I Am No King

I Am No King
Chapter 234 – Ancaman Perang


__ADS_3

"Gin–"


Aku menjulurkan tangan ke depan, menghentikan Mulisu yang berusaha menyanggah.


"Mari dan Hurrian mengonfrontasi Weidner dan Shanna karena mereka tidak mau aku yang melakukannya. Mereka tidak mau aku membunuh orang yang selama ini kucari. Mereka tidak mau perasaanku tersakiti karena orang yang selama ini kucari ternyata adalah musuh.


"Namun, teman-teman masa kecil mereka tidak ingin aku berpikir seperti ini. Dan, meskipun berat hati, aku pun memaksa agar tidak menyalahkan diriku sendiri. Setidaknya, ini adalah penghormatan terakhir yang bisa kupersembahkan untuk Mari dan Hurrian."


Mulisu tidak memberi respon. Di lain pihak, yang lain hanya menunduk ketika mendengarku.


"Dan lagi," aku menambahkan. "Sejak awal, yang menjalankan Agade adalah kamu, Mulisu, dan kemudian dibantu oleh Ibla. Meski kalian bilang, dan memaksa, aku lah pimpinan Agade, faktanya, aku hanya pendiri. Selama ini, yang aku lakukan hanyalah meminta tolong dan memerintah kalian. Tidak lebih. Ibla harus lebih percaya diri lagi."


Daripada Agade, aku lebih aktif memimpin intelijen kerajaan.


"Hehe, iya juga sih." Mulisu tertawa kecil. "Setelah kamu mengatakannya, iya juga ya. Kamu hanya pimpinan di nama."


"Kan?"


"Yah, baiklah. Aku akan mengatakannya pada Ibla."


"Bagus. Dan, sekarang, kita kembali ke pertanyaan pertama. Penjelasan mengenai apa yang terjadi saat itu."


Meskipun ada sedikit keraguan, aku mengabaikannya. Sudah waktunya Mulisu mengetahui hal ini mengingat dia adalah rekan kerja terlamaku. Tapi.... sebentar.


"Yuan, aku ingin kamu bersumpah untuk tidak pernah membocorkan informasi ini pada siapa pun, bahkan pada Jin. Apa kamu bersedia?"


"Tentu saja."


Wow, aku benar-benar terkejut. Perempuan ini bisa memberi konfirmasi begitu cepat, tanpa keraguan atau jeda.


"Ini tidak akan merusak hubungan kalian, kan?"


"Tidak. Tidak. Kami sudah sepakat untuk tidak membawa urusan pekerjaan ke ranjang. Jadi, aku memiliki beberapa rahasia, dia juga memiliki beberapa rahasia. Terkadang, ada hal yang tidak perlu dijelaskan ke pasangan. Selama kamu tidak selingkuh, tentu saja."


Beberapa hal tidak perlu dijelaskan ke pasangan. Di saat ini, aku jadi teringat saat Emir dan Inanna menghajarku karena tahu aku pernah meniduri Lacuna. Pandanganku pun bertukar sejenak dengan mereka. Dan, tampaknya, seperti biasa, mereka sudah menduga jalan pikirku.


"Gin, jangan coba-coba." Emir memberi peringatan.


Inanna menambahkan, "hubungan mereka dan hubungan kita berbeda. Jangan disamakan."


Hanya ingin memberi masukan, tapi, oke, oke. Aku tidak akan melawan atau memberi sanggahan.


"Baiklah, begini–"


Tiba-tiba saja, AC ruangan mati. Bukan hanya AC, laptopku pun mati, padahal aku sudah mengenakan sarung tangan. Selain itu, instingku juga tiba-tiba meronta, seolah ada tusukan di tengkuk leher.

__ADS_1


Sial!


"Awas!"


Sebenarnya, aku tidak perlu berteriak. Empat perempuan ini sudah sigap. Mereka sudah berdiri dan merobohkan mejaku. Aku pun melompat ke balik meja. Belum cukup, aku menarik dua sofa yang ada untuk membuat pelindung di sisi lain. Kini, kami berlindung di antara meja kayu dan sofa di dua sisi. Kenapa? Untuk berjaga-jaga. Dan, dugaanku cukup tepat.


Suara kaca pecah terdengar, sebuah roket melayang di atas kami. Roket itu menghantam dinding yang memisahkan ruangan ini dan koridor, menghancurkannya. Beruntung, sofa melindungi kami dari runtuhan dinding yang terlempar.


Baik, perempuan ini kelewatan!


Aku bangkit dan berjalan ke balkon. Di kejauhan, di langit, terlihat sebuah papan besi melayang. Aku tidak bisa melihat siapa yang ada di atasnya, tapi aku bisa menduganya.


Kalau dia tiba-tiba menyerang, dengan kata lain, dia bisa mendengar ucapanku. Aku sudah memastikan tidak ada penyadap di ruangan ini. Skenario yang paling mungkin adalah si adik menggunakan pengendalian untuk menerbangkan penyadap di luar ruangan ini, di dekat jendela. Seharusnya suaraku tidak bisa terdengar dari balik jendela atau terdengar di antar suara angin. Dengan kata lain, mereka menggunakan alat yang tidak kuketahui keberadaannya.


Di saat itu, sebuah suara benda terjatuh terdengar. Aku menoleh ke kiri dan melihat sebuah handi talki sudah tergeletak.


[Hei, Lugalgin Alhold, jawab!]


Aku mengambil handi talki itu. "Apa yang kau mau, menyerang di siang bolong, belum Lagi ada potensi tembakanmu meleset dan menghantam warga sipil. Tidak, bahkan, kau menyerang mal, sebuah fasilitas umum. Apa yang harus kukatakan pada media? Apa kau mau menyulut perang?"


[Aku hanya memberimu peringatan. Jangan beri penjelasan mengenai kekuatan kita pada siapa pun. Sebagai seorang Alhold–]


"Aku sudah banyak mendengar Alhold yang berkata sama sepertimu. Aku harus melakukan ini karena aku Alhold. Aku harus melakukan itu sebagai seorang Alhold. Biar aku bilang padamu, aku tidak peduli apa yang dikatakan orang. Dan, kalau kau memaksa, aku akan membunuh keluargamu juga, sama seperti aku membunuh Alhold di kerajaan ini."


[....]


[Untuk seorang Alhold, kau terlalu mencolok.]


"Dan, untuk seorang Alhold, kau terlalu impulsif dan bodoh."


Bersamaan dengan balasanku. Beberapa ledakan terlihat di udara. Terlihat lempeng udara itu berkali-kali melakukan manuver, menghindari ledakan yang datang.


"Perlu kau ketahui, aku hanya memegang kendali atas intelijen. Militer dan kepolisian negara ini masih berdiri di luar kuasaku. Dan, seperti yang kubilang sebelumnya, karena kalian telah melepaskan serangan pada salah satu gedung yang adalah mal, fasilitas umum, militer dan kepolisian pun terpaksa menganggap kalian sebagai *******."


Bukan hanya ledakan. Aku melihat beberapa titik di kejauhan yang semakin besar. Karena pergerakannya tampak tidak terlalu cepat, aku menyimpulkan benda yang mendekat adalah helikopter.


[Apa kalian pikir bisa menyerangku dengan mudah?]


"Apa kau yakin ingin menggunakan kekuatanmu?"


[Hah?]


"Kalau kau menggunakan penghilang pengendalian pada helikopter itu, maka helikopter itu pun akan jatuh. Dan, bisa dipastikan, pesawat itu akan jatuh di pemukiman warga. Dengan demikian, status terorismu pun akan semakin memuncak karena menyebabkan kematian di pemukiman. Dan aku terpaksa meletakkan wajahmu sebagai buron kerajaan.


"Dan, kerajaanmu yang mendengar ini sangat mungkin tersinggung dan mendeklarasikan perang. Dengan kata lain, gara-gara aksimu, Bana'an akan berperang dengan Mari. Jutaan nyawa akan melayang. Jutaan anak-anak akan menjadi yatim piatu karena orang tuanya tewas di peperangan. Dan, semua itu terjadi karena kebodohanmu. Semua nyawa yang akan tewas, adalah salahmu, tanggung jawabmu."

__ADS_1


[BRENG–]


Suara perempuan itu terpotong. Bersamaan dengan hilangnya suara perempuan ini, lempeng besi itu mendekat ke arah kami. Dalam waktu singkat, sebuah perempuan berambut hitam dengan wajah oriental tergeletak di atas lantai. Mata, mulut, tangan, dan kakinya terikat oleh besi. Bersama perempuan itu, seorang laki-laki berambut merah berdiri.


Laki-laki itu menarik wajah dan rambutnya ke atas. Dalam waktu singkat, wajah dan rambutnya pun berubah. Kini dia berambut perak hingga menyentuh telinga dan bermata biru.


Sudah kuduga, mereka menggunakan penyamaran.


Namun, tiba-tiba, laki-laki ini melakukan hal yang tidak aku duga. Dia berlutut dengan kaki kiri menahan di tanah dan tangan kanan penyentuh dada kiri.


"Maafkan atas kelancangan kami. Namun, kami harap Tuan Lugalgin bersedia meminta agar militer dan kepolisian mundur."


"Aku mengulangi ini seperti cd rusak. Kalian sudah menyerang gedung mal, yang adalah fasilitas umum, dan membahayakan warga. Kepolisian sudah mengepung gedung ini, dan militer pun mengirimkan helikopter tempur. Setelah itu semua, apa yang kau ingin aku katakan ke militer?"


"Tentu saja, saya akan menyiapkan kompensasi yang setimpal atas semua masalah ini."


Kompensasi, huh?


Yah, baiklah.


Aku mengambil telepon dan membuat panggilan ke militer dan kepolisian. Aku hanya memberi mereka perintah untuk mundur dan menganggap serangan yang terjadi adalah kecelakaan gas, seperti biasa. Meski sempat enggan, setelah aku mengatakan akan ada kompensasi yang setimpal, mereka pun menurut dan meninggalkan tempat ini.


"Kita ada banyak hal untuk dibicarakan."


Bersambung


 


 


\============================================================


Halo semuanya.


Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.


Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.


Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.


Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.


Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2