
"Tera,"
"Ya?"
"Kalian adalah keluarga Alhold, ini dibuktikan dengan kakakmu yang inkompeten."
"Eh?"
Mulisu, Emir, Inanna, dan Yuan tersentak ketika mendengar ucapanku. Tunggu dulu. Apa aku belum cerita kalau bertemu dengan inkompeten lain yang adalah Tuan Putri Rina?
"Tidak, kamu belum cerita, Gin." Emir merespons dari belakang.
"Jadi ini sebabnya kenapa mata perempuan itu ditutup? Oke, semuanya jadi masuk akal." Inanna menambahkan. "Tampaknya, kita memiliki Etana kedua. Atau Etana nol? Entahlah. Aku tidak tahu siapa yang lebih tua."
"Tunggu dulu, tunggu dulu. Apa maksud kalian semuanya menjadi masuk akal?" Yuan tidak terima begitu saja. "Apa yang kalian ketahui tapi aku tidak?"
Dan, seperti biasa, tanpa perlu aku bicara, mereka sudah bisa membaca pikiranku. Kalau begini, rasanya, enak juga ya. Tanpa perlu ngomong, mereka sudah tahu apa yang aku inginkan.
Well, kalau tadi Tuan Putri Rina tidak menyerang, mungkin saat ini kalian sudah mengetahui semuanya. Di lain pihak, tuan putri Rina terus berteriak di balik kain yang menutup mulutnya. Aku bisa melihat air liur mulai mengalir karena dia terus berteriak.
Oke, aku mulai merasa kasihan dengan Tuan Putri Rina. Biar aku tahan dulu rasa ingin tahuku.
"Mulisu, buka mulut perempuan itu. Biarkan dia bernafas."
"...tumben kamu baik."
Mulisu berbicara pelan sambil melepas ikatan Tuan Putri Rina. Namun, aku sedikit menyesal telah menyuruh Mulisu membuka sumpalan mulut Tuan Putri ini.
"Apa yang kau katakan, brengsek! Berani-beraninya kamu membocorkan rahasia kerajaan dengan mudah seperti ini!"
Setelah berteriak, Tuan Putri Rina tersengal-sengal. Tampaknya, dia benar-benar ingin berteriak sedari tadi.
Oh, begitu ya. Meskipun sudah cukup jelas, tapi ucapan Tuan Putri Rina mengonfirmasi semuanya. Tuan Putri Rina seorang inkompeten adalah rahasia kerajaan. Yah, normal sih kalau hal ini dirahasiakan. Maksudku, orang-orang, terutama yang berbakat dan spesial, apalagi bangsawan, tidak akan sudi diperintah dan dipimpin oleh seorang inkompeten.
Tanpa perlu melihat matanya, aku bisa menduga dia melihatku dengan sengit di balik kain itu.
Tiba-tiba saja, sebuah pertanyaan konyol melintas di benakku.
"Hei, Tuan Putri Rina, apa berarti semua barang di istana Kerajaan Nina adalah barang antik?"
"...huh?"
Tuan Putri Rina tidak memberi jawaban. Dia hanya memiringkan kepala, menunjukkan kebingungannya.
__ADS_1
Di lain pihak, tanpa perlu kuminta, Tera memberi penjelasan.
"Ya, benar. Semua barang di istana adalah barang antik. Ada alasan kenapa tagihan listrik istana terlihat besar jika dibandingkan dengan istana kerajaan lain."
Tera tidak memberi aura mengancam seperti tadi. Kini, dia sudah kembali ke mode bawahan yang menurut. Hmm.... Kalau aku mengancam akan membunuh kakaknya, apakah dia akan berubah lagi? Mungkin. Namun, aku tidak memiliki niat untuk melakukan hal itu.
"Hei, Pangeran Tera, apa kau keberatan kalau aku meminta cetak biru atau buku manual pembuatan barang-barang antik itu?"
"Tidak usah panggil pangeran. Tera saja. Aku sudah menunjukkan sisi jelekku ke kamu, pihak dari kerajaan lain."
Hoo, aku tidak mengira dia memperhatikan citranya. Ketika menyangkut orang lain, Tera mirip dengan kakaknya, impulsif. Namun, menurutku, ini cukup normal. Aku sendiri juga beringas ketika orang lain membawa-bawa orang di sekitarku, seperti ketika Fahren menyeret keluarga Nanna dan Suen bahkan membahayakan Ninlil.
"Baiklah, kalau begitu. Jadi, bagaimana, Tera?"
"Tentu saja bisa. Hal itu adalah hal yang sederhana. Bahkan, kalau kamu mau, aku bisa meneruskan beberapa file sekarang juga melalui email. Kebetulan aku memiliki beberapa pesan masuk berisi hal itu."
"Bagus. Tolong kirim ke emailku."
Dalam waktu singkat, beberapa email masuk.
Sementara aku membuka file dan memeriksanya dengan cepat, terlihat yang lain tampak kebingungan dengan arah pembicaraan ini. Dari yang sebelumnya serius urusan perang, rencana membuatku menjadi Raja, dan rahasia kerajaan, tiba-tiba berubah menjadi aku meminta file untuk membuat benda antik.
Di lain pihak, Pangeran–tidak. Tera sudah menggunakan "kamu" untuk memanggilku, tidak lagi dengan tuan. Tampaknya, dia berusaha dekat denganku.
"Hei, Lugalgin,"
"Ya?"
"Apa aku boleh minta ikat mataku dibuka? Jujur, kepalaku mulai pusing karena hal ini."
Yah, aku paham. Ketika mata ditutup, indra lain akan lebih sensitif. Kalau tidak terbiasa, mereka akan pusing.
"Maaf, tapi tidak. Kalau melakukannya, aku tidak tahu apa yang akan kamu dan adikmu lakukan."
"Ayolah! Aku tidak sebodoh itu!" Rina mengelak. "Tanpa perlu kamu bilang, aku bisa merasakan kalau orang di belakangku ini terbiasa bertarung tanpa pengendalian. Dan, aku bisa bilang tidak akan bisa menang kalau bertarung dengannya. Selain itu, bukan hanya orang di belakangku. Aku memiliki firasat dua calon istrimu juga terbiasa melakukannya, kan? Aku tidak akan mungkin menang kalau kalian mengeroyokku."
Aku terdiam sejenak mendengar ucapan Rina. Aku tidak tahu dia sadar atau tidak, tapi akan aku biarkan.
Di lain pihak, dia tidak salah. Mulisu, Emir, dan Inanna bisa bertarung walaupun tanpa pengendalian. Untuk Yuan... aku tidak yakin. Bahkan, aku tidak tahu apakah dia bisa bertarung atau ti–
"Aku bisa bertarung tanpa pengendalian. Bahkan, aku lebih terbiasa bertarung tanpa pengendalian. Ada alasan kenapa aku dan Jin bisa jadian. Dan lagi, memangnya seberapa sering kamu melihatku menggunakan pengendalian?"
Kamu menggunakan pengendalian.....aku tidak bisa mengingatnya. Antara kamu jarang sekali melakukannya atau bahkan memang tidak pernah. Yah, itu tidak penting.
__ADS_1
"Jadi, bisa tolong buka penutup mataku?"
Aku tidak langsung mengiyakan. Aku melihat ke Tera, tapi dia hanya membuka tangan.
"Bagaimana menurutmu, Mulisu?"
"Aku memiliki masalah. Lihat ini?" Mulisu mengetok eksoskeleton di kakinya. "Kalau tidak bisa menggunakan pengendalian, aku tidak akan bisa berdiri atau bahkan bergerak. Jadi. Tidak!"
"Tunggu dulu. Kamu perempuan di lapangan golf itu kan? Aku mengenali suaramu. Di lapangan golf itu, kamu bisa melepaskan tembakan ke arahku bahkan menangkis seranganku. Apa maksudmu tidak bisa berdiri atau bahkan bergerak tanpa menggunakan pengendalian?"
Alasannya adalah karena sekarang Mulisu mengenakan pakaian kasual, tidak mengenakan pakaian Agade yang menutupi seluruh tubuh, plus topeng dan wig. Dengan pakaian kasual, dia akan langsung merasakan efek penghilang pengendalian.
Di lain pihak, tanpa Rina sadari, dia sudah membeberkan "rahasia kerajaan" sejak beberapa saat lalu. Bahkan, Tera sudah menutupi wajah dengan telapak tangan.
"Kak,"
"Ya, Tera?"
"Kakak sadar tidak sih kalau sudah membeberkan kemampuan Kakak sejak mengatakan mereka terbiasa melakukan pertarungan tanpa pengendalian?"
Rina tidak menjawab. Dia terdiam dengan mulut menganga. Kalau matanya terbuka, aku pasti bisa melihat pandangannya yang kosong.
"APAAAA??????"
Bersambung
\============================================================
Halo semuanya.
Kembali, author ingin mengucapkan terima kasih atas like, komentar, dan dukungan para pembaca. Semua dukungan tersebut sangat berarti untuk Author. Bagi yang mau lihat-lihat ilustrasi, bisa cek di ig @renigad.sp.author.
Dan, seperti biasa, author akan endorse artist yang gambarnya di cover. Saat ini, ilustrator yang gambarnya digunakan sebagai cover adalah ilustrator pixiv, 千夜 atau QYS3. Jadi, sebelumnya, author hanya jalan-jalan di pixiv, cari original content, trus pm artistnya. Karena bukan hasil komis, melainkan public content, author pun tidak mengeluarkan uang.
Jadi, promosi di bagian akhir adalah sesuatu yang author lakukan dengan sukarela karena sang artis telah memperbolehkan author untuk menggunakan gambarnya meski sebenarnya sudah jadi public content. Jadi, para reader bisa membuka pixiv page dan like galerynya di https://www.pixiv.net/member.php?id=7210261 atau follow twitternya di https://twitter.com/QYSThree. Dua-duanya juga bisa.
Selain QYS3, author juga telah mendapatkan sebuah cendera mata dari pokarii yang bisa dipost di akhir cerita.
Sekali lagi, terima kasih bagi semua reader yang telah like dan komen. Dukungan kalian sangat lah berarti bagi author. Terima kasih juga atas ucapan lekas sembuhnya. Author benar-benar berterima kasih.
__ADS_1
Sampai jumpa di chapter selanjutnya