
~Lacuna POV~
Lima hari berlalu. Tidak ada insiden ataupun hal yang terjadi di luar dugaan. Tidak ada penyerangan oleh keluarga Ibrahim ataupun kepada mereka. Aku masih mengamati dan mengawasi gerak-gerak keluarga Ibrahim. Bukan hanya mengawasi, tapi juga menyelinap.
Sebenarnya, waktu lima hari ini adalah waktu yang kuberi untuk diriku sendiri. Aku ingin menenangkan pikiran agar bisa melakukan serangan dengan lancar dan minim kesalahan. Dan, tampaknya, lima hari ini sudah cukup.
Senjata sudah siap. Amunisi pun siap. Rencana juga oke. Dan, sesuatu yang di luar dugaan, tapi tidak buruk, adalah Pirang berhasil memenuhi syarat yang kuajukan kemarin, pada hari keempat.
Ah, iya, aku juga sudah mengetahui nama Pirang yang sebenarnya. Namanya adalah Sonya Orion. Saat berpikir Orion adalah nama yang tidak umum, aku hampir lupa kalau nama belakang di negara ini bukanlah nama keluarga, hanya nama tambahan selain nama depan.
Awalnya, dia sempat memanggilku dengan sebutan guru. Namun, aku berhasil meyakinkannya agar langsung memanggilku dengan nama saja, Lacuna. Aku merasa ada beban ketika aku dipanggil guru. Maksudku, secara status aku memang gurunya. Namun, entahlah, aku merasa aneh.
Daripada guru, aku lebih cocok disebut sebagai instruktur atau mentor, tapi tetap saja aku tidak mau dipanggil dengan sebutan itu. Aku merasa sebuah beban moral jika aku dipanggil seperti itu, dan gatal.
Kembali ke Sonya. Kalau dia bisa mendeteksi pemicu yang kupasang, maka dia akan bisa mendeteksi pemicu jebakan apapun. Selain itu, dia juga sudah bisa mendeteksi material apapun yang bergerak pada jarak tertentu, mencegah lawan menyerang secara sembunyi-sembunyi.
Kemampuan Sonya mendeteksi lawan ini adalah efek samping dari usahanya mendeteksi benang yang kupasang. Secara tidak langsung, aku mendapatkan radar berjalan. Selama dia tidak lengah, dia adalah radar yang sempurna.
Sonya sudah mulai menyentuh pengendalian jarum, tapi dia masih belum mampu berada pada tingkat pengendalian melayang, masih meluncurkannya dari tangan. Jadi, untuk sementara, jarum hanya sebagai senjata sampingan. Aku memberinya Shotgun dan golok untuk bertarung jarak dekat.
Dalam waktu empat hari, aku beberapa kali menyelinap ke kediaman, kantor, dan pabrik keluarga Ibrahim. Aku tidak memasang kamera, tapi memasang peledak. Daripada peledak, mungkin lebih tepatnya disebut pemancar gelombang, dan sedikit menyabotase tangki bahan bakar mereka.
Bagaimana caraku menyusup? Mudah saja. Terkadang aku menyamar sebagai cleaning service, terkadang menyamar sebagai tukang servis alat elektronik, terkadang juga masuk sebagai psk. Tidak ada yang menarik untuk dijelaskan.
Akhirnya waktu yang telah ditentukan pun tiba. Langit sudah gelap, memberi lampu hijau untuk pasar gelap beraktivitas dengan bebas.
__ADS_1
Hal merepotkan pertama dari penyerangan ini adalah ketiga tempat yaitu kantor, pabrik, dan kediaman keluarga Ibrahim berada pada tiga tempat yang berbeda. Dan, ketiganya berada di sisi kota yang berbeda.
Normalnya, orang akan mengatur jadwal penyerangan dimana satu orang menyerang satu tempat, dan yang satu menyerang dua tempat. Namun, aku belum percaya pada Sonya. Emosinya belum stabil. Kalau meninggalkannya begitu saja, aku khawatir dia akan gagal.
Pekerjaannya sebenarnya sangat mudah. Menekan tombol peledak, lalu membunuh orang-orang yang berusaha kabur dengan menggunakan senapan. Aman dan nyaman. Ya, setidaknya untuk kantor dan pabrik, hal ini bisa dilakukan. Untuk kediaman, tidak seaman dan senyaman itu.
Aku tidak mampu memasuki seluruh bagian kediaman keluarga Ibrahim. Ketika aku masuk sebagai psk, aku hanya diajak ke kebun dan kamar penghuni anak buah. Kamar itu pun berada di rumah terpisah dari rumah utama, tempat kepala keluarga berada.
Maksimal, aku hanya bisa meledakkan sepertiga kediaman keluarga Ibrahim, sisanya adalah, "halo, aku datang dari pintu depan untuk membunuh kalian semua!".
Dan, urutannya, yang pertama adalah kantor.
Blar Blar Blar Blar
Aku menggunakan magnum sniper rifle sedangkan Sonya kuberi senapan biasa. Kami melepaskan tembakan dari gedung sebelah, membersihkan anggota keluarga Ibrahim yang tampak masih hidup atau berusaha kabur.
Kantor adalah tempat pertama yang kuincar karena tempat ini yang paling sepi. Jadi, kalaupun tempat ini meledak, akan mudah untukku memutus informasi dari anak buah menuju atasan keluarga Ibrahim. Keluarga Ibrahim baru akan menyadari serangan ini melalui berita. Dan, saat itu, kami sudah selesai di tempat ini.
Selain senapan jarak jauh, aku juga membawa senjataku seperti biasa, pita yang terlilit di seluruh tubuh, benang yang bisa kutarik kapan saja dari jaket, dan assault rifle. Selain itu, aku juga membawa pedang katana pemberian Lugalgin, berada di dalam sarung, rapi terikat di panggul.
Di lain pihak, Sonya membawa shotgun dan golok yang kuberi. Dia juga membawa stok jarum cukup banyak di tubuhnya.
"Oke, Sonya, waktunya kita pindah ke pabrik."
__ADS_1
"Baik!"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Author berpikir ingin menyelesaikan Arc 4 (Lacuna) di bulan ini. Jadi, author berharap bulan September sudah kembali ke Lugalgin. Jadi, mungkin, jadwal update akan berantakan (belum lagi update menunggu ACC admin). Ya, sudahlah.
Dan, seperti biasa, author ingin melakukan endorse. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
__ADS_1