpikir demikian, Inanna. Namun," aku berhenti, melempar pandangan ke Emir.


Emir, menyadari pandanganku, langsung jengkel. Dia jengkel bukan karena melihatku, tapi karena sudah menduga apa yang terjadi. Ya, aku yakin itu.


"Ibu?"


Aku mengangguk.


"Ugh ...," Emir memijat kening. "Apalagi yang dilakukan orang itu. Kenapa dia ingin merebut suami anaknya sendiri. Dasar ibu sialan."


Emir ... sudah berubah. Beberapa bulan lalu, dia memberi sebuah rencana agar ibu dan keluarganya tidak dibantai. Dia begitu menyayangi ibunya. Namun, kali ini, Emir menjadi begitu dingin hingga memanggil ibunya dengan "orang itu". Bahkan, bukan tidak mungkin kalau dia akan menusuk Rahayu. Ya, pada kasus kali ini, Emir seperti akan ditusuk dari belakang oleh ibunya sih. Jadi, perbuatan Emir bisa dibilang membela diri.

__ADS_1


"Aku mendapat laporan dari Jin dan Yuan kalau kemarin nenekmu menemui Rahayu."


Aku menjelaskan isi laporan yang aku terima. Keluarga dari pihak Rahayu telah mengumpulkan kekuatan untuk melawanku. Mereka melakukannya sejak kubiarkan hidup beberapa bulan yang lalu. Dan, akhirnya, mereka mulai bergerak. Dari laporan, pemicu gerakan mereka adalah pengumuman pernikahanku. Mereka merasa tidak dihormati.


Di lain pihak, untuk menambah tekanan, Rahayu mulai menggerakkan kepolisian Bana'an. Informasi menyatakan Rahayu meminta mereka mengawasi Rina dengan saksama. Dia menyatakan ada kemungkinan Rina hanyalah mata-mata dan di sini hanya untuk mencari informasi. Jadi, cepat atau lambat, mereka akan menahan Rina untuk menginterogasinya.


Jujur, aku sangat ingin tertawa. Aku adalah salah satu tokoh yang berpengaruh di pasar gelap, kepala intelijen, ditambah putra dari konglomerat dan dokter ternama. Seharusnya, mereka sadar keuntungan yang didapat jika Emir menikahiku. Namun, sayangnya, harga diri sebagai bangsawan membutakan mereka. Dasar bodoh!


Bahkan, aku terkejut mereka tidak bergerak untuk membebaskan Yurika. Padahal, menurut info yang tersebar, Yurika sedang aku sekap. Jalan pikir bangsawan memang aneh. Apa mereka tidak keberatan kalau Yurika dan lainnya aku sekap untuk selamanya? Di lain pihak, dari laporan, tampaknya Keluarga Fafniari tidak mengetahui kalau Rahayu menginginkanku sebagai suami.


Aku tidak akan heran jika di masa depan Rahayu membuang Keluarga Fafniari setelah urusan ini selesai. Kenapa Rahayu bisa seperti ini, ya? Mungkin ada yang salah dengan pendidikan yang dia terima dari keluarganya.


Di lain pihak, Keluarga Fafniari berpikir mereka mengumpulkan kekuatan secara sembunyi-sembunyi. Padahal, sebenarnya, aku sudah mengawasi mereka sejak kejadian itu. Keluarga Jeanne, Keluarga Herizzeta, juga aku awasi. Namun, berbeda dengan Keluarga Herizzeta yang memilih untuk "menghilang" dan hidup damai, Keluarga Fafniari memilih untuk kembali sebagai bangsawan, bahkan mengumpulkan kekuatan untuk melawanku.


"Jadi, Emir, apa aku biarkan saja mereka? Pernikahan kita tinggal 6 hari. Kalau dibiarkan, aku tidak akan kaget kalau pernikahan kita batal karena mereka tiba-tiba menyerang."


"TIDAK! Aku tidak mau pernikahan kita batal!"


Aku tersenyum, sudah menduga jawaban Emir. "Kalau begitu, aku akan membersihkan keluargamu beserta kekuatan yang mereka kumpulkan. Apa ada orang yang ingin kamu selamatkan?"


"Sementara Emir berpikir, Gin," Rina masuk. "Setelah bersama untuk beberapa hari, aku bisa melihat kalau militer ada di pihakmu. Intelijen juga di bawah kendalimu. Kalau kepolisian di bawah kendali Permaisuri Rahayu, apa ini berarti akan terjadi perang saudara?"


Perang saudara, kepolisian vs militer dan intelijen. Kalau boleh bilang, kejadian ini akan lebih layak disebut sebagai pembantaian. Kepolisian yang mementingkan citra melawan militer dan intelijen yang tidak peduli citra. Belum lagi peredaran informasi, baik resmi maupun tidak resmi, dikendalikan oleh intelijen. Aku justru merasa bodoh kalau menganggap ini sebagai perang.


Dan, aku juga sadar kenapa Rina khawatir kalau perang saudara terjadi di Bana'an. Sebagai kerajaan yang mendukung pemberontakannya, dia tidak mau Bana'an hancur dari dalam. Kalau hal ini terjadi, posisi Rina tidak lebih dari mantan putri yang menjadi buronan kerajaan Nina. Hidupnya akan menjadi lebih sengsara.


"Jangan khawatir. Aku sudah memperkirakan hal ini sejak–"


"Kamu memperkirakan kalau Permaisuri Rahayu akan mengganggu pernikahan anaknya sendiri?"


"... biar aku koreksi. Yang aku perkirakan adalah kepolisian mengganggu rencanaku, bukan yang itu." Aku membuat panggilan dengan smartphone. "Halo, Yuan, bisa tolong ke ruanganku? Bawa mereka. Sudah saatnya mereka muncul kembali."


[Baik,]

__ADS_1


"Kita tunggu sebentar ya. Yang akan memberi penjelasan detailnya bukan aku."


Beberapa menit berlalu sejak aku menelepon Yuan. Kamu tahu, di saat ini, aku berharap kejadian seperti di film-film menjadi kenyataan. Kalau di dalam film, orang-orang itu akan langsung muncul setelah ditelepon, tidak sampai 1 detik. Namun, sayangnya, ini bukan film.


Tok tok


"Silakan masuk."


"Permisi,"


Pintu terbuka, membiarkan tiga sosok masuk.


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


 



__ADS_2