I Am No King

I Am No King
Chapter 222 – Reuni Pahit


__ADS_3

~Mari POV~


 


 


"Jadi, kemungkinan, entah malam ini atau kapan, yang jelas dalam waktu dekat, Weidner dan Shanna akan menyerang Kak Lugalgin. Kita beruntung karena Kak Lugalgin sedang tertidur. Jadi, kita bisa menghabisi mereka tanpa Kak Lugalgin ketahui."


Aku memberi penjelasan pada Maul yang berada di dekatku.


Saat ini, kami berada di atap salah satu gedung rumah sakit. Karena Apollo terkenal suka melanggar kode etik dan peraturan, ayah Kak Lugalgin mengosongkan dua gedung untuk menjadi tempat pertarungan kami.


Saat ini, buka hanya Agade yang berjaga, Akadia dan Guan juga. Mereka semua mengirimkan orang-orangnya untuk mengamankan bangunan sekitar, memastikan efek pertarungan tidak mencapai warga normal. Inilah yang terjadi ketika satu organisasi besar memiliki predikat melanggar peraturan. Butuh banyak organisasi lain untuk mencegah kerusakannya menyebar.


Untuk mengelabui musuh, semua gedung masih tampak menyala dan ramai. Namun, penjagaan pada beberapa gedung sengaja dikurangi. Dengan demikian, diharapkan, musuh akan menyerang gedung dengan penjagaan yang lebih minim.


Maul dan aku menggunakan teropong untuk mengamati semua area yang mencurigakan. Memastikan mereka tidak lepas dari pantauan kami, terutama Weidner dan Shanna. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka mendekati Kak Lugalgin.


"Hei, Mari."


"Ya?"


"Apa menurutmu Weidner dan Shanna akan berubah kalau kita berusaha membujuk mereka?"


Aku melepas pandangan dari teropong dan melihat ke kanan, ke arah Maul.


"Apa yang membuatmu berpikir mereka akan berubah pikiran? Weidner lah yang sudah memperkosa dan menjadikan Lili sebagai budak ****. Dan, Shanna juga lah yang membuat Lili tidak mampu memiliki keturunan. Apa menurutmu mereka akan berubah pikiran?"


"Tapi....tapi....."


"Dan, apa kamu belum membaca sepak terjang mereka berdua yang sudah aku kompilasi? Dan asal kamu tahu saja, menutupi semua informasi mengenai sepak terjang mereka dari Kak Lugalgin adalah hal yang amat sangat tidak mudah."


Sebenarnya, aku beruntung karena Kak Lugalgin sempat pensiun dari Agade ketika dia selesai membasmi keluarga Cleinhad. Jadi, informasi yang berhubungan dengan Weidner dan Shanna bisa benar-benar aku blok dari Kak Lugalgin.


Aku sempat khawatir ketika Yuan, pedagang informasi, menjadi asisten Kak Lugalgin. Beberapa saat setelah dia menjadi asisten Kak Lugalgin, Yuan mendatangiku. Dia tahu kalau informasi yang mengalir ke Kak Lugalgin, terutama yang berhubungan dengan Apollo, sangat difilter oleh seseorang, yang adalah aku.


Aku sempat terkejut, tidak tahu bagaimana Yuan bisa mengetahuinya. Namun, untungnya, dia tidak memiliki niatan untuk memberikan informasi yang selama ini aku blok pada Kak Lugalgin. Dia ingin aku menyelesaikan masalah ini secepatnya. Apollo adalah musuh. Cepat atau lambat, informasi mengenai Weidner dan Shanna tidak akan terbendung lagi.


"Dan, apa semua senjata ini diperlukan?"


Maul bertanya setengah ragu sambil menunjuk ke tengah atap. Di tengah atap, terlihat lima unit pesawat mini, mirip seperti yang kugunakan untuk menyelamatkan Kak Lugalgin. Tidak berhenti sampai di situ, pada masing-masing pesawat, menempel sebuah kotak besar di atas dan bawahnya, berisi senjata api, bazoka, pelontar granat, dan lain sebagainya. Bahkan, aku menempelkan beberapa gatling dan misil di pesawat.


"Ya, aku membutuhkan semua itu. Aku harus memastikan tidak ada yang tersisa dari tubuh Weidner dan Shanna. Jadi, Kak Lugalgin tidak akan pernah tahu kalau Weidner dan Shanna sudah tewas."


Ya, aku harus memastikannya.


Duar duar duar duar


Dor dor dor dor


Suara ledakan dan tembakan terdengar. Aku dan Maul langsung berlari ke ujung gedung dan mengarahkan teleskop ke sumber suara. Aku melihat ke semua tempat, baik di bagian penyerang maupun gedung di belakangnya.


[Serangan dari gedung selatan. Sesuai arahan, mereka akan digiring ke gedung kosong.]


Menyusul ledakan itu, sebuah laporan terdengar dari headset. Aku dan Maul tidak terlalu memedulikan serangan ini. Yang kami pedulikan hanyalah 2 orang.


"Aku tidak melihat mereka. Hurrian, bagaimana denganmu?"

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak melihat mereka!"


Sial! Dimana mereka?


[Lapor! Ada dua truk melayang dengan cepat menuju ke gedung pusat! Di atas truk itu terlihat sosok perempuan dengan kapak besar, Karla.]


Akhirnya!


Weidner dan Shanna adalah kaki tangan Karla yang paling setia. Mereka akan pergi kemana pun Karla pergi. Karena Karla pergi ke gedung pusat, tujuanku juga tempat itu.


"Maul! Cepat naik ke salah satu pesawat!"


"Eh?"


"Cepat! Dimana ada Karla, di situ ada Weidner dan Shanna!"


"Ba-baik!"


Maul menurut dan naik ke salah satu pesawat dengan membawa kotak senjatanya sementara aku naik ke pesawat lain. Karena Maul tidak bisa mengendalikan pesawat ini, aku yang melakukannya. Kami berdua langsung terbang, meninggalkan atap rumah sakit ini.


Terlihat! Dua buah truk melayang seperti konvoi, melewati kebun rumah sakit. Di atas truk depan, seperti informasi, terlihat seorang perempuan berambut putih dengan kapak besar, Karla. Namun, pandanganku sama sekali tidak terpaku pada Karla. Pandanganku fokus pada dua sosok di kursi pengemudi dan penumpang, Weidner dan Shanna.


Weidner mengecat rambutnya hitam dan mengenakan pakaian rapi, kemeja biru dan celana hitam. Di sampingnya, Shanna, tampak jauh lebih liar. Dengan rambut dicat pirang dan hidung ditindik, dia hanya mengenakan celana pendek dan jaket kevlar, tanpa kaos atau apapun yang lain. Bahkan, terlihat bekas luka memanjang dari atas pelipis kiri hingga pipinya. Penampilan Shanna benar-benar berbeda dengan Weidner yang tampak mulus, seperti seorang bankir.


Aku menginisiasi serangan, menerjang mereka dengan pesawat.


"Mengganggu saja!"


Dari belakang truk, terlihat beberapa benda muncul dan mendarat di tombak Karla. Dalam waktu singkat, tombak Karla telah berubah menjadi pelontar granat. Dia mengarahkannya ke kami.


"Kau yang mengganggu!"


"Sial!"


Sudah kuduga tidak akan semudah itu, tapi, kesal tetaplah kesal.


Dalam waktu singkat, lempeng besar itu berubah menjadi pedang besar. Ketika lempeng besar itu menghilang, pemandangan sudah berubah. Weidner tidak lagi di kursi pengemudi. Dia sudah melompat keluar dari truk, melayang, menerjang ke arahku.


Aku mengendalikan gatling yang terpasang di pesawat dan beberapa senjata api di dalam kotak senjata.


Target: Weidner.


 


 


***


~Maul POV~


 


 


Mari sibuk menghadapi Weidner. Gara-gara itu, Shanna dan Karla masih melaju tanpa masalah ke gedung pusat. Entah kenapa, Karla tidak lagi memedulikan kami. Dia menurunkan senjatanya dan fokus pada gedung. Aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja.


"Mari sedang melawan Weidner! Aku akan mengonfrontasi Shanna! Kami membutuhkan bantuan untuk perlin–"

__ADS_1


Blar blar blar


Sebelum aku selesai meminta bantuan melalui headset, beberapa bola api sudah muncul dari bawah dan samping truk.


"Karla! Biar aku yang urus mereka! Kau pergi saja dan bunuh Lugalgin!"


Sebuah teriakan terdengar dai dalam truk. Yang meneriakkan itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Shanna.


Shanna, apa kamu serius dengan kata-kata itu? Kamu ingin membunuh Kak Lugalgin? Apa yang merasukimu hingga kamu tega melakukannya?


"Siap!"


Karla menjawab dengan girang. Dari dalam truk, muncul banyak benda dan membawa Karla pergi dari atas truk.


[Biar kami yang urus Karla. Hurrian, tugasmu dan Mari adalah membasmi Weidner dan Shanna. Kalian punya masalah pribadi, kan?]


"Eh?"


Aku sama sekali tidak menduga akan mendengar ucapan itu dari Kak Ibla. Apakah rahasia kami sudah diketahui oleh semua anggota elite Agade? Atau hanya Kak Ibla saja yang tahu?


[Tapi, jangan memaksakan diri. Kalau kalian butuh bantuan, tinggal katakan. Kami akan mengirimkan bantuan dengan segera!]


"Baik! Terima kasih, Kak Ibla."


Aku melompat dari pesawat dan mengeluarkan seluruh senjata dan baju baja dari dalam kotak senjata. Kini, kalau dilihat dari luar, aku tampak seperti sebuah robot dengan pedang sepanjang dua meter.


"SHANNA!"


"Hah?"


Dengan bantuan gravitas dan berat armor, aku mengayunkan pedang sepanjang 4 meter. Beberapa senjata melayang di antara kami, mencoba menghalangi, tapi pedangku tidak mampu dihentikan.


Shanna, membiarkan beberapa benda menempel di tubuh dan menariknya ke bawah, memberi jarak antara pedangku dan dirinya. Begitu tiba di bawah, sisa truk di belakang dan yang dia naiki terurai, berubah menjadi sebuah papan seluncur dan beberapa cambuk tajam. Namun, aku tidak yakin apakah benda itu benar-benar cambuk. Bentuknya seperti tulang punggung tapi terbuat dari logam.


Shanna menggunakan papan seluncur untuk menghindar. Pedangku pun menghantam tanah kosong. Baru saja dia melayang, Shanna menambatkan ujung cambuk ke tanah, membuat tubuh dan papan seluncurnya berbelok tajam, kembali ke arahku. Cambuk yang masih bebas berubah menjadi semacam gada dengan ujung tajam, siap menusukku.


Aku tidak menghindar. Aku berdiri tegak dan mengayunkan pedang.


"SHANNA!"


Pedangku atau gada Shanna, mana yang akan menang?


Bersambung


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya



__ADS_2